14 March 2012
0 kritik

Hugo

Jika kita menganalogikan dunia dan alam semesta sebagai sebuah mesin yang besar, maka bagian sekecil apapun itu pasti memiliki kontribusi dan tujuan demi keberlangsungan "mesin besar" ini. Ya, mesin apapun tidak pernah memiliki bagian lebih yang tidak berguna, dan mesin selalu memiliki bagian-bagian yang tepat guna dan telah diperhitungkan sebelumnya. Kalau begitu, seorang manusia serendah apapun derajatnya, pasti memiliki alasan hidup mengapa dia berada di dunia dan menjadi bagian dari mesin besar. Inilah yang dicari tahu oleh anak yatim piatu yang tinggal dan bersembunyi di stasiun kereta api di Paris tahun 1930-an, Hugo.

Hugo adalah anak yatim piatu yang tinggal di sebuah stasiun kereta api di Paris, yang dididik oleh pamannya untuk mengurus setiap jam yang ada di stasiun tersebut. Sepeninggalan ayahnya yang seorang ahli jam, Hugo berusaha keras untuk memperbaiki automaton; sebuah mesin otomatis yang ditemukan dan telah dicoba diperbaiki oleh ayahnya. Sebegitu yakinnya terhadap pesan rahasia yang dibawa oleh automaton dari ayahnya, niat Hugo terhalang oleh penjaga toko mainan yang galak dan tidak ramah, George Melies. Interaksi mereka berdua yang kurang baik, membuat Hugo bertemu dengan anak baptis dari Melies yang haus akan petualangan, Isabelle. Dibekali oleh rasa ingin tahu yang tinggi dan jiwa petualang, mereka berdua mencoba membuka rahasia automaton, yang ternyata menjadi pintu masuk masa lalu bagi seseorang.

Kisah Hugo yang diadaptasi dari novel The Invention of Hugo Cabret karya Brian Selznick ini ternyata lebih dari sekedar menyampaikan makna tentang bagaimana seharusnya manusia terus berusaha untuk mencari alasan dan tujuan hidup. Lebih dari itu, kisah Hugo ini juga ingin menyampaikan pesan betapa kita sebaiknya tidak melupakan masa lalu, khususnya kepada orang-orang yang memiliki kontribusi besar pada perkembangan dunia. Ya, Brian Selznick memang memasukkan kisah hidup George Melies sebagai inspirasi utama cerita ini, yang kemudian dibungkus oleh petualangan Hugo yang secara perlahan-lahan membuka tirai masa lalu dari George Melies.


Entah bagaimana cara bercerita dalam novelnya, di dalam film cara bertutur cerita dari kacamata Hugo terbilang cukup berhasil untuk membuat penonton terus menerus larut dalam cerita. Penonton seakan-akan ditempatkan sebagai sama tidak tahunya dengan Hugo yang menemukan misteri dibalik automaton milik ayahnya. Ketika petunjuk demi petunjuk mulai terbuka, penonton pun dibuat sama penasaran dan tidak sabarnya dengan Hugo yang ingin menemukan jawaban. Tidak hanya larut dalam petualangan, sudut pandang bercerita seperti ini meminimalkan jarak antara penonton dengan Hugo sebagai karakter utama. Penonton dapat dengan mudah merasakan emosi yang Hugo rasakan di layar, untuk kemudian menaruh simpati pada karakternya.

Di awal film, mungkin kebanyakan penonton akan sama tidak tahunya seperti Hugo tentang nama George Melies. Seiring petualangan dan tabir masa lalu yang terbuka, di akhir film penonton akan sangat mudah menaruh apresiasi tinggi terhadap George Melies. Berkat Hugo dan dibantu oleh Isabelle, banyak orang semakin mengenal sosok George Melies, yang ternyata adalah salah satu sineas paling berpengaruh di era kelahiran sinema. Salah satu film karya Melies di tahun 1902 adalah film fiksi ilmah pertama di dunia. Dan demi keasyikan menonton, saya sudahi saja biografi tentang George Melies pada paragraf ini.
gambar diambil dari sini
Beruntung Francesca, anak dari Martin Scorsese memberikan buku novel karya Brian Selznick ini sebagai hadiah ulang tahun ayahnya. Harapan Francesca agar kisah ini difilmkan ke layar lebar pun menjadi dorongan utama bagi Scorsese, yang baru kali ini menggarap film "ringan" untuk semua umur ini. Tidak hanya mengadaptasinya, Scorsese juga memutuskan untuk membuat film ini dalam bentuk tiga dimensi; bukan konversi, melainkan di-shoot dengan kamera tiga dimensi dengan konsep tiga dimensi yang telah disiapkan sejak awal. Mungkin ini adalah bentuk penghormatan tersendiri dari Scorsese kepada Melies, untuk membuat terobosan di dunia perfilman; Melies dengan film fiksi ilmiah dan kontemporernya, dan Scorsese dengan konsep 3D yang jauh lebih baik ketimbang Avatar-nya James Cameron. Ya, lewat percikan kembang api, asap di stasiun kereta api, lembar-lembar kertas yang berterbangan, serta interior gedung perpustakaan, Scorsese telah membuat standar baru film 3D dan menggunakan kamera 3D semaksimal mungkin. Tidak hanya efek pop-out, tapi Scorsese juga memaksimalkan efek perspektif kedalaman lewat interior setiap gedung yang ada dalam film ini. Seperti bagaimana pengaruh film pertama di dunia terhadap penontonnya, Arrival of a Train at La Ciotat (1896), yang membuat penontonnya ketakutan karena merasa seperti akan ditabrak oleh kereta yang melaju, Scorsese seakan melakukan tribute tersebut lewat keindahan dan kecantikan visual lewat film terbarunya.

Film ini pun menambah daftar film yang memberikan penghormatan tersendiri terhadap dunia sinema, terutama yang berkompetisi di berbagai penghargaan tahun ini. Kalau The Artist (2011) secara khusus memberikan tribute untuk film bisu dan aktor-aktris yang terlibat di dalamnya, maka Hugo merupakan penghormatan kepada magisnya dunia sinema secara umum. Rasanya saya mulai mengerti mengapa Academy Awards lebih memilih The Artist ketimbang Hugo untuk memenangi Best Picture di tahun ini, simply karena The Artist lebih padat dengan nilai moral dan penghargaan ketimbang Hugo yang nyaris hilang fokus menjadi tipikal film keluarga dengan kisah petualangan anak. Namun kemenangan Hugo di berbagai kategori teknis memang sangat layak dengan melihat hasilnya. Untuk merasakan pengalaman sinematik yang maksimal, ada baiknya Hugo ditonton di layar selebar mungkin, kualitas suara yang mumpuni, dan versi 3D!

 

USA | Drama / Family / Adventure | 126 min | Aspect Ratio 1.85 : 1

Rating?
9 dari 10

 - sobekan tiket bioskop tertanggal 14 Maret 2012 -

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top