Postingan

Joy Ride - Review

Gambar
Hype untuk bikin film-film dengan pemeran utama berkarakter Asia memang lagi jaya-jayanya di Hollywood. Kali ini ada Joy Ride yang bisa dibilang Bridesmaids (2011) versi Asia. Di atas kertas sebenarnya film ni punya banyak potensial. Ada nama Adele Lim di kursi sutradara dan penulis naskah, setelah sebelumnya jadi penulis naskah Crazy Rich Asians (2018) dan Raya and the Last Dragon (2021). Joy Ride memang tipikal film komedi dewasa yang biasanya disutradarai atau diperankan oleh Seth Rogen dan teman-temannya. Bedanya, ini komedi perempuan dan sangat berbau Asia. Komedi-komedinya masih masuk dan kocak, meski belum bisa bikin gue terpingkal-pingkal. Empat karakter utamanya juga unik meski kadang terlalu komikal dan di luar nurul. Tapi gue senang melihat Ashley Park yang kali ini jadi pemeran utama film panjang. Di segi ceritanya juga masih fokus pada Asian-American dari sudut pandang pendatang. Pencarian ibu kandung Audrey di China dan Korea Selatan memang jadi benang mereah film ini....

The Equalizer 3 - Review

Gambar
Denzel Washington is back! Biasanya Denzel itu nggak mau main di film sekuel. Nah franchise The Equalizer ini jadi spesial karena tumben banget Denzel mau bahkan sampai sekuel ketiga. Meski sudah dikonfirmasi bahwa film ketiga ini akan jadi penutup dari franchise The Equalizer . Kalau kita ingat The Equalizer 2 memberikan aksi yang lebih cadas dengan kekerasan grafis yang lebih sadis daripada film pertamanya. Nah film ketiganya ini menurut gue lebih fokus pada segi cerita ketimbang adegan aksi dan adegan gore yang brutal. Porsi aksi dan sadisnya memang lebih sedikit, tapi diimbangi dengan cerita yang sangat matang dan menarik. Yang membuat gue excited adalah adanya Dakota Fanning di film ketiga ini. Iya iya dia makin dewasa aja dan rasanya sudah sukses mengaburkan image dia sebagai aktris anak-anak ya. The Equalizer 3 jelas jadi reunian antara Denzel dengan Dakota sejak Man on Fire (2004). Bayangkan, 19 tahun dan waktu itu Denzel masih ngegendong Dakota! Sekarang karkater Dakota uda...

Talk to Me - Review

Gambar
Talk to Me adalah horor terbaik yang gue tonton di tahun 2023 ini! Gokil! Ceritanya memang bukan barang baru, tapi cara penyampaiannya yang luar biasa unik dan segar. Horornya jadi intens dan tegang banget. Deretan jump scare juga efektif bikin pantat gue loncat dari kursi bioskop. Penampilan setiap pemainnya juga sukses bikin ngeri, terutama pemain utamanya Sophie Wilde yang sukses bikin antara kasihan dan gemas. Pujian tertinggi jelas harus diarahkan ke duo sutradara Danny Philippou dan Michael Philippou yang baru kali ini menulis dan menyutradarai film panjang! Perlu diketahui mereka berdua ini youtuber dengan kanal bernama RackaRacka yang udah punya sekitar 6 juta subsriber. Jadi berasa banget cara pengambilan gambar dan editing yang cepat dan dinamis ala youtuber di film panjang pertama mereka ini. Gue suka banget gimana Talk to Me bermain di area grieving atau berduka. Memang tema grief di dalam film horor bukan suatu hal yang baru, tapi Talk to Me ngasih lihat hal buruk apa y...

