Postingan

Deadpool & Wolverine - Review

Gambar
Meski ini adalah sekuel ketiga, tapi ini adalah film pertama Deadpool di dalam Marvel Cinematic Universe. Jadi ada banyak antisipasi terhadap film ini dan bagaimana reaksi mulut sampahnya Wade Wilson terhadap MCU. Gue kira film ini akan menjadi salam pembuka dari Deadpool terhadap para pahlawan super yang sudah lebih dulu ada di dalam MCU. Tapi ternyata ini adalah surat cinta yang berisi apresiasi dan perpisahan terhadap para pahlawan super yang 20 tahun terakhir berada di bawah bendera 20th Century Fox. Ulasan ini bebas spoiler jadi aman untuk dibaca sampai habis. Hadirnya jalan cerita multiverse dari Dr. Strange dan TVA dari serial Loki membuka banyak kesempatan bagi Deadpool untuk melanjutkan jalan ceritanya dan bertemu berbagai pahlawan super favorit kita.Termasuk Wolverine yang sudah mengucapkan selamat tinggal dengan elegan lewat film Logan (2017). Tapi ya sudah lah, yang namanya bisnis hiburan tidak dapat diprediksi. Yang penting fans senang apalagi akhirnya melihat Wolverine me...

Heartbreak Motel - Review

Gambar
Pertama-tama, gue bukan pembaca novelnya Ika Natassa. Film-film adaptasi novelnya seperti Critical Eleven (2017), Twivortiare (2019), Antologi Rasa (2019), dan The Architecture of Love (2024) juga gue nggak ada yang suka. Jadi sederhananya gue bukan target pasarnya aja karena kisah-kisah romansanya di luar cita rasa gue. Tapi gue lumayan surprise kalau gue suka dengan adaptasi film Heartbreak Motel ini! Dari kulit luarnya dulu, visualnya cantik dan megah banget. Bukan hanya pengaturan warna yang cantik, tapi juga sinematografi yang ciamik bahkan untuk ukuran film drama romantis. Ada beberapa adegan yang punya teknik sinematografi yang wow dan sangat dramatis. Di antara film drama romantis nasional, menurut gue Heartbreak Motel benar-benar meningkatkan standar lewat visualnya. Selain itu gue sangat suka dengan cara berceritanya yang non-linear. Di awal film sudah dibuka dengan gaya editing yang menyiratkan bahwa film sepanjang 115 menit ini akan berisi 3 linimasa. Sebenarnya gaya b...

Longlegs - Review

Gambar
Ini dia film horor karya sutradara dan penulis naskah Oz Perkins yang ramai dibicarakan sinefil di dunia maya. Konon digadang-gadang sebagai salah satu film horor terbaik di tahun ini. Apalagi memang trailernya sangat menarik dan menggugah penggemar horor manapun. Pada dasarnya Longlegs adalah film investigasi kriminal, tapi ditambah dengan bumbu horor yang menegangkan. Dalam tiga perempat filmnya, kisahnya fokus pada investigasi pembunuhan misterius. Misteri semakin membangkitkan tanda tanya ketika serangkaian pembunuhan berantai itu ternyata berhubungan dengan agen FBI yang sedang menyelidiki kasus tersebut. Nah menariknya, kisah investigasi ini dibungkus dengan kemasan horor yang menyeramkan dan mengagetkan. Memang nggak ada adegan jump scare yang mengejutkan, tetapi suasana film dibuat sebegitu tidak nyaman bagi penonton. Mulai dari alunan scoring yang mengiris telinga, sampai editing adegan yang membuat perut tidak nyaman. Sampai pada akhirnya tabir misteri dibuka yang langsung me...

Twisters - Review

Gambar
Buat teman-teman generasi Millennial dan Gen X pasti familiar dengan film Twister (1996) yang dibintangi Helen Hunt dan almarhum Bill Paxton. Apalagi film ini rajin malang melintang ditayangkan di stasiun TV beberapa tahun setelah itu. Nah di tahun 2024 ini, mereka perlu bersorak ria karena ada Twisters, sebuah requel (remake/sequel) dari versi tahun 1996. Versi tahun 2024 ini menghadirkan karakter dan cerita yang benar-benar baru, dan sama sekali tidak ada karakter lama yang muncul kembali. Twisters versi Gen Z ini dibintangi oleh Daisy-Edgar Jones dan Glen Powell yang dua-duanya mulai naik daun sejak serial Normal People dan Top Gun Maverick. Kalau versi 1996 misi utama para pengejar tornado untuk untuk mengambil data, maka misi utama versi 2024 dengan kemajuan teknologi ingin meredakan tornado. Gue suka banget sih dengan serentetan dialog ilmiah di bidang metereologi, yang meski gue nggak ngerti sama sekali tapi berasa keren banget. Gue yakin berbagai fakta ilmiah yang disebut di fi...

