09 October 2018
0 kritik

First Man - Review

10:32 AM
"Romantisasi pendaratan di bulan dengan visual dan audio yang sangat indah, sekaligus sangat personal"

Film biografi ini fokus pada kehidupan Neil Armstrong tahun 1961 - 1969, di mana dia menjadi manusia pertama yang berjalan di bulan. Perjalanan bersejarah tersebut di mulai dengan proses yang jauh dari kata mudah, dan cenderung berbahaya dalam setiap persiapannya. Konsekuensinya sangat signifikan, baik bagi negara maupun kehidupan keluarga Neil sendiri.

Kalau nggak ada nama Damien Chazelle dan Ryan Gosling di sini, mungkin gue akan nggak begitu tertarik untuk menonton hal yang semuanya sudah kita pelajari dari SD. First Man memang jadi ajang reuni bagi sutradara Damien Chazelle dan krunya yang menang banyak Oscar lewat La La Land (2016) dan Ryan Gosling sendiri. Untuk mengangkat kisah perjalanan Neil Armstrong, memang rasanya pilihan penyutradaraan ini jatuh ke tangan yang tepat. Di tangan Damien Chazelle yang ahli memotret masa lalu menjadi cantik, romantisisme perjalanan manusia ke bulan ini pun jadi tak kalah ciamiknya.

Yang perlu digarisbawahi adalah pilihan visualisasi kamera yang terlihat jadul. Model gambar tahun 60-an macam American Made (2017) ditambah handheld camera yang jadi terkesan bergoyang-goyang jelas menambah aura tahun 60-an. Bisa jadi pilihan ini akan dibenci oleh sekelompok penonton yang menginginkan gambar jernih di dalam bioskop. Tetapi pilihan ini bisa jadi sengaja bukan hanya ingin otentik dengan setting waktu, tetapi sebagai titik kontras dengan adegan pendaratan di bulan yang memakai kamera IMAX. dan Ya Tuhan betapa indahnya penggambaran adegan moon landing yang fenomenal itu.


Hal kedua yang sangat gue suka dari film ini adalah scoring-nya. Yes, Damien Chazelle kembali memboyong Justin Hurwitz sebagai komposer, dan nggak heran kalau beberapa melodinya mirip dengan La La Land. Biasanya dalam ranah Hollywood, untuk film-film biografi seperti ini pasti diiringi dengan melodi yang itu-itu saja. Tapi dalam tangan Justin Hurwitz, kebiasaan itu dipatahkan dengan melodi yang terbilang modern, dan sangat ear-catchy. Tipikal lagu-lagu yang langsung gue cari di Apple Music setelah nonton.

Hal lain yang sangat menarik adalah film ini banyak menggunakan close-up shots untuk setiap adegan dialog yang emosional. Pilihan ini bisa jadi selaras dengan claustrophobic-nya untuk berada di dalam kokpit yang sempit untuk terbang ke luar angkasa. Ditambah dengan fokus pada ekspresi sebagai buah dari pikiran dan perasaan dari masing-masing karakter - terutama karakter Neil Armstrong yang digambarkan sangat tenang dan penuh perhitungan. Yup, film ini sangat konsisten bertutur cerita dari kacamata seorang Neil Armstrong dan bagaimana dirinya menghadapi setiap kejadian (pahit) yang terjadi. Yang luar biasa jelas pada adegan akhir tanpa suara, namun penuh mata dan ekspresi yang berbicara jauh lebih banyak.







USA | 2018 | Biography | 141 mins | Scope Aspect Ratio 2.39 : 1 / IMAX Aspect Ratio 1.90 : 1

- sobekan tiket bioskop tanggal 9 Oktober 2018 -

Rating Sobekan Tiket Bioskop:

----------------------------------------------------------
  • review film first man
  • review first man
  • first man movie review
  • first man film review
  • resensi film first man
  • resensi first man
  • ulasan first man
  • ulasan film first man
  • sinopsis film first man
  • sinopsis first man
  • cerita first man
  • jalan cerita first man

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top