26 July 2012
0 kritik

The Dark Knight Rises

Setelah The Dark Knight (2008) yang sukses besar dan dipuji banyak kritikus, sutradara dan penulis naskah Christopher Nolan sempat ragu untuk melanjutkan sekuelnya karena ekpektasi untuk film ketiga dari seri Batman akan menjadi sangat tinggi. Nolan sendiri sempat menyatakan bahwa dia tidak akan menyutradarai film ketiga Batman jika naskahnya tidak mampu menandingi The Dark Knight. Namun setelah selesai dengan Inception (2010) akhirnya Nolan memutuskan untuk mengakhiri legenda Batman sebagai trilogi, menutup semua celah sejak The Dark Knight dengan kesimpulan yang pasti dengan The Dark Knight Rises.

Delapan tahun sejak tragedi Harvey Dent dalam The Dark Knight, Batman masih menerima tuduhan bahwa dirinya yang bertanggung jawab atas kematian Harvey Dent. Kebohongan publik tersebut memang necessary evil untuk menyelamatkan nama Harvey Dent sebagai pembasmi kriminal di kota Gotham. Namun kebohongan publik tersebut ternyata dimanfaatkan sebagai salah satu rencana besar oleh teroris bertopeng, Bane, untuk menghancurkan kota Gotham baik secara fisik dan mental. Batman yang terlanjur merasa tidak dibutuhkan oleh keamanan kota Gotham pasca-tragedi Harvey Dent, merasa perlu campur tangan kembali untuk menghentikan rencana Bane yang destruktif.

Ketika banyak prediksi mengenai plot yang akan ditampilkan dalam penutup trilogi ini selama masa penantian panjang, ternyata Christopher Nolan lebih memilih jalan cerita yang tampak sederhana dan rencana jahat si antagonis yang cenderung "pasaran" dalam film-film superhero lainnya, namun menyimpan makna filosofis yang begitu dalam dan berlapis. Hal ini sangat terasa ketika mungkin banyak fans The Dark Knight merasa kecewa dengan begitu simpel rencana teror dari peran antagonis utama dalam film ini, termasuk karakter Bane yang jauh kalah mengerikan dibanding The Joker. Dengan ending khas Christopher Nolan yang menginsepsi pikiran penonton dengan sengaja, beberapa hari setelahnya kekecewaan tersebut lambat laun berubah menjadi kekaguman ketika maksud-maksud tersembunyi yang dilakukan oleh Batman/Bruce mulai tercerahkan dengan sendirinya.

gambar diambil dari sini
Seperti layaknya film-film yang digarap oleh Christopher Nolan lainnya, film ini unggul di segala unsur teknisnya. Masih menghindari penggunaan efek CGI dalam setiap filmnya, setiap visual efek yang digunakan menggunakan alat praktikal, mulai dari Batcycle sampai helikopter terbaru The Bat. Kerja sama kembali antara Hans Zimmer dengan Christopher Nolan kali ini membawa hasil yang menakjubkan. Tidak terlibatnya kolaborasi James Newton Howard seperti pada dua prekuel sebelumnya, seakan membuat Hans Zimmer bebas berkreasi dan menerapkan formula skoring yang mirip dengan Inception (2010); yaitu menggunakan dan menggubah sample yang sama berkali-kali sepanjang film. Perhatikan nada dari nyanyian para tahanan, yang kemudian ditransformasikan dengan megah oleh Hans Zimmer menjadi sample utama dari skoring film ini.

