Postingan

Menampilkan postingan dengan label family

The Bear Season 5 - Series Review

Gambar
Sinopsis The Bear musim kelima, season terakhir dari serial yang dimulai tahun 2022, mengambil tempat satu hari setelah Carmy memutuskan untuk meninggalkan restoran. Sydney, Richie, dan Natalie sekarang memimpin The Bear sementara badai masih turun, uang sudah habis, dan meja sudah overbooked, mereka hanya punya satu kesempatan untuk layanan makan malam terakhir yang barangkali membawa bintang Michelin. Tapi Season 5 bukan cuma tentang satu malam yang intens. Lima episode ini sebenarnya adalah puncak dari transformasi emosional yang sudah dibangun selama empat musim sebelumnya. Ulasan Kalau kita zoom out, The Bear ternyata berjalan sesuai dengan model lima tahap duka yang dipopulerkan Kübler-Ross. Season 1 itu Denial, kekacauan mentah tanpa struktur apapun. Season 2 Anger, musim ketika emosi meledak dan friksi internal mekar. Season 3 Bargaining, negosiasi antara ambisi dan realitas yang kasar. Season 4 Depression, Carmy akhirnya sadar diri dan mulai memahami dirinya sendiri. Season 5 ...

Na Willa - Ulasan

Gambar
Sinopsis Na Willa (2026) adalah film drama musikal keluarga garapan Ryan Adriandhy, sutradara yang sebelumnya dikenal lewat Jumbo, kali ini debut di live-action. Diadaptasi dari novel populer karya Reda Gaudiamo, film ini berlatar gang pinggiran Surabaya era 1960-an dan dikisahkan sepenuhnya dari sudut pandang Willa (Luisa Adreena), bocah perempuan enam tahun keturunan campuran NTT dan Tionghoa yang percaya bahwa dunia kecilnya adalah tempat paling sempurna dan magis di alam semesta.  Sampai suatu hari sahabatnya kecelakaan, teman-temannya satu per satu masuk sekolah, dan gang yang biasanya ramai jadi senyap. Willa pun nekat ikut masuk TK, hanya untuk menemukan bahwa dunia sekolah jauh lebih asing dan penuh aturan dari yang ia bayangkan. Film ini bukan sekadar tontonan anak-anak karena orang dewasa yang menontonnya pun kemungkinan besar akan diajak pulang ke masa kecil mereka sendiri. Ulasan Dari enam film Indonesia yang tayang di periode Lebaran 2026, tampaknya gue paling suka den...

Tunggu Aku Sukses Nanti - Ulasan

Gambar
Sinopsis Tunggu Aku Sukses Nanti (2026) adalah film komedi drama karya sutradara Naya Anindita yang tayang di bioskop bertepatan dengan momen Lebaran 2026. Ceritanya mengikuti Arga (Ardit Erwandha), pemuda yang sudah tiga tahun menganggur dan selalu jadi bulan-bulanan pertanyaan "kapan kerja, kapan nikah" setiap kali kumpul keluarga besar. Di saat bersamaan, pacarnya minta segera dinikahi, adiknya terancam putus kuliah, dan rumah nenek yang mereka tinggali mau dijual. Tekanan datang dari segala arah, dan Arga harus pontang-panting membuktikan diri sebelum Lebaran berikutnya tiba. Ulasan Dari enam film Indonesia yang rilis di masa Lebaran 2026, Tunggu Aku Sukses Nanti yang gue nantikan berdasarkan berderet ulasan positif. Naskah orisinil karya Evelyn Afnilia dan disutradarai oleh Naya Anindita, duo sutradara-penulis naskah sejak Komang (2025) yang juga sama-sama menghangatkan hati. Kali ini kisahnya mengambil sudut yang sangat dekat dengan anak muda di Indonesia pada masa Leba...

All Her Fault - Series Review

Gambar
Sinopsis All Her Fault adalah serial thriller misteri HBO Max yang mengisahkan seorang ibu yang hidupnya jungkir balik setelah anaknya hilang secara misterius usai dijemput oleh asisten rumah tangga milik orang tua lain di sekolah. Berangkat dari satu insiden sederhana yang berubah menjadi mimpi buruk, serial ini mengupas jaringan rahasia, kebohongan, dan trauma dalam lingkaran keluarga serta pertemanan kelas menengah. Dengan narasi penuh jebakan palsu ( red herring ) dan struktur cerita berbasis kilas balik, All Her Fault menjadi thriller psikologis yang intens, cepat, dan sangat adiktif. Ulasan Baru selesai nonton All Her Fault , dan gue suka bangettt! Gila sih ini series. Episode 1 langsung tancap gas tanpa basa-basi. Tidak ada pengantar manis, tidak ada pemanasan lambat—langsung dibuka dengan krisis: “anak gue hilang, panggil polisi.” Titik. Dari situ ceritanya langsung melesat tanpa nge-rem. Rasanya baru sebentar nonton, tahu-tahu sudah sampai episode 8 dan… puas banget! Premis...