Gran Turismo - Review

Gambar
Sebelum nonton ini gue termasuk salah satu penonton yang skeptis sama film ini. Gue memang bukan pemain Sony Playstation, apalagi pemain Gran Turismo. Apalagi film adaptasi dari video game tidak punya track record yang cukup baik. Meski sebenarnya film Gran Turismo ini bukan adaptasi video game, melainkan berdasarkan kisah nyata pemain video game yang jadi pembalap mobil profesional. Gue harus kasih tepuk tangan setelah film ini selesai. Luar biasa! Ini baru film tentang balapan mobil! Nggak kaya franchise yang satu itu, judulnya balapan mobil tapi malah jadi film aksi spionase. Film Gran Turismo ini benar-benar memberi adegan balap-balapan di mayoritas durasinya. Drama keluarga, romansa, dan keraguan karakter utamanya memang ada tapi porsinya hanya sedikit. Jadi fokus utamanya tetap di adegan balapan. Setiap adegan balap mobilnya juga jadi hiburan mata dan telinga yang maksimal. Seperti halnya para engineer rumah produksi game Poly's Entertainment ynag sampai merekam suara mobil b...

Cobweb - Review

Gambar
Wah ini dia, Cobweb jadi film horor yang paling mengejutkan dan paling spesial di tahun ini. Nggak ada hiruk-pikuk marketing dan hanya mengandalkan word of mouth. Gue pun tergerak nonton ini setelah bertebaran review positif dari orang-orang terpercaya di linimasa gue. Oya buat penonton The Boys pasti senang/sebal karena ada Homelander alias Anthony Starr di sini. Biasanya tipikal film kaya gini diproduksi sama A24 ya tapi bukan, ini produksi Lionsgate dengan Seth Rogen yang duduk di kursi produser. Perlu digarisbawahi, tangan dingin Seth Rogen di kursi produser konsisten menghasilkan karya yang ciamik. Sebut saja serial The Boys dan film animasi yang sedang tayang di bioskop; TMNT: Mutant Mayhem . Cobweb ini punya cerita yang benar-benar segar dan nggak ketebak. Saking barunya, gue sama sekali nggak kepikiran ini mirip film apa ya. Kecuali sampai di akhir yang kayaknya akan lebih keren kalau ternyata Cobweb adalah secret sequel dari The Babadook (2014). Horornya intens dan shockin...

Blue Beetle - Review

Gambar
Blue Beetle hadir sebagai film pertama DCU di era James Gunn. Tapi tidak seperti MCU, film Blue Beetle ini tidak bermaksud membuka semesta ke film-film lain dan hanya fokus pada karakter ini saja. Sisi positif lainnya adalah, Blue Beetle menambah deretan pahlawan super dari kaum minoritas. Apalagi di semesta DC, sepertinya baru ini ada pahlawan super berdarah Latin. Kisahnya memang masih dengan formula origin story, terutama di area merasa tidak layak menjadi pahlawan super. Tapi yang menjadikan Blue Beetle spesial adalah unsur keluarga yang sangat kental. Jadi usaha untuk mengalahkan kejahatan nggak datang dari satu orang saja, tapi benar-benar dari setiap anggota keluarga yang punya andil untuk itu. Gue juga suka bagaimana Blue Beetle memperlakukan karakter penjahat utamanya; setiap penjahat pasti datang dari masa lalu yang traumatis dan punya kesempatan untuk berubah. Film ini juga nggak DC banget yang gelap dan serius. Rasanya ini memang sudah diaplikasikan oleh beberapa film DCU k...

Teenage Mutant Ninja Turtles: Mutant Mayhem - Review

Gambar
Spider-Man into the Spider-Verse (2018) memang jadi tonggak sejarah animasi Hollywood yang keluar dari pakem animasi dengan visual sehalus dan semirip mungkin dengan kehidupan nyata. Semenjak film itu, jadi makin banyak film animasi dengan gaya visual yang stylish dan cenderung kontemporer. Sebenarnya visual animasi seperti ini lumrah di ranah kontemporer, tapi baru kali ini masuk ke lini arusutama dan diterima pula oleh penonton populer. Yang terbaru adalah Teenage Mutant Ninja Turtles: Mutant Mayhem karya sutradara Jeff Rowe dan Kyler Spears. Sebelumnya Jeff Row menyutradarai film animasi Netflix dengan gaya visual yang sama di The Mitchells vs the Machine (2021). Tampaknya Universal dan Nickelodeon sudah insyaf dengan live action kura-kura ninja ya dan kembali ke animasi. Memang sudah layak dan sepantasnya sih, apalagi dengan tren animasi yang ke arah kontemporer ini. Mutant Mayhem jelas jadi hiburan mata dan telinga yang maksimal. Visual animasinya cantik banget dengan gaya coret...