A Quiet Place: Day One - Review

Gambar
Seperti judulnya, film ketiga dari A Quiet Place ini nggak bergerak maju sejak A Quiet Place Part II (2021) melainkan bergerak mundur ke hari pertama serangan alien yang super-sensitif terhadap suara. Maka tidak ada lagi karakter Emily Blunt dan keluarganya, melainkan kita akan mengikuti karakter baru yang diperankan oleh Lupita Nyong'o dan Joseph Quinn. Untuk fans serial Stranger Things pasti kenal sama Joseph Quinn, yang memerankan karakter lovable Eddie Munson di Season 4. Franchise A Quiet Place cukup konsisten menyajikan latar yang berbeda dalam setiap filmnya. Kalau di A Quiet Place (2019) latarnya adalah pedesaan, A Quiet Place Part II (2021) berlatar di pabrik dan sub-urban, maka A Quiet Place: Day One berlatar di perkotaan. Latar memang menjadi subjek kedua - setelah manusia sebagai karakter utama - dan berperan cukup penting dalam situasi kiamat dengan jenis alien seperti ini. Kalau di desa dan daerah pabrik saja cukup sulit untuk tidak menimbulkan suara dengan tida...

Twilight of the Warriors: Walled In - Review

Gambar
Untuk penggemar film aksi kungfu, khususnya film-film Hong Kong tahun 90-an, nggak boleh melewatkan film ini di bioskop. Selain Twilight of the Warriors: Walled In terpilih untuk tayang di Cannes Film Festival tahun 2024, film ini juga menghadirkan bintang film Hong Kong legendaris mulai dari Aaron Kwok sampai dengan Sammo Hung. Film ini memusatkan kisahnya pada komplek rumah susun kumuh yang sudah dihancurkan tahun 1993; Kowloon Walled City. Komplek rumah susun kumuh ini tidak hanya dihuni oleh penduduk Hong Kong tapi juga warga imigran ilegal. Meski banyak kejadian kriminal, tapi konon penduduk Kowloon Walled City punya rasa solidaritas yang tinggi sesama penghuni. Ini yang diangkat dalam film berbalut aksi kungfu dengan fighting choreography yang over-the-top . Film ini diadaptasi dari buku komik berjudul City of Darkness Deretan adegan aksinya sendiri benar-benar memuaskan jiwa dan raga. Bisa dibilang ini adalah The Raid versi Hong Kong; banyak adegan perkelahian yang menggunakan ...

Inside Out 2 - Review

Gambar
Jarak 9 tahun sejak film pertamanya rilis tahun 2015 terbilang waktu yang lama. Tapi penantian tersebut terbayar tuntas lewat kisah yang luar biasa tentang " what if emotions has emotions? ". Memang kisah ini nggak akan pernah selesai kecuali Riley meninggal. Kisah Inside Out 2 melanjutkan kisah pertamanya tentang Riley yang memasuki masa pubertas. Seperti yang kita tahu, masa-masa pubertas adalah masa transisi dari anak-anak ke remaja dan dipenuhi oleh berbagai emosi yang labil silih berganti.  Ulasan ini akan penuh beberan ( full spoiler ) berisi interpretasi saya secara psikologis terhadap Inside Out 2. Jadi yang belum nonton, silakan berhenti baca sampai sini, bookmark page ini, lalu kembali ke sini setelah menonton. Pertama-tama, film pertama dan kedua dari Inside Out sangat akurat secara psikologis karena memang menggunakan psikolog Dacher Keltner dan Kristin Neff sebagai konsultan. Dacher Keltner adalah professor di bidang psikolog sosial dan peneliti di bidang emosi. ...

