06 July 2017
0 kritik

Filosofi Kopi 2: Ben & Jody

"Masih dengan audio visual yang sejuk seakan menyeruput kopi panas di pagi hari, namun tanpa motivasi yang jelas dan fokus"

Tutupnya kedai Filosofi Kopi membuat Ben dan Jody berjualan kopi di sebuah van keliling Indonesia. Namun kehilangan pegawai membuat mereka memutuskan untuk kembali ke Jakarta dan membuka kembali kedai lama yang kini ditangan pemilik lain. Disaat mereka membutuhkan suntikan dana dari investor baru, Tarra muncul membawa nafas segar dan harapan baru akan kedai Filosofi Kopi. Pengembangan sayap dengan membuka cabang di Jogja juga mendatangkan barista baru dengan idealismenya tentang budidaya kopi lokal, Brie. Kehadiran Tarra dan Brie harus membuat Ben dan Jody mendefinisikan ulang arti persahabatan mereka.

Sekuel mengenai kelanjutan kisah Ben dan Jody dengan kedai Filosofi Kopi mereka ini memang masih memiliki nyawa yang sama. Sinematografi yang apik, color grading yang teduh, serta lagu-lagu indie yang menyejukkan hati. Secara audio visual, film ini memang seakan gelas kopi hangat di pagi hari yang cerah. Namun sayang, kenikmatan mata dan telinga ini tidak didukung dengan cerita yang menarik, terutama tujuan dari kelanjutan kisah dua sahabat ini yang seakan tidak berujung.


Dalam konteks hiburan mata dan telinga, Filosofi Kopi 2: Ben & Jody memang nikmat untuk diseduh dan dinikmati. Warna-warnanya sangat sejuk di mata, ditambah dengan sinematografi yang cantik. Belum lagi film ini seakan memberikan tribute pada tempat-tempat kopi legendaris di nusantara. Sebut saja Es Kopi Takie di Jakarta dan Kopi Ujung di Makassar. Selain itu, penulis naskah Jenny Jusuf juga menyelipkan pesan dan kesadaran sosial terhadap pentingnya budidaya penanaman kopi lokal, khususnya di daerah yang sedang membangun kembali dari bencana alam. Setidaknya hal ini - meski mendapat porsi sedikit - yang gue dapat dan ingat selalu ketika menyeruput kopi.


Namun sayang, cara bertutur ceritanya seakan scrapbook yang random. Sepanjang satu setengah jam, penonton hanya disuguhkan deretan adegan sepanjang dua menit yang kemudian dijahit menjadi satu dengan lagu indie sebagai jembatannya. Tidak ada adegan yang lebih panjang dari dua menit, yang membuat gue lelah untuk mempertahankan konsentrasi di paruh kedua film. Gaya bercerita ini seakan cara yang paling malas untuk terus menjalankan alur hingga habis.

Belum lagi tidak adanya benang merah atau tujuan utama yang hendak dicapai oleh kedua karakter utama kita. Jika pada film pertama Ben dan Jody fokus untuk membuat kopi Perfecto, maka film kedua ini motivasi mereka seakan tidak terarah. Mulai dari membuka kembali kedai Filosofi Kopi, mendapatkan pacar, atau mempertahankan persahabatan? Terlalu banyak atau tidak fokusnya motivasi dalam penceritaan ini juga yang membuat cukup lelah untuk mengikutinya.



 Indonesia | 2017 | Drama | 108 menit | Scope Aspect Ratio 2.35 : 1

Rating?
6 dari 10

- sobekan tiket bioskop tanggal 6 Juli 2017 -

----------------------------------------------------------
  • review film filosofi kopi 2 ben jody
  • review filosofi kopi 2 ben jody
  • filosofi kopi 2 ben jody movie review
  • filosofi kopi 2 ben jody film review
  • resensi film filosofi kopi 2 ben jody
  • resensi filosofi kopi 2 ben jody
  • ulasan filosofi kopi 2 ben jody
  • ulasan film filosofi kopi 2 ben jody
  • sinopsis film filosofi kopi 2 ben jody
  • sinopsis filosofi kopi 2 ben jody
  • cerita filosofi kopi 2 ben jody
  • jalan cerita filosofi kopi 2 ben jody

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top