30 January 2012
One kritik

Last Night

Sejauh apa sebuah tindakan bisa disebut sebagai selingkuh dari pasangan? Apakah menggandeng tangan, atau malah berciuman sudah bisa disebut sebagai selingkuh? Bagaimana dengan having sex? Lalu bagaimana dengan menyimpan perasaan pada cinta lama namun tidak berlanjut sampai di kasur? Kira-kira, semua pertanyaan ini dan modifikasinya tergambar dengan cukup apik dan cerdas dalam film yang dirilis tahun 2010, Last Night.

Sepasang suami istri harus menguji kesetiaan mereka satu dengan yang lain. Joanna menuduh suaminya, Michael, menyimpan ketertarikan terhadap teman kerjanya, Laura. Dengan pertengkaran yang belum selesai, Joanna mengakui bahwa mungkin ia hanya terlalu berlebihan. Keesokan harinya, sebuah perjalanan bisnis keluar kota bagi Michael menguji kesetiaannya pada Joanna sekaligus ketertarikannya pada Laura. Sementara Joanna yang tiba-tiba bertemu dengan Alex, mantan pacarnya, pun harus menguji kesetiaan dan kejujurannya pada Michael.

Film ini bukanlah film drama romantis biasa yang penuh dengan hal-hal yang berbau cheesy. Sebaliknya, film ini adalah sebuah film drama romantis yang cukup cerdas dan apa adanya dalam memperlihatkan apa yang terjadi jika sebuah godaan besar ditempatkan di tengah-tengah perkawinan, khususnya pasangan suami-istri yang masih terbilang muda. Dibawakan dengan baik oleh deretan cast yang brilian. Duet Keira Knightley sebagai Joanna yang ekspresif dan tampil apa adanya dan Sam Worthington sebagai Michael yang dingin dan kalem benar-benar menghidupkan emosi romansa yang ada dalam film ini. Belum lagi dengan kehadiran Eva Mendes sebagai Laura dan Guillaume Canet sebagai Alex yang tampil brilian sebagai godaan kuat bagi pasangan Joanna dan Michael.

gambar diambil dari sini
Cerita yang ditulis oleh sutradara sekaligus penulis naskah asal Iran, Massy Tadjedin, ini cukup unik dan menarik. Narasi yang dibawakan membuat penonton sibuk menebak kejadian atau tingkah laku apa selanjutnya yang akan terjadi. Setiap dialog dan ekspresi yang dikeluarkan oleh para pemeran begitu mendetil dan natural, sehingga memudahkan penonton itu menebak apa yang ada di balik pikiran setiap karakter, bahkan tanpa dialog sekalipun. Memperhatikan ekspresi, pandangan mata, gerakan bibir dari karakter Joanna dan Michael seakan sebagai studi karakter tersendiri. Bagaimana sesungguhnya perasaan masing-masing dari mereka terhadap para godaannya, sejauh apa mereka setia pada pasangan satu sama lain, kira-kira tingkah laku apa yang akan mereka lakukan selanjutnya, semua ini menjadi asyik untuk dinikmati dan diobservasi dari karakter mereka. Lebih jauh lagi, Tadjedin sepertinya ingin memperlihatkan bagaimana perbedaan pria dan wanita dalam menjalani hubungan, khususnya isu kesetiaan dan perselingkuhan.

Jalan cerita pun bergerak senatural mungkin untuk kemudian mengajak penonton berpikir dan merenung. Kedalaman karakter yang telah dibangun, akan secara otomatis membuat penonton dapat menempatkan diri dengan mudah pada karakter yang tampil di layar. Setiap keputusan akan tindakan yang mereka ambil, bisa serta-merta membuat penonton berandai-andai apa yang akan mereka lakukan jika mereka berada dalam situasi tersebut. Lebih jauh lagi, konflik yang disajikan dalam film ini akan membuat kita semua merenung; sejauh mana suatu tindakan bisa disebut sebagai selingkuh. Atau lebih mendetil lagi, selingkuh seperti apa yang lebih "selingkuh"; apakah having sex tanpa perasaan atau perasaan tanpa having sex? Pada akhirnya, Tadjedin tidak menyediakan jawaban mudah. Film pun ditutup dengan cukup fair..



USA | 2010 | Drama/Romance | 93 Mins. | Aspect Ratio 2.35 : 1

Rating?
7 dari 10

- sobekan tiket bioskop tertanggal 30 Januari 2012 -

1 kritik:

  1. Wah, ada si Keira Knightley, gw demen tuch, Hehe... Oh ya, gw link n' follow ya, jika berkenan monggo link dan follback-nya... :)

    Thx

    ReplyDelete

 
Toggle Footer
Top