Sentimental Value - Review

Gambar
Sinopsis Sentimental Value (2025) adalah film drama keluarga emosional arahan Joachim Trier yang mengisahkan dua kakak- beradik yang dipaksa menghadapi kembali ayah mereka, Gustav, seorang sutradara terkenal yang dulu meninggalkan keluarga demi karier. Setelah kematian sang ibu, Gustav muncul dengan naskah film autobiografi yang ditujukan untuk Nora, namun ketika ia menolak, ayah mereka tetap maju dan memasukkan aktris Hollywood ke dalam proyeknya, menimbulkan konflik batin, rasa ditinggalkan, dan pencarian makna keluarga serta identitas pribadi di antara mereka.  Dengan paduan akting memukau dari Renate Reinsve, Stellan Skarsgård, dan Elle Fanning, film ini mengajak penonton menyelami luka-luka masa lalu dan potensi penyembuhan melalui seni, menjadikannya must-watch bagi penggemar film keluarga, drama Nordik, dan kisah rekonsiliasi yang mendalam. Ulasan Film Sentimental Value asal Norwegia ini memenangkan Grand Prize of the Festival di Cannes Film Festival 2025, penghargaan kedua ...

Panggil Aku Ayah - Ulasan

Gambar
Sinopsis Panggil Aku Ayah (2025) adalah film drama-komedi keluarga Indonesia karya sutradara Benni Setiawan yang mengangkat tema bahwa keluarga sejati bukan soal ikatan darah, melainkan kehadiran dan kasih sayang. Diadaptasi dari film Korea, Pawn (2020), cerita ini mengikuti Dedi (Ringgo Agus Rahman) dan Tatang (Boris Bokir), dua debt collector yang tiba‑tiba mengasuh Intan kecil (Myesha Lin) sebagai jaminan utang saat ibunya pergi kerja sebagai TKI. Awalnya penuh kekakuan dan ketegangan, hubungan mereka berubah menjadi ikatan emosional yang kuat sepanjang bertahun‑tahun termasuk saat Intan dewasa diperankan oleh Tissa Biani. Dengan balutan nostalgia era 90‑an, humor ringan, dan momen haru penuh pesan moral, Panggil Aku Ayah jadi pilihan tepat untuk penonton yang mencari film keluarga penuh makna dan inspiratif. Ulasan Gue belum nonton film Pawn, jadi sisi positifnya gue nggak punya ekspektasi apapun untuk nonton film Panggil Aku Ayah, selain ini adalah film mengandung aroma bawang yan...

The Bear Season 4 - Series Review

Gambar
Sinopsis The Bear Season 4 melanjutkan kisah Carmy dan timnya dalam mempertahankan restoran yang kini berada di titik paling krusial dalam hidup mereka. Di musim ini, tekanan bisnis semakin nyata dengan kondisi finansial yang berada di ujung tanduk, sementara konflik personal, trauma masa lalu, dan relasi antar karakter menjadi jauh lebih dominan. Jika dua musim awal dikenal lewat kekacauan dapur yang intens, maka Season 4 memperdalam sisi manusia di balik hiruk-pikuk restoran—tentang luka, penyembuhan, dan usaha untuk tetap waras di tengah tuntutan yang nyaris tak manusiawi. Ulasan Menurut gue, The Bear Season 4 akhirnya balik lagi ke masa kejayaannya. Porsinya terasa seimbang antara drama antar manusia dan drama bisnis restoran. Penonton kembali diajak menikmati suka duka dapur dan ruang makan—bukan cuma soal pesanan yang numpuk dan kompor yang menyala terus, tapi juga tentang orang-orang di balik itu semua: dengan ambisi, ego, mimpi, dan trauma mereka masing-masing. Buat gue, ini t...

