Euphoria Season 3 - Series Review


Sinopsis

Euphoria Season 3 adalah musim penutup dari serial drama psikologis yang dibuat oleh Sam Levinson, menampilkan perjalanan Rue Bennett dan teman-temannya lima tahun setelah lulus sekolah menengah saat mereka memasuki usia kerja dan menghadapi realitas dewasa yang jauh lebih kompleks. Serial HBO yang menandai penutupan franchise ini terdiri dari delapan episode dan resmi ditutup oleh showrunner Sam Levinson di akhir musim sebagai seri finale.

Ulasan

Sejak episode pertama, sudah jelas bahwa Euphoria Season 3 membuat shift naratif yang sangat drastis. Serial yang dulu dikenal sebagai eksplorasi coming-of-age yang mendalam, menggali kompleksitas identitas, hubungan sosial, dan pergulatan emosional remaja, kini berubah total menjadi cerita kriminal yang penuh dengan trafficking narkoba, hutang kepada preman, dan kejahatan terorganisir. Perubahan ini sendiri sebenarnya bisa masuk akal secara logis karena karakter memang sudah berusia dua puluhan, tapi masalahnya adalah Levinson melupakan apa yang membuat Euphoria berhasil di musim pertama dan kedua: bagaimana serial ini menggali psikologi karakternya dengan detail yang intim dan matang.


Struktur naratif Season 3 memang mengambil format ensemble seperti sebelumnya, tapi kali ini ada perbedaan substansial yang merugikan. Di musim-musim sebelumnya, meski ada multiple perspectives, ada tetap ada sense of cohesion karena semua karakter bersatu dalam satu lingkungan sekolah dan satu circle sosial. Sekarang, karena setiap karakter memiliki pekerjaan dan kehidupan yang terpisah-pisah, alur cerita jadi terasa fragmentary dan tidak fokus. Gue lihat Rue sebagai kurir narkoba, lalu tiba-tiba switch ke Cassie yang jadi influencer OnlyFans, lalu ke Maddie yang bekerja sebagai manager KOL. Transisi antar karakter ini terasa abrupt dan nggak memberikan sense of interconnectedness yang dulu membuat serial ini compelling. Alih-alih menceritakan bagaimana mereka navigate adulthood bersama-sama, Levinson malah buat mereka bergerak di orbit yang completely terpisah.

Masalah ini terlihat paling jelas pada character arc Cassie. Cerita OnlyFans-nya hanya jadi pemanis saja tanpa kontribusi signifikan pada narrative momentum keseluruhan. Detailnya terasa shallow, dan karakter yang dulu cukup kompleks dengan insecurity dan desperation-nya di musim sebelumnya kini jadi flat dan nggak berkembang. Ini adalah missed opportunity karena Sydney Sweeney punya range emosi yang cukup untuk explore kompleksitas Cassie sebagai seorang perempuan muda yang desperate for validation di era digital, tapi Levinson nggak deliver itu. Hasilnya, layar screen time Cassie terasa seperti ornament daripada bagian integral dari keseluruhan narrative.


Ending untuk Rue, meski sedih, bisa dilihat sebagai realistic portrayal dari trajectory seorang addict yang nggak bisa keluar dari cycle-nya. Tapi problem-nya adalah journey menuju ending itu nggak dibangun dengan detail dan kecerdasan narrative yang dulu jadi trademark Euphoria. Musim ini terasa seperti Levinson sedang terburu-buru untuk membawa cerita ke garis finish, dan dalam prosesnya, nuansa psikologis dan character development yang membuat serial ini special jadi terkorban.


Kesimpulan

Euphoria Season 3 adalah musim yang membuktikan bahwa perubahan bisa jadi bencana ketika visi creative nggak sejalan dengan eksekusi, Levinson ingin bikin serial tentang bagaimana teman-teman navigate dunia kerja dan realitas dewasa, tapi malah dia buat lima cerita yang terputus-putus yang kebetulan share cast yang sama. Serial yang dulu shine karena kedalaman psikologis dan cara dia menggali kompleksitas karakter dengan intim kini jadi serial yang chase plot, trafficking narkoba, hutang preman, kejahatan terorganisir, dan dalam proses itu dia lupakan apa yang bikin Euphoria special di tempat pertama. 

Alih-alih satu circle yang navigate dunia bareng-bareng, Levinson buat mereka orbit di dimensi yang completely terpisah, dan hasilnya adalah musim yang terasa fragmentary dan nggak fokus. Ini adalah akhir yang terasa seperti terburu-buru, seperti Levinson sedang lari menuju garis finish sambil meninggalkan nuansa psikologis dan character development yang jadi alasan penonton jatuh cinta sama Euphoria di tempat pertama. Seharusnya ini adalah climax yang memorable, tapi malah ini jadi bukti bahwa serial yang punya ambisi besar bisa jatuh ketika sutradara kehilangan arah.

Skor Sobekan Tiket Bioskop: 2/5
Cocok untuk: penonton Euphoria



YOUTUBE VIDEO HERE 

- ditonton di HBO Max -

© Sobekan Tiket Bioskop. Konten asli dipublikasikan di pada 1 Juni 2026. Reproduksi tanpa izin dilarang. Laporan plagiat: copyright notice.

Komentar