Kokuho - Review
Sinopsis
Film Kokuho (2025) merupakan drama epik Jepang terbaru garapan sutradara legendaris Sang-il Lee yang mengadaptasi novel pemenang penghargaan karya Shuichi Yoshida. Sinopsis Kokuho mengikuti perjalanan luar biasa dua pemuda dari latar belakang kontras, seorang putra dari keluarga Kabuki ternama dan seorang putra pemimpin yakuza, yang dipertemukan oleh dedikasi mereka terhadap seni tari tradisional Jepang.
Dibintangi oleh Ryo Yoshizawa dan Yokohama Ryusei, film ini memotret perjuangan fisik dan mental selama puluhan tahun untuk meraih gelar "Harta Karun Nasional" (Kokuho). Dengan visual yang memukau dan narasi yang mendalam, Kokuho (2025) bukan sekadar film tentang seni pertunjukan, melainkan sebuah eksplorasi tentang pengorbanan, persaingan sengit, dan pencarian kesempurnaan di balik panggung sandiwara yang penuh tekanan.
Ulasan
Durasi 3 jam benar-benar tidak terasa lewat gaya bercerita yang sangat menarik dan bikin penasaran. Gue sama sekali nggak menyangka setiap lakon Kabuki yang ditampilkan di film ada sinopsis singkatnya. Ternyata setiap lakon itu sebagai representasi segmen hidup yang sedang dijalani oleh karakter utama kita. Meski kita menonton pertunjukan Kabuki hanya sekelibat, tapi tetap bisa terhipnotis oleh setiap gerakan tari dan suara sayu dari onnagata kita.
Tradisi pria yang memerankan karakter wanita di seni pertunjukan adalah fenomena global. Ini biasanya berakar pada sejarah, ritual keagamaan, atau batasan sosial di masa lalu yang melarang wanita untuk tampil di panggung publik. Di Indonesia kita kenal ada Tari Lengger Lanang yang digambarkan dalam film Kucumbu Tubuh Indahku (2018). Sedangkan di Jepang, ada onnagata (pria yang memerankan karakter wanita) dalan pentas Kabuki.
Namun kisah dalam film ini dibuat kontradiktif dan penuh lapisan dramatis; apa jadinya jika anak seorang yakuza jadi seorang onnagata. Premis ini jelas mengangkat dilema yang tak kenal waktu antara nature vs nurture. Apakah bakat itu dibawa sejak lahir atau dilatih. Tentu saja bakat bisa dilatih, tapi sayangnya situasi sosial di Asia pada umumnya, dan Jepang pada khususnya, masih sangat konservatif dengan melihat hubungan darah sebagai barrier of entry yang utama.
Lapisan yang lain adalah, ketika bakat bisa dilatih dan situasi sosial mendukung, harus sejauh apa obsesi dikibarkan? Pengorbanan macam apa demi mencapai puncak karir? Ini adalah lapisan dilema lain lagi yang sama tak lekang oleh waktu; karir vs keluarga. Manusia tidak bisa mencapai keduanya jika ingin menjadi yang terbaik, dengan harus mengorbankan salah satunya. Bisa dibilang, film Kokuho adalah Whiplash (2014) dengan kearifan Jepang.
Kesimpulan
Pada akhirnya, Kokuho adalah sebuah surat cinta sekaligus kritik tajam terhadap dedikasi ekstrem pada sebuah kesenian. Film ini berhasil menunjukkan bahwa menjadi "Harta Karun Nasional" atau Kokuho bukanlah sekadar soal teknik, melainkan soal seberapa banyak bagian dari jiwa dan hidup yang berani kamu bakar demi satu momen sempurna di atas panggung. Buat gue, perjalanan emosionalnya benar-benar melelahkan tapi juga indah di saat yang bersamaan. Sebuah mahakarya visual yang mengingatkan kita bahwa kesempurnaan itu mahal harganya, dan seringkali bayarannya adalah kesepian di puncak tertinggi.
Skor Sobekan Tiket Bioskop: 5/5
Cocok untuk: pecinta drama jepang
Genre: Drama
Asal: Jepang
Durasi: 2 jam 54 menit
Sutradara: Sang-il Lee
Penulis Naskah: Satoko Okudera, Shuichi Yoshida
Pemain: Ryo Yoshizawa, Ryusei Yokohama, Mitsuki Takahata
Penulis Naskah: Satoko Okudera, Shuichi Yoshida
Pemain: Ryo Yoshizawa, Ryusei Yokohama, Mitsuki Takahata
- sobekan tiket bioskop tanggal 11 Februari 2026 -




Komentar
Posting Komentar