04 August 2010
0 kritik

The Joneses

1:30 PM
sobekan tiket bioskop tertanggal 3 Agusutus 2010 adalah The Joneses. thanks untuk Iin yang terlah membuat review di bicarafilm.com yang membuat gue tertarik untuk menonton film ini.

bercerita tentang keluarga Jones yang terdiri dari sang ayah dan ibu, Steve (David Duchovny) dan Kate (Demi Moore) dan anak mereka Jen (Amber Heard) dan Mick (Ben Hollingsworth). mereka baru pindah ke lingkungan baru dan tetangga mereka langsung menyambut mereka. teman-teman sekolah Jen dan Mick pun menaruh perhatian lebih kepada mereka. Kate menjadi bahan pembicaraan di kalangan ibu-ibu, dan Steve menarik perhatian para bapak-bapak pecinta golf. dari pakaian mereka yang bermerek, perabotan rumah tangga yang oke, sampai pada mobil, semua ini menarik orang-orang di sekitar mereka. ternyata mereka bukanlah keluarga biasa, atau keluarga "normal" pada umumnya. mereka adalah agen-agen marketing sebuah perusahaan besar yang menawarkan barang dagangan lewat strategi marketing terbaru.

sinopsis yang menarik bukan? dan akan lebih menarik lagi jika melihat dinamika alur cerita yang ditampilkan pada film keluaran tahun 2009 ini. menarik untuk melihat "keluarga artifisial" ini berinteraksi satu dengan yang lain. keempat orang ini yang notabene adalah orang asing, harus berinteraksi layaknya keluarga bahagia dan harmonis di depan orang lain. tapi hubungan asli diantara mereka akan terlihat ketika sebuah (atau lebih) masalah hadir di antara mereka.


belum lagi setiap karakter yang memiliki karakteristik yang unik dan menarik. karakter Steve yang bertindak sebagai kepala keluarga, ternyata harus tunduk dibawah Kate yang adalah bos di unit keluarga tersebut. namun karakter Steve semakin menarik ketika lambat laut terlihat bahwa sebenarnya ia menginginkan hubungan yang asli dan tidak artifisial dalam hubungan suami dengan istri dan ayah dengan anak-anaknya. karakter Kate yang adalah bos dari unit keluarga tersebut memang digambarkan sebagai seorang wanita pebisnis yang memiliki ambisi untuk mencapai target penjualan setinggi mungkin. tapi hati seorang wanita tetaplah hati seorang wanita, yang mendambakan adanya seorang pria yang selalu hadir disebelahnya, walaupun hal tersebut telah ia kubur dalam-dalam. karakter Jen sangat mewarnai jalan cerita, khususnya bagi cowo-cowo dan pria-pria, dimana ia memiliki "kelainan seksual" (dan Amber Heard tampil sangat menggoda! ;p) karakter Mick yang tampaknya menjadi satu-satunya karakter paling "normal" dalam keluarga ini, tampil paling kalem namun menyimpan suatu rahasia.
oya karakter tetangga mereka,keluarga Symonds; Larry dan Summer, juga sangat menarik bagi gue. karakter mereka ini seperti kebalikan dari karakter keluarga Jones. keluarga Jones terlihat sudah di atas dan tinggal menikmati kesuksesan mereka (terlihat dari barang-barang dan pakaian mereka). namun Larry dan Summer terlihat sebagai keluarga yang masih merangkak ke arah so-called-success, dan berjuang setengah mati agar tidak-ingin-kalah dengan keluarga Jones. hal ironis pun terlihat jelas ketika Summer yang juga seorang sales bersikap dalam kesehariannya sebagai seorang sales yang telah "dicuci otak" untuk menjual barang-barangnya, sampai-sampai pembawaannya menjadi kaku layaknya robot. Larry juga terlihat sangat ingin menyamai Steve yang trendy, modis, dan mudah membelanjakan uangnya.

rasanya gue cukup bisa menangkap beberapa makna yang ingin disampaikan oleh pembuat film. yang paling jelas tergambar tentunya adalah pola hidup konsumtif yang terjadi di kalangan masyarakat dewasa ini, khususnya pada keluarga dengan status ekonomi menengah ke atas. gaya hidup dan gengsi menjadi alasan utama, walaupun harus mengorbankan segala hal. dalam film ini terlihat jelas sekali bahwa keluarga-keluarga, apapun itu status ekonomi mereka, yang ingin sekali "dipandang so-called-success" digambarkan dengan gamblang oleh keluarga Symonds. sementara itu, menurut gue keluarga Jones menggambarkan sistem kapitalisme yang mengakar di berbagai belahan dunia; memperlihatkan betapa cool-nya memakai pakaian bermerek, video game tercanggih, furniture termahal, dan mobil terbaru untuk mempengaruhi konsumen bahwa "inilah gaya hidup masa kini". atau dengan kata lain, "elo ga ikutan kaya gini: ketinggalan jaman!".

makna yang lain yang dapat gue tangkap, film ini secara implisit ingin memperlihatkan bagaimana hubungan keluarga yang terjadi jika hubungan tersebut dibangun dengan artifisial; harmonis di luar, kacau di dalam. namun yang menarik adalah, dalam film ini digambarkan karakter-karakter mana yang nyaman dengan keadaan seperti itu dan karakter-karater mana yang ingin keluar dari keadaan tersebut dan ingin merasakan hubungan keluarga yang sesungguhnya.

makna lain yang cukup kecil porsinya dibandingkan yang lain adalah, "target penjualan atau hubungan keluarga?". haha!
oya, gue melihat banyak sekali hubungan antara film ini dengan film dokumentasinya Michael Moore yang juga membahas mengenai kapitalisme; Capitalism: A Love Story, mulai dari perilaku konsumtif, krisis ekonomi global, sampai pada permasalahan penyitaan rumah di AS.

jarang sekali ada film black comedy yang secara tajam mengkritisi hal-hal semacam konsumerisme dan kapitalisme di kehidupan yang sangat dekat dengan kita. film yang sangat layak ditonton jika ingin melihat cerminan pola hidup konsumtif, sistem kapitalisme, dan hubungan keluarga modern.

rating?
8 of 10

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top