Postingan

Latest Review

The Woman King - Review

Gambar
The Woman King adalah salah satu film yang gue tunggu-tunggu. Bukan cuma Viola Davis yang jadi pemeran utamanya, tapi premis filmnya sangat sangat menarik! Tentang suku Dahomey di Afrika Barat di tahun 1823 yang punya pasukan elit yang semuanya perempuan. Gokil gak tuh! Selama ini kan kita sering denger mitos tentang perempuan Amazon, nah ini ternyata ada dan tercatat dalam buku sejarah - bukan hanya pasukan perempuan tapi pasukan perempuan berkulit hitam! Filmnya sendiri seru banget dan penuh daging! Dalam artian banyak pesan dan makna yang terkandung beberapa lapis, tentunya disamping visual yang ciamik, adegan aksi yang seru banget, cerita yang matang, dan akting yang sekelas Oscar. Gila sih Viola Davis, nggak ada obat aktingnya. Jadi jenderal pasukan elite tapi juga sebagai wanita yang punya hati dan perasaan. Range emosinya luar biasa lebar dan semuanya diekspresikan dengan sangat meyakinkan. Gue suka banget sih sama pesan dan makna berlapis yang ada di The Woman King. Pesan utama

Smile - Review

Gambar
Trailernya sangat mencekam sekali. Apalagi setelah baca banyak ulasan di linimasa, hampir semuanya kompak bernada positif. Sepertinya premis film ini berangkat dari kecemasan banyak orang dan belum pernah diangkat dalam film horor; orang senyum menyeramkan. Kemudian premis dasar itu direnggangkan sedemikian rupa menjadi film horor penuh darah dan daging. Ternyata film panjang Smile merupakan adaptasi dari film pendek Laura Hasn't Sleep karya sutradara dan penulis naskah yang sama; Parker Finn. Sebagai debut film panjang, sepertinya Hollywood nggak kekurangan talenta filmmaker horor karena regenerasinya berjalan lancar. Sepertinya film panjangnya mengambil sudut pandang yang berbeda dan terjun langsung ke ranah horor yang menyeramkan. Smile adalah tipikal film horor yang creepy. Seremnya bukan langsung di depan mata dengan jump scare, tapi merambat pelan-pelan dari belakang kepala sampai bulu kuduk berdiri. Parker Finn jelas punya kesabaran berlebih untuk nggak buru-buru ngasih keju

Ticket to Paradise - Review

Gambar
Banyak alasan buat nonton Ticket to Paradise. Yang paling utama mungkin adalah ngeliat reunian dari George Clooney dan Julia Roberts yang sebelumnya udah pernah main bareng di Ocean's Eleven (2001), Ocean's Twelve (2004), Money Monster (2016). Alasan kedua adalah aktor Indonesia yang ambil bagian di film ini; Maxime Bouttier yang emang beneran berdarah Bali. Alasan ketiga adalah 95% film ini berlatar di Bali meski aslinya syuting di Queensland Australia karena pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia pada saat proses syuting. Oya alasan tambahan, ini film pertama George Clooney main di film romcom setelah One Fine Day (1996). Jadi ya kapan lagi ngeliat George Clooney main film receh dan kocak macam begini. Ditambah lagi emang chemistry-nya dengan Julia Roberts yang luar biasa natural dan enak banget ditonton. Maxime Bouttier juga ternyata dapet porsi yang banyak banget, bukan sekedar tempelan. Beneran dari awal sampai akhir, dengan penampilan akting yang ciamik dan bisa meng

