04 October 2012
0 kritik

Taken 2

"Ajang pembalasan dendam para sindikat penculik terhadap Bryan Mills ini tidak lebih seru dan menegangkan dari Taken (2008) namun tetap sayang untuk dilewatkan di layar lebar"

Kesuksesan Taken (2008) yang tidak disangka-sangka, mungkin membuat produser sekaligus penulis naskah Luc Besson tergiur untuk melanjutkan kisah Bryan Mills si pensiunan agen CIA. Dengan ide dasar yang terbilang sederhana, franchise film ini memang sangat mengandalkan penampilan aktor senior Liam Neeson yang harus berjibaku secara frontal, mulai dari tembak-menembak hingga pertarungan tangan kosong. Formula ini pun berhasil menarik penonton, mulai dari pecinta film aksi hingga fans berat Mr. Neeson. Kini Bryan Mills kembali harus berhadapan dengan sindikat penculik Albania yang ingin membalas dendam dalam film Taken 2.

Ayah dari seorang sindikat penculik yang dibunuh oleh Bryan Mills di Paris ingin menuntut balas. Mereka pun menculik Bryan dan istrinya yang sedang berlibur di Istanbul, Turki. Kim yang lolos dari penculikan tersebut pun kali ini membantu dengan mencoba menemukan dan membebaskan ayah dan ibunya.

Taken 2 muncul dari ide dasar yang cukup jarang ditemui di sekuel berbagai film aksi; pembalasan dendam oleh kerabat dari para antagonis yang terbunuh di film sebelumnya. Di akhir film Taken telah menyisakan banyak mayat yang terbunuh oleh tangan Bryan Mills, yang ternyata adalah salah satu ex-agen terbaik yang pernah dimiliki oleh CIA. Lupakan soal sindikat human trafficking, lupakan soal anak dari Bryan Mills yang pernah diculik oleh sindikat tersebut. Ini adalah persoalan balas dendam dari Murad Krasniqi dari Tropoja, Albania yang kehilangan anaknya.


gambar diambil dari sini
Modus balas dendam dari Murad cukup sederhana, culik Bryan Mills dan keluarganya lalu bunuh. Namun mereka salah menculik orang. "They want revenge, they chose the wrong guy" adalah tagline yang tepat untuk film ini. Bryan Mills adalah agen terlatih yang (mungkin) telah biasa menghadapi situasi penculikan yang menimpa dirinya. Fokus, tenang, dan selalu siap dengan alat-alat pendukung yang berteknologi canggih adalah kuncinya. Jika pada Taken, Bryan yang menemukan Kim, kali ini situasi terbalik; Kim yang harus menemukan ayahnya, tentunya dengan bantuan dari ayahnya. Layaknya Kim yang sedang belajar mobil dan harus memegang sendiri setir mobil, dengan arahan yang tepat dan efektif dari ayahnya yang duduk di kursi penumpang.

Seperti sekuel-sekuel lain pada umumnya, Taken 2 harus rela dibanding-bandingkan dengan Taken. Deretan adegan aksi memang sama seru dan menegangkannya. Penonton pun masih dapat melihat Liam Neeson yang telah berusia 62 masih mampu adu jotos dengan para penjahat. Malah ada referensi terhadap Drive (2011) dimana Kim yang berada di mobil harus menunggu ayahnya tepat 5 menit, dengan skoring Tick of the Clocks -nya The Chromatics yang mengiringi adegan Bryan dalam mencari para penjahat. Setting Paris yang artistik diganti dengan kota Istanbul yang eksotik. Namun secara keseluruhan, tidak ada yang baru dalam Taken 2. Malah terbilang, film ini hanya copy-paste dengan ide dasar yang berbeda. Naskah Taken dan Taken 2 memang sama-sama ditulis oleh Luc Besson dan Robert Mark Kamen. Maka dari itu, sebagian orang menunjuk sutradara Olivier Megaton sebagai kambing hitam, dan menyayangkan sutradara Taken, Pierre Morel, yang tidak diikutsertakan dalam proyek sekuel ini.
gambar diambil dari sini
Bagi para penonton yang sangat puas dengan Taken, memang cukup sayang untuk melewatkan film Perancis (yes, franchise Taken bukan produksi Hollywood) ini di bioskop. Memang tidak perlu menonton Taken terlebih dahulu untuk menonton film ini, namun keuntungannya akan berlebih jika aksi pertama Bryan Mills masih membekas di ingatan. Dengan layar yang lebar dan sistem suara yang mumpuni, rangkaian adegan aksi yang menegangkan, serta penampilan prima dari Liam Neeson, film ini tetap menyenangkan untuk dinikmati.



France | 2012 | Action / Crime | 91 mins. | Aspect Ratio 2.35 : 1

Rating?
7 dari 10

- sobekan tiket bioskop tertanggal 4 Oktober 2012 -



BONUS:

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top