Ketika Berhenti di Sini - Review

Gambar
Setelah sukses dengan film pertamanya Kukira Kau Rumah (2021), sutradara dan penulis naskah Umay Shahab kembali dengan film keduanya; Ketika Berhenti di Sini . Umay yang memang ternyata berbakat di belakang kamera, nggak berhenti untuk mengeksplorasi topik sulit di setiap filmnya. Setelah isu kesehatan mental di Kukira Kau Rumah , sekarang lewat film terbarunya mengupas isu berduka, kehilangan, dan denial yang kompleks dan penuh hati. Ketika Berhenti di Sini jelas punya kualitas yang jauh lebih tinggi ketimbang Kukira Kau Rumah . Gaya berceritanya lancar dan efektif mengaduk emosi, ditambah dengan iringan lagu yang siap menyayat hati. Kisahnya bisa dibilang sangat dekat dengan banyak penonton. Tawaran teknologinya pun masih bisa diterima oleh akal sehat, dengan banyak justifikasi yang diberikan di naskah dan adegan. Topik sensitif dan kompleks seperti ini jelas sangat bergantung pada pemerannya yang harus bisa memainkan range emosi yang luas. Beruntung Indonesia punya talenta berbaka...

Suzzanna Malam Jumat Kliwon - Review

Gambar
Lima tahun setelah remake Suzzanna: Bernapas dalam Kubur (2018), entah kenapa baru di 2023 ini Soraya Intercine Film merilis remake film Suzzanna berikutnya. Sayang memang karena hype -nya keburu mereda dalam kurun 5 tahun ini, padahal Bernapas dalam Kubur mendapatkan perolehan yang nggak sedikit; 3,3 juta penonton. Tapi Luna Maya kembali berperan sebagai Suzzanna di film kedua ini dengan lawan main baru; Achmad Megantara. Kali disutradarai oleh Guntur Soeharjanto dan naskahnya ditulis oleh Ferry Lesmana, Tumpal Tampubolon, dan Sunil Soraya. Meski diberkahi nama-nama besar di kursi sutradara dan penulis naskah, tapi tetap tidak mampu mengangkat kualitas Malam Jumat Kliwon setidaknya menyamai Bernapas dalam Kubur. Ada banyak cacat logika di dalam film, yang akhirnya membuat gue pasrah dan menyerah. Malam Jumat Kliwon juga nggak bisa dibilang murni film horor karena setiap adegan horornya sama sekali tidak menyeramkan. Para pembuat film juga rasanya memang tidak berniat untuk menakut-nak...

The Moon - Review

Gambar
Pas nonton trailernya sih, spontan gue mikir wah industri film Korea udah maju banget ya. Terakhir gue nonton film Korea bertema luar angkasa itu Space Sweepers (2021) dan itu pun di Netflix. Itu pun gue paham pasti dapat budget yang besar sekali dari Netflix. Kali ini The Moon buatan CJ memilih tema yang lebih "membumi", meski notabene tema mendarat di bulan ini sudah biasa di Hollywood. Jadi harus diberi acungan jempol untuk industri film Korea dan CJ untuk berani mengangkat tema ini di ranah industri film Asia. Sebelum nonton, gue sudah menurunkan ekspektasi di ranah efek visual. Tapi setelah nonton gue malah puas dan dibuat terpukau. Memang ada beberapa adegan wide shot yang terlihat animasi, tapi secara keseluruhan bisa dibilang efek visualnya sangat rapi. Terutama adegan-adegan close up yang memperlihatkan desain produksi yang cukup detil dan rapi. Untuk cerita sendiri sangat baik dan efektif meningkatkan ketegangan. Deretan adegan aksinya benar-benar bikin gue tahan ...

