Postingan

I, the Executioner - Review

Gambar
Gue suka banget sama Veteran (2016), kayaknya film ini juga yang menumbuhkan rasa kepercayaan gue akan film-film aksi asal Korea Selatan. Delapan tahun kemudian ternyata ada sekuelnya yang berjudul I, the Executioner . Meski sekuel langsung, tapi bisa dibilang ini film yang berdiri sendiri. Kalau belum nonton film pertamanya, dijamin akan tetap bisa menikmati film keduanya ini. Kalau film pertamanya bercerita tentang polisi yang terpaksa harus menggunakan cara-cara kasar untuk menangkap penjahat, maka film kedua ini membahas hal yang sama tapi di spektrum sebaliknya. Tepatnya, cara-cara kasar ini sampai batasan mana? Apakah sampai membunuh penjahat yang bebas karena sistem pengadilan? Dilema moral ini yang dieksplorasi dengan baik lewat representasi karakter yang ada di layar. Film ini masih mengangkat ciri khas film aksi Korea Selatan; adegan aksi adu jotos dan kejar-kejaran dengan kisah drama yang melekat. Jadi memang nggak hanya adu fisik dan kejar-kejar, tapi juga diperkuat dengan...

Never Let Go - Review

Gambar
Film ini nggak ada usaha marketing yang terlihat, padahal punya kisan dan pesan makna yang sangat menarik dan penting. Apalagi ini tipikal film yang punya open ending interpretation , dalam artian endingnya sangat ambigu dan menyerahkan interpretasi kepada penonton masing-masing. Jenis film yang pastinya memantik diskusi setelah selesai nonton. Never Let Go bercerita tentang seorang ibu yang membesarkan kedua anaknya di sebuah rumah terisolasi di tengah hutan. Setiap kali mereka keluar untuk mencari makan dari alam liar, mereka harus terikat pada tali yang tersambung ke rumah mereka. Kalau mereka lepas dari tali, maka "Evil" akan menghampiri dan merasuki mereka. Kisah ini diceritakan secara meyakinkan dari sang ibu, yang ternyata menjadi unreliable narator dalam film ini. Setiap tabir misteri pun dibuka perlahan dalam setiap babak, yang sukses membuat gue meragukan kisah yang diceritakan sang ibu. Tapi kemudian di gerak plot berikutnya, kisah mitos itu semakin meyakinkan. G...

Oddity - Review

Gambar
Ini dia film horor Irlandia yang digadang-gadang sebagai horor terseram tahun ini. Disutradarai dan ditulis naskahnya oleh Damian Mc Carthy yang namanya naik daun sejak film panjang pertamanya, Caveat (2020) rilis dan jadi salah satu horor paling menakutkan juga. Oddity berkisah tentang seorang paranormal yang menyelidiki sekaligus membalas dendam misteri saudara kembarnya yang terbunuh satu tahun yang lalu di sebuah rumah tua. Tipikal film horor independen, gaya berceritanya juga bergerak bebas tanpa formula yang menjadi ciri khas produksi studio besar. Film dibuka dengan sunyi, minim dialog, dan nyaris tanpa scoring. Ternyata ini konsisten sepanjang film, bahkan termasuk jump scares yang hanya mengandalkan visual - tapi tetap bikin gue kaget sumpah serapah. " Scoring " yang konsisten ada sepanjang film hanyalah suara angin yang masuk lewat sela-sela rumah tua yang mayoritas terbuat dari batu dan kayu. Suara angin yang bertiup dan bersiul ini sukses meningkatkan ketegangan b...

