19 July 2011
0 kritik

Harry Potter and the Deathly Hallows: Part 2

Babak penutup dari keseluruhan seri Harry Potter yang telah menghebohkan dunia sejak sepuluh tahun lalu lewat film pertamanya, Harry Potter and the Sorcerer's Stone (2001). Sangat disayangkan jika fenomena global ini harus berakhir sampai disini, namun seperti tagline The Matrix Revolutions (2003); "everything has a beginning, has an end". Apalagi jika cerita akhir dimana ada final battle antara Harry Potter dengan Lord Voldermort yang ditunggu-tunggu oleh para penggemarnya akan divisualisasikan dalam film ini.

Harry, Ron, dan Hermione melanjutkan pencarian mereka akan Horcrux milik Lord Voldemort, benda-benda magis yang bertanggung jawab akan kekebalan Lord Voldemort. Sementara itu, mitos mengenai Deathly Hallows semakin terkuak dan mendistraksi Harry dan kawan-kawan dalam mencari Horcrux. Voldemort yang lambat laun mengetahui misi Harry dan kawan-kawan, menyiapkan rencana agar bisa berduel dengan Harry untuk melihat siapa yang pantas untuk tetap hidup.

Bagian kedua dari seri terakhir dari usaha Harry untuk menghancurkan kekuatan Voldemort ini memang sebuah peningkatan tajam dari bagian pertamanya. Menurut gue, bagian pertama saja merupakan peningkatan drastis dari keenam seri sebelumnya. Peningkatan dalam artian seberapa setia hasil adaptasi dan visualisasi dari novelnya. Hal ini mungkin kurang lebih dipengaruhi oleh keterlibatan si penulis novel sendiri, J.K. Rowling dalam proses pembuatan filmnya semenjak Part I yang duduk di kursi produser.


Film-film yang diadaptasi dari buku memang memiliki tantangan tersendiri bagaimana membuat penonton yang telah membaca bukunya terlebih dahulu untuk menjadi tetap tertarik dan terserap emosinya dalam menonton hasil visualisasi buku tersebut. Film ini termasuk yang terbaik dalam memberikan pengalaman utuh yang dapat membuat semua kategori penonton,  baik yang belum ataupun udah membaca bukunya, untuk merasakan dan menyerap emosi yang ditampilkan oleh setiap adegan yang ada di layar. Satu hal yang gue puji adalah bagaimana scoring musik dari Alexander Desplat yang mampu menggugah setiap rasa dan emosi dari setiap adegan yang ada.

Film sekuel terakhir dari Harry Potter Saga ini memang dibilang yang terbaik diantara semua instalasinya. Terbaik dalam hasil adaptasi dari bukunya dan juga terbaik di segi film. Kostum, set, tata suara, tata lampu, efek visual, efek suara, dan lain sebagainya yang sangat brilian. Hal ini juga terlihat dari bagaimana semua kritik positif serta rating tertinggi dari hampir semua website yang membahas soal film. Tapi mungkin hal tersebut didukung oleh faktor dimana film ini adalah momen terakhir dimana para penonton terakhir kali melihat para bintang film asal Britania Raya berkumpul dalam satu layar. Tercatat, hanya serial Harry Potter yang mampu mengumpulkan  bintang-bintang film kelas atas asal pulau Britania Raya dan mereka setia memainkan karakternya sampai instalasi terakhir.
gambar diambil dari sini
Jika Emma Watson dan J.K. Rowling meneteskan air mata sangat mengucapkan selamat tinggal kepada serial Harry Potter dalam pemutaran perdana film ini di London, maka para fans setia dan penonton awam juga akan secara otomatis menempatkan serial Harry Potter ini sebagai salah satu kenangan terbaik dalam dunia perfilman.



Rating?
9 dari 10

- sobekan tiket bioskop tertanggal 19 Juli 2011 -

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top