Ted Lasso Season 4 - Series Review


Sinopsis

Musim keempat serial Ted Lasso yang tayang dalam 10 episode di Apple TV membawa babak baru bagi sang pelatih asal Amerika, Ted Lasso (Jason Sudeikis). Setelah tiga musim membesut tim pria AFC Richmond hingga titik puncak kepulangan dirinya, Ted kini kembali ke Richmond, Inggris, untuk menerima tantangan yang sama sekali baru: melatih tim sepak bola wanita Richmond. 

Keputusan ini terasa amat relevan dengan lanskap sepak bola nyata, mengingat Women's Super League (WSL) terus bertransformasi pesat sejak peralihan format liganya di musim 2017–18. Alasan kepulangan ini menjadi jembatan naratif yang sangat smooth dan logis untuk menarik kembali Ted ke tanah Inggris; memberikannya ruang melatih dengan dinamika kultur, tantangan fisik, dan mentalitas yang berbeda tanpa kehilangan benang merah orisinalnya.

Ulasan

Dari segi teknis dan penulisan skenario, musim ini membuktikan bahwa dapur pacu kreatifnya belum kehilangan tajinya. Brett Goldstein bersama tim penulis masih sangat piawai meramu formula komedi yang mengocok perut sekaligus menyisipkan drama emosional yang mengiris hati. Kembalinya nyaris seluruh jajaran pemain utama membawa chemistry kolektif yang makin solid dan natural. Penyutradaraan juga berhasil mengeksekusi adegan pertandingan sepak bola wanita dengan koreografi dan tensi yang tajam, sukses memancing minat dan respek penonton terhadap perkembangan sepak bola wanita tanpa terasa digurui.

Ted Lasso Season 4 tetap mempertahankan porsi seimbang antara ketegangan di dalam lapangan dan drama personal di luar lapangan. Panggung drama di luar lapangan tetap menjadi jangkar utama yang mengikat seluruh episodenya. Serial ini menggali dinamika locker room tim wanita Richmond yang segar, kisah keluarga Ted Lasso, kelanjutan romansa Roy Kent (Brett Goldstein) dan Keeley (Juno Temple), hingga perkembangan hubungan Rebecca Welton (Hannah Waddingham). Semua elemen drama ini berjalan paralel, menjaga penasaran penonton di setiap episodenya.


Keputusan untuk mengalihkan fokus ke tim wanita menjadi langkah eksperimental yang dieksekusi dengan sangat rapi. Di tengah keraguan sebagian audiens apakah serial ini masih bisa bernapas setelah konklusi musim ketiga, Season 4 justru membuktikan eksistensinya lewat eksposurnya pada sepak bola wanita yang memang sudah saatnya mendapat panggung utama. Ekspektasi audiens yang mendambakan kehangatan khas Richmond terbayar tuntas tanpa terasa mengulang formula lama.

Setiap subplot menyalurkan pesan moral yang begitu meresap dan membumi. Mulai dari porsi drama keluarga yang menyentuh tema kematian, duka, dan rasa kehilangan, hingga dinamika hubungan romantis yang menyoroti penerimaan atas keretakan dan perpisahan. Penonton tidak hanya disuguhkan hiburan olahraga, melainkan diajak berefleksi tentang bagaimana manusia berdamai dengan rasa sakit dan terus melangkah ke depan.





Kesimpulan

Ted Lasso Season 4 adalah pembuktian bahwa optimisme dan kepedulian tidak pernah kadaluwarsa. Musim ini tidak hanya berhasil memberi panggung yang pantas bagi sepak bola wanita, tetapi juga menyajikan salah satu musim komedi-drama terbaik di Apple TV yang menghibur, menyentuh, dan penuh daya gugah.

Skor Sobekan Tiket Bioskop: 4/5
Cocok untuk: pecinta olahraga sepak bola dan pengikut setia Ted Lasso





- ditonton di Apple TV -

© Sobekan Tiket Bioskop. Konten asli dipublikasikan di Sobekan Tiket Bioskop pada 20 Oktober 2026. Reproduksi tanpa izin dilarang. Laporan plagiat: copyright notice.

Komentar