Kuasa Gelap: Perjanjian Darah - Review


Sinopsis

Melanjutkan kesuksesan prekuelnya di tahun 2024 yang berhasil meraup nyaris 1,5 juta penonton, Kuasa Gelap: Perjanjian Darah membawa duet eksorsis Romo Thomas dan Romo Rendra ke medan perang baru di Malang. Kasus kali ini bermula saat seorang anak laki-laki di kawasan dekat pelabuhan mengalami kerasukan hebat yang tak kunjung mereda. Penyelidikan awal dua romo ini dengan cepat menyingkap fakta kelam: keluarga sang anak ternyata pernah mengikat janji dengan entitas iblis melalui ritual perjanjian darah di masa lalu. Berbekal benang merah tersebut, Romo Thomas dan Romo Rendra berpacu dengan waktu untuk memutus rantai kutukan tersebut sebelum nyawa sang anak melayang.

Ulasan

Sejak menit-menit awal, skenario film ini terasa sangat terburu-buru mengejar adegan eksorsisme tanpa membangun tensi atau logika penokohan yang matang. Perkembangan karakter berjalan lewat jalan pintas yang dangkal; sosok ayah yang mulanya skeptis dan tidak percaya anaknya kerasukan, mendadak berubah drastis menjadi pihak paling tidak sabar menuntut eksorsisme hanya karena menyaksikan satu insiden tunggal. Penulisan ini mengabaikan logika paling dasar: apakah sang ayah selama ini tidak tinggal di rumah yang sama sampai baru menyadari keanehan anaknya? Kelemahan naskah ini membuat hubungan antar karakter terasa mekanis dan kehilangan bobot emosional.


Dari kacamata penyutradaraan dan detail teknis, film ini menunjukkan minimnya riset serta eksekusi yang repetitif. Keputusan mengambil latar tempat di Malang sama sekali tak dibarengi dengan keandalan dialek; tidak ada satu pun karakter warga lokal yang menggunakan logat Jawa Malang, melainkan tetap berbahasa Indonesia dengan logat Jakarta yang diselingi satu-dua kata Jawa secara asal-asalan. Ketidakkonsistenan ini kalah jauh jika dibandingkan dengan Empat Musim Pertiwi yang begitu tertata dalam menangkap atmosfer Jawa Timur. 

Lemahnya riset juga merembet ke detail desain produksi Katolik, seperti absennya daun palma kering yang lazim diselipkan di balik salib dinding rumah warga. Elemen adegan eksorsismenya pun terasa berulang; doa, ritual, dan penggunaan aksesori terasa sekadar tempelan tanpa signifikansi fungsi. Aspek teknis ini makin diperparah oleh presentasi audio format IMAX yang sangat bising dan kasar, entah karena volume yang dipaksa melonjak atau tata suara (sound mixing) yang buruk.


Sebagai sekuel dari film pertama yang tebal dengan daya tarik materi pemasaran, ekspektasi publik tentu tertuju pada eksplorasi horor Katolik yang lebih berani dan rapi. Namun, apa yang disajikan di layar justru terasa seperti kemunduran standar dari pendahulunya. Film pertamanya memang bukan karya yang sempurna, tetapi setidaknya masih patut diapresiasi atas keberaniannya membawa elemen ritual Katolik ke dalam lanskap horor arus utama Indonesia. Sayangnya, sekuel ini gagal memanfaatkan modal kepercayaan penonton dan justru terjebak pada formula horor generik yang tergesa-gesa.




Kesimpulan

Kuasa Gelap: Perjanjian Darah kehilangan rasa hormat terhadap kedalaman cerita dan otentisitas latar yang diusungnya. Pengalaman menonton menjadi sangat tawar karena repetisi adegan ritual dan distraksi tata suara yang mengganggu kenyamanan di dalam bioskop. Keberanian mengangkat tema yang tidak biasa pada akhirnya menguap begitu saja ketika elemen dasar penulisan dan ketelitian produksi diabaikan demi sekadar mengejar momentum sekuel.

Skor Sobekan Tiket Bioskop: 2/5
Cocok untuk: penyuka hoor eksorsisme




Genre: Horror
Asal: Indonesia
Durasi: 1 jam 38 menit
Sutradara: Rizal Mantovani
Penulis Naskah: Robert Ronny, Andri Cahyadi
Pemain: Jerome Kurnia, Lukman Sardi, Venly Arauna

- sobekan tiket bioskop tanggal 11 Oktober 2026 -

© Sobekan Tiket Bioskop. Konten asli dipublikasikan di Sobekan Tiket Bioskop pada 11 Oktober 2026. Reproduksi tanpa izin dilarang. Laporan plagiat: copyright notice.

Komentar