Bad Boys: Ride or Die - Review

Gambar
Sekuel keempat setelah Bad Boys for Life (2020) yang sebenarnya gue kurang suka. Tapi ya memang franchise Bad Boys ini ada hanya untuk menyajikan sajian aksi khas tahun 90-an yang action over-the-top dan kisah kriminal. Pada intinya, tontonan buat hiburan yang menyenangkan saja tanpa harus serius banget. Jujur nonton ini gue banyak roaming dengan jalan ceritanya sih. Mulai dari "lah dia punya anak" sampai "ini siapa sih". Mungkin karena film ketiganya sangat-sangat forgettable jadi gue lupa sekali dengan jalan cerita sebelumnya. Tapi ketertinggalan gue dengan beberapa informasi ini nggak menyurutkan kenikmatan untuk menonton film ini. Gue tetap bisa mengikuti jalan ceritanya dengan baik. Adegan aksi yang ditawarkan yaaa oke lah ya untuk standar franchise ini, meski kalau dibandingkan dengan film-film aksi lain jelas kalah jauh. Chemistry dan komedi antara Will Smith dan Martin Lawrence memang nggak pernah usang, tapi buat gue jadi agak repetitif karena selalu mengg...

Monkey Man - Review

Gambar
Ini dia salah satu film yang paling ditunggu-tunggu oleh sinefill. Selain karena ini adalah debut penyutradaraan dari aktor Dev Patel, film ini juga banyak syuting di Batam. Memang kota Batam tidak menjadi latar dari ceritanya, tapi setidaknya Indonesia perlu berbangga karena kota (dan banyak figurannya) sudah masuk film Hollywood. Apa lagi konon dalam membuat film genre aksi ini, Dev Patel banyak terinspirasi dari film The Raid. Secara visual, film ini cantik sekali dengan warna-warna neon yang menghiasi layar. Berhasil jika Monkey Man ingin disejajarkan dengan film aksi estetik macam John Wick. Deretan adegan aksinya juga sangat menegangkan. Yang menarik adalah karakter utama yang diperankan Dev Patel dibuat senyata mungkin, dalam artian sangat bisa terluka bahkan nyaris meninggal. Ini yang menjadikan penonton jadi ikutan deg-degan ketika dia kena jotos atau bahkan kena tusuk. Gue cukup suka bagaimana Dev Patel memasukkan unsur budaya, politik, dan sosial ke dalam kisah balas dendam ...

Furiosa: A Mad Max Saga - Review

Gambar
Butuh 9 tahun baru sutradara/penulis naskah George Miller untuk melanjutkan kisah Mad Max. Konon kisah Furiosa ini naskahnya sudah selesai sebelum syuting Mad Max: Fury Road (2015) karena butuh latar belakang karakter Imperator Furiosa. Sulit pula untuk menyaingi kemewahan aksi kebut-kebutan dari Fury Road, maka George Miller mengambil jalan lain dalam Furiosa. Bukan lagi aksi kebut-kebutkan melainkan film bertema balas dendam. Satu hal yang perlu diingat jelas adalah Furiosa bukanlah Mad Max, meski pastinya setiap orang punya ekspektasi tersebut termasuk gue. Maka gue yang tadinya mengharapkan akan menonton adegan aksi panjang dan kebut-kebutan ala Fury Road harus kecewa berat. Furiosa memang menyajikan itu tapi dalam porsi yang jauh lebih sedikit. Porsinya lebih banyak ke arah pendalaman karakter Furiosa yang menyimpan dendam sedalam lautan terhadap antagonis utama; Dementus. Nyaris dua setengah jam penonton diajak untuk melihat betapa pahitnya hidup Furiosa mulai dari masa kecil hin...

IF Imaginary Friends - Review

Gambar
Film IF ini memang trailernya kurang menjual ya. Gue aja nonton trailernya beberapa kali dan sama sekali nggak memantik rasa penasaran gue buat nonton. Tapi berkat ulasan beberapa teman yang ternyata sempat menitikkan air mata, gue jadi tertarik. Apalagi ini film karya sutradara dan penulis naskah John Krasinski yang sebelumnya sudah membuat dwilogi A Quiet Place. Ide ceritanya memang sederhana, bagaimana jika teman imajinasi kehilangan anaknya karena anaknya sudah tumbuh dewasa dan lupa pada dirinya. Ini memang ala film Pixar rasa live action , dan memang ternyata adegan di akhir sanggup memeras air mata. Kisah persahabatan antara seorang anak atau dewasa dengan teman imajinasinya, dan bagaimana untuk tetap mempertahankan imajinasi di saat dewasa sekalipun. Tapi bagi gue yang masa kecilnya nggak pernah punya teman imajinasi, rasanya agak sulit untuk relate dengan film ini. Gue curiga "budaya" teman imajinasi itu hanya ada di dunia barat dan nggak di dunia timur, benar nggak?...

