19 July 2011
5 kritik

The Tree of Life

"Dimanakah engkau, ketika Aku meletakkan dasar bumi?". Disaat para penonton baru meletakkan pantat di kursi bioskop dan mencari posisi enak, mata dan pikiran penonton langsung dihajar dengan pertanyaan berat dan filosofis dalam narasi pembuka. Pertanyaan tersebut adalah pertanyaan yang diajukan oleh Tuhan kepada Ayub, dalam kitab Ayub bab 38 ayat 4. Ternyata intro pembuka tersebut menjadi salah satu kunci signifikan untuk memahami lebih lanjut film The Tree of Life.

Film bergulir dengan menceritakan kehidupan keluarga O'Brien di tahun 1950-an. Bergerak dari sudut pandang  Jack O'Brien di masa kini, si anak sulung yang mengalami disorientasi hidup karena trauma masa kecilnya. Di tengah perasaan absurd yang dialaminya di dunia modern ini, Jack mempertanyakan eksistensi hidup dan iman atas apa yang telah dialaminya semenjak trauma masa kecil tersebut. Memori-memori Jack tentang kehidupan keluarganya, masa kecil bahagianya bersama kedua adiknya, pola asuh keras dari ayahnya pun terangkat naik dan divisualisasikan dalam adegan-adegan yang non-linear selama cerita film berlangsung.

Gue masih tidak habis pikir, mengapa ada orang yang dengan berani membuat film yang berbicara tentang kehidupan, kematian, iman, evolusi kehidupan, dan eksistensi manusia? Premis film yang kelewat luas dan menyerempet kotak filsafat. Apalagi diceritakan dengan gaya editing yang acak, non-linear, dan adegan-adegan silih berganti seakan tidak ada kesinambungan sama sekali dengan inti ceritanya - apapun itu inti ceritanya. Ya, dia adalah Terrence Malick. Seorang sutradara dan penulis naskah yang berbakat dan jenius - serta kelewat nyentrik. Seorang sineas yang (hanya) membuat 5 film dalam 40 tahun? Badlands (1973), Days Of Heaven (1978), The Thin Red Line (1998), The New World (2005), dan yang paling terbaru adalah film yang dibintangi oleh Brad Pitt, Jessica Chastain, dan Sean Penn ini.

Melihat latar belakang seorang Terrence Malick berkaitan dengan film terbarunya dimana dia sendiri sebagai penulis naskahnya, akan membuat penonton memaklumi jalan pikirannya. Seorang professor di Massachusetts Institute of Technology dan seorang lulusan Filsafat di Harvard University, Malick sepertinya tahu benar - menurut versinya - dalam menggambarkan interpretasinya akan jalur dan dinamika kehidupan manusia, yang tidak lepas dari keterlibatan alam dan Tuhan. Beruntung Malick adalah seorang sineas terkemuka dan berbakat, sehingga dia dapat  memvisualisasikan jalan pikirannya itu ke dalam sebuah film berdurasi 139 menit dengan sinematografi yang luar biasa indah dan menakjubkan, walaupun dengan ciri khas gaya editing yang terkesan abstrak dan sering berganti-ganti.


Selama menonton film ini, gue cukup tersiksa dengan deretan adegan random yang silih berganti dan terkesan tidak ada makna serta signifikansi terhadap jalan cerita. Apalagi penonton juga disajikan adegan penciptaan bumi yang fenomenal itu selama 20 menit di paruh awal film, yang semakin membuat gue menghujat "ini apa maksudnya??". After-ending yang diberikan film ini malah semakin membuat gue garuk-garuk kepala tidak habis pikir, mau dibawa kemana cerita film ini. Apalagi judul film  yang diberikan seakan tidak memberikan petunjuk apa-apa tentang jalan cerita film. Dua-tiga hari setelah gue menonton film ini, pikiran dan rasa penasaran gue dibuat bekerja hebat dalam rangka ingin memahami lebih jauh tentang film ini. Setelah membaca kitab Ayub secara keseluruhan dalam Kitab Suci, dan mengingat-ingat kembali setiap adegan dan jalan cerita yang memang masih membekas jelas di kepala gue, akhirnya sedikit demi sedikit gue mulai memahami apa yang ingin disampaikan oleh Malick. Mungkin memang butuh waktu kurang lebih dua bulan bagi gue untuk dapat menulis ulasan film ini di blog ini, tapi setidaknya ada kemajuan yang berarti dalam diri gue yang memang tidak menyerah untuk memahami film ini lebih jauh.