Haunted Mansion - Review

Gambar
Satu lagi film adaptasi Disney dari wahana Disney Land mereka. Sebenarnya Haunted Mansion ini sudah pernah diadaptasi jadi film di tahun 2003, dengan Eddie Murphy sebagai bintang utamanya. Jadi versi 2023 ini adalah update dari itu, dengan sekelumit kisah dan karakter yang baru. Meski dengan bergerak di koridor yang sama; horor komedi yang aman ditonton oleh anak-anak. Jujur gue ketiduran nonton ini, dna masih bisa mengikuti jalan ceritanya. Gue paham sih ini adalah tipikal horor untuk anak-anak jadi unsur horornya pun diturunkan intensitasnya. Jadinya memang nggak serem sama sekali dan cenderung lucu. Ini juga efek yang diharapkan karena memang masuk dalam genre komedi. Tapi sayangnya gue merasa film ini nggak lucu sama sekali dengan setiap lelucon yang dilempar. Jadilah Haunted Mansion ini sebuah film yang nggak ke mana-mana. Horor banget nggak, komedi banget juga nggak. Datar banget sepanjang film dan gue sama sekali nggak merasakan apa-apa. Ketegangan yang coba dibangun pun gue ngg...

Oppenheimer - Review

Gambar
Nggak ada yang lebih menyenangkan di dunia ini ketimbang nonton film terbarunya Christopher Nolan di bioskop, atau lebih tepatnya di IMAX. Apalagi ini kali pertamanya sutradara dan penulis naskah kecintaan para sinefil ini menggarap film biografi. Kali kedua setelah Dunkirk, Nolan menggarap film bertema Perang Dunia Kedunia. Rasanya memang hanya Christopher Nolan yang mampu membuat film biografi berdurasi tiga jam jadi tontonan yang seru dan menegangkan. Benar-benar nggak berasa tiga jam walaupun 95% film isinya hanya dialog. Betul, yang mengharapkan akan ada banyak ledakan karena ini adalah biografi Bapak Bom Atom harus siap-siap kecewa karena porsinya sedikit sekali. Sebelum menonton film ini, gue sama sekali nggak tahu kalau ternyata Oppenheimer itu disangkut-pautkan dengan komunis. Namanya jadi tercemar karena narasi itu padahal pencapaiannya di bidang fisika kuantum sangat fenomenal. Gue nggak menyangka kalau film ini fokus pada pertikaian antara Oppenheimer dangan Kolonel Lewis S...

Barbie - Review

Gambar
Setelah kehebohan Barbenheimer di beberapa minggu terakhir, akhirnya tiba juga dua film bertolak belakang ini rilis. Gue memilih nonton Barbie duluan karena simply semua studio IMAX Oppenheimer penuh. Tapi gue nggak menyesal dengan keputusan ini karena ternyata BARBIE BAGUS BANGET GILAK. Jelas film ini sudah mengamankan posisi di Top 10 film terbaik versi gue di tahun 2023 ini. Awalnya mungkin kita semua akan memandang sebelah mata ya begitu lihat poster dan trailer Barbie. Apalagi film adaptasi mainan kebanyakan punya track record buruk, kecuali Lego Movie, ini pun akhir-akhir ini kualitasnya menurun. Ditambah lagi image Barbie yang di era woke ini kurang bagus ya; masih membawa kesan objektifikasi perempuan dan lain sebagainya. Sebuah isu yang sulit dibantah, tapi ternyata bisa di twist sedemikian rupa lewat naskah brilian karya Greta Gerwig dan Noah Baumbach. Setidaknya dua nama ini yang bikin gue percaya bahwa film Barbie ini nggak akan jadi film receh ecek-ecek ala My Little Pony ...