Speak No Evil - Review

Gambar
Ini dia adaptasi Hollywood dari film Denmark berjudul sama yang dirilis tahun 2022. Film ini terinspirasi dari pengalaman pribadi sutradara dan penulis naskah film orisinilnya, Christian Tafdrup. Saat liburan di Tuscany, dirinya berteman dengan pasangan asal Belanda. Sekembalinya dari liburan, pasangan Belanda tersebut mengirim kartu pos dengan ajakan menginap di rumah mereka. Dia pun ragu karena tidak terlalu kenal, lalu ide untuk film ini pun muncul dengan fantasi gelap dan liar. Speak No Evil versi Hollywood ini jelas tidak akan sebagus ini tanpa kehadiran James McAvoy, yang rasanya jadi ketagihan memerankan karakter antagonis sejak Split (2016). Penampilannya luar biasa sekali dengan range emosi yang sangat luas, mulai dari mabuk, tertawa santai, sampai marah lepas kendali. Mackenzie Davis juga tidak serta merta tenggelam dalam cahaya benderang James McAvoy. Mackenzie berhasil menjadi sosok penyeimbang bagi brutalitas James, sekaligus meningkatkan ketegangan berkat ekspresi panik ...

Dead Talents Society - Review

Gambar
Awalnya film horor komedi asal Taiwan ini hanya lewat saja dari radar gue. Tapi setelah baca ulasan dari beberapa teman dengan nada positif, gue jadi tertarik untuk mencoba. Apalagi memang genre horor komedi tengah naik daun semenjak Agak Laen (2024) sukses besar di pasaran. Dead Talents Society punya cerita yang cukup menarik. Kalau biasanya kita menonton film dari sudut pandang manusia yang ditakuti hantu, maka kali ini sudut pandangnya dibalik menjadi fokus pada hantu. Dikisahkan hantu orang yang baru saja meninggal akan menghilang dalam 30 hari jika tidak ada yang orang yang ingat denganya. Tapi mereka bisa memperpanjang masa hantu mereka dengan menakut-nakuti orang hidup. Ternyata menakuti manusia punya kompetisi yang cukup ketat dan tidak kalah melelahkannya dengan manusia. Sebenarnya film ini punya premis yang segar dan menarik. Setiap komedinya juga sukses mengundang senyum dan tawa. Tapi layaknya setiap film komedi, tingkat kelucuan menjadi sangat subjektif dan tergantung pad...

Home Sweet Loan - Review

Gambar
Menonton trailernya membuat gue menurunkan ekspektasi gue untuk nonton Home Sweet Loan , film yang diadaptasi dari novel berjudul sama. Tapi setelah nonton filmnya di acara Special Screening, pandangan gue berubah total. Ini adalah salah satu film nasional terbaik yang gue tonton di tahun ini! Naskahnya cerdas dan rapi, eksekusi filmnya juga sangat baik. Sutradara dan penulis naskah Sabrina Rochelle Kalangie jelas mempertahankan konsistensi primanya sejak Terlalu Tampan (2019) dan Noktah Merah Perkawinan (2022). Home Sweet Loan bercerita tentang Kaluna, pekerja kelas menengah dengan gaji single digit yang harus memenuhi kebutuhan rumah tangga yang berisi orang tua dan dua keluarga kakak-kakaknya, sekaligus sedang menabung untuk membeli rumah pertama. Di antara keluarganya, Kaluna yang paling melek dalam literasi keuangan. Apa pasal? Sesederhana dia mencatat setiap pengeluarannya, sehingga bisa memonitor arus uang masuk dan keluar, kemudian bisa menabung sebesar tiga ratus juta rupia...

Blink Twice - Review

Gambar
Awalnya nonton trailer Blink Twice nggak membangkitkan rasa penasaran gue. Meski ada nama Zoe Kravitz yang baru pertama kali ini duduk di kursi sutradara sekaligus penulis naskah. Tapi melihat beberapa ulasan dari sineas lokal, gue jadi tertarik dan akhirnya memutuskan untuk mencoba nonton. Ternyata hasilnya gue cukup suka, apalagi pilihan endingnya yang jauh berbeda dari film-film thriller sejenisnya. Pada dasarnya, plot Blink Twice kurang lebih mirip dengan plot film thriller tipikal terjebak di satu tempat seperti Ready or Not atau Get Out . Tapi yang lebih mengerikannya, kisah di dalam Blink Twice sangat bisa diaplikasikan ke kehidupan nyata, seperti obat roofies dengan intensitas tinggi. Motivasinya pun juga sederhana, ini yang membuat perut gue nggak nyaman melihat kebiadaban para karakter antagonis yang ada di film ini. Di tangan sutradara Zoe Kravitz, terlihat jelas dan tegas betapa kekuatan wanita tidak bisa disepelekan - apalagi jika mereka bekerja sama! Di awal memang dig...