Sebelum menonton film ini, gue memang percaya bahwa Malick ingin menyampaikan suatu hal yang serius dan penting untuk diketahui dan diresapi oleh penontonnya. Namun memang tidak ada cara penyampaian yang lebih baik ketimbang apa yang telah dilakukan oleh Malick; adegan acak yang silih berganti, adegan-adegan meaningless, plus adegan "The Birth of Universe". Malick tidak ingin menyuapi penontonnya dengan khotbah-khotbah dengan kehidupan dan kematian, nature and grace, serta eksistensi manusia. Cara penyampaian film ini seakan membuat penontonnya untuk kembali mempertanyakan hidup dan eksistensinya, lalu mendapatkan interpretasinya sendiri sesuai dengan jalur kehidupan yang telah dilakukannya. Cara penyampaian film ini hanyalah sebagai pintu, dimana penonton selanjutnya harus memilih jalan mana yang akan ditempuh, atau hanya berdiri di pintu dan menyerah untuk mengetahuinya lebih lanjut. Mereka yang tidak mengerti dan menyerah di ketidak-mengertiannya, tidak heran jika mereka menghujat film ini sebagai "bukan sebuah film" yang patut diputar di bioskop. Tapi ketika gue menemukan lampu pijar untuk menerangi film ini, akan memuji film ini beserta pembuatnya setinggi langit.


Adegan-adegan masa kecil Jack yang tampak acak itu menurut gue adalah suatu ilustrasi yang paling tepat untuk memvisualisasikan sebuah memori masa kecil. Masa dimana tahun-tahun pertama dalam hidup seiring dengan bertumbuhnya jaringan otak mungkin memang tidak sejelas ketika kita mengingat masa remaja kita, misalnya. Seberapa jelas anda mengingat masa kecil anda ketika berumur 3 tahun ketika anda sedang makan malam bersama dengan keluarga anda? Seberapa jelas anda mengingat masa kecil anda saat berumur 5 tahun ketika anda terjatuh dari sepeda? Potongan-potongan memori masa kecil inilah yang dengan persis divisualisasikan oleh Malick lewat kaca mata seorang Jack O'Brien.

Disaat kebanyakan orang sibuk membahas jalan cerita dan pesan apa yang ingin disampaikan oleh pembuat film, gue ingin memberikan nilai positif di aspek lain dari film ini. Film drama kontemplatif semacam ini memang menaruh tiang sandaran kepada akting dari para pemerannya, dimana semua aktor dan aktris dalam film ini bermain sangat brilian. Hunter McCracken yang berperan sebagai Jack kecil, tidak terlihat sebagai seorang aktor anak kecil yang baru pertama kali berakting di depan kamera. Penampilannya sungguh brilian, walaupun banyak shot close-up yang mengharuskan dia sedetil mungkin untuk berekspresi, tidak tenggelam oleh hingar bingar dan kekuatan akting dari senior dan lawan aktingnya, Brad Pitt dan Jennifer Chastain sebagai Mr. dan Mrs. O'Brien.

Selain itu, pujian tertinggi gue berikan untuk Douglas Trumbull sebagai orang yang bertanggung jawab di balik efek visual, khususnya untuk adegan "The Birth of Universe". Trumbull adalah seorang veteran di dunia efek visual, pernah menukangi efek visual dari film 2001: A Space Odyssey (1968). Direkrutnya Trumbull secara khusus oleh Malick karena metode Trumbull yang non-konvensional dalam menciptakan efek visual yang menakjubkan. Hal ini juga berkaitan dengan bagaimana kecewanya Malick terhadap hasil dari teknologi komputer yang terlalu artifisial, sehingga membuat Malick beralih kepada Trumbull dengan metode natural dan praktikal. Trumbull bereksperimen dengan metode-metode baru untuk menciptakan kembali adegan penciptaan alam semesta dengan micro-photography; memfilmkan aktivitas selular dan proses kimiawi selama satu menit untuk mengilustrasikan proses penciptaan galaksi.

gambar diambil dari sini
Hasil dari adegan tersebut? Walaupun ada seorang kritikus film yang menyatakan bahwa adegan 20 menit tersebut layak dibuang dan tidak akan berpengaruh apa-apan bagi keseluruhan cerita, adegan tersebut adalah sebuah cinematic-orgasm bagi gue. Oh ya, sebuah mahakarya dari sinematografi yang brilian dan cerdas, mengingat tidak dibuat melalui teknologi CGI tetapi dengan metode praktikal dan non-ortodoks. Kesinambungan adegan tersebut dengan keseluruhan cerita, menurut gue malah adegan tersebut adalah sebuah perpanjangan tangan dari gambaran besar kisah Jack O'Brien yang dikomparasikan dengan kisah Ayub. Lebih jauh lagi, adegan tersebut adalah ekstensi dan "pembuktian" dari pertanyaan Tuhan kepada Ayub yang digulirkan di awal film. Alam semesta diciptakan, berkembang, dan berevolusi sedemikian rupa hingga sekarang ini, dimana manusia "hanyalah" setitik debu tak terlihat di tengah-tengah proses penciptaan tersebut.

