24 July 2012
0 kritik

Lewat Djam Malam


Apa sebenarnya definisi dari "film Indonesia"? Apakah sekedar sebuah film yang dibuat di Indonesia dengan 99% cast dan crew orang Indonesia? Atau sebuah film yang menangkap roh Indonesia dengan berbagai segi sosial budayanya dan ditranslasikan dalam bahasa gambar dan dialog? Beruntung dalam dunia perfilman Indonesia kita punya legenda hidup yang disebut sebagai Bapak Perfilman Indonesia, Usmar Ismail. Lewat tangan dan pemikiran beliau, lahirlah film-film Indonesia dengan arti harafiah yang sebenarnya, yang memang menggambarkan ke-Indonesia-an dengan sangat baik melalui media film. Salah satunya adalah film yang diproduksi tahun 1954 yang telah direstorasi secara digital, Lewat Djam Malam.

Film ini mengambil setting di Bandung beberapa bulan setelah kemerdekaan di tanah air direbut lewat perjuangan revolusi fisik. Untuk mempertahankan keadaan yang ada, para tentara menerapkan jam malam yang ketat di seluruh pelosok kota. Sayangnya, peraturan jam malam tersebut tidak begitu diindahkan oleh Iskandar, seorang mantan pejuang yang baru saja "turun gunung". Seperti bagaimana sulitnya beradaptasi dengan peraturan jam malam, Iskandar juga menemui kesulitan tersendiri ketika berusaha beradaptasi dengan kondisi masyarakat yang ternyata jauh dari idealisme kemerdekaan yang ia perjuangkan selama ini. Walaupun dibantu oleh tunangannya Norma beserta keluarganya untuk mendapatkan tempat di masyarakat merdeka, Iskandar malah berasa diasingkan oleh rekan-rekan kerjanya.

Merasa tidak cocok, dia pun kembali menemui rekan-rekannya sesama mantan pejuang yang masing-masing telah menempuh jalan hidupnya sendiri-sendiri. Ada Gafar yang memanfaatkan dengan baik peluang ekonomi yang ada di depan mata, ada bekas komandannya Gunawan yang memandang bahwa perjuangan fisik telah digantikan oleh perjuangan ekonomi namun dieksekusi dengan cara yang brutal, ada pula Puja yang seakan cerminan dari Iskandar yang tidak mendapat tempat di masyarakat dan bertahan hidup dengan cara apa saja. Ada pula karakter Laila yang ditemui Iskandar di tengah jalan, sebagai karakter yang 180' berkebalikan dengan karakter Norma yang hidup aman di dalam lingkaran borjuisnya. Lewat pertemuan dengan karakter-karakter tersebut, Iskandar mengeksplorasi konflik yang ada dalam dirinya perihal kondisi bangsa ideal pasca-kemerdekaan yang utopis yang ternyata tidak sesuai dengan kenyataan yang ditemuinya; masyarakat yang korup dan buta oleh roda perekonomian yang telah berputar kencang.

Ketika film berakhir dengan memperlihatkan penjelasan singkat mengenai proses restorasi digital film karya Usmar Ismail ini, saya sedikit terkejut karena film ini dibuat di tahun 1954. Keterkejutan saya tidak lain adalah betapa masih relevannya isu sosial kemasyarakatan yang diangkat oleh sutradara Usmar Ismail dan penulis naskah sekaligus sastrawan Asrul Sani ini 58 tahun kemudian.

gambar diambil dari sini
Situasi pasca-kemerdekaan yang digunakan dalam film ini seakan menggambarkan sebuah bangsa yang baru saja melewati suatu periode sulit dan sedang bergerak menuju periode yang lebih baik. Dimana periode transisi ini sangat relevan dengan Era Reformasi yang terukir dalam sejarah NKRI. Periode ini hanyalah background story yang menjadi modal awal untuk membangun cerita, dimana drama pahit sesungguhnya adalah gambaran dan dinamika kemasyarakatan yang terjadi setelah bangsa Indonesia menjalani impian utopisnya. Impian utopis yang dipegang teguh oleh para pejuang kemerdekaan (atau reformasi) yang mati-matian membela kepentingan orang banyak, namun dilecehkan oleh orang banyak tersebut yang tinggal duduk santai menikmati kemerdekaan/reformasi dengan mati-matian mengamankan kehidupan lewat harta dan kekuasaan. Belum lagi ditambah dengan serbuan budaya asing beserta teknologi mereka, dan tuntutan roda ekonomi yang berputar dengan kencang.

