20 June 2017
0 kritik

Transformers: The Last Knight

"Dua setengah jam visual yang spektakuler meski tanpa isi dan jalan cerita yang penting"

Optimus Prime menemukan Cybertron, planet rumahnya yang kini mati. Untuk menghidupkan kembali Cybertron, Optimus Prime harus menemukan artefak yang tersembunyi di bumi. Sementara itu, Cade Yeager dibantu oleh bangsawan Inggris harus berusaha sekuat tenaga untuk melindungi artefak tersebut dari incaran pemerintah dan Decepticons.

Pertama-tama harus diakui bahwa proses syuting yang menggunakan kamera IMAX 3D memang memberikan hasil visual yang cantik. Efek 3D yang bukan konversi ini tampak begitu hidup di layar, meski sangat sedikit adegan yang benar-benar memanfaatkan efek pop-up dan depth di layar. Di luar visual dan audio yang spektakuler itu, film ini benar-benar kosong dalam segi cerita. Plot ceritanya memang sangat dinamis bergerak ke sana kemari, tetapi jika mempertanyakan mengapa harus begitu maka sakit kepala lah yang didapatkan lantaran gue gagal memahami itu semua.


Ya memang franchise Transformers tidak pernah memberikan jalan cerita yang penting dan signifikan, sementara fokus utama hanya pada para robot Autobots dan Decepticons. Konon, untuk melanjutkan trilogi baru sejak Age of Extinction (2014), dibentuklah tim penulis untuk mengkonsepkan kisah yang akan dibuat dalam Transformers Universe. Yes, there will be that kind of universe dengan film spin-off tentang Bumblebee saja. Kembali ke tim penulis, rasanya mereka hanya bertugas memberikan cerita saja tanpa memberikan detil logis pada setiap pergerakan ceritanya. Tambahan mitologi abad pertengahan memang menjadi perkembangan signifikan dalam franchise ini, dan sebuah usaha yang patut diacungi jempol. Namun tetap adalah percuma untuk memahaminya meski sudah dibuat dengan kesan serumit mungkin.


Bukan hanya garis cerita saja yang tampak hanya sebagai tempelan belaka, tetapi juga deretan dialog one-liner yang sangat cheesy dan klise. Ini seakan para penulis naskah berusaha keras untuk menghibur penonton dengan lelucon ringan namun gagal total di setiap bagian. Atau memang hal tersebut disengaja demi membuat kesan film aksi tahun 80-90an ala Bad Boys (1995). Selain itu banyak juga benda dan karakter yang dibangun - dengan kecepatan kilat - sejak awal namun dengan pay-off yang "udah gitu doank" di akhir. Ya lagi-lagi ini semua adalah usaha untuk memberikan nyawa pada jalan cerita, namun dengan eksekusi yang setengah hati dan lebih memilih fokus pada visual pasukan para robot metal ini.

Pada akhirnya, film kelima Transformers ini adalah film yang hanya menghibur mata dan telinga anak-anak. Ya, tampaknya gue memang sudah terlalu tua untuk menikmati film yang gemuk dengan adegan ledakan dan tembak-menembak tanpa isi ini. Ada banyak rasa tidak rela selama menonton film ini, mulai dari menggunakan mitologi Raja Arthur dan Merlin hingga keterlibatan Sir Anthony Hopkins yang entah mengapa harus dibuat berkarakter se-corny itu. Ya mari kita doakan saja agar film ini menghibur anak-anak yang sedang menikmati liburan sekolah.


USA | 2017 | Action | 150 min | Flat Aspect Ratio 1.85 : 1 / IMAX Aspect Ratio 1.90 : 1

Rating?
6 dari 10

Wajib 3D? Relatif

Wajib IMAX? Ya

Wajib 4DX? Relatif

- sobekan tiket bioskop tanggal 21 Juni 2017 -

----------------------------------------------------------
  • review film transformers the last knight
  • review transformers the last knight
  • transformers the last knight review
  • resensi film transformers the last knight
  • resensi transformers the last knight
  • ulasan transformers the last knight
  • ulasan film transformers the last knight
  • sinopsis film transformers the last knight
  • sinopsis transformers the last knight
  • cerita transformers the last knight
  • jalan cerita transformers the last knight

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top