Kaka Boss - Review

Gambar
Ini dia film kelima dari rumah produksi kesayangan sinefil, Imajinari Pictures. Rumah produksi milik Ernest Prakasa yang terkenal dengan mempertahankan idealisme di atas komersialisme. Film kelima ini masih juga menjunjung idealisme mereka dengan mengangkat tema dan suku yang selama ini hanya jadi objek di layar lebar maupun layar kaca; Indonesia Timur! Sebuah tema yang pastinya cukup niche dan segmented meski tidak mengurangi kualitasnya. Kaka Boss dengan mayoritas pemain dan sutradara berasal dari Indonesia Timur jelas menjadi salah satu medium suara yang paling vokal. Di atas kertas, film Kaka Boss memang berkisah tentang seorang boss penagih utang yang ingin alih profesi menjadi penyanyi demi memperbaiki citra dirinya di depan teman-teman anak perempuan semata wayangnya. Tapi di bawah kertas, film ini jelas mau membongkar citra (buruk) orang-orang Indonesia Timur yang terlanjur negatif di masyarakat banyak. Gue sendiri pun masih selalu takut bila bertatapan mata dengan orang-orang ...

Alien: Romulus - Review

Gambar
Alien adalah satu lagi franchise berumur panjang; 45 tahun sejak Alien tahun 1979 rilis. Franchise ini berisi quadrilogi Ripley  Alien (1979), Aliens (1986), Alien 3 (1992), dan Alien Resurrection (1997), dwilogi eksistensial Prometheus (2012) dan Alien: Covenant (2017), ditambah dwilogi crossover Alien vs. Predator (2004) dan Alien vs Predator: Requiem (2007). Nah linimasa Alien: Romulus ini ada setelah Alien (1979) dan Aliens (1986) dan tidak serta merta menegasikan kisah dalam sekuel lainnya. Sebagai salah satu fans franchise ini, gue jauh lebih suka Alien: Romulus dibandingkan 8 film lainnya. Romulus ini tampak seperti remake dengan upgrade software terbaru dari Alien (1979). Kisahnya nggak muluk-muluk membahas eksistensial manusia seperti di Prometheus dan Covenant , tapi fokus ada scifi horor yang memang jadi ciri khas film pertama Alien.  Apalagi sutradara dan penulis naskah Fede Alvarez menambahkan elemen body horror yang berhasil membuat gue meringis ngeri sep...

Trap - Review

Gambar
Sutradara dan penulis naskah M. Night Shyamalan ini memang naik turun ya dalam berkarya. Hanya satu yang konsisten; ide yang unik dan cenderung gila. Di antara film-film beliau yang lain, menurut gue Trap ini jadi yang paling biasa saja. Premis yang diangkat berupa "bagaimana jika Hannibal Lecter datang ke konser Taylor Swift". Nah film ini pun mengambil sudut pandang dari sisi antagonis yang berusaha untuk keluar dari jebakan polisi dan FBI untuk menangkapnya. Mengambil sudut pandang antagonis ini selalu membuat para penonton bingung harus mendukung siapa. Secara nggak sadar, kita selalu terbiasa mendukung si karakter utama agar tidak kena malapetaka. Tapi ketika karakter utamanya adalah penjahat sadis, maka akan butuh waktu itu mengganti pola pikir tersebut dan ingin agar dia tertangkap. Apalagi dia digambarkan sebagai seorang ayah yang baik, dan bersedia melakukan apa saja demi memenuhi permintaan anak remaja perempuannya. Tapi sampai batasan mana? Meski menonton Trap meny...