Athena - Netflix Review

Gambar
Wah Athena jelas jadi salah satu film terbaik di tahun 2022 sih. Nyaris sempurna di semua segi, mulai dari visual sampai cerita. Sutradara Romain Gavras memilih konsep visual one take shot ala 1917 (2019) meski nggak full tapi dibagi dalam beberapa segmen. Setiap segmen fokus pada 1 karakter penting yang ngebawa jalan cerita.  Gue sih ngefans banget sama konsep one take long shot kaya gini karena nggak kebayang kompleks teknisnya! Mulai dari penempatan kameranya yang kayaknya dioper-oper dari dolly ke motor atau mobil ke crane. Belum lagi blocking pemain dan ratusan figuran yang ada. Gokil! Ceritanya juga simpel dan fiktif, tapi kita paham jelas bahwa kisah seseorang meninggal karena penanganan brutal dari pihak otoritas bukan berita baru dan sering terjadi di negara manapun. Athena jelas jadi pengingat yang getir dan keras, bukan hanya soal otoritas tapi juga kelas sosial dan betapa sensitifnya kita semua terhadap berita penganiayaan.  Begitu tahu ending yang lumayan twist, ngeri ban

Lara Ati - Review

Gambar
Gue nonton Yowis Ben (2018) dan nggak ngerasa cocok, mungkin karena filmnya cuma bisa diakses sama remaja-remaja SMA. Sebenernya nggak apa-apa juga bikin film tentang SMA, permasalahannya kan tinggal apakah bisa diakses oleh penonton di kategori umur di luar itu. Tapi sayangnya trilogi Yowis Ben nggak.  Setelah kontrak tiga film dengan rumah produksi Starvision habis, sekarang giliran BASE Entertainment yang menampung Bayu Skak yang memang berbakat di segmen konten berbahasa Jawa. Kali ini Bayu Skak fokus saja di sutradara dan pemain utama, sementara naskah diberikan ke talenta baru; Anissa Pandan Sari dan Aisyah Ica Nurramadhani sebagai debut penulisan naskahnya. Berbekal review positif dari beberapa orang kepercayaan gue, ternyata gue cukup suka dengan Lara Ati. Setiap komedinya sukses bikin gue ngakak, meski ini adalah komedi sederhana. Tipikal komedi yang bukan receh dan bukan formula komika - seperti di rumah produksi sebelah. Tapi komedi dari keseharian yang biasa kita dengar en

Noktah Merah Perkawinan - Review

Gambar
Setelah poster dan trailer ini dirilis, gue sama sekali nggak tertarik buat nonton film ini. Cukup tahu aja ini adalah adaptasi dari sinetron berjudul sama yang tayang sebanyak 77 episode di periode tahun 1996 - 1998 di Indosiar, yang sama-sama diproduksi oleh Rapi Film. Tapi setelah membaca ulasan yang semuanya bernada positif nggak cuma di linimasa tapi juga di grup WA, gue jadi tertarik. Apalagi ulasan di grup WA ya yang cenderung lebih jujur ketimbang di linimasa yang sekarang ini penuh paid buzzer. Dengan mudah, Noktah Merah Perkawinan udah mengamankan posisinya di 10 Film Terbaik versi gue di tahun 2022. Bahkan dari awal film gue udah dibuat jatuh cinta lewat visualnya yang cantik dan intim. Sinematografinya menawan lengkap dengan color grading yang sejuk dan nyaman. Akting para pemainnya juga sangat meyakinkan. Marsha Timothy nggak ada obat! Oka Antara yang sebelum-sebelumnya - maaf banget - gue kurang cocok sama aktingnya, kali ini gue bisa larut di setiap emosinya. Sheila Dar

The Invitation - Review

Gambar
Nathalie Emmanuel dari Game of Thrones balik lagi nih main film panjang, setelah tampil beberapa kali di franchise Fast & Furious kemarin. Kali ini main di film yang premisnya mirip banget sama Ready of Not (2019)-nya Samara Weaving. Ada karakter perempuan yang datang ke rumah besar milik keluarga kaya raya, tapi ternyata keluarga itu... Gue rasa writers room pas diskusi film ini terpecah dua kubu; yang satu keluarga cult, satu keluarga vampir. Tapi produser bilang, ya udah kita bikin dua-duanya! Jadi deh dua film ini hahaha. Meski premisnya mirip, tapi sayangnya tidak dengan kualitasnya ya. Kalau dibandingin sama Ready or Not, ini jauuuuh bener. Kenapa sih Hollywood selalu gebleg kalau bikin film vampir. Kaya cuma satu-dua bahkan independen yang berhasil. The Invitation malah lebih jadi film drama romansa dan banyak ngambil elemen Twilight sih. Tiga perempat film ini dihabiskan buat hubungan romansa antara karakter utama dengan tuan rumah. Untung ditutup dengan slasher dan gore ya

