Empat Musim Pertiwi - Review


Sinopsis

Film Empat Musim Pertiwi bercerita tentang Pertiwi yang kembali ke kampung halamannya di area Bromo Tengger Semeru setelah keluar dari penjara selama 20 tahun. Penduduk desa yang tadinya hidup normal kini harus waswas menebak apa yang membuat Pertiwi kembali ke desa setelah keluar dari penjara. Lambat laun terkuak bahwa Pertiwi masuk penjara karena membunuh seorang warga desa dengan alasan membela diri karena dirinya sedang diperkosa. Tragisnya, pelaku sebenarnya justru melenggang bebas tanpa tersentuh hukum, bahkan kini tengah mencalonkan diri sebagai kepala desa.

Ulasan

Setelah karya fitur terakhirnya, Before, Now & Then (Nana), menyapa publik pada 2022, kehadiran film panjang kelima dari penulis dan sutradara Kamila Andini jelas menjadi momen yang dinantikan. Bagi seniman yang berfokus pada kedalaman artistik, melahirkan sebuah sinema memikat memang tak bisa dikejar tenggat waktu.



Satu hal yang konsisten dari jejak sinematik Kamila Andini adalah penolakannya untuk menggunakan bahasa Indonesia standar atau dialek Jakarta. Film ini kembali setia pada akar budaya lokal dengan tuturan bahasa Jawa yang dominan dan medok. Kesungguhan eksplorasi bahasa ini berhasil dieksekusi dengan fasih oleh deretan pemain, meski Arya Saloka tampak harus berjibaku keras menahan impresi aksen Jakartanya. Autentisitas bahasa inilah yang secara instan menarik penonton melebur ke dalam lanskap Bromo Tengger Semeru yang begitu magis; perubahan cuaca yang dinamis dari kabut tebal, terik menyengat, hingga guyuran hujan seolah menegaskan keberadaan empat musim yang hadir serentak di satu titik.

Secara skenario, Kamila Andini konsisten menaruh fokus pada figur utama perempuan, namun kali ini ia menyelami isu kekerasan seksual dengan pendekatan yang sangat berbeda. Dibandingkan dengan kacamata investigatif dan logis milik Wregas Bhanuteja dalam Penyalin Cahaya (2021), Kamila memilih alur yang sepenuhnya intuitif, emosional, dan dramatis dari sudut pandang korban. Memang sudah sepantasnya narasi trauma perempuan disampaikan langsung lewat mata dan rasa perempuan itu sendiri.


Buktinya, lewat Empat Musim Pertiwi, Kamila Andini menggambarkan seseorang yang sudah mengalami kekerasan seksual seakan diikuti terus oleh makhluk besar berbulu bermata merah yang mirip genderuwo. Ini penggambaran yang mirip dengan seseorang yang mengalami depresi yang menggambarkan dirinya selalu diikuti oleh anjing hitam berbulu lebat

Bentuk trauma dalam Empat Musim Pertiwi disimbolkan secara visual melalui sosok makhluk besar berbulu bermata merah mirip genderuwo yang terus membayangi Pertiwi. Pendekatan ini secara analogis menangkap gambaran depresi berat, seperti manifestasi anjing hitam berbulu lebat yang selalu mengekor korban trauma. Lebih cerdas lagi, Kamila menyisipkan elemen penampakan piring terbang atau UFO di area Bromo Tengger Semeru, yang berangkat dari laporan sejarah nyata pada tahun 1984. Metafora ini menjadi tamparan keras; melaporkan kekerasan seksual di tengah masyarakat kita sering kali dianggap selevel dengan melaporkan penglihatan UFO, dianggap mengada-ada, tidak dipercaya, bahkan dicap gila.


Sisi politik tingkat desa diselipkan secara cermat untuk menegaskan bahwa kekerasan seksual tidak berdiri di ruang hampa. Hal itu berkelindan erat dengan struktur sosial dan patriarki yang menempatkan maskulinitas di puncaknya. Struktur inilah yang membentuk tembok kokoh pertarungan kekuasaan, mengunci posisi perempuan sebagai pihak yang tertindas secara permanen.

Lalu apa solusinya jika perempuan tidak bisa melawan laki-laki yang diteguhkan oleh struktur sosial dan politik? Kamila Andini menyuarakan keputusasaannya bahwa satu-satunya jalan yang bisa ditempuh adalah lewat hal supernatural. Tidak ada cara lain memberikan keadilan bagi para pelaku selain dari hal magis dan gaib. Ini adalah jeritan pesimis dan patah arang dari Kamila Andini terhadap penderitaan dan ketidakadilan yang dialami oleh perempuan. Paralel dengan yang dilakukannya - bukan lewat hal magis tapi lewat karya seni - dengan konsisten menulis karakter ayah yang digambarkan lemah dan mudah dimanipulasi. 





Kesimpulan

Empat Musim Pertiwi bukan sekadar tontonan visual yang memanjakan mata di Bromo, melainkan sebuah monumen patah arang atas kebenaran yang terus dikubur oleh kekuasaan. Kamila Andini dengan berani menatap langsung luka traumatis yang kerap kita abaikan dan menyajikannya menjadi sebuah pengalaman sinematik yang mengguncang rasa. Film ini wajib ditonton bagi siapa saja yang bersedia menyelami kedalaman emosi serta melihat betapa mahalnya harga sebuah keadilan bagi perempuan.

Skor Sobekan Tiket Bioskop: 5/5
Cocok untuk: penikmat kisah tragis perempuan pada umumnya, dan isu kekerasan seksual pada khususnya




Genre: Drama
Asal: Indonesia
Durasi: 2 jam 17 menit
Sutradara: Kamila Andini
Penulis Naskah: Kamila Andini
Pemain: Putri Marino, Arya Saloka, Christine Hakim

- sobekan tiket bioskop tanggal 11 Oktober 2026 -

© Sobekan Tiket Bioskop. Konten asli dipublikasikan di Sobekan Tiket Bioskop pada 11 Oktober 2026. Reproduksi tanpa izin dilarang. Laporan plagiat: copyright notice.

Komentar