Kingdom of the Planet of the Apes - Review

Gambar
Setelah trilogi Planet of the Apes di era modern usai, kini muncul trilogi baru yang akan mengantarkan kita semakin dekat ke kisah Planet of the Apes (1968). Untuk yang lupa-lupa ingat dengan jalan cerita Rise of the Planet of the Apes (2011), Dawn of the Planet of the Apes (2014), dan War of the Planet of the Apes (2017) tidak perlu bersedih hati karena Kingdom of the Planet of the Apes (2024) bercerita 300 tahun setelah kejadian dari Dawn. Trilogi Planet of the Apes di era modern memang fokus pada kisah Caesar, dan ini yang jadi pondasi dalam kisah Kingdom. Tapi di trilogi terbaru ini tampaknya kisah akan fokus pada karakter kera baru yaitu Noa. Seperti film-film lain dalam franchise Planet of the Apes, tetap ada karakter manusia yang kali ini membawa jalan cerita menjadi lebih menarik. Yang luar biasa dari film ini adalah efek visualnya yang sangat nyata dan meyakinkan. Konsisten memang, setiap film baru Apes selalu membawa gebrakan baru di dunia efek visual meski selalu gagal ...

Totto-Chan The Little Girl at the Window - Review

Gambar
Ternyata butuh 43 tahun untuk mengadaptasi buku anak-anak best-seller yang terbit tahun 1981 untuk jadi film panjang animasi di tahun 2024. Totto-Chan The Little Girl at the Window adalah buku autobiografi dari masa kecil penulis Tetsuko Kuroyanagi, berkisah tentang masa sekolah dasar di era Perang Dunia II. Ini memang kisah anak kecil, tapi gue nggak menyangka bisa juga mengundang air mata. Pengalaman Totto-Chan bersekolah dan bertemu teman-teman sekelas dan kepala sekolah yang sangat pengertian benar-benar menarik. Sang kepala sekolah mendorong para siswa untuk berteman dan membantu siapa saja, bahkan mereka yang menderita disabilitas. Totto-Chan pun berteman dengan seorang anak lelaki yang menderita polio. Selain itu kita juga bisa melihat keadaan Jepang dari sebelum, saat, hingga setelah Perang Dunia II. Siapa sangka ternyata situasi perang juga sangat memengaruhi hidup rakyat biasa bahkan di kota kecil sekalipun. Ini terlihat dari perubahan bekal bento atau makan siang yang dibaw...

How to Make Millions Before Grandma Dies - Review

Gambar
Ini dia film bangsat yang bikin mata gue meleleh di akhir film. Padahal sudah dua jam gue berusaha keras untuk menahan air mata sampai sakit kepala. Bahkan di beberapa momen adegan gue dalam hati bilang "udah dong stop plis jangan ditambahin lagi" untuk adegan-adegan yang bikin nangis. Tapi semua pertahanan gue itu buyar seketika di akhir film yang sangat - sangat relate. Film terbaru buatan GDH ini memang nggak main-main tearjerker -nya. Dari awal film saja sudah dibangun suasana sedih dan mendayu-dayu. Apalagi lewat scoring yang benar-benar sukses menyayat hati. Ditambah dengan sinematografi yang artistik dan memancing perenungan, jelas menambah atmosfer sendu. Biasanya tipikal film tearjerker itu piawai mencampuradukkan emosi sedih dan ketawa. Penonton diberikan banyak adegan komedi untuk mengambil hati, untuk kemudian menghancurkannya dengan deretan adegan sedih yang membuat dada mengelus. Tapi film ini melakukan satu langkah lebih; menambahkan emosi marah dan kesal pada ...

Abigail - Review

Gambar
Gue nggak menyangka ternyata film Abigail semenyenangkan dan seseru itu! Perlu diketahui, ini dari duet sutradara yang sama dengan Ready or Not (2019), Matt Bettinelli-Olpin dan Tyler Gillett. Bahkan bisa dibilang premisnya kurang lebih mirip; sekelompok orang terkurung dalam rumah besar dan harus menyelamatkan nyawa masing-masing dari si pembunuh. Nah Abigail ini menawarkan konsep sederhana tapi cukup komikal untuk menjadi sebuah film gore dan slasher. Apa jadinya jika sekelompok orang dewasa dikejar oleh vampir anak kecil berkostum balet? Kombinasi vampir + anak kecil + berkostum balet ini yang komikal dan unik, sekaligus paradoks jika dibungkus dalam bentuk film penuh darah dan daging. Justru ini yang menjadi hal yang menyenangkan, apalagi sepanjang film diperdengarkan scoring Swan Lake dari Tchaikovsky. Dalam tipikal film gore, pendalaman karakter dari setiap pemeran (atau korban) biasanya sambil lalu saja. Menarik dalam Abigail, gue bisa sepeduli itu dengan masing-masing karakter....