Mungkin banyak pendapat dan interpretasi singkat gue terhadap film ini yang tidak setujui oleh pembaca, tapi memang itulah adanya. Gue rasa, film kontemplatif seperti ini memang tidak memiliki interpretasi general yang bisa dianut oleh kebanyakan orang. Menurut gue, interpretasi terhadap film ini bisa menjadi sangat berbeda bagi diri setiap orang, tergantung bagaimana orang tersebut memandang hidup, alam, dan Tuhan - tentunya bagi mereka yang tidak menyerah untuk menginterpretasikan karya kontemplatif ini. Malick memang memilih pisau biblikal untuk memotong dan mengilustrasikan kisah ini, namun menurut gue Malick cukup berhasil membuat film ini bisa ditonton dengan nyaman oleh orang-orang dari berbagai latar belakang agama. Irisan-irisan rohaninya memang tajam dan jelas, namun itu hanyalah cara pandang untuk melihat suatu masalah. Lagipula, gue juga tidak bisa melihat cara pandang yang lebih baik untuk melihat dan membahas mengenai eksistensi hidup dan kematian selain dari sudut pandang biblikal.

gambar diambil dari sini
Kembali ke segi film, harus gue akui film ini bukanlah sebuah film bagi semua kalangan, apalagi mereka yang mencari hiburan dari kepenatan hidup sehari-hari. Film ini tidak akan memberikan hiburan tersendiri, apalagi memberikan jawaban yang pasti dari cerita yang digulirkan. Di akhir film, cerita dalam film ini malah akan membuat penonton semakin bertanya-tanya, menggali dan merenungkan pesan yang ditawarkan oleh kisah Jack O'Brien. Bagi gue, film ini adalah sebuah buku harian scrapbook dari seseorang yang mengalami kekalutan stadium tinggi terhadap hidup. Film ini bagaikan untaian doa yang berbentuk barisan bait-bait puisi yang kontemplatif, dimana barisan bait-bait tersebut terkadang bernada sinis, terkadang bernada pujian, dan terkadang bernada penuh rahmat dan syukur. Akhir kata, film ini adalah sebuah mahakarya sastra yang begitu jarang dan berani ditelurkan di industri perfilman di era modern ini.



Rating?
10 dari 10

 - sobekan tiket bioskop tertanggal 19 Juli 2011 -


BONUS I:
Artikel yang mengupas film ini dengan pisau psikologi, khususnya mengenai memori masa kecil: The Tree of Life and Childhood Memories.

BONUS II:
Gue cukup gatal untuk menelurkan interpretasi versi gue, yang gue dapat dari parutan waktu dan usaha yang gue lewati. Sekali lagi, ini adalah interpretasi VERSI GUE dimana interpretasi individual terhadap film ini bisa sangat berbeda tergantung dari individu tersebut. Pilihan untuk membaca atau tidak interpretasi versi gue ini terdapat pada anda sendiri! Gue hanya mengungkapkan isi pikiran gue lewat tulisan. HEAVY SPOILER ALERT!
Blok tulisan dibawah ini untuk membaca.