Mencuri Raden Saleh - Review

Gambar
Wow wow wow! Ekspektasi gue tuh udah kadung ketinggian setelah baca berbagai review positif dari teman-teman yang udah nonton duluan. Apalagi di tengah langkanya film heist di industri film nasional, Mencuri Raden Saleh hadir nggak setengah-setengah tapi tegas dan maksimal. Terlihat dari pemilihan para karakter utamanya yang mencerminkan masa depan film Indonesia. Dengan hasil penampilan mereka, gue jadi tenang dan yakin bahwa masa depan film nasional akan cerah ke depannya. Sebagai penonton film heist , gue mulai bisa mengenali beberapa check box yang harus ada di film bertema pencurian. Mulai dari berkelompoknya orang-orang yang tadinya nggak saling kenal, interaksi naik turun antara mereka, menghadapi kegagalan, lalu belajar dari kesalahan sehingga lebih baik. Sampai ditutup dengan eksekusi perencanaan yang brilian dan out of the box sehingga mengundang tepuk tangan dari penonton. Mencuri Raden Saleh punya itu semua, dan nggak main-main detilnya! Oke nggak perlu ngebandingin dulu

Fall - Review

Gambar
Premis dan trailernya sangat menarik ya. Meski gue tahu ini adalah tipikal film thriller gebleg yang masalahnya nggak akan ada kalau karakternya cerdas dikit. Tapi ya in the name of good and originals idea, here we go . Kalau distributor Lionsgate udah punya 47 Meters Down (2017), sekarang mereka punya "600 Meters Up" dengan manjat menara TV setinggi 600 meter ini. Satu kata dari gue untuk menggambarkan film ini; NGILU. Sebagai orang yang suka perutnya ngilu kalau ngeliat ke bawah dari lantai 6 mall Senayan City, nonton film ini sukses bikin ngilu biji gue - berkali-kali. Bangkek emang ya imajinasi gue. Secara nalar dan logika gue tahu yang ada di layar itu adalah hasil CGI yang 95% meyakinkan. Tapi sisanya diisi imajinasi gue yang berontak liar tanpa ampun. Fall juga cukup serius ya ngegarap ceritanya, jadi nggak asal naik dan manjat kaya orang bego. Ada pendalaman karakter yang kuat dan logis sehingga jadi justifikasi yang kuat untuk mereka berdua manjat. Ditambah lagi twis

Nope - Review

Gambar
Semenjak Get Out (2017), film-film karya sutradara dan penulis naskah Jordan Peele jadi selalu gue tunggu-tunggu. Kualitasnya pun masih konsisten di Us (2019) yang masih di jalur horor namun punya kritik sosial yang kental. Karya terbarunya di Nope (2022) juga nggak kalah, apalagi dari poster dan trailer yang sama sekali nggak ngasih clue filmnya tentang apa. Nope jadi pengalaman menonton yang nggak ada duanya sih. Idenya benar-benar segar dan jalan ceritanya benar-benar baru. Sama sekali nggak ketebak apa adegan selanjutnya, dan ini adalah pengalaman menonton yang sesungguhnya! Nggak ada bayangan ini tentang apa, belum pernah nonton film sejenis ini juga (karena ide orisinil yang benar-benar baru), jadi ya cuma bisa pasrah duduk enjoy the ride ! Kayaknya cuma Jordan Peele yang bisa ngasih film horor tanpa hantu, setan, atau mahkluk supranatural lainnya. Lewat tiga filmnya, kita diingetin lagi bahwa esensi horor adalah hal yang ambigu dan mengancam nyawa bisa sangat menakutkan. Ngg