Seorang ilmuwan, Will Rodman (James Franco), sedang mengembangkan obat yang bisa menyembuhkan penyakit degenerasi otak seperti Parkinson's atau Alzheimer's. Eksperimen dengan metode terapi genetik (menggunakan virus untuk mengirimkan materi gen baru pada DNA) dilakukan terhadap simpanse. Eksperimen tersebut berbuah hasil positif dengan meningkatnya kecerdasan simpanse. Namun seekor simpanse dengan kecerdasan yang melampaui batas ini memimpin kera-kera lainnya untuk menuju kebebasan.
Film ini adalah prekuel dari film orisinil Planet of the Apes (1968) - bukan dari versi Tim Burton (2001) - yang digadang-gadang sebagai film sci-fi cult classic, ditambah dengan twist ending yang membuat mulut menganga selama beberapa detik. Prekuel ini memang menawarkan beberapa plot cerita baru untuk menutupi kelemahan plot cerita film orisinilnya, termasuk sebab mengapa spesies kera dapat mendominasi manusia di kemudian hari. Kekuatan utama film ini tentu adalah CGI dan motion capture yang sangat halus dan meyakinkan, bisa dibilang yang terbaik semenjak trilogi The Lord of the Rings dan Avatar (2009).
Modal CGI yang luar biasa ini berujung pembangunan karakter yang sangat baik dari Caesar, simpanse yang mengalami peningkatan kecerdasan, yang diperankan dengan baik lewat teknologi motion capture oleh Andy Serkis. Perannya sebagai Caesar adalah kedua kalinya Andy Serkis memerankan kera di film layar lebar, setelah King Kong (2005). Detailnya teknologi CGI yang digunakan serta cara pembawaan dari Andy Serkis, membuat penonton benar-benar merasakan empati terhadap Caesar yang digunakan sebagai objek eksperimental. Hal ini yang membuat fokus perhatian penonton yang selama seperempat pertama film terpaku pada karakter Will Rodman, beralih secara perlahan ke Caesar. Oh ya, si nominasi aktor terbaik Oscar 2010 James Franco pun harus rela akting dan penampilannya tenggelam oleh seekor simpanse. Gue cukup dibuat terpukau sekaligus ngeri melihat ekspresi dan pandangan mata yang sangat kuat dan dalam dari Caesar. Pembangunan karakter yang sangat baik sepanjang ini pun dimanfaatkan dengan memainkan emosi penonton, untuk kemudian merasa ngeri melihat apa yang bisa dilakukan oleh Caesar dengan kecerdasan dan kekuatan fisiknya. Perasaan ngeri tersebut tampil konsisten sampai akhir film, dimana penonton akan mulai merasa bahwa sebenarnya spesies kera secara fisik lebih kuat daripada manusia.
![]() |
| gambar diambil dari sini |
Gue pribadi cukup suka dengan ide dibuatnya film-film prekuel. Film prekuel selalu menawarkan sub-plot cerita baru yang bisa dianggap sebagai "jawaban" atas kejadian tertentu yang ada dalam film orisinilnya. Jawaban-jawaban yang ditawarkan film ini pun cukup membuat gue puas, tentunya bagi yang telah menonton film orisinilnya yang dirilis tahun 1968 itu. Logis dan baiknya pemenuhan jawaban ini mungkin bisa gue bandingkan dengan berbagai jawaban yang ditawarkan dalam Star Wars: Episode III - Revenge of the Sith (2005) dan X-Men: First Class (2011).
![]() |
| gambar diambil dari sini |
Dengan baiknya karakter yang dibangun dari awal film lewat sisi dramanya, berujung pada klimaks yang meyakinkan dan menyeret penonton seolah-olah berada di tengah-tengah adegan klimaks di akhir film. Sebuah adegan klimaks yang dengan segera dapat menjadikan adegan final battle X-Men: The Last Stand (2006) yang walaupun berada di lokasi yang sama menjadi terkesan cupu. Benar, ketika penonton dapat menaruh empati pada karakter yang berada di layar, maka mantapnya adegan aksi di sisa film pun menjadi bonus dari kuatnya karakter dalam sebuah film.
Rating?
8 dari 10
- sobekan tiket bioskop tertanggal 15 September 2011 -




No comments