09 March 2012
0 kritik

The Iron Lady

Bagaimana cara terbaik untuk mengatasi kesedihan dan perasaan kehilangan? Dengan mengingkarinya, atau malah mengingat-ingat setiap momen yang pernah dijalani? Atau merelasikannya dengan pengalaman karir yang dijalani bersama-sama dengan yang tercinta? Mari kita simak bagaimana Perdana Menteri UK wanita pertama, Margaret Thatcher, berjuang di masa tuanya melawan kesedihan dalam film The Iron Lady.

Margaret Thatcher yang banyak terinspirasi oleh ayahnya, berusaha sekuat tenaga untuk menjadi politisi yang handal. Tidak disangka, karirnya sebagai politisi pun melejit sehingga Mrs. Thatcher bisa menjadi wanita pertama yang menjabat Perdana Menteri UK. Jabatan ini pun menjadi simbol tersendiri bagi cara pandang terhadap kaum hawa di negara yang masih menjunjung tinggi isu patriarkisme. Perjalanan karir sebagai orang nomor satu di Inggris Raya yang tidak mudah, ternyata malah menjadikan Mrs. Thatcher sebagai Perdana Menteri yang terlama menduduki jabatannya, sekaligus yang paling kontroversial.

Satu lagi film biopic yang mengupas tokoh asal Inggris Raya ini menggunakan masa tua dari Mrs. Thatcher sebagai mesin penggerak jalan cerita. Di usia kepala 8 dan telah tampak gejala dementia, segala kenangan akan suami dan karir tiba-tiba menghantui kepala Mrs. Thatcher. Kenangan demi kenangan tersebut pun membawa penonton mengikuti rekam jejak Mrs. Thatcher mulai dari langkah pertamanya di dunia politik sampai pengunduran dirinya sebagai Perdana Menteri UK tahun 1990. Sayangnya, gaya penceritaan ini malah membuat film ini menjadi kurang fokus. Apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh film ini; proses mengatasi kesedihan sepeninggalan suaminya atau perjalanan karirnya di dunia pemerintahan?

gambar diambil dari sini
Sebenarnya pesan penyerataan gender yang dibawa film ini cukup potensial. Apalagi Mrs. Thatcher adalah anggota parlemen wanita pertama yang duduk di Houses of Parliament, ditambah lagi dengan jabatan Perdana Menterinya. Namun sayang, penulis naskah tampak ingin juga mengangkat proses duka dan memori akan suaminya Denis Thatcher ke dalam cerita. Dualisme fokus cerita ini yang membuat penonton merasa seakan-akan dipaksa menonton dua film yang berbeda. Simak saja film yang mengangkat tokoh Inggris Raya seperti The Queen (2006) yang hanya fokus pada proses duka Ratu Elizabeth II atas kematian Lady Diana, atau The King's Speech (2010) yang konsisten mengikuti perjuangan Raja George VI untuk mengatasi gagapnya.

Beruntung, penampilan tanpa cela dari Meryl Streep sangat menyelamatkan film ini. Aktris senior asal AS ini telah berhasil menjelma menjadi sosok Margaret Thatcher yang tegas dan prinsipil. Yang mengagumkan adalah bagaimana Mrs. Streep dapat mengadaptasi aksen dan gaya bicara Mrs. Thatcher dengan nyaris sempurna. Dengan kekuatan aktingnya, Mrs. Streep jelas mendominasi film ini, pararel dengan karakternya Mrs. Thatcher yang mendominasi pemerintahan Inggris Raya walaupun dirinya adalah satu-satunya wanita di dalam sana. Tidak heran jika Mrs. Streep meraih piala Oscar untuk Best Actress ketiga kalinya di tahun ini, serta meraih nominasi di kategori yang sama untuk ke-17 kalinya.
gambar diambil dari sini
Jika cukup jeli, maka penonton akan menemukan beberapa simbol-simbol yang ada dalam film ini menggambarkan konteks adegan yang sedang terjadi. Mulai dari pakaian-pakaian Denis yang ingin disumbangkan oleh Mrs. Thatcher sebagai salah satu proses berduka, shot mencuci cangkir teh atas menyerahnya Mrs. Thatcher atas idealisme dan prinsipnya, sampai baju warna merah yang dikenakan Mrs. Thatcher di hari pengunduran dirinya sebagai Perdana Menteri.

Akhir kata, diluar terbata-batanya film ini bertutur cerita, film ini masih bisa menjadi sebuah tontonan yang ringan dan hangat. Yang pasti, film ini dapat menjadi pintu perkenalan yang sangat baik bagi yang belum mengenal sosok Margaret Thatcher.

"Watch your thoughts for they become words. Watch your words for they become actions. Watch your actions for they become... habits. Watch your habits, for they become your character. And watch your character, for it becomes your destiny! What we think we become." -Margaret Thatcher-



UK | 2011 | Drama / Biography | 105 min | Aspect Ration 2.35 : 1

Won for Best Actress (Meryl Streep), Best Makeup (Mark Couiler, J. Roy Helland),
Academy Awards, 2012.

Rating?
7 dari 10

- sobekan tiket bioskop tertanggal 9 Maret 2012 -

BONUS I:
Simak bagaimana Margaret Thatcher yang asli, yang cukup tegas dalam pendiriannya dalam sebuah rapat. Setelah menonton video ini, entah apakah Meryl Streep yang berakting sebagai Margaret Thatcher atau sebaliknya.


BONUS II:
Beberapa poster alternatif dari film ini

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top