Pencinta Inception pasti akan senang sekali melihat deretan cast yang ada, mengingat film ini seakan reuni bagi beberapa pemeran Inception seperti Tom Hardy, Joseph Gordon-Levitt, Marion Cotillard, Michael Caine. Belum lagi bagaimana fans Inception dan Batman akan memekik gembira melihat cameo dari Cillian Murphy (maaf spoiler sedikit). Yang mengejutkan adalah bagaimana penampilan Anne Hathaway sebagai Selina Kyle/Catwoman. Sempat mendapat banyak keraguan dari banyak fans dan kritikus, Hathaway membuktikan dirinya sebagai aktris berbakat dengan memerankan Seline Kyle/Catwoman dengan nyaris sempurna. Ketika harus berbagi layar dengan Christian Bale atau Tom Hardy, Hathaway membuat karakter Catwoman tetap kuat dan menonjol. Yes, Tom Hardy pun patut diberikan pujian setinggi mungkin dengan memerankan Bane yang besar, berotot, dan mengerikan.Walaupun hampir separuh mukanya ditutupi oleh topeng, namun Hardy berhasil mengeluarkan aura mengerikan, terutama dari warna dan intonasi suaranya. Tenang saja, Nolan masih berbaik hati dengan memberikan beberapa detik bagi Tom Hardy untuk menampilkan mukanya di penghujung film.
gambar diambil dari sini
Pembuat film tampak memaksimalkan penggunaan kamera IMAX dalam film ini, dari 164 menit total durasi film, 50 menit direkam dengan kamera IMAX yang beresolusi tinggi dan jauh lebih jernih. Nolan pun tidak menyia-nyiakan kamera IMAX dengan hanya menggambarkan landscape kota Gotham dan setiap adegan aksi, namun juga memberikan penekanan lebih pada adegan yang memiliki dialog yang sangat berbobot, seperti dialog perpisahan Alfred dan monolog Bane di depan penjara Blackgate, yang seakan pengulangan sejarah terhadap peristiwa pembebasan Penjara Bastille di Revolusi Perancis 1789 yang menjadi lambang penindasan kaum penguasa terhadap kaum lemah.

Mungkin Bane tidak sebrilian The Joker dalam menyusun rencana membuat kekacauan di kota Gotham, atau mungkin malah hal itu disengaja demi memelihara citra The Joker yang merupakan mahakarya akting dari Heath Ledger agar tetap menjadi primadona sebagai tokoh antagonis terbaik di dunia perfilman. Jika The Joker ingin membuat kekacauan di kota Gotham lewat ulah penduduknya sendiri, maka Bane ingin menghancurkan fisik dan mental Batman/Bruce dengan melihat kehancuran Gotham. Kehancuran fisik dan mental dari Batman/Bruce adalah sebuah representasi tersendiri dari hancurnya tokoh pahlawan di dalam dan di luar. Ketika kota Gotham menyadari bahwa satu-satunya pahlawan mereka hancur, maka secara tidak langsung itu akan menghancurkan harapan mereka satu-satunya. Dan dengan menghancurkan kota Gotham, maka dunia akan melihat bahwa kota terbaik mereka pun dapat hancur karena ulah masyarakatnya sendiri yang rusak dan korup. Bayangkan efek berantai tidak langsungnya pada setiap kota di seluruh dunia yang menyaksikan kehancuran kota Gotham. Bukan tidak mungkin, idealisme sosialisme akan bangkit kembali dengan melihat bagaimana usaha Bane untuk mensetarakan kaum borjuis dengan kaum tertindas di kota Gotham.
gambar diambil dari sini
Nolan berhasil membuat sebuah film superhero yang sangat intim, yang membuat penontonnya merasa sangat dekat dengan setiap karakter yang ada di layar. Dengan Batman Begins, The Dark Knight, dan The Dark Knight Rises, Christoper Nolan tidak saja medefinisikan ulang bagaimana film superhero seharusnya dibuat, tetapi juga menempatkan The Dark Knight Legends ke barisan perfect trilogies bersama LOTR, Indiana Jones, Star Wars, dan lain-lain.  Nolan tetap mempertahankan formula trilogi, yang menempatkan beberapa nod atau plot yang ekuivalen dengan prekuelnya. Sesuai dengan formula setiap trilogi yang selalu ada, sasaran tokoh antagonis terbaru, Bane, ekuivalen dengan sasaran Scarecrow yang menyerang kelemahan Batman/Bruce di sisi mental. Selain itu, terlibatnya kembali organisasi rahasia League of Shadow yang ingin menghancurkan kota Gotham atau bagaimana Batman/Bruce yang sekali lagi terjatuh ke sebuah lubang juga merupakan anggukan tersendiri terhadap Batman Begins (2006).

