Backrooms - Review


Sinopsis

Backrooms adalah film horor sci-fi yang disutradarai oleh Kane Parsons, seorang pembuat konten YouTube termuda yang berhasil menghidupkan mitos internet 4chan 2019 menjadi karya sinematik A24 yang mengguncang. Film ini menceritakan tentang Clark, pemilik toko furnitur yang menemukan pintu rahasia yang membawanya ke serangkaian ruangan nondescript yang tampaknya tidak terbatas, sementara terapis meditasinya, Dr. Mary Kline, kemudian memasuki dimensi tersebut untuk mencarinya sambil realitasnya mulai melengkung.

Ulasan

Gue nggak nyangka kalau sesuatu yang dimulai dari foto liminal space viral di 4chan 2019 bisa berkembang menjadi mitos internet yang masif, terus kemudian diangkat jadi film horor full-production dengan A24. Tapi ini juga adalah bagian dari trend yang sekarang sedang ramai di Hollywood di mana studio mulai menggali talenta muda dari YouTube dan platform digital lainnya. Kane Parsons sendiri adalah YouTuber yang memulai karir filmnya dengan membuat web series Backrooms sebelum kemudian didekati oleh studio untuk mengadaptasinya menjadi feature film. Gue pikir ini adalah fenomena regenerasi sangat sehat dalam industri horor Hollywood saat ini.

Yang pertama kali membuat gue tertarik untuk nonton film ini adalah casting-nya yang sangat berat. Chiwetel Ejiofor memainkan Clark, pemilik toko furnitur yang juga menjadi bintang iklan TV yang aneh, sementara Renate Reinsve memainkan Mary, seorang terapis yang menjadi semakin terlibat dalam misteri yang sama. Dua nama besar ini bukan aktor biasa yang cuma sekadar checking a paycheck di film horor indie. Kehadiran mereka memberikan legitimasi terhadap premis film yang bisa mudah dianggap sebagai internet meme yang overexposed. Menurut gue itu adalah strategi branding yang sangat cerdas dari A24. 


Dari sisi teknis, film ini juga sangat solid. Setting film di tahun 1990, di mana Clark yang merupakan arsitek gagal yang sekarang menjalankan toko furnitur karena pernikahannya runtuh akibat kecanduan alkohol. Desain visual dari liminal spaces-nya sendiri sangat sukses menaikkan bulu kuduk; terang benderang dengan lampu fluorescent yang membuat setiap ruangan terasa janggal. Ini bukan horor yang mengandalkan kegelapan atau bayangan; ini horor dari ketidaknormalan dalam ruangan yang seharusnya familiar. Penulis naskah Will Soodik bahkan memberikan penjelasan metafora dalam film tentang bagaimana sulit mendeskripsikan Backrooms: "Bayangkan mendeskripsikan seekor anjing kepada orang yang belum pernah melihat satu, lalu meminta mereka menggambarnya." Itu adalah cara yang sangat pintar untuk justifikasi kenapa film tidak memberikan jawaban yang konkret. 
 
Sekarang ke aspek yang paling naik turun dari film ini: ending yang ambitu. Film ini dengan sengaja mempertahankan misteri Backrooms tetap sebagai misteri yang tidak bisa dipecahkan sepenuhnya. Ini adalah keputusan kreatif yang brilian dari sudut pandang internet folklore, karena mitos internet hidup justru dari ruang interpretasi yang terbuka lebar. Dengan memberikan jawaban yang gamblang, Parsons berisiko membunuh magis dari mitos itu sendiri. Tapi pada saat yang bersamaan, film ini adalah produk komersial yang didistribusikan oleh A24 dan ditonton oleh penonton arusutama yang mungkin nggak paham latar belakang creepypasta dan web series-nya. Bagi penonton yang datang ke bioskop tanpa pengetahuan internet lore, film ini akan terasa seperti puzzle yang tidak selesai, dan itu bisa membuat mereka keluar dari teater dengan rasa "apa sih yang baru aja gue tonton?" daripada "wow, film yang mysterious dan thought-provoking." 


Ini adalah pedang bermata dua. Untuk penonton niche yang paham Backrooms dan mengapresiasi hal-hal yang ambigu, film ini sukses. Untuk penonton arusutama? Banyak yang akan merasa frustrasi dengan tidak adanya jawaban yang konkret. Ambiguitas ini membelah audience menjadi dua kubu yang cukup jelas, dan film harus siap dengan konsekuensi dari keputusan artistik itu. Interpretasi gue pribadi adalah Backroom ini dunia paralel yang tidak sengaja tercipta oleh perusahaan teknologi; dimensi yang tidak sempurna dan penuh dengan glitch dan bug. 

Kesimpulan

Gue pikir Backrooms adalah film yang berhasil dalam apa yang ingin dicapainya — yaitu menghidupkan internet meme menjadi cinema yang sophisticated tanpa meninggalkan essence dari mitos aslinya. Tapi gue juga paham kalau film ini akan membelah penonton menjadi mereka yang "get it" dan mereka yang frustrated dengan ketiadaan closure. Itu adalah trade-off yang harus diterima ketika mencoba mengadaptasi folklore digital yang hidup dari ambiguity menjadi medium visual yang biasanya meminta narrative resolution.

Skor Sobekan Tiket Bioskop: 3/5
Cocok untuk: pecinta horor penuh absurditas



Genre: Horror / Scifi
Asal: AS
Durasi: 1 jam 50 menit
Sutradara: Kane Parsons
Penulis Naskah: Will Soodik, Kane Parsons
Pemain: Chiwetel Ejiofor, Renata Reinsve, Mark Duplass

- sobekan tiket bioskop tanggal 3 Juni 2026 -

© Sobekan Tiket Bioskop. Konten asli dipublikasikan di pada 3 Juni 2026. Reproduksi tanpa izin dilarang. Laporan plagiat: copyright notice.

Komentar