03 March 2015
0 kritik

Chappie

"Film fiksi-ilmiah yang kental dengan isu sosial nyata"

Di masa depan, kota Johannesburg dikontrol oleh kekuatan polisi robot dan tingkat kriminalitas menurun drastis. Namun orang-orang melawan balik dengan mencuri satu robot polisi dan diprogram ulang. Dinamai Chappie, robot polisi ini dapat berpikir dan merasa. Namun pemerintah ingin tetap mempertahankan status quo dengan melakukan segala cara untuk menghancurkan Chappie.

Ini adalah film panjang ketiga dari sutradara dan penulis naskah berbakat asal Afrika Selatan, Neill Blomkamp. Setelah District 9 (2009), film ini juga lagi-lagi berlatar kota kelahiran Blomkamp, Johannesburg. Tidak hanya itu, tetapi juga menggunakan aktor utama, para pemeran figuran dan stunt
dari warga lokal. Dengan jalan cerita yang sangat Afrika Selatan sekali, maka bisa dibilang ini adalah sebuah film sci-fi nya Afrika Selatan.


Tampak luar, Chappie jelas menyajikan adegan action yang memuaskan, meski agak lambat di tengah film karena drama dan pendalaman karakter yang sabar dan signifikan. Para penonton jelas akan sangat terhibur melihat aksi para robot polisi yang gahar, ditambah dengan perilaku Chappie yang menggemaskan bagaikan anak kecil. Belum lagi aksi robot besar Moose yang jauh lebih gahar lagi. Dengan visual efek yang oke, pergerakan para robot ini akan terlihat nyata di layar.


Di tangan Blomkamp, Chappie terlihat sekali sebagai idealisme dengan dana besar. Tidak lagi berlatar AS dan dengan isu sosial khas AS seperti Elysium (2013), Chappie fokus pada isu sosial yang nyata terjadi di Joburg; kriminalitas vs kekuatan opresif pemerintah. Hal tersebut sekaligus menjadi ciri khas Blomkamp tersendiri dengan selalu menempatkan isu sosial nyata sebagai pondasi jalan ceritanya. Sebuah isu sosial yang dapat membuka celah perdebatan, meski tampak isu ini disuarakan untuk mewakili para kaum minoritas yang tertindas.

Dalam Chappie, isu sosial yang ditonjolkan jelas pada tingkat kriminalitas yang tinggi, bahkan para kriminalnya menggunakan senjata api kelas berat. Hal tersebut pun direspon oleh aparat kepolisian dengan senjata yang jauh lebih berat; robot polisi. Dari sini, dua kekuatan besar ini akan berimbas pada dua hal; perlawanan balik atau penyalahgunaan teknologi. Perlawanan balik dari kelas marginal jelas akan terjadi dalam jangka pendek, baik dalam skala kecil maupun besar. Sedangkan penyalahgunaan teknologi dapat berada di dua pihak, entah satu pihak mencuri teknologi dari pihak lawan, atau satu pihak menyalahgunakan teknologi untuk kepentingan pribadi. Yang pasti, dua akibat ini sama-sama destruktif.


Tetapi, Blompkamp sama sekali tidak memberikan solusi terbaik bagi isu sosial yang ada dalam filmnya. Jelas saja, ia hanya fokus mendeskripsikan apa yang akan terjadi jika dua kekuatan besar ini terus-menerus saling melawan satu sama lain. Hasil destruktif di kedua belah pihak jelas akan terjadi. Meski semua hal tersebut dapat dihindari dengan tindakan pencegahan kriminal yang berarti. Disini dimana Blompkamp tidak ingin menggurui dunia lewat filmnya.

 

USA | 2015 | Action / Sci-Fi | 120 min | Aspect Ratio 2.35 : 1

Rating?
8 dari 10

- sobekan voucher bioskop tanggal 3 Maret 2015-

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top