Borderlands - Review

Gambar
Gue bukan pemain game Borderlands, bahkan gue baru tahu ada game ini setelah muncul trailer film ini. Tapi yang membuat gue tertarik adalah Cate Blanchett dan Kevin Hart yang jadi karakter utama dalam film ini. Terlihat juga ini adalah film aksi komedi meski berlatar planet lain dengan gaya cyber punk. Sayangnya film ini masih menderita kutukan adaptasi game ke film. Jalan ceritanya yang konon melenceng jauh dari gamenya terlihat kurang meyakinkan. Sepanjang film gue merasa datar meski disajikan deretan adegan aksi yang penuh tembakan dan ledakan. Setiap adegan aksi yang seharusnya menegangkan pun terasa hanya lewat saja. Film Borderlands memang banyak bertumpu pada penampilan Cate Blanchett dan Kevin Hart. Kombinasi mereka berdua memang kurang nyambung ya, apalagi terlihat Kevin Hart mencoba menurunkan standar komedinya dan Cate Blanchett mencoba menaikkan efek komedinya. Mereka berdua berusaha untuk bertemu di tengah namun gagal sedemikian rupa. - sobekan tiket bioskop t...

Simone Biles Rising - Netflix Review

Gambar
Pas banget gue nonton Docuseries Simone Biles Rising di Netflix, bertepatan dengan kemarin Simone Biles bawa pulang 3 medali emas dan 1 perak dari Olimpiade Paris 2024. Yes, setelah dia keluar di tengah kompetisi di Olimpiade Tokyo 2020 karena alasan kesehatan mental. Buat yang nggak kenal siapa itu Simone Biles, dia ini atlet gymnastic asal AS yang digadang-gadang sebagai GOAT (Greatest of All Time). Selain menang di setiap kompetisi, sampai saat ini sudah ada 5 gerakan baru gymnastic yang dinamai pakai nama dia. Gerakan-gerakan itu: 1. The Biles (Floor), 2013 World Championships 2. The Biles (Vault), 2018 World Championships 3. The Biles II (Floor), 2019 World Championships 4. The Biles (Beam), 2019 World Championships 5. The Biles II (Vault), 2023 World Championships Sampai hari ini, baru ada 1 orang yang bisa menampilkan 1 dari 5 gerakan baru dari Simone Biles itu. Oya di dunia gymnastic, gerakan dikasih nama atletnya yang menyelesaikan gerakan tersebut dengan sempurna di kompetisi...

Kabut Berduri - Netflix Review

Gambar
Di bulan Agustus tahun 2024, gue berani menobatkan Kabut Berduri / Borderless Fog sebagai film terbaik Indonesia tahun ini versi gue. So far. Sutradara dan penulis naskah favorit sinefil, Edwin, membuktikan bahwa kualitas dan semangat independen bisa terjaga meski dengan budget istimewa. Biasanya, sutradara/penulis naskah yang berangkat dari film independen dengan budget minimalis cenderung kagok dan menurun kualitasnya ketika dapat budget mevvah. Tapi tidak dengan Edwin. Lewat pundi-pundi uang Netflix yang melimpah, semangat otentisitas malah semakin membara. Buktinya, nyaris 100% film yang bercerita di Kalimantan juga syuting di sana, lebih tepatnya di Sanggau, Kalimantan Barat. Kita tahu persis betapa mahal biaya yang harus dikeluarkan ketika syuting dilakukan jauh dari ibu kota lama. Ini juga termasuk melibatkan aktor dan kru lokal, yang ternyata punya talenta yang nggak kalah dari talenta di kota besar. Beradu dialog dengan aktor lokal, mau tidak mau aktor dari Jakarta juga harus ...

Fly Me to the Moon - Review

Gambar
Apa jadinya kalau adegan pendaratan di bulan itu benar-benar dibuat di studio di bumi? Film Fly Me to the Moon bermain-main dengan teori konspirasi tersebut dan meluaskannya dengan plot cerita yang meyakinkan. Film ini pun masuk dalam kategori historical fiction dengan mengambil sebagian besar elemen sejarah, kemudian membuat kisah fiksi di antaranya.  Fly Me to the Moon berangkat dari kisah betapa tidak populernya program NASA ke bulan yang menghabiskan pajak dari uang rakyat. Maka dari itu, pemerintah yang dipimpin Richard Nixon mempekerjakan seorang profesional di bidang marketing. Tugasnya sederhana, membuat program Nasa ke bulan jadi lebih populer dan didukung oleh rakyat dan wakil rakyat. Tapi sampai batas mana? Ternyata sampai batas jika astronot gagal mendarat di bulan, jadi mereka pun harus menyiapkan adegan alternatif astronot melangkahkan kaki di bulan yang disyuting di studio. Meski berlatar tahun 1969, tapi menurut gue film ini jauh dari kata membosankan. Penampilan ...

