Monster: The Lizzie Borden Story - Series Review
Sinopsis
Berlatar Fall River, Massachusetts tahun 1892, Monster: The Lizzie Borden Story yang disutradarai oleh Mikkel Nørgaard bersama kreator Ian Brennan mengisahkan Lizzie Borden, seorang perempuan muda yang mendadak terjebak dalam lingkaran kemelut hukum ketika ayah dan ibu tirinya ditemukan tewas mengenaskan akibat tebasan kapak. Lizzie dan asisten rumah tangganya, Maggie, ditemukan selamat di lokasi kejadian tanpa luka sedikit pun; situasi janggal yang serta-merta membuat pihak kepolisian mengarahkan tuduhan utama pada diri Lizzie. Menghadapi ancaman hukuman mati, Lizzie terpaksa mengambil keputusan ekstrem untuk bertahan hidup di tengah kepungan penyidik, sorotan tajam publik, serta tuduhan pembunuhan berencana yang mengancam kebebasannya.
Ulasan
Pilihan naskah karya Ian Brennan untuk mereduksi level gore dan memangkas aspek jagal fisik jika dibandingkan tiga instalasi Monster sebelumnya terbukti menjadi keputusan naratif yang sangat tepat. Fokus cerita digeser secara masif ke ruang-ruang domestik yang tertutup, membedah drama psikologis memuakkan akibat relasi beracun antara Lizzie dengan ayah serta ibu tirinya yang amat toksik. Penindasan dan perundungan yang ia terima sejak kecil hingga dewasa merakit bom waktu kemarahan yang membuncah; dikondisikan oleh atmosfer rumah yang dingin dan ketiadaan perlindungan dari sang kakak. Porsi cerita yang murni berpusat pada dinamika mental ini memberikan pijakan motivasi yang kokoh, membuat penonton dapat memahami riak dendam kesumat di balik raut tenang sang tokoh utama.
Di bawah pengarahan sutradara Mikkel Nørgaard, penataan artistik dan atmosfer Massachusetts akhir abad ke-19 dihadirkan dengan visual yang pekat, sesak, dan sangat intimidatif. Ruang-ruang sempit di dalam rumah keluarga Borden dieksekusi dengan permainan tata cahaya alami yang redup, mempertegas isolasi batin yang dialami Lizzie. Meskipun skala aksinya tergolong paling "ringan" dalam urusan simbah darah, pendekatan teknis ini justru berhasil memindahkan rasa keriut keputusasaan dari efek luka fisik ke dalam tekanan mental para karakternya. Pilihan lagu dan scoring yang minim nada sentimental makin mempertegas dinginnya investigasi serta pengadilan yang perlahan berubah menjadi arena sirkus media.
Langkah pemasaran yang memosisikan serial ini sebagai bagian dari antologi pembunuh berantai populer berpotensi memicu benturan ekspektasi bagi penonton Indonesia. Bagi publik tanah air yang awam terhadap zeitgeist maupun lagu anak-anak urban kultural AS tentang Lizzie Borden, ekspektasi akan tontonan jagal penuh darah seperti kisah Dahmer atau Ed Gein jelas terkikis oleh lambatnya tempo drama ruang sidang. Namun, kekecewaan awal tersebut terbayar saat serial ini menyajikan perspektif women empowerment yang cukup provokatif; termasuk penggambaran karakter Maggie sang ART yang berwawasan luas, progresif, sekaligus membawa nuansa spektrum LGBT di era yang sangat represif.
Pesan pemberdayaan perempuan dalam serial ini tidak disajikan secara mentah atau glorifikasi buta, melainkan dengan memperlihatkan konsekuensi pahit dari tindakan ekstrem. Penyisipan dongeng mitos Elizabeth Bathory hingga subplot fiktif tentang pembunuh berantai tahun 1980-an yang terinspirasi oleh aksi Lizzie menjadi cermin menakutkan; bagaimana sebuah narasi pemberontakan bisa diinterpretasi secara salah kaprah menjadi pembenaran kekerasan di era berbeda. Realitas hukum dan sosial yang dihadapi Lizzie memperlihatkan bahwa meski ia lolos dari vonis hukuman mati, sanksi sosial masyarakat dan label pembunuh sadis tetap mengurung sisa hidupnya dalam penjara tanpa terali besi.
Kesimpulan
Sebagai antologi ke-4, Monster: The Lizzie Borden Story berhasil membuktikan bahwa kejahatan paling mengerikan tidak selalu diukur dari derasnya aliran darah atau banyaknya jumlah korban. Serial ini secara tegas memilih jalur dekonstruksi psikologis, menunjukkan bahwa pembunuhan sadis sering kali berakar dari trauma panjang dalam pilar keluarga yang membusuk dari dalam. Sebuah tontonan yang matang, berani mengambil risiko, dan memberikan representasi kelam mengenai kompleksitas perempuan di hadapan hukum serta tekanan sosialnya.
Skor Sobekan Tiket Bioskop: 3/5
Cocok untuk: penggemar kisah kriminal, terutama yang berdasarkan kisah nyata
- ditonton di Netflix -
© Sobekan Tiket Bioskop.
Konten asli dipublikasikan di Sobekan Tiket Bioskop pada 22 September 2026.
Reproduksi tanpa izin dilarang. Laporan plagiat:
copyright notice.



Komentar
Posting Komentar