Monster Pabrik Rambut - Ulasan


Sinopsis

Monster Pabrik Rambut adalah film horor fantasi tahun 2026 yang disutradarai Edwin dengan naskah yang ditulisnya bersama dengan Eka Kurniawan dan Daishi Matsunaga. Film ini adalah pertama kalinya Edwin dan Eka Kurniawan berkolaborasi di departemen naskah, dan hasilnya ternyata benar-benar eksplosif. Kalo gue lihat, kombinasi dari sensibilitas auteur Edwin, yang selalu tertarik pada karakter dan eksperimen sinematik, dengan absurditas dan ketajaman sosiologis Eka Kurniawan menciptakan sesuatu yang jarang banget gue lihat dalam film horor Indonesia: horor yang berani bicara keras tentang kelas sosial, tanpa perlu nongol hantu putih atau ritual mistis yang kuno.

Ulasan

Film ini telah diputar di sejumlah festival internasional, termasuk Berlinale 2026, Hong Kong International Film Festival 2026, dan Fantasia Film Festival 2026. Tapi yang paling menarik adalah bagaimana Edwin dan Eka Kurniawan memilih untuk menggali isu yang cukup dekat dengan kehidupan nyata banyak orang: budaya kerja berlebihan yang menggerogoti tubuh dan pikiran. Gue lihat di sini, film ini nggak hanya tertarik pada ketakutan yang abstrak atau mistis, tapi ketakutan yang sangat konkret dan material, ketakutan yang dialami oleh pekerja pabrik, oleh ibu-ibu yang harus bekerja siang malam tanpa tidur, oleh kelas bawah yang tubuhnya menjadi alat produksi yang habis terkuras. Itu adalah ketakutan yang lebih mengerikan daripada hantu, karena itu ketakutan yang nyata setiap hari.


Dari segi teknis dan pemeran, sinematografi ditangani oleh Akiko Ashizawa dan musik oleh Hiroyuki Nagashima. Film ini dibintangi oleh Rachel Amanda, Lutesha, dan Iqbaal Ramadhan. Yang bikin gue tertarik adalah pilihan efek praktikal yang dipakai Edwin untuk membuat ketakutan itu terasa flesh and blood, literal dan nyata di layar. Monster Pabrik Rambut tidak ragu menampilkan adegan gore dan potongan bagian tubuh yang cukup intens, menggunakan efek praktikal dan bukan CGI. Pilihan ini bukan cuma soal visualisasi semata, tapi soal filosofi: kalo gue bicara tentang dehumanisasi tubuh pekerja, maka tubuh itu harus menjadi medan teror yang terlihat, yang terasa mengganggu, yang nggak bisa dihindari oleh mata penonton. Efek praktis membuat gore ini terasa seperti tribute pada film horor Indonesia era 1980-an, dan hasilnya justru membuat setiap kejijikan berlipat ganda. Saat gue lihat tubuh berubah bentuk, gue nggak bisa bilang itu cuma ilusi sinematik, itu terasa nyata, terasa sakitnya.

Edwin menghadirkan unsur fantasi baru melalui karakter Bona yang diperankan Iqbaal Ramadhan, dengan kemampuan regenerasi tubuh yang terinspirasi dari axolotl. Karakter Bona ini adalah inti dari bagaimana film mengemas ketakutan dengan estetika yang berbeda dari horor arus utama. Bona bukan monster yang mengejar kita untuk kita takut dan kita tendang keluar dari dunia. Sebaliknya, Bona adalah manifestasi absurd dari apa yang terjadi ketika tubuh diperlakukan sebagai mesin produksi yang harus bisa regenerasi tanpa henti, yang nggak boleh sakit, yang nggak boleh tidur, yang harus terus bekerja sampai tubuhnya sendiri melakukan hal-hal aneh dan mustahil. Film ini mengemas monster itu bukan dengan atmosfer yang kejam atau mencolok mata, tapi dengan estetika yang cenderung lamban, dengan dialog-dialog yang panjang dan tempo yang nggak tergesa-gesa. Ketika ketakutan datang, dia datang bukan dalam bentuk yang bombastis atau biasa kita lihat di film horor lain, tapi dalam keheningan yang mencekam sebelum sesuatu yang mengerikan meledak.


Gue sangat suka bagaimana Edwin dan Eka Kurniawan memilih untuk tidak membuat film horor yang penuh dengan lompatan-lompatan mengagetkan setiap beberapa menit. Malah, film ini membangun ketakutan melalui duka, melalui obsesi, melalui apa yang Iqbaal Ramadhan sebut sebagai "simbol resistansi terhadap standar produktivitas yang dipaksakan oleh sebuah sistem." Cerita tentang Putri yang kehilangan ibunya karena kelelahan kerja, lalu adik Ida yang memutuskan untuk tetap tinggal di pabrik itu untuk membuktikan bahwa ibunya kesurupan dan bukan bunuh diri, itu adalah cerita tentang duka dan obsesi yang paling menyentuh.




Kesimpulan

Film ini adalah horor yang merasa dekat dengan kehidupan kita, ketimbang film horor yang hanya datang untuk menakut-nakuti. Untuk mereka yang datang dengan ekspektasi akan ditakut-takuti oleh adegan mengejutkan atau penampakan hantu yang klasik, mungkin film ini bakal mengecewakan. Tapi untuk mereka yang mau menggali lebih dalam tentang apa yang membuat kita takut dalam hidup nyata, tentang sistem yang memakan kita. Monster Pabrik Rambut adalah pengalaman yang wajib ditonton.

Skor Sobekan Tiket Bioskop: 5/5
Cocok untuk: pecinta kisah horor yang berbeda dan penuh isu sosial




Genre: Horror / Fantasy
Asal: Indonesia
Durasi: 1 jam 36 menit
Sutradara: Edwin
Penulis Naskah: Edwin, Eka Kurniawan, Daishi Matsunaga
Pemain: Rachel Amanda, Lutesha, Iqbaal Ramadhan

- sobekan tiket bioskop tanggal 7 Juni 2026 -

© Sobekan Tiket Bioskop. Konten asli dipublikasikan di pada 7 Juni 2026. Reproduksi tanpa izin dilarang. Laporan plagiat: copyright notice.

Komentar