Mission: Impossible Dead Reckoning Part One - Review

Gambar
Film ketujuh dari franchise berusia 27 tahun ini akhirnya keluar juga untuk menyelamatkan sinema. Tom Cruise memang terkenal idealis ya bikin film yang sinematik alias akan dapat pengalaman maksimal kalau ditonton di bioskop, seperti Top Gun: Maverick (2022). Nah atas nama kapitalisme, seri ketujuh alias Dead Reckoning ini pun dipecah jadi dua film. Nggak tanggung-tanggung, bagian pertamanya saja berdurasi 2 jam 43 menit. Kalau durasi panjang begini rasanya win-win solution, penonton juga bahagia karena beli tiket untuk dapat hiburan maksimal dengan durasi lama. Untuk filmnya sendiri, kok gue rasanya kurang puas ya. Memang sih di segala sisi tampak ditingkatkan berkali lipat mulai dari durasi, adegan aksi, hingga taruhan yang harus dihadapi Ethan Hunt. Di cerita sendiri, gue paham sih mungkin franchise M:I sudah lelah mencari main villain makanya kali ini pivot ke AI yang memang lagi naik daun di dunia nyata. Tapi menurut gue ini bisa jadi lazy writing , kalau ada apa-apa tinggal sala...

Insidious the Red Door - Review

Gambar
Insidious The Red Door ini adalah film kelima dari franchise Insidious. Sebenarnya gue suka banget sama film pertamanya Insidious (2011), karena dibuat dengan low budget dan keterbatasan tapi sukses banget bikin gue teriak anjing anjingan di dalam bioskop saking ketakutannya. Tapi sejak film kedua sampai keempat, kualitasnya menurun secara konsisten. Masih ada pula film kelimanya yang entah sampai kapan franchise ini harus diteruskan. Di film kelima ini disutradari sendiri oleh pemeran utamanya, Patrick Wilson, sekaligus jadi debut penyutradaraannya. Hasilnya tetap gue kurang suka. Gue sama sekali nggak ketakutan, meski beberapa kali kaget dengan jump scare yang memang mengagetkan. Masih konsisten dari film keduanya, The Red Door masih fokus dengan kisah drama yang kali ini mengeksplorasi hubungan ayah dan anak. Jadi salah satu daya tariknya adalah aktor Ty Sympkins si anak yang bisa rogo sukmo di film pertamanya balik lagi dan udah gede udah masuk kuliah. Porsi dramanya bisa dibilang...

Indiana Jones and the Dial of Destiny - Review

Gambar
Indiana Jones mungkin satu-satunya franchise film yang bertahan selama 4 dekade dan diperankan oleh orang yang sama! Bayangkan saja, Indiana Jones and the Temple of Doom dirilis tahun 1984 dan 39 tahun kemudian kita masih bisa nonton sekuel kelimanya; Indiana Jones and the Dial of Destiny yang masih diperankan oleh Harrison Ford yang saat film ini dibuat sudah berumur 80 tahun. Lebih gila lagi ya, usia yang kalau di Indonesia sudah dipanggil opa atau opung masih main film aksi petualangan yang penuh adegan berantem dan kejar-kejaran. Gue sebagai penyuka film bertema petualangan apalagi mencari harta karun, selalu suka dengan setiap aksi Indy kejar-kejaran mencari harta karun. Meski sempet turn off dengan The Kingdom of the Crystal Skull (2008), tapi ternyata gue cukup suka dengan Dial of Destiny. Berdurasi 2 jam 34 menit tapi sama sekali nggak terasa panjang karena menyenangkan dan seru banget. Tipikal aksinya bervariasi mulai dari adu jotos, adu tembok, adu balap mobil hingga bajaj, s...