Civil War - Review

Gambar
Ini dia film big budget blockbuster mainstream pertama dari studio independen favorit kita semua; A24. Nggak tanggung-tanggung, A24 memberikan kepercayaan begitu besar kepada sutradara dan penulis naskah berbakat; Alex Garland. Film-film Alex Gardland sebelumnya memang selalu membarikan lapisan tersendiri agar para penonton mempertanyakan kembali soal masa depan manusia, sebut saja Ex Machina (2014) dan Annihilation (2018). Dalam Civil War, di lapisan terluarnya Alex Garland memberikan gambaran apa yang terjadi jika United States of America tidak united lagi dan terpecah belah menjadi 4 faksi besar. Alasan pecahnya dan terjadi perang saudara kedua di Amerika hanya diberikan tipis-tipis lewat dialog, mulai dari presiden yang menjabat lebih dari dua periode, presiden membubarkan FBI, dan menjatuhkan bom ke warga sipil. Tapi fokus cerita ada pada kekejaman perang saudara yang semakin meruncingkan perbedaan. Yang menarik adalah Alex Garland memilih profesi jurnalis sebagai sudut pandang d...

The Fall Guy - Review

Gambar
Setelah berkompetisi dalam box office tahun 2023, kini Ryan Gosling dan Emily Blunt bersatu dalam film aksi komedi yang disutradarai oleh David Leitch. Di film ini, Ryan Gosling juga lagi-lagi memainkan karakter stuntman setelah Drive (2011). Kisahnya juga cukup sederhana, seorang stuntman yang jatuh cinta dengan sutradara harus mencari pemain aslinya yang menghilang Film ini memang dibuat sebagai surat cinta untuk industri perfilman, khususnya Hollywood. Jelas film ini ingin mengangkat profesi stunt yang sering dipandang sebelah mata, bahkan tidak diapresiasi oleh penghargaan perfilman manapun. Selain itu banyak juga referensi film-film populer lainnya dalam film ini, mulai dalam bentuk dialog sampai pada adegan. Gue nggak ada ekspektasi sih untuk menemukan plot twist dalam film tipikal aksi komedi yang biasanya ringan. Jadi plot twist ini rasanya yang cukup mengangkat The Fall Guy yang jatuh pada tipikal film ringan dan menghibur saja. Tipikal film yang mengandalkan kekuatan nama bes...

Immaculate - Review

Gambar
Sinefil Indonesia boleh bersorak gembira karena distributor CBI Pictures mengimpor film horor independen ini ke bioskop nasional. Kabar gembira kedua, tidak ada sensor sama sekali dan film ini mendapat rating 21+ jadi silakan ditonton di bioskop dan bukan di link haram. Segala bentuk kekerasan, kesadisan, dan transparansi baju bisa ditonton di layar lebar dengan puas hati. Nasib menonton Immaculate setelah menonton The First Omen (2024) di awal bulan, jadi masih segar di ingatan betapa jalan cerita dua film ini sangat mirip. Ada seorang suster dari Amerika datang ke suatu biara di Italia dan nggak bisa berbahasa Italia, kemudian mengalami hal-hal supranatural. Kisah kelanjutannya juga mirip tapi nggak gue tulis di sini untuk menghindari spoiler.  Beruntungnya, Immaculate punya tensi horor yang nggak kalah tegang dan mengagetkan. Nggak hanya horor dan jump scare, Immaculate juga menyajikan body horror yang benar-benar menghilangkan nafsu makan sesaat. Kalau di The First Omen , adeg...

