11 January 2012
0 kritik

New Year's Eve

Satu lagi film tentang hari raya dari Hollywood. Tahun 2010, sudah ada film tentang hari Valentine, Valentine's Day. Kini dari sutradara dan penulis naskah yang sama, ada film tentang bagaimana berbagai orang di New York menghabiskan malam tahun baru mereka. Dengan formula yang sama, yaitu merekrut sebanyak mungkin aktor dan aktris ternama, lalu membuat berbagai plot yang berbeda, dan membuat berbagai plot itu berhubungan satu sama lain di malam tahun baru. Sarah Jessica Parker, Jessica Biel, Ashton Kutcher, bahkan sampai Jon Bon Jovi, semua akan berkumpul dalam film New Year's Eve.

Film ini menceritakan kisah para pasangan dan lajang dalam menyambut malam pergantian tahun menuju tahun 2012. Berbagai plot cerita yang berbeda ini terpusat pada perayaan tahunan pergantian tahun di Times Square, yaitu dengan tradisinya "ball drop"; sebuah bola lampu besar yang akan turun ke satu titik tertentu pada saat hitung mundur pergantian tahun. Dimulai dari kisah direktur acara yang mempersiapkan ball drop tersebut, seorang koki terkenal yang menyimpan kisah asmara dengan seorang bintang rock, sepasang suami istri yang ingin mendapatkan hadiah dengan melahirkan bayi pertama di tahun 2012, sampai pada seorang laki-laki dan perempuan yang terjebak di dalam lift.

Daya tarik film ini memang pada deretan cast yang gemerlap dan menawan. Selain Sarah Jessica Parker, Jessica Biel, Ashton Kucher, ada lagi Michelle Pfeiffer, Zac Efron, Robert de Niro, Alyssa Milano, Halle Berry, Katherine Heigl, Josh Duhamel, Hilary Swank, Ludacris, Ryan Seacrest, sampai mantan bintang cilik Abigail Breslin. Tapi memang sampai situ saja daya tarik dan kekuatan utama dalam film ini. Plot-plot yang berbeda malah menjadi terlalu banyak dan membuat penonton menjadi otomatis acuh pada satu plot dan memfavoritkan satu plot tertentu. Selain itu, banyak pula bertebaran stereotip-stereotip yang absurd dan klise dalam film ini. Tradisi "ball drop" yang ditunggu-tunggu dan ditonton oleh warga dunia? Pijat dan spa rasa Bali di New York? Persaingan melahirkan bayi pertama di tahun 2012? Hm, Americans...



gambar diambil dari sini
Hadirnya nama-nama besar seperti Robert de Niro, Hilary Swank, dan Michelle Pfeiffer jelas tidak menjamin kualitas akan film ini. Nama besar dan kekuatan akting mereka tenggelam oleh banyaknya plot yang berbeda dalam satu film berdurasi hampir dua jam ini. Kalau ada akting dan karakter yang mengesankan, Michelle Pfeiffer dengan karakter Ingrid-lah yang paling memorable. Di awal, saya sempat tidak menyangka bahwa karakter wanita kantoran yang geek, cupu, serta berharap banyak untuk melakukan semua resolusi tahun 2011nya adalah seorang Michelle Pfeiffer. Kuatnya karakter ini ditabrakkan dengan karakter sanguin dan pantang menyerah dari Paul yang (harus saya akui) diperankan dengan baik oleh Zac Efron. Perpaduan karakter yang bertolak belakang ini, baik dalam segi kepribadian dan umur, ternyata menjadi menarik untuk dinikmati. Apalagi kisah canggung mereka, yang membuat penonton menebak-nebak apakah ada garis asmara diantara mereka. Yang kemudian dijawab dengan bijak di akhir film. Ya, film ini akan jauh lebih baik jika mengekstensi plot Pfeiffer-Efron ini.

Berbagai plot yang hadir memang menarik dan cukup representatif dalam melihat sampel bagaimana orang-orang dari berbagai kalangan mempersiapkan bagaimana mereka akan menghabiskan malam pergantian tahun baru. Namun rasanya plot-plot tersebut terlalu banyak untuk dicampur-adukkan menjadi satu film. Hasilnya adalah, dapat dengan mudah mengarahkan penonton untuk tidak peduli pada satu-dua plot tertentu. Seperti bagaimana saya mengesampingkan plot suami istri yang hanya bisa berhubungan lewat webcam, atau tidak suka pada plot koki yang berhubungan dengan seorang bintang rock.
gambar diambil dari sini
Oh ya, film ini memang menghadirkan seorang bintang rock asli, Jon Bon Jovi. Namun rasanya proporsi plot yang ada lebih banyak pada plot karakter Bon Jovi - Heigl. Hal ini seakan ingin memamerkan nama Jon Bon Jovi semaksimal mungkin. Yang sayangnya tidak diimbangi oleh akting dan kekuatan karakter yang mumpuni dari seorang Jon Bon Jovi. Akting Katherine Heigl juga tidak banyak membantu, yang malah menjadikan kisah plot mereka sedatar film konversi 3D.

Special mention untuk mantan aktris cilik, Abigail Breslin. Pertama kali saya melihat akting dia dalam film Little Miss Sunshine, saya langsung jatuh hati. Kini Breslin telah tumbuh dewasa dan jauh lebih tinggi dibandingkan karakter Olive yang dulu. Karakter yang dimainkannya pun rasanya pararel dengan tahap perkembangan yang sedang dilaluinya sekarang; masa peralihan dari masa remaja menuju masa dewasa muda. Hal itu mungkin menambah kontribusi tersendiri pada aktingnya yang terbilang cukup baik dan mampu mengimbangi Sarah Jessica Parker yang berperan sebagai ibunya.

Film ini memang menghibur dan menghadirkan sedikit senyuman. Namun rasanya film ini akan cukup dinikmati di layar kaca di rumah atau di komputer.



USA | 2011 | Comedy/Romance | 118 Mins. | Aspect Ratio 1.85 : 1

Rating?
6 dari 10

- sobekan tiket bioskop tertanggal 11 Januari 2012 -

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top