Ganjil Genap - Review

Gambar
Ini adalah film ketiga Bene Dion Rajagukguk sebagai sutradara dan penulis naskah. Tiga film dia otomatis punya genre yang berbeda antara satu dengan yang lain. Ghost Writer (2019) bergenre horror, Ngeri Ngeri Sedap (2022) bergenre dramedy keluarga, dan yang terbaru Ganjil Genap (2023) ini bergenre romansa. Berpegang prestasi dia di Ngeri Ngeri Sedap cukup bikin gue pede untuk punya ekspektasi tinggi di film Ganjil Genap . Film romansa Indonesia itu masih didominasi oleh film-film romansa di kalangan remaja atau anak sekolah. Ya ini balik lagi menjawab kebutuhan pasar dan memang para remaja atau anak sekolah kalau nonton di bioskop pasti kalau nggak horor ya romansa. Nah kisah romansa di segmen pekerja atau umur 20an dan 30an ini yang jarang sekali. Sebelum ini memang ada Lara Ati (2022) dan Cek Toko Sebelah 2 (2022), tapi di tahun 2023 ini baru ada Ganjil Genap yang mewakili segmen pekerja. Gue senang sekali sih nonton Ganjil Genap ini, punya cerita yang bisa dibilang cukup jara...

The Flash - Review

Gambar
Berhubung gue nontonnya di minggu kedua setelah rilis, gue udah kenyang dengan baca dan nonton berbagai review positif yang bertebaran di linimasa. Hasilnya malah ekspektasi gue sudah terlanjut terkerek terlalu tinggi. Akibatnya pas nonton gue malah jadi biasa aja. Nggak ada niatan tepuk tangan atau berdecak kagum. Meski filmnya sendiri tetap bagus kok. Menurut gue, The Flash ini adalah film terbaik di DCEU. Sebuah langkah yang tepat memilih Andy Muschietti untuk duduk di kursi sutradara. Beliau sudah sangat piawai memainkan kisah yang berhubungan dengan ibu - layaknya film-film DCEU sebelumnya ya, halo Martha di Batman dan Superman. Taruhan dalam film The Flash ini tentang ibu, hal yang sangat relatable dengan setiap penonton. Jelas ini jadi film superhero yang paling personal dan paling relate dengan banyak penonton. The Flash juga sukses jadi film penutup DC Extended Universe dan jembatan untuk film pembuka DC Universe. Sebuah semesta DC baru (reset) yang kedepannya dipimpin oleh Ja...

Elemental - Review

Gambar
Akhirnya nonton film Pixar lagi di bioskop! Pandemi memang menyebalkan bagi studio animasi kebanggaan kita semua. Empat film Pixar sebelumnya (Soul, Luca, Turning Red, Lightyear) harus rela hanya ditayangkan di platform Disney+ dan nggak rilis di bioskop Indonesia. Tapi 2023 ini akhirnya Elemental dirilis di bioskop Indonesia. Nonton Elemental pasti bikin kita teringat sama Inside Out (2015), mungkin karena sama-sama bertema personifikasi. Kalau Inside Out mengandaikan setiap emosi berbentuk layaknya manusia dan punya pikiran dan perasaan, maka Elemental mengandaikan setiap elemen di bumi ini hidup layaknya manusia. Lalu lebih dalam lagi, apa yang akan terjadi jika air dan api saling tertarik dan jatuh cinta? Gue sama sekali nggak sangka kalau ini adalah film romansa pertama dari Pixar! Ya jelas karena selama ini Pixar fokus ke kisah anak-anak meski selalu out of the box . Tapi memang kekuatan Pixar adalah di penyampaian cerita, jadi apapun kisahnya termasuk romansa, maka akan selalu k...

Transformers: Rise of the Beasts - Review

Gambar
Gue nggak pernah suka sama franchise Transformers sih, tapi entah kenapa gue selalu nggak ketinggal untuk nonton film ini di bioskop. Mungkin karena gue sadar bahwa tipikal film seperti ini adalah untuk ditonton di bioskop. Tipikal film yang menyajikan aksi dengan visual dan tata suara yang spektakuler. Jauh di lubuk hati yang paling dalam, gue juga penasaran mau lihat Maximal - robot-robot yang menyamar berbentuk binatang di bumi. Sebenarnya ternyata Transformers: Rise of the Beasts ini nggak sejelek itu. Tetap jelek sih, tapi masih lebih mendingan daripada lima film sebelumnya. Ceritanya dibuat lebih sederhana dan jadinya lebih masuk akal. Sepertinya pembuat film sudah sadar bahwa penontonnya hanya akan fokus pada setiap adegan aksi dan robot berantem. Jadi buat apa memberikan cerita yang kompleks, apalagi screen time yang banyak untuk karakter manusia. Yang menarik adalah, franchise Transformers pun kena gelombang woke ya hahaha. Dua pemeran utamanya dari kalangan minoritas, setelah...