Asura - Series Review

Gambar
Sinopsis Asura adalah limited series Jepang terbaru di Netflix yang disutradarai oleh Hirokazu Kore-eda, sineas yang dikenal lewat karya-karya slice of life yang intim dan manusiawi. Berlatar Jepang era 1980-an, serial ini mengisahkan empat kakak beradik perempuan, Tsunako, Makiko, Sakiko, dan Takiko, yang kehidupan keluarganya mulai retak setelah mereka mengetahui bahwa sang ayah selama ini berselingkuh. Temuan tersebut bukan hanya mengguncang hubungan mereka dengan sang ayah, tetapi juga membuka luka-luka lama dalam dinamika keluarga, terutama ketika terungkap bahwa ibu mereka sebenarnya telah lama mengetahui perselingkuhan itu dan memilih diam demi menjaga keutuhan keluarga. Ulasan Asura ini adalah limited series kedua karya Kore-eda setelah The Makanai (2023), dan begitu menonton beberapa episode awal saja, langsung terasa ciri khas “bapak slice of life” itu kembali bekerja. Kore-eda memang punya keahlian unik dalam “mengiris” satu momen kecil dalam hidup, lalu memperbesarnya denga...

1 Kakak 7 Ponakan - Review

Gambar
Sinopsis Film panjang ketiga dari sutradara dan penulis naskah Yandy Laurens setelah *Keluarga Cemara* (2018) dan *Jatuh Cinta Seperti di Film-film* (2023). Kembali ke kisah keluarga, kali ini Yandy mengadaptasi sinetron lawas 1 Kakak 7 Ponakan yang tayang tahun 1994 di RCTI karya Arswendo Atmowiloto. Kisah generasi sandwich ini ternyata memang tidak lekang oleh waktu ya, dari tahun 1994 dan masih dibahas di tahun 2024 lewat film *Home Sweet Loan*. Tidak sulit untuk meneteskan air mata ketika menonton film 1 Kakak 7 Ponakan ini. Mudah sekali, apalagi filmnya mengandung sekian banyak elemen komedi yang sukses membuat gue tertawa terpingkal-pingkal. Ketika tawa sudah dirasa, maka selanjutkan akan mudah untuk merasa setiap emosi yang ada. Meski ada banyak adegan yang didesain untuk memancing air mata penonton, tapi secara keseluruhan film ini sangat jauh dari kata melodramatis. Ulasan: Komedi Keluarga yang Menguras Emosi Satu hal yang gue puji setinggi lan...

The Paradise of Thorns - Review

Gambar
Wah ini dia, film Thailand terbaik yang gue tonton di tahun 2024. Bahkan gue lebih suka The Paradise of Thorns ketimbang How to Make Millions Before Grandma Dies . Film ini kaya Killers of the Flower Moon versi Thailand, sama-sama tentang perebutan rumah dan tanah dengan cara pernikahan. Meski kalau Killers of the Flower Moon adalah konflik antara penduduk asli dengan pendatang, maka di The Paradise of Thorns adalah konflik horizontal antar warga dari kelas sosial-ekonomi bawah. Kisahnya sangat merakyat dan sangat bisa ditemukan di keseharian kita. Tentang Thongkam yang menikah dengan sesama laki-laki, Sek, tapi tidak sah di mata hukum karena Thailand baru melegalkan same-sex marriage di tahun 2025. Permasalahan muncul ketika Sek meninggal, kemudian ibu dan anak asuhnya datang untuk mengklaim rumah dan kebun durian yang memang atas nama Sek. Sementara Thongkam tidak terima karena dia sudah bekerja keras merawat sekaligus melunasi pinjaman untuk membeli rumah dan kebun durian tersebut...

Here - Review

Gambar
Ini dia film paling unik di tahun ini, film yang sepanjang 1 jam 44 menit kameranya tidak bergerak dan merekam segala kejadian dari satu sudut pandang saja. Karena ruang yang tidak bergerak, maka waktu yang bergerak bebas. Mulai dari jaman dinosaurus (yes lo nggak salah baca) sampai dengan masa kini. Ternyata memang satu tempat dan lokasi menyimpan sejuta kenangan yang menarik untuk di eksplorasi. Sebenarnya Here adalah kisah keluarga kelas menengah yang jadi representasi banyak orang. Memang film ini punya alur cerita yang maju mundur, tapi linimasa lain hanya jadi kisah sampingan. Sementara kisah utamanya ada di karakter yang diperankan Tom Hanks dan Robin Wright. Kita mengikuti bagaimana kisah hidup Richard dan Margareth mulai dari lahir, kecil, remaja, hinggak menikah.  Hal yang cukup menyentil gue adalah bagaimana dua karakter ini harus mengesampingkan mimpi dan hobinya untuk bertahan hidup. Sejak kecil dan remaja Richard punya bakat melukis, tapi bakat tersebut harus dikesamp...