Selain itu, Nolan juga tampak menyelesaikan apa yang menjadi idealisme awal dari seorang Bruce Wayne dengan menciptakan alter-egonya, Batman. Seperti yang selalu dikatakan oleh Bruce sejak Batman Begins, bahwa sosok Batman hanyalah sebuah simbol kepahlawanan bagi kota Gotham. Dalam universe DC Comics, kota Gotham adalah kota terbaik di dunia dengan perekonomian dan teknologi yang melaju dengan pesat. Namun sayangnya, kemajuan dan modernitas ini tidak dibarengi oleh pertumbuhan moral yang baik, yang mengakibatkan kota Gotham yang penuh dengan korupsi dan rusaknya moral warga. Hal ini yang membuat organisasi rahasa, League of Shadows, ingin menghancurkan Gotham dan membangunnya dari awal kembali. Cukup pararel dengan idealisme Ozymandias dan Dr. Manhattan dalam Watchmen yang berpikir bahwa untuk memperbaiki masyarakat yang sudah terlalu rusak adalah dengan menghancurkannya kemudian membangun kembali dari awal dengan manusia-manusia "baru". Namun Bruce/Batman yang begitu menghargai nyawa manusia sehingga punya prinsip untuk tidak membunuh orang, jelas tidak sependapat dengan League of Shadows. Bruce/Batman tahu bahwa satu orang pahlawan tidak mampu untuk memperbaiki masyarakat yang sudah rusak, maka ia bermaksud menjadikan Batman sebagai sebuah contoh dan simbol kepahlawanan dan semua orang dapat menjadi pahlawan bagi dirinya sendiri demi kepentingan masyarakat luas. Sebuah contoh dimana pengorbanan total atas nama orang banyak yang kemudian diteruskan oleh orang lain.

gambar diambil dari sini
Kata "rise" dalam judul film pun sangat pas dengan semangat yang ditampilkan dalam film ini, khususnya di penghujung film. Bagi para penonton yang terbiasa menonton film aksi atau superhero pasti tahu jelas bahwa sang pahlawan akan bangkit di penghujung film setelah kejatuhannya. Namun Nolan membawa kebangkitan ini ke konteks yang lebih luas; kebangkitan pahlawan yang menginspirasi kebangkitan para warga khususnya para penegak hukum. Dalam The Dark Knight, para polisi digambarkan ketakutan setengah mati menghadapi The Joker yang cerdas dan nyentrik. Namun di akhir dari trilogi ini, para penegak hukum berjuang tanpa rasa takut sedikitpun ke dalam final battle. Disini pentingnya karakter Peter Foley, yang dari awal film digambarkan sebagai karakter yang hanya mementingkan kenaikan pangkat namun ternyata penakut, yang kemudian turut maju berani mati di penghujung film. Kebangkitan akan kebajikan ini pun dijustifikasi oleh karakter Catwoman yang awalnya apatis terhadap sosial namun kemudian mengikuti idealisme ini.

Trilogi ini adalah sebuah cerita seorang anak yang keluarganya diambil darinya, namun dengan bantuan dari orang-orang sekitarnya, mampu mengembalikan keadilan kepada kota yang menuduh ia bersalah. Pada akhirnya Bruce telah memberikan segalanya kepada Gotham, dan saatnya pun tiba dimana Gotham dan Bruce Wayne membutuhkan Batman kembali.

USA/UK | 2012 | Action/Drama/Thriller | 164 mins | Aspect Ratio 1.44 : 1

Rating?
9 dari 10



- sobekan tiket bioskop tertanggal 26 Juli 2012 -


0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top