10 May 2012
0 kritik

Lovely Man

Satu lagi film Indonesia yang mengangkat tema LGBT hadir meramaikan dunia perfilman Indonesia, setelah film Sanubari Jakarta (2012) yang baru dirilis bulan lalu. Setelah menyutradarai Banyu Biru (2005), Badai Pasti Berlalu (2007), dan yang terbaru Ruma Maida (2009), Teddy Soeriaatmadja mencoba mengeksplorasi  ranah baru dalam karir penyutradaraannya. Berlatar kota Jakarta yang kejam, Teddy menyuguhkan drama kehidupan seorang waria lewat Lovely Man.

Cahaya (Raihaanun) seorang gadis pesantren nekat pergi ke Jakarta melawan larangan ibunya untuk pergi mencari ayahnya, Syaiful (Donny Damara). Kenekatan itu demi ingin bertemu dengan ayah kandungnya yang meninggalkan rumah semenjak Cahaya masih berusia empat tahun. Setelah menemukan ayahnya, ternyata sosok ayah yang selama ini ada dalam kepalanya sama sekali tidak sesuai dengan harapannya. Ternyata selama ini Syaiful berprofesi sebagai seorang waria dengan nama Ipuy. Dengan tiket pulang ke desa untuk esok harinya, Cahaya dan Ipuy pun mencoba menemukan kembali ikatan keluarga yang hilang bertahun-tahun hanya dalam waktu satu malam.

Saya sengaja menulis sinopsis dengan alur plot yang lengkap, bahkan hingga sampai ending. Karena premis ceritanya memang sangat sederhanam, dan plot cerita bukanlah gravitasi dari film ini. Dengan ide cerita yang unik dan orisinil, Teddy sebagai penulis naskah film ini menitikberatkan cerita pada dialog yang terjadi antara ayah dengan anak yang memiliki hubungan yang canggung tersebut. Dibungkus dengan sinematografi yang manis sekaligus artistik, serta diiringi oleh score yang cukup mewarnai adegan yang terjadi, film ini menjadi film yang sangat berbeda dengan film-film Indonesia pada umumnya.


Posternya sendiri saja telah bisa bercerita banyak hal. Dengan latar halte busway dan malam hari, seorang gadis berjilbab menyenderkan kepalanya di bahu seorang waria. Poster ini dengan tegas dan terbuka seolah-olah menabrakkan dua kelompok yang selama ini saling bertentangan dalam konteks Indonesia; Islam dan waria. Maksud ini pun bisa diinterpretasikan dengan hal yang berbeda-beda; kafir, olokan terhadap situasi Indonesia, atau bahkan rekonsiliasi. Yang jelas, posternya sangat menjual dan mengundang rasa ingin tahu penonton akan seperti apa filmnya. Dan Teddy telah menyiapkan suatu drama yang cukup mendalam dan kaya akan refleksi yang ditujukan untuk penonton.

Kekuatan utama dalam film ini adalah interaksi antara dua individu yang nyaris bertolak-belakang, namun memiliki keterikatan darah ini. Dialog-dialog yang terucap, pandangan mata dan ekspresi yang terpancar, dan dinamika gerakan tubuh menjadi satu paket utuh yang menjadi cara bertutur cerita dalam film ini. Dialog-dialog ini menjadi tambah menarik ketika diucapkan oleh dua individu yang memiliki latar belakang bagaikan dua kutub yang berbeda, dan merupakan representasi dari dua kelompok yang cukup berseberangan. Dengan perbedaan yang mencolok tersebut, mereka disatukan oleh satu ikatan darah yang tidak akan pernah terlepas sejak lahir. Ditambah dengan kisah mereka yang terpisah selama belasan tahun dan hanya memiliki waktu semalam, maka kisah pengenalan kembali diantara mereka menjadi sangat menarik untuk diresapi. Dibalik jilbab dan wig serta payudara palsu, interaksi diantara mereka kembali ke elemen manusia yang paling dasar; hubungan ayah dan anak.
Sepanjang film, baik dari Cahaya maupun Ipuy sama-sama kesulitan untuk benar-benar melepaskan atribut mereka diluar identitas asli mereka sebagai keluarga. Mereka sadar betul, dengan atribut yang sekarang ini melekat kuat, mereka akan menemui kesulitan untuk menjalin komunikasi yang murni antara ayah dengan anak. Memang sedari awal, Cahaya berusaha keras untuk menghiraukan atribut yang menempel pada dirinya, dan itu disimboliskan dengan bagaimana dia melepas jilbabnya agar dapat berjalan dengan ayahnya tanpa rasa canggung. Membutuhkan waktu lama dan keras, Ipuy pun kemudian berusaha untuk mengembalikan perannya sebagai ayah yang selama ini dipendamnya. Hal tersebut ditandai dengan bagaimana Ipuy mengganti kata panggil "gue-lo" menjadi "bapak-kamu" dalam komunikasinya dengan Cahaya.

Sempat beberapa kali Teddy mencoba memasukkan unsur sosial ke dalam film ini demi mengimbangi drama personal antara Cahaya dengan Ipuy. Ditambahkannya karakter geng mafia yang menderita kerugian karena tindakan nekat Ipuy, cermin sosial Jakarta tergambar jelas dengan dialog sang bos mafia yang mengancam Ipuy, "satu banci mati di jakarta, ga bakal ada yang peduli". Selain penggambaran para waria yang mencari nafkah di daerah Taman Lawang, beberapa fakta yang selama ini terlupakan tentang kota Jakarta pun tergambar dan terucapkan oleh para karakter dalam film ini. Mulai dari bagaimana masih ramahnya warga di daerah kumuh, sampai dengan bagaimana Jakarta yang lebih "nyaman" untuk dinikmati pada saat dini hari. Namun Teddy cukup berhasil untuk tetap membatasi unsur sosial ini pada kadarnya, dan tetap fokus pada hubungan personal antara kedua karakter utama dalam film ini.

Dengan orisinalitas ide, kesederhanaan cerita, dan kedalaman karakter yang reflektif, film ini menjadi sebuah film yang unik dan berbeda. Ini adalah tipe film yang akan membuat penonton merasa terharu dan tertusuk di saat yang bersamaan, atau menimbulkan perasaan hangat di dada melihat bagaimana ayah dan anak berinteraksi secara jujur di layar. Ketika lampu bioskop menyala, film ini masih akan memberikan sisa-sisa reflektif di dalam kepala penonton tentang hubungan manusia yang paling mendasar.



Indonesia | 2011 | Drama | 76 Mins | Aspect Ratio 1.85 : 1

Won for Best Actor (Donny Damara), Nominated for Best Director (Teddy Soeriaatmadja),
Asian Film Awards, 2012
Won for Best Film (Teddy Soeriaatmadja), Best Director (Teddy Soeriaatmadja), 
Tiburon International Film Festival, 2012.
Won for Best Actor (Donny Damara), Best Actress (Raihaanun),
Indonesia Movie Awards, 2012.

Rating?
8 dari 10

- sobekan tiket bioskop tertanggal 10 Mei 2012 -

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top