Pertanyaan yang dikutip dari Kitab Ayub di awal film kurang lebih menjadi titik gravitasi utama dalam dinamika cerita film ini. Ayub adalah seorang hamba Tuhan yang baik dan saleh, namun dia diuji dengan bagaimana segala harta kekayaannya diambil orang, serta sanak saudaranya meninggal, dan dia harus hidup sendirian dan menderita. Sampai suatu saat Ayub seakan mempertanyakan dimana Tuhan ketika dia menderita. Tuhan pun balik bertanya kepada Ayub, dimana dia saat Tuhan menciptakan dunia. Kisah Ayub ini bisa dibilang cukup pararel dengan kisah Jack O'Brien yang diperankan oleh Sean Penn dalam film ini. Seorang anak baik-baik dengan masa kecil yang bahagia dengan kedua adiknya, setelah mengalami trauma masa kecil dan hubungan yang retak dengan ayahnya, Jack pun mengalami disorientasi dalam hidup dan mempertanyakan Tuhan serta kehidupan. Jack yang marah terhadap kehidupan pun terus menggali apa makna dari hidup yang telah dijalaninya. Namun pertanyaan Tuhan kepada Ayub tersebut cukup mengilustrasikan apa yang terjadi dalam kehidupan, yang kemudian diilustrasikan oleh Malick dalam berbagai adegan mulai dari adegan penciptaan dunia sampai evolusi makhluk hidup. Bahwa alam bergerak dengan sendirinya! Satu kejadian menimpa kejadian lainnya. Ada kejadian buruk yang silih berganti dengan kejadian baik. Bahwa kejadian buruk tersebut ternyata membawa berkah bagi sisi kehidupan lain, dan dengan begitu pun kejadian buruk tersebut mendapat maknanya sendiri. Dinosaurus yang punah oleh tabrakan meteorit, ternyata malah memberikan tempat bagi manusia untuk menghidupi bumi dan berkembang biak. Kematian adik dari Jack O'Brien yang memutarbalikkan garis kebahagiaan keluarga O'Brien memang mengundang sinis dan murka terhadap Sang Pencipta. Namun hal itu ternyata wajar adanya mengingat manusia hanyalah manusia rapuh yang memiliki perasaan. Keluhan-keluhan tersebut pun pernah keluar dari mulut Ayub sendiri ketika dia mempertanyakan akan penderitaan yang ia alami. Pergumulan Mrs. O'Brian pun bukan sebuah pergumulan singkat dan ringan, tetapi ia tidak pernah menyerah untuk mempertanyakan, merenung, dan menggali. Di akhir film, kita dapat melihat bagaimana Mrs. O'Brien yang akhirnya menerima kematian putranya dengan dialog "I give him to you, I give You my son", yang merupakan lambang rekonsiliasi dia dengan kematian, hidup, dan Tuhan. Ketika manusia telah berhasil untuk maju dan kembali menjalani kehidupannya, maka kehidupan itu pun akan melahirkan cabang baru dan terus bertumbuh seiring umur manusia. Pada gambaran besar, kita dapat melihat cabang-cabang rumit tersebut berbentuk seakan sebuah pohon besar, pohon kehidupan. Mungkin ini adalah interpretasi terdalam dari ungkapan orang-orang Perancis, "c'est la vie". 

BONUS III: Poster-poster alternatif dari Prologue

5 kritik:

  1. Nice, mo! Gue suka banget interpretasi lo :-D

    Gue pribadi udah terkesima dengan film ini dari narasi pembuka, "there are two ways of life: the ways of nature and the ways of grace."

    Ways of nature percaya alam berdiri independen dengan hukumnya sendiri tanpa campur tangan Tuhan, ways of grace kebalikannya: bahwa semesta diatur penuh oleh Yang Mahakuasa.

    Si Jack yang dibesarkan dalam secara religius mulai mempertanyakan lagi jalan hidupnya sejak kematian adiknya. Tapi buat gue yang luar biasa dari film ini adalah film ini seakan menanyakan, "apa bijak untuk marah kepada semesta, dan dengan egois meninggalkan jalan hidup lalu berpaling ke jalan lain?" sementara di film dikasi liat bahwa semesta ga cuma terdiri dari kita dan orang2 terdekat, tapi jauh lebih besar dari itu.

    Line terakhir, "I give you my son" ngingetin gue sama dialog Yesus, Maria dan Yohanes di cerita sengsara, pas Yesus bilang ke Maria, "inilah anakmu" dan ke Yohanes, "itulah ibumu." (or something like that, maaf kalo salah) yang intinya adalah penyerahan total. Sama kayak Jack sekeluarga yang akhirnya nerima kematian dalam keluarga dan menyerahkan segala sesuatunya ke semesta, ke Tuhan, atau apapun yang mereka percayai.

    Totally agree filmnya dapet 10. Luar biasa emang :-D

    ReplyDelete
  2. Bahas film ini nggak mungkin nggak panjang ya =D.

    gw cukup sepaham sama hubungan terbentuknya bumi dengan tumbuhnya Jack *yg di bagian spoiler*

    Nice review =)

    ReplyDelete
  3. "Mereka yang tidak mengerti dan menyerah di ketidak-mengertiannya, tidak heran jika mereka menghujat film ini sebagai "bukan sebuah film" yang patut diputar di bioskop. Tapi ketika gue menemukan lampu pijar untuk menerangi film ini, akan memuji film ini beserta pembuatnya setinggi langit.” ---> Setuju mengingat film ini esoteric banget.

    Bonus essay-nya mantep lo. Pengen juga diskusi film ini, tp gada temen yg nonton film beginian.

    ReplyDelete
  4. sudahkah kita juga melakukan hal yg sama dengan yg dilakukan oleh Jack O'Brien dlm mencari makna kehidupan?

    ReplyDelete

 
Toggle Footer
Top