Challengers - Review

Gambar
Satu lagi film yang otomatis masuk Top 10 film terbaik yang gue tonton di tahun ini. Challengers ini kaya film The Dreamers (2003) dengan elemen tenis. Pada intinya, ini adalah film romansa kisah cinta segitiga dengan latar belakang olahraga tenis sebagai bumbu cerita. Kisah cinta segitiga yang dipicu oleh kompetisi, di mana di atas kertas adalah kompetisi untuk merebut sang wanita tentu saja. Tetapi di lapisan bawah ada kompetisi untuk memenangkan pertandingan tenis. Sutradara Luca Guadagnino memang selalu masterful dalam menempatkan romansa bergairah ke dalam layar. Naskahnya ditulis oleh Justin Kuritzkes, suami dari sutradara/penulis naskah Celine Song yang sama-sama piawai menulis kisah cinta segitiga. Jalan ceritanya non-linear atau maju mundur, yang mungkin selaras dengan bola tenis yang dipukul secara bergantian dari satu raket ke raket lainnya. Gaya bercerita seperti ini efektif memantik rasa penasaran penonton, untuk kemudian mendapatkan jawabannya di adegan selanjutnya. Ce...

Yolo - Review

Gambar
Awal lihat trailer ini di youtube, gue bingung kok tumben distributor besar macam Sony Pictures mau membeli dan mendistribusikan film "kecil" seperti ini. Apalagi jarang ada distributor asal AS mendistribusikan film asal Tiongkok. Setelah dikulik, ternyata film ini mencetak angka box office yang luar biasa di Tiongkok. Faktor besarnya adalah penurunan berat badan drastis sebanyak 50 kg dari aktor utama sekaligus sutradara, Jia Ling. Kisah ini diadaptasi dari film Jepang tahun 2014 berjudul 100 Yen Love, tapi tanpa unsur penurunan berat badan. Versi Tiongkok berjudul Yolo menempatkan penurunan berat badan jadi salah satu plot utama meski ternyata hanya ditampilkan sekilas dalam bentuk montage. Tidak ada CGI atau practical effect , ini benar-benar murni menurunkan berat badan selama 10 bulan dengan diet ketat, intermittent fasting, dan olah raga. Filmnya sendiri adalah tipikal kisah inspiratif from zero to hero , di mana karakter utamanya sudah mencapai rock bottom untuk kemud...

Dua Hati Biru - Review

Gambar
Antisipasi gue untuk film Dua Hati Biru juga tidak setinggi itu. Menurut gue, film Dua Garis Biru (2019) ditutup secara final dan pasti - apalagi jika berbicara seputar kehamilan remaja di luar nikah. Ternyata layaknya hidup manusia - yang bahkan sampai mati jadi hantu pun bisa dijadikan film - memang pasti ada kelanjutan setelah anak dari Bima dan Dara lahir ke dunia. Tentunya Dua Hati Biru fokus pada masa Bima dan Dara menjadi orang tua dari anak kecil berumur 4 tahun. Menjadi orang tua di usia 30an dan 40an saja tidak mudah, apalagi di usia 20an. Masa-masa di mana emosi dewasa muda belum matang, apalagi dengan kondisi pekerjaan dan penghasilan yang tidak menentu. Tentunya ini jadi permasalahan yang pastinya bisa dirasakan kebanyakan orang. Tapi sayang menurut gue Dua Hati Biru membawa terlalu banyak permasalahan orang tua ke dalam satu film. Satu demi satu masalah ditumpahkan dalam durasi 1 jam 46 menit, mulai dari adaptasi balita terhadap ibu yang baru ditemuinya secara fisik, regu...

Badarawuhi di Desa Penari - Review

Gambar
Pada awalnya memang gue cukup memandang sebelah mata film ini karena gue kurang suka dengan KKN di Desa Penari (2022). Apalagi ini adalah tipikal komersialisasi meemeras satu Intellectual Property menjadi banyak film dan tidak membawa cerita ke mana-mana. Mengingat KKN di Desa Penari yang meraih 10 juta penonton yang notabene menjadi satu-satunya film paling laris sejak era Orde Baru, tentu saja harus ada film lanjutannya di dalam semesta yang sama. Ternyata gue malah suka dan sangat menikmati film kedua di semesta KKN ini - bahkan lebih menyenangkan ketimbang Siksa Kubur. Pertama, karena jalan ceritanya yang sangat membumi dan gue sebagai penonton ikut larut ke dalam suasana kelam desa penari. Karakter utamanya punya kemauan dan kebutuhan yang jelas dan sederhana yang bisa kita ikut; mengembalikan gelang yang dipercayainya bisa menyembuhkan ibunya yang sedang sakit parah.  Jelas bahwa Badarawuhi di Desa Penari jauh lebih baik ketimbang KKN di Desa Penari. KKN di Desa Penari terlam...