Naza - Review


Sinopsis

Yuval Abraham dan Rachel Szor kembali dengan NAZA (2026), dokumenter durasi 77 menit yang menelusuri bagaimana operasi genosida Israel di Gaza beroperasi dengan dukungan teknologi dan AI. Berbeda dari No Other Land (2024), karya ini tidak menyoroti garis depan pertempuran secara langsung, melainkan menyajikan kesaksian rahasia dari 24 anggota militer dan intelijen Israel di atas atap gedung-gedung Tel Aviv pada malam hari. Lewat pengakuan para prajurit ini, penonton dibawa melihat sistem pembunuhan berantai yang menggugurkan total 73 ribu jiwa rakyat Palestina, termasuk anak-anak dan para ibu.

Ulasan

Di balik penataan narasi dokumenter ini, aspek paling mengerikan muncul bukan dari gambar reruntuhan, melainkan dari cara para militer menjelaskan logika kerja mereka. Skenario film menyusun kesaksian ini secara bertahap hingga membuka tabir otomatisasi kejahatan perang. Ada impresi kuat ketika salah satu prajurit secara terang-terangan membandingkan pekerjaannya dengan film Eye in the Sky (2016), mengendalikan drone untuk mengeksekusi target meski tahu tindakan tersebut memicu collateral damage dan menewaskan anak-anak di sekitarnya. Penokohan para informan yang disamarkan ini menunjukkan betapa dalamnya normalisasi kekerasan dalam struktur militer modern.  


Dari segi pengarahan, duo sutradara mengeksekusi visual dengan estetika yang mencekam. Kamera bergerak perlahan melintasi pemandangan kota Tel Aviv yang terang benderang—memperlihatkan warga melakukan aktivitas normal sehari-hari, diiringi suara bisikan para prajurit yang menjabarkan pembantaian massal di Gaza yang jaraknya hanya beberapa kilometer. Kontras visual dan desain suara ini mempertegas ketimpangan serta menciptakan atmosfer dingin yang konsisten sepanjang kurasi adegan.

Sebagai film yang mendapat respons keras dari otoritas militer dan pejabat pemerintah, NAZA membuktikan bahwa fungsinya melampaui sekadar materi dokumentasi koridor media. Pemasaran awal mungkin menjanjikan sebuah investigasi jurnalistik berbasis data AI, namun hasil akhirnya di layar lebar memberikan dampak emosional yang jauh lebih destruktif.   


Bagi penonton yang familier dengan catatan sejarah dan dokumenter Perang Dunia II, impresi saat mendengarkan pengakuan para prajurit ini terasa sangat membekas. Pola motivasi dan mekanisme psikologis yang muncul sama persis dengan yang melandasi perwira Nazi: "kalau bukan gue, orang lain yang lakukan", "bukan tanggung jawab gue", "disuruh atasan", hingga kepasrahan acuh tak acuh. Fenomena denial dan diffusion of responsibility ini mencapai puncaknya saat seorang prajurit secara blak-blakan mengakui bahwa tindakan mereka memang sekejam Nazi.




Kesimpulan

NAZA adalah sebuah dokumen sinematik yang mengekspos betapa mudahnya kemanusiaan terkikis ketika birokrasi, kecerdasan buatan, dan dorongan ideologis bersatu. Tanpa bergantung pada dramatisasi berlebih, dokumenter ini memberikan penegasan yang lugas dan sulit dibantah mengenai krisis kemanusiaan di Gaza.

Skor Sobekan Tiket Bioskop: 4/5
Cocok untuk: pecinta dokumenter perang, terutama pemerhati Palestina




Genre: Dokumenter
Asal: UK
Durasi: 1 jam 17 menit
Sutradara: Yuval Abraham, Rachel Szor
Penulis Naskah: Yuval Abraham, Rachel Szor
Pemain: Yuval Abraham

- sobekan tiket bioskop tanggal 18 Oktober 2026 -

© Sobekan Tiket Bioskop. Konten asli dipublikasikan di Sobekan Tiket Bioskop pada 18 Oktober 2026. Reproduksi tanpa izin dilarang. Laporan plagiat: copyright notice.

Komentar