Karakter-karakter di sekitar Iskandar adalah representatif yang detil dan spesifik mengenai berbagai kemungkinan cara adaptasi berbagai individu pasca peralihan periode tersebut. Ada yang sukses memanfaatkan peluang ekonomi dengan jalan yang normal namun sedikit mengikis kebersamaan, ada yang brutal menerjang berbagai penghalang kesuksesan, dan ada yang gagal serta terpinggirkan dengan menjadi apa saja yang ia bisa lakukan. Namun konflik sosial yang paling jelas diperlihatkan lewat simbol dua karakter wanita dalam film ini; Norma yang selalu menggunakan baju mewah dari kalangan borjuis, dan Laila yang berusaha segala cara untuk menjadi seperti Norma dengan menempelkan mimpi-mimpinya lewat kliping majalah wanita yang elit.
gambar diambil dari sini
Yang menarik adalah di awal film penonton seakan dibuat untuk menyalahkan Iskandar sebagai individu yang tidak bisa beradaptasi dengan baik di masyarakat, sementara teman-temannya mampu beradaptasi dengan baik. Namun tampaknya Umar Ismail seakan ingin mengajarkan kepada penonton untuk tidak terburu-buru memberikan stigma negatif terhadap individu, dengan mengajak penonton untuk terus menggali latar belakang Iskandar ditambah dengan data-data lapangan yang berkaitan dengan teman-temannya yang telah lebih dulu kembali dari medan perang. Ketika penonton cukup bersabar untuk mengikuti proses ini, maka secara tidak sadar penonton akan mempertimbangkan kembali stigma negatif tadi. Ini bukan persoalan mencari siapa yang benar dan siapa yang salah, namun lebih pada eksplorasi deskriptif mengenai suatu kondisi sosial kemasyarakatan yang terjebak dalam kemajuan dan dunia modern, lalu serta merta melupakan sejarah mereka termasuk orang-orang yang terlibat dalam sejarah tersebut.

Iskandar, bisa dibilang sebagai karakter korban dari sebuah kondisi kemasyarakatan yang sakit tersebut. Kita sebagai penonton pun "dipaksa" untuk mengikuti dan memahami dinamika Iskandar dalam menghadapi teman-teman dan masyarakat yang jauh dari gambaran idealismenya. Dengan mengambil sudut pandang "korban", penonton seakan dikondisikan untuk memahami bagaimana sulit dan sakitnya mencoba beradaptasi dan menempatkan diri di tengah lingkungan yang seharusnya dia kenal betul namun telah berubah total, bahkan seakan membuat sia-sia perjuangannya membawa udara kemerdekaan di tengah masyarakat. Cerita ini pun ditutup secara tragis yang menggambarkan kekalahan dari satu individu yang harus berhadapan dengan sistem yang destruktif.

Film ini boleh dianggap membosankan oleh kebanyakan penonton dengan warna hitam-putih dan drama yang panjang, belum lagi tahun pembuatan film ini yang kelewat jadul. Namun jika anda merasa mencintai Indonesia, dengan mendukung timnas sepak bola bertanding di dalam stadion saja rasanya kurang cukup. Dengan adegan bernyanyi Rasa Sayange dan Potong Bebek Angsa versi "asli" dan dialog-dialog ejaan lama, dijamin akan membuat anda semakin mengenal Indonesia.

 

Indonesia | 1954 | Drama | 101 Mins | Aspect Ratio 1.85 : 1

Won for Best Film, Best Scenario (Asrul Sani), Best Art Directing (Chalid Arifin), Best Actor (A.N. Alcaff), Best Actress (Dhalia), Nominated for Best Supporting Actor (Bambang Hermanto, Awaludin), Indonesia Film Festival, 1955.


Rating?
9 dari 10


- sobekan tiket bioskop tertanggal 24 Juli 2012 -


NB:
Film ini direstorasi oleh National Museum of Singapore dan World Cinema Foundation, bekerja sama dengan Yayasan Konfiden dan Kineforum Dewan Kesenian Jakarta. Lewat Djam Malam direstorasi di L'Immagine Ritrovata dari kopi asli yang disimpan dan dikoleksi Sinematek Indonesia, atas restu keluarga Usmar Ismail. Setelah direstorasi selama kurang lebih dua tahun (2010-2012), film ini ditayangkan di Seksi Cannes Classic, Festival Film Cannes, dan kemudian diedarkan kembali secara terbatas di beberapa bioskop Indonesia. (sumber: filmindonesia.or.id)



----------------------------------------------------------
Search  Keywords:

  • review film lewat djam malam
  • review lewat djam malam
  • lewat djam malam review
  • resensi film lewat djam malam
  • resensi lewat djam malam
  • ulasan lewat djam malam
  • ulasan film lewat djam malam
  • sinopsis film lewat djam malam
  • sinopsis lewat djam malam
  • cerita lewat djam malam
  • jalan cerita lewat djam malam

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top