20 September 2011
0 kritik

Rise of the Planet of the Apes

Bagaimana jadinya jika spesies kera diberikan kecerdasan layaknya kecerdasan manusia? Di satu sisi, mungkin mereka dapat membantu kehidupan sehari-hari manusia. Tapi di sisi lain, dengan insting binatang yang kuat dan tambahan kecerdasan, maukah mereka untuk selalu tunduk di bawah dominasi manusia? Perandaian ini dicoba divisualisasikan dalam film Rise of the Planes of the Apes.

Seorang ilmuwan, Will Rodman (James Franco), sedang mengembangkan obat yang bisa menyembuhkan penyakit degenerasi otak seperti Parkinson's atau Alzheimer's. Eksperimen dengan metode terapi genetik (menggunakan virus untuk mengirimkan materi gen baru pada DNA) dilakukan terhadap simpanse. Eksperimen tersebut berbuah hasil positif dengan meningkatnya kecerdasan simpanse. Namun seekor simpanse dengan kecerdasan yang melampaui batas ini memimpin kera-kera lainnya untuk menuju kebebasan.

Film ini adalah prekuel dari film orisinil Planet of the Apes (1968) - bukan dari versi Tim Burton (2001) - yang digadang-gadang sebagai film sci-fi cult classic, ditambah dengan twist ending yang membuat mulut menganga selama beberapa detik. Prekuel ini memang menawarkan beberapa plot cerita baru untuk menutupi kelemahan plot cerita film orisinilnya, termasuk sebab mengapa spesies kera dapat mendominasi manusia di kemudian hari. Kekuatan utama film ini tentu adalah CGI dan motion capture yang sangat halus dan meyakinkan, bisa dibilang yang terbaik semenjak trilogi The Lord of the Rings dan Avatar (2009).

Modal CGI yang luar biasa ini berujung pembangunan karakter yang sangat baik dari Caesar, simpanse yang mengalami peningkatan kecerdasan, yang diperankan dengan baik lewat teknologi motion capture oleh Andy Serkis. Perannya sebagai Caesar adalah kedua kalinya Andy Serkis memerankan kera di film layar lebar, setelah King Kong (2005). Detailnya teknologi CGI yang digunakan serta cara pembawaan dari Andy Serkis, membuat penonton benar-benar merasakan empati terhadap Caesar yang digunakan sebagai objek eksperimental. Hal ini yang membuat fokus perhatian penonton yang selama seperempat pertama film terpaku pada karakter Will Rodman, beralih secara perlahan ke Caesar. Oh ya, si nominasi aktor terbaik Oscar 2010 James Franco pun harus rela akting dan penampilannya tenggelam oleh seekor simpanse. Gue cukup dibuat terpukau sekaligus ngeri melihat ekspresi dan pandangan mata yang sangat kuat dan dalam dari Caesar. Pembangunan karakter yang sangat baik sepanjang ini pun dimanfaatkan dengan memainkan emosi penonton, untuk kemudian merasa ngeri melihat apa yang bisa dilakukan oleh Caesar dengan kecerdasan dan kekuatan fisiknya. Perasaan ngeri tersebut tampil konsisten sampai akhir film, dimana penonton akan mulai merasa bahwa sebenarnya spesies kera secara fisik lebih kuat daripada manusia.
gambar diambil dari sini
Perasaan eerie yang gue rasakan ketika melihat betapa kuat dan cerdas yang tidak disangka-sangka dari Caesar, mengingatkan perasaan ngeri yang sama yang gue rasakan ketika menonton trilogi pertama Terminator. Apalagi melihat pergerakan Caesar dan kera-kera lainnya, semengerikan melihat puluhan zombie yang berjalan mendekati kamera dalam 28 Days Later (2002), atau melihat kaki-kaki dari monster yang menghancurkan gedung-gedung kota dalam Cloverfield (2008). Betul saja, menurut gue film ini berhasil menjajarkan kera-kera dengan kecerdasan tinggi bisa sama mengerikan dan destruktifnya dengan zombie, alien, dan robot yang menyerbu bumi. Dengan melihat betapa kuat dampak kehancuran yang disebabkan oleh kera-kera ini, ditambah mengingat apa yang terjadi di masa depan dalam film orisinilnya, rasanya tidak berlebihan jika gue mengkategorikan film ini sebagai film pre-apocalyptic.

Gue pribadi cukup suka dengan ide dibuatnya film-film prekuel. Film prekuel selalu menawarkan sub-plot cerita baru yang bisa dianggap sebagai "jawaban" atas kejadian tertentu yang ada dalam film orisinilnya. Jawaban-jawaban yang ditawarkan film ini pun cukup membuat gue puas, tentunya bagi yang telah menonton film orisinilnya yang dirilis tahun 1968 itu.  Logis dan baiknya pemenuhan jawaban ini mungkin bisa gue bandingkan dengan berbagai jawaban yang ditawarkan dalam Star Wars: Episode III - Revenge of the Sith (2005) dan X-Men: First Class (2011).
gambar diambil dari sini
Satu kelemahan yang ada dalam film ini adalah, betapa kecewanya gue bahwa film ini menghilangkan pesan sosio-politik peradaban manusia yang diangkat dengan baik dan cerdas dalam film orisinilnya. Sebagai gantinya, film ini "hanya" mengangkat pesan kekejaman yang terjadi ketika hewan digunakan sebagai objek eksperimental. Pesan itu pun hanya terangkat sekelumit saja, ditambah dengan bagaimana bisnis dan uang selalu menjustifikasi eksperimen yang menggunakan hewan. Namun rasanya gue menangkap pesan lain yang terdapat cukup implisit, mengenai bagaimana curiosity dan revolusi dari keadaan tertindas selalu menyertai perkembangan kecerdasan. Pesan ini mungkin cukup pararel dengan apa yang terjadi dalam film The Village (2004), dimana karakter Lucius Hunt yang selalu merasa penasaran dan tidak puas akan fakta yang disembunyikan.

Dengan baiknya karakter yang dibangun dari awal film lewat sisi dramanya, berujung pada klimaks yang meyakinkan dan menyeret penonton seolah-olah berada di tengah-tengah adegan klimaks di akhir film. Sebuah adegan klimaks yang dengan segera dapat menjadikan adegan final battle X-Men: The Last Stand (2006) yang walaupun berada di lokasi yang sama menjadi terkesan cupu. Benar, ketika penonton dapat menaruh empati pada karakter yang berada di layar, maka mantapnya adegan aksi di sisa film pun menjadi bonus dari kuatnya karakter dalam sebuah film.


Rating?
8 dari 10

- sobekan tiket bioskop tertanggal 15 September 2011 -

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top