Spider-Man: Across the Spider-Verse - Review

Gambar
WOW WOW WOW! Udah pada tahu dong kalau Spider-Man: Into the Spider-Verse di tahun 2018 berhasil jadi tolok ukur baru film animasi? Maaf ya Pixar, kali ini Sony Animation berani eksperimen teknologi animasi baru di ranah mainstream, dan disukai publik! Nggak perlu animasi yang life-like atau menyerupai kehidupan nyata. Tapi sisi kreatif dan estetika yang dikedepankan, yang ternyata sangat pas dengan dunia multi-semesta dari Spider-Man. Lima tahun kemudian, di 2023 ini kita diberi suguhan terbaik - sekali lagi. Across the Spider-Verse lagi-lagi meningkatkan standar itu, oh what a time to be alive! Nonton Spider-Man: Across the Spider-Verse di layar sebesar mungkin dengan tata suara sebagus mungkin jelas wajib. Visualnya gila banget! Setiap frame adegan bisa di screencapture lalu dijadikan wallpaper atau bahkan dicetak, dibingkai, dan dipajang di tembok rumah. Gila gila gila! Franchise Spider-Verse ini juga memang nggak hanya menang di visual saja. Apa itu style over substance ? Ini jelas...

The Little Mermaid - Review

Gambar
Akhirnya tiba juga adaptasi live action The Little Mermaid (1989) yang beberapa bulan menjelang rilis menuai banyak kontroversi. Ternyata banyak juga yang nggak suka versi Ariel 2023 hanya karena Halle Bailey berkulit hitam. Banyak pula yang makin marah-marah melihat anak-anak Raja Triton diperankan berbagai karakter dari berbagai ras. Tapi menurut gue ini malah masuk akal karena mereka adalah penguasa 7 lautan dan memang 7 samudra ini terletak di berbagai dunia dari berbagai ras. Anyway mari kembali ke substansinya, film dan konten. Nggak seperti adaptasi live action Disney yang lain, menurut gue The Little Mermaid (2023) adalah yang paling baik. Tujuan adaptasi setiap animasi klasik Disney kan memang memperbarui konten mereka ke generasi baru. Kalau memang generasi sekarang penuh dengan representasi dari berbagai ras, maka ini adalah gambaran yang pas dan tepat. Lagipula, update segmen Under the Sea di versi 2023 ini juga mewah banget! Gue ngeliat anak kecil perempuan di sebelah k...

Fast X - Review

Gambar
Sepuluh film, 22 tahun, dan gue makin nggak peduli lagi dengan ceritanya. Gue udah lupa banget sih sama 9 film sebelumnya. Tapi yang jelas gue ingat beberapa ciri khas franchise Fast & Furious ini. Yang pertama adalah penjahat bisa jadi ada di sisi protagonis di film selanjutnya, dan yang mati bisa dihidupkan kembali. Fast X jelas nggak lepas dari dua ciri khas itu. Tapi yang menarik adalah Fast X hadir di tengah film-film superhero blockbuster dan mampu menyatukan fans MCU dan DCU. Deretan cast di film-filmnya Fast & Furious itu selalu bikin franchise The Expendables - yang idenya menyatukan semua bintang film aksi - malah jadi cupu. Apalagi cast di Fast X ini yang bisa bikin fans MCU dan DCU kelojotan bareng. Gila sih nggak ada duanya emang, dan ini memang salah satu jualannya. Jualan yang lain jelas adegan-adegan aksi stunt CGI yang nggak pakai otak alias absurd. Tapi ya nggak apa-apa juga karena toh penonton suka juga. Harus gue akui, di segi cerita Fast X tergolong sudah t...