04 July 2011
One kritik

Transformers: Dark of the Moon

8:26 PM
Siapa yang menyangka jika proyek mendaratkan manusia ke bulan di tahun 1969 ternyata disebabkan oleh ingin menginvestigasi jatuhnya pesawat Cybertronian di bulan? Siapa yang menyangka pula teknologi mutakhir Autobots/Decepticons memiliki kontribusi terhadap Tragedi Chernobyl di Ukraina tahun 1986? Sekuel ketiga dan terakhir dari perang abadi antara Autobots dan Decepticons ini akan menguak semuanya dalam Transformers: Dark of the Moon.

Sam Witwicky (Shia LaBeouf) bersama para Autobots menyelidiki keanehan pesawat Cybertronian yang jatuh di bulan tahun 1961. Disaat misteri tersebut pun terkuak, serbuan Decepticons terhadap bumi pun telah berada di depan mata.

Kira-kira ada tiga hal yang dapat menggambarkan franchise Transformers; awesome robots, hot girl, dan heavy visual effect. Sekuel ketiga ini pun tetap mempertahankan ciri khas tersebut, dan bahkan menaikkan intensitasnya beberapa kali lipat. Para fans berat Transformers akan bersorak bahagia melihat kehadiran robot-robot baru seperti Sentinel Prime dan Shockwave. Dipecatnya Megan Fox (berita lengkap dapat dibaca disini) tidak membuat pembuat film kehabisan ide, terbukti model Inggris Rosie Huntington-Whiteley tampil lebih sensual dalam debut akting pertamanya dalam film ini. Penonton pun akan dimanjakan matanya dengan efek visual yang mengagumkan serta 3D yang meyakinkan karena memang 70% dari film ini disyut menggunakan kamera 3D-nya James Cameron.

Diluar ciri khas tersebut, naskah film ini tetap saja datar dan tidak ada kedalaman yang berarti. Tapi memang naskah dalam film ini jauh lebih baik ketimbang Revenge of the Fallen (2009) dengan dikuranginya dialog-dialog cheesy dan membuat dinamika jalan cerita sedikit lebih rumit. 157 menit yang dihabiskan film ini terkesan terlalu dipanjang-panjangkan mengingat plot cerita yang sebenarnya sederhana. Namun dinamika jalan cerita yang dibuat sok rumit itu akan terkesan sambil lalu saja ketika penonton kembali disuguhi oleh final battle yang mengesankan di penghujung film. Benar saja, setiap adegan aksi yang ada memang mengagumkan. Mengingat ini adalah sekuel terakhir, Michael Bay tampak habis-habisan dalam menghancurkan apapun yang bisa dihancurkan. Michael Bay sendiri menyebutkan bahwa suasana film ini seperti Black Hawk Down (2001) dengan robot alien raksasa. Namun rasanya film ini lebih cocok dibandingkan dengan Battle: Los Angeles (2011) dan War of the Worlds (2005) mengingat adegan-adegan kehancuran kota Chicago yang diserbu oleh robot alien. Namun sayang, adegan penyerbuan itu pun tampak hanya sambil lalu saja tanpa memberikan kesempatan pada penonton untuk merasakan kengerian tersendiri melihat betapa mudahnya robot-robot ini memusnahkan apa yang ada di depan mereka.
gambar diambil dari sini
Ketika robot-robot Autobots dan Decepticons yang memang menjadi jualan utama dalam franchise ini, maka lupakanlah penampilan dan akting dari para pemeran manusia dalam film ini. Selain menyia-nyiakan talenta aktor-aktor berbakat macam John Malkovich dan Ken Jeong, naskah dalam film ini juga "terlalu Hollywood" untuk memasukkan kembali karakter-karakter yang muncul dalam dua film sebelumnya. Entah mau bagaimana pun caranya, Sam Witwicky harus menjadi pahlawan dengan dibantu oleh Epps (Tyrese Gibson) dan Lennox (Josh Duhamel). Kehadiran Rose Huntington-Whiteley juga dibuat sedemikian rupa pentingnya dalam plot cerita agar kehadirannya tidak terkesan terlalu mengada-ada. Maka bersiap-siaplah wahai kaum Hawa untuk mencibir penampilan model Victoria Secret ini ketika dia tampil terlalu berlebihan dalam menampilkan keseksian lekuk tubuh serta bibirnya.  Jika ada yang perlu dipuji, maka Patrick Dempsey lah yang paling layak mendapatkan (setengah) acungan jempol atas aktingnya disini sebagai "saingan" dari Sam Witwicky.

Michael Bay terlihat belajar banyak dari kesalahannya di Revenge of the Fallen. Detil-detil robot menawan yang tampak sia-sia dengan shot-shot cepat di film sebelumnya, kali ini ditampilkan secara slow-motion. Shot slow-motion ini sangat berhasil untuk memberikan waktu bagi penonton untuk mengagumi detil kerumitan dari para robot yang ada, entah untuk adegan perubahan wujud maupun adegan peperangan. Selain itu, kali ini Michael Bay memberikan porsi yang lebih banyak kepada manusia untuk unjuk gigi dimana pada film-film sebelumnya manusia lebih berperan sebagai "nyamuk". Kali ini, penonton akan dihibur oleh banyaknya adegan-adegan stunt macam Ethan Hawke yang menimbulkan decak kagum.
gambar diambil dari sini
Film macam ini memang tidak dapat memuaskan otak serta hati, namun pembuat film telah mencapai tujuannya untuk memuaskan mata serta telinga penonton. Ya, film ini memang sangat menghibur untuk memanjakan mata dan telinga, dengan catatan ditonton secara 3D di bioskop dengan layar selebar mungkin dan sistem suara yang mumpuni. Dari faktor menghibur tersebut, maka tidak berlebihan jika sekuel ketiga ini disebut sebagai yang terbaik diantara sekuel lainnya.



Rating?
7 dari 10

Bonus: Penjelasan kurun waktu untuk ketiga sekuel (heavy spoiler) dapat dibaca disini

- sobekan tiket bioskop tertanggal 3 Juli 2011-

1 kritik:

  1. Di Indonesia film ini katanya baru akan tayang 5 Agustus.

    Kalo begitu, sebaiknya untuk film ini, langsung tonton 3D-nya aja ya. :)

    ReplyDelete

 
Toggle Footer
Top