01 October 2019
2 kritik

Joker

2:01 PM
Nonton Joker-nya Todd Phillips serasa nonton satu episodenya serial Mindhunter. Gila, ngeri, dan horor!

Pertama-tama, seperti yang ditegaskan sutradara dan penulis naskah Todd Phillips; Joker (2019) ini adalah film yang berdiri sendiri dan tidak termasuk dalam DCEU - dan pastinya tidak akan berlanjut sampai ketemu dengan Batman-nya Robert Pattinson. Film ini juga akan menjadi film pertama dari perusahaan baru yang akan fokus pada film-film standalone "spin-off" dari berbagai karakter DC. Jelas sebuah langkah bisnis yang bagus ya untuk menghindari kompetisi dengan Marvel dengan fokus pada studi karakter DC yang lebih grounded dan realistis.

Nah kira-kira tiga kata kunci itu yang membuat gue salut banget sama Joker ini; studi karakter, grounded, dan realistis. Nggak ada kisah definitif tentang asal muasal Joker di komik selain Arthur Fleck kecemplung di kolam zat kimia. Penulis naskah Todd Phillips dan Scott Silver ngerasa hal tersebut nggak realistis, jadinya mereka punya kebebasan kreatif untuk mengeksplorasi asal-usul Joker, bahkan dari masa kecilnya. Jadi sekali lagi, ini bukan comic-book-film dengan budget besat ya. Tapi lebih ke eksplorasi karakter yang kebetulan jadi gila aja.



Betapa mengerikannya ngeliat perjalanan Arthur Fleck from zero to "hero" yang kebanyakan kaya being the wrong man at the wrong place on the wrong time. Ditambah lagi dengan kondisi sosial masyarakat yang sakit, yang ternyata berpengaruh banyak ke pengembangan karakternya. Bahwa kombinasi keterisolasian dan bullying (ditambah sejarah kesehatan mental yang buruk) ternyata jadi komposisi sempurna untuk jadi penjahat paling gila yang kita kenal. Apalagi ada momen transformasi dari yang powerless jadi powerful, yang digambarkan secara detil dan realistis.

Saking realistisnya, sepanjang film gue sih ngeri banget ngeliat drama ini. Iya, ini bukan film action ataupun tembak-tembakan ya, tapi lebih ke drama yang non-stop dari awal sampai akhir. Jelas bukan film buat anak-anak karena ada beberapa adegan kekerasan yang brutal dan sadis. Joker versi Todd Phillips ini lebih ke drama satir tentang kehidupan sosial masyarakat modern sih; tentang hal buruk yang lo lakukan ke orang lain itu ada dampak jangka panjangnya untuk orang tersebut. Yang lo gak tahu, bisa jadi orang itu nantinya jadi role model atau bahkan simbol buat kekacauan dan anarki.


Apalagi di film ini, karakter Arthur Fleck digambarkan untuk selalu punya selera komedi yang jauh berbeda dari kebanyakan orang; nggak tertawa di saat orang lain tertawa, dan tertawa di saat orang lain nggak tertawa. Jeniusnya adalah, paradoks ini juga ditularin pula ke penontonnya. Ada momen di mana gue ketawa, tapi abis itu gue mikir "shit, harusnya yang tadi itu nggak lucu sih".

Ini sejalan dengan pilihan kreatif aspect ratio yang Flat 1.85 : 1, bukan Scope 2.39 : 1 yang biasanya dipakai film-film blockbuster. Biasanya, aspect ratio Flat ini dipakai buat film-film yang fokus sama karakter, dan banyak shot yang close-up buat ngeliatin air muka dan perubahannya. Ini jelas ada banyak di Joker-nya Todd Phillips ini, seakan naruh penonton untuk benar-benar berada di sampingnya Arthur Fleck buat jadi saksi jarak dekat perjalanan hidup beliau yang luar biasa sakit.


Hal lain selain ngeri, yang gue rasakan justru perasaan simpatik sama si Arthur Fleck ini. Iya, pedih banget ngeliat gimana dia diperlakukan sama orang-orang di sekitarnya - bahkan sama keluarganya sendiri. Ada sedikit rasa yang bilang bahwa apa yang dia alami itu nggak adil dan sucks banget. Meski hal itu nggak bisa menjustifikasi segala macam kejahatan yang dia lakukan ya, tapi ya balik lagi ini bisa jadi potret sosial yang kelam dan satir.

Terakhir, kalau Joaquin Phoenix nggak dapet piala Oscar sih KETERLALUAN! Penampilannya sih total banget dan bikin miris. Nggak cuma perubahan fisik yang jadi kurus banget dengan tulang-tulangnya, tapi juga ekspresi sampai pandangan matanya yang kayaknya gak bisa dilabelin apapun dalam buku DSM V (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, 5th Edition).

Di kesempatan ini gue juga mau bilang bahwa penampilan Joaquin Phoenix sama sekali nggak bermaksud buat menggantikan penampilan Heath Ledger sebagai Joker karena beda pendekatan. Joaquin Phoenix lebih ke transformasi dari seseorang dengan berbagai masalah ke seorang monster, sedangkan Heath Ledger lebih ke eksplorasi monster itu sendiri. Jadi buat gue pribadi sih; Joker favorit gue tetap Heath Ledger, dengan tambahan Arthur Fleck favorit gue adalah Joaquin Phoenix.





- sobekan tiket bioskop tanggal 1 Oktober 2019 -
----------------------------------------------------------
review film joker todd phillips joaquin phoenix
review joker todd phillips joaquin phoenix
joker todd phillips joaquin phoenix movie review
joker todd phillips joaquin phoenix film review
resensi film joker todd phillips joaquin phoenix
resensi joker todd phillips joaquin phoenix
ulasan joker todd phillips joaquin phoenix
ulasan film joker todd phillips joaquin phoenix
sinopsis film joker todd phillips joaquin phoenix
sinopsis joker todd phillips joaquin phoenix
cerita joker todd phillips joaquin phoenix
jalan cerita joker todd phillips joaquin phoenix
Next
This is the most recent post.
Older Post

2 kritik:

  1. sepakat.

    scene terakhir pas dia ngerias senyum diwajahnya dengan darah, menurut mimin delusi atau memang bener terjadi?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Beneran terjadi sih pastinya. Itu one perfect scene

      Delete

 
Toggle Footer
Top