Deadpool & Wolverine - Review

Gambar
Meski ini adalah sekuel ketiga, tapi ini adalah film pertama Deadpool di dalam Marvel Cinematic Universe. Jadi ada banyak antisipasi terhadap film ini dan bagaimana reaksi mulut sampahnya Wade Wilson terhadap MCU. Gue kira film ini akan menjadi salam pembuka dari Deadpool terhadap para pahlawan super yang sudah lebih dulu ada di dalam MCU. Tapi ternyata ini adalah surat cinta yang berisi apresiasi dan perpisahan terhadap para pahlawan super yang 20 tahun terakhir berada di bawah bendera 20th Century Fox. Ulasan ini bebas spoiler jadi aman untuk dibaca sampai habis. Hadirnya jalan cerita multiverse dari Dr. Strange dan TVA dari serial Loki membuka banyak kesempatan bagi Deadpool untuk melanjutkan jalan ceritanya dan bertemu berbagai pahlawan super favorit kita.Termasuk Wolverine yang sudah mengucapkan selamat tinggal dengan elegan lewat film Logan (2017). Tapi ya sudah lah, yang namanya bisnis hiburan tidak dapat diprediksi. Yang penting fans senang apalagi akhirnya melihat Wolverine me...

Heartbreak Motel - Review

Gambar
Pertama-tama, gue bukan pembaca novelnya Ika Natassa. Film-film adaptasi novelnya seperti Critical Eleven (2017), Twivortiare (2019), Antologi Rasa (2019), dan The Architecture of Love (2024) juga gue nggak ada yang suka. Jadi sederhananya gue bukan target pasarnya aja karena kisah-kisah romansanya di luar cita rasa gue. Tapi gue lumayan surprise kalau gue suka dengan adaptasi film Heartbreak Motel ini! Dari kulit luarnya dulu, visualnya cantik dan megah banget. Bukan hanya pengaturan warna yang cantik, tapi juga sinematografi yang ciamik bahkan untuk ukuran film drama romantis. Ada beberapa adegan yang punya teknik sinematografi yang wow dan sangat dramatis. Di antara film drama romantis nasional, menurut gue Heartbreak Motel benar-benar meningkatkan standar lewat visualnya. Selain itu gue sangat suka dengan cara berceritanya yang non-linear. Di awal film sudah dibuka dengan gaya editing yang menyiratkan bahwa film sepanjang 115 menit ini akan berisi 3 linimasa. Sebenarnya gaya b...

Longlegs - Review

Gambar
Ini dia film horor karya sutradara dan penulis naskah Oz Perkins yang ramai dibicarakan sinefil di dunia maya. Konon digadang-gadang sebagai salah satu film horor terbaik di tahun ini. Apalagi memang trailernya sangat menarik dan menggugah penggemar horor manapun. Pada dasarnya Longlegs adalah film investigasi kriminal, tapi ditambah dengan bumbu horor yang menegangkan. Dalam tiga perempat filmnya, kisahnya fokus pada investigasi pembunuhan misterius. Misteri semakin membangkitkan tanda tanya ketika serangkaian pembunuhan berantai itu ternyata berhubungan dengan agen FBI yang sedang menyelidiki kasus tersebut. Nah menariknya, kisah investigasi ini dibungkus dengan kemasan horor yang menyeramkan dan mengagetkan. Memang nggak ada adegan jump scare yang mengejutkan, tetapi suasana film dibuat sebegitu tidak nyaman bagi penonton. Mulai dari alunan scoring yang mengiris telinga, sampai editing adegan yang membuat perut tidak nyaman. Sampai pada akhirnya tabir misteri dibuka yang langsung me...

Twisters - Review

Gambar
Buat teman-teman