25 July 2017
0 kritik

War for the Planet of the Apes

"Dengan teknologi CGI yang hanya dijadikan sebagai instrumen cerita, film ini sangat maksimal dalam eksplorasi pengembangan karakter"

Caesar dan koloninya terjebak dalam konflik yang meruncing dengan manusia, kali ini khususnya oleh pasukan yang dipimpin oleh seorang kolonel yang kejam. Ketika kehilangan sudah sangat besar bagi koloni kera, Caesar menuntut balas kepada sang kolonel. Tidak hanya harus mempertahankan keselamatan koloninya, Caesar juga harus menghadapi kegelapan dari insting alaminya.

Sekuel ketiga dari franchise besar Planet of the Apes ini semakin matang dan mengambil banyak pembelajaran dari dua prekuel sebelumnya. Tema yang disasar adalah eksplorasi dilema moral dari karakter Caesar, yang - ironisnya - menjadi semakin seperti manusia. Porsi pengembangan karakternya jauh lebih banyak daripada porsi deretan adegan aksi - meski dengan judul "War" yang menjanjikan banyak hal. Namun ternyata, "war" yang dimaksud adalah lebih pada konflik psikologis yang ada pada Caesar yang berbentuk kera tetapi memiliki akal budi serupa dengan manusia.


Dengan teknologi motion-capture yang semakin canggih, tidak henti-hentinya penampilan Caesar, Rocket, Maurice, dan Luca membuat gue terkagum-kagum. Kalau dalam Rise (2011) dan Dawn (2014) sangat detil dalam menggambarkan mikro ekspresi wajah, maka dalam War kita bisa melihat bagaimana para kera ini berkeringat atau bahkan menangis. Visual ini tampak sangat realistis sehingga nyaris membuat gue menyerah bahwa apa yang gue lihat di layar adalah asli dan bukan hasil dari teknologi CGI.


Di luar visualnya yang sangat mengagumkan, Andy Serkis sebagai Caesar tampaknya sedang membuat tolok ukur baru bagi dunia akting dalam teknologi mo-cap. Tidak hanya gerakan tubuh atau ekspresi wajah, tetapi bagaimana bisa menyampaikan emosi kepada penonton mengenai apa yang sedang dirasakan. Pada tahap ini, War sangat berhasil untuk menyalurkan emosi tersebut lewat jalan cerita yang ada. Jalan cerita yang tragis dalam sudut pandang koloni kera, tetapi ironis bagi spesies manusia.

Menurut gue, War for the Planet of the Apes adalah film (pre-)apocalypse yang sangat kelam dan depresif. Diceritakan sepenuhnya dari sudut pandang kera, penonton memang mengikuti bagaimana mereka bertahan hidup dari arogansi manusia. Tetapi ketika kita bersorak gembira melihat keberhasilan mereka, seketika itu juga kita mengamini kalahnya spesies manusia dalam hukum alam survival of the fittest. Dengan film yang bergantung banyak pada teknologi CGI, jarang-jarang kita bisa merasakan kedalaman emosi yang signifikan - apalagi sampai menimbulkan perasaan campur-aduk di akhir film. Akhirnya ada juga film yang menjadikan teknologi CGI hanya sebagai instrumen bercerita - bukan jualan utama. Ini semua yang menjadikan War for the Planet of the Apes menjadi film yang spesial.



USA | 2017 | Action / Drama | 140 mins | Scope Aspect Ratio 2.35 : 1

Rating?
9 dari 10

- sobekan tiket bioskop tanggal 25 Juli 2017 -
----------------------------------------------------------
  • review film war for the planet of the apes
  • review war for the planet of the apes
  • war for the planet of the apes movie review
  • war for the planet of the apes film review
  • resensi film war for the planet of the apes
  • resensi war for the planet of the apes
  • ulasan war for the planet of the apes
  • ulasan film war for the planet of the apes
  • sinopsis film war for the planet of the apes
  • sinopsis war for the planet of the apes
  • cerita war for the planet of the apes
  • jalan cerita war for the planet of the apes

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top