Home Sweet Loan - Review

Gambar
Menonton trailernya membuat gue menurunkan ekspektasi gue untuk nonton Home Sweet Loan , film yang diadaptasi dari novel berjudul sama. Tapi setelah nonton filmnya di acara Special Screening, pandangan gue berubah total. Ini adalah salah satu film nasional terbaik yang gue tonton di tahun ini! Naskahnya cerdas dan rapi, eksekusi filmnya juga sangat baik. Sutradara dan penulis naskah Sabrina Rochelle Kalangie jelas mempertahankan konsistensi primanya sejak Terlalu Tampan (2019) dan Noktah Merah Perkawinan (2022). Home Sweet Loan bercerita tentang Kaluna, pekerja kelas menengah dengan gaji single digit yang harus memenuhi kebutuhan rumah tangga yang berisi orang tua dan dua keluarga kakak-kakaknya, sekaligus sedang menabung untuk membeli rumah pertama. Di antara keluarganya, Kaluna yang paling melek dalam literasi keuangan. Apa pasal? Sesederhana dia mencatat setiap pengeluarannya, sehingga bisa memonitor arus uang masuk dan keluar, kemudian bisa menabung sebesar tiga ratus juta rupia...

Kaka Boss - Review

Gambar
Ini dia film kelima dari rumah produksi kesayangan sinefil, Imajinari Pictures. Rumah produksi milik Ernest Prakasa yang terkenal dengan mempertahankan idealisme di atas komersialisme. Film kelima ini masih juga menjunjung idealisme mereka dengan mengangkat tema dan suku yang selama ini hanya jadi objek di layar lebar maupun layar kaca; Indonesia Timur! Sebuah tema yang pastinya cukup niche dan segmented meski tidak mengurangi kualitasnya. Kaka Boss dengan mayoritas pemain dan sutradara berasal dari Indonesia Timur jelas menjadi salah satu medium suara yang paling vokal. Di atas kertas, film Kaka Boss memang berkisah tentang seorang boss penagih utang yang ingin alih profesi menjadi penyanyi demi memperbaiki citra dirinya di depan teman-teman anak perempuan semata wayangnya. Tapi di bawah kertas, film ini jelas mau membongkar citra (buruk) orang-orang Indonesia Timur yang terlanjur negatif di masyarakat banyak. Gue sendiri pun masih selalu takut bila bertatapan mata dengan orang-orang ...

IF Imaginary Friends - Review

Gambar
Film IF ini memang trailernya kurang menjual ya. Gue aja nonton trailernya beberapa kali dan sama sekali nggak memantik rasa penasaran gue buat nonton. Tapi berkat ulasan beberapa teman yang ternyata sempat menitikkan air mata, gue jadi tertarik. Apalagi ini film karya sutradara dan penulis naskah John Krasinski yang sebelumnya sudah membuat dwilogi A Quiet Place. Ide ceritanya memang sederhana, bagaimana jika teman imajinasi kehilangan anaknya karena anaknya sudah tumbuh dewasa dan lupa pada dirinya. Ini memang ala film Pixar rasa live action , dan memang ternyata adegan di akhir sanggup memeras air mata. Kisah persahabatan antara seorang anak atau dewasa dengan teman imajinasinya, dan bagaimana untuk tetap mempertahankan imajinasi di saat dewasa sekalipun. Tapi bagi gue yang masa kecilnya nggak pernah punya teman imajinasi, rasanya agak sulit untuk relate dengan film ini. Gue curiga "budaya" teman imajinasi itu hanya ada di dunia barat dan nggak di dunia timur, benar nggak?...

How to Make Millions Before Grandma Dies - Review

Gambar
Ini dia film bangsat yang bikin mata gue meleleh di akhir film. Padahal sudah dua jam gue berusaha keras untuk menahan air mata sampai sakit kepala. Bahkan di beberapa momen adegan gue dalam hati bilang "udah dong stop plis jangan ditambahin lagi" untuk adegan-adegan yang bikin nangis. Tapi semua pertahanan gue itu buyar seketika di akhir film yang sangat - sangat relate. Film terbaru buatan GDH ini memang nggak main-main tearjerker -nya. Dari awal film saja sudah dibangun suasana sedih dan mendayu-dayu. Apalagi lewat scoring yang benar-benar sukses menyayat hati. Ditambah dengan sinematografi yang artistik dan memancing perenungan, jelas menambah atmosfer sendu. Biasanya tipikal film tearjerker itu piawai mencampuradukkan emosi sedih dan ketawa. Penonton diberikan banyak adegan komedi untuk mengambil hati, untuk kemudian menghancurkannya dengan deretan adegan sedih yang membuat dada mengelus. Tapi film ini melakukan satu langkah lebih; menambahkan emosi marah dan kesal pada ...

Dua Hati Biru - Review

Gambar
Antisipasi gue untuk film Dua Hati Biru juga tidak setinggi itu. Menurut gue, film Dua Garis Biru (2019) ditutup secara final dan pasti - apalagi jika berbicara seputar kehamilan remaja di luar nikah. Ternyata layaknya hidup manusia - yang bahkan sampai mati jadi hantu pun bisa dijadikan film - memang pasti ada kelanjutan setelah anak dari Bima dan Dara lahir ke dunia. Tentunya Dua Hati Biru fokus pada masa Bima dan Dara menjadi orang tua dari anak kecil berumur 4 tahun. Menjadi orang tua di usia 30an dan 40an saja tidak mudah, apalagi di usia 20an. Masa-masa di mana emosi dewasa muda belum matang, apalagi dengan kondisi pekerjaan dan penghasilan yang tidak menentu. Tentunya ini jadi permasalahan yang pastinya bisa dirasakan kebanyakan orang. Tapi sayang menurut gue Dua Hati Biru membawa terlalu banyak permasalahan orang tua ke dalam satu film. Satu demi satu masalah ditumpahkan dalam durasi 1 jam 46 menit, mulai dari adaptasi balita terhadap ibu yang baru ditemuinya secara fisik, regu...

Are You There God? It's Me, Margaret - Review

Gambar
Are You There God? It's Me, Margaret  bagus banget yaaaa. Gue ga nyangka loh ternyata film ini tentang eksplorasi agama di mata anak 12 tahun. Ya sebenernya udah keliatan dari judul sih. Tapi gue kira ini film coming-of-age biasa. Ternyata lebih dari itu! Film ini ngikutin karakter Margaret, anak 12 tahun yang baru pindah kota, ketemu teman-teman dan sekolah baru. Momennya bertepatan pula dengan masa pubertas, ditambah lagi masa lalu kakek-nenek dari sang ibu. Semuanya numpuk jadi satu dan jadi beban. Ini tipikal film slice of life yang dekat banget dengan keseharian kita. Meski berlatar tahun 70-an, tapi ini timeless banget. Meski di film masih pakai telepon kabel, tapi masalah pubertas, bullying, agama, orang tua, masih banget ada sampai 2023 ini. Nah biasanya tipikal film slice of life itu kan datar dan tanpa tensi. Film ini bisa banget bikin klimaks yang bertensi tinggi. Adegannya memang biasa aja dan gue ga mau cerita biar ga spoiler. Tapi karena kita tahu background story-nya...

Budi Pekerti - Review

Gambar
Dua kali gue nonton film panjang karya sutradara dan penulis naskah Wregas Bhanuteja, dua kali pula gue dibuat merasa digampar dan nggak bisa berkata-kata. Padahal dia baru dua kali pula bikin film panjang! Setelah Penyalin Cahaya / The Photocopier (2021) yang rilis di Netflix dan membahas kekerasan seksual di lingkungan kampus, sekarang Wregas membahas cyber-bullying dan cancel culture lewat Budi Pekerti yang tayang di bioskop. Dua film ini meski membawa tema yang berbeda, tapi bisa bikin gue tertegun, bengong, dan kagum saking unik dan filmnya punya atmosfer yang mencekik - in a good way . Pertama-tama, ini bukan film nasional pertama yang membahas tentang cyber-bullying dan cancel culture . Sebelumnya sudah ada Like & Share (2022) meski fokusnya lebih ke kekerasan seksual. Tapi Budi Pekerti jadi spesial karena sepanjang filmnya fokus pada isu tersebut, malah lebih jauh mengobrak-abrik norma dan dilematis sosial sebagai efek bola liar dari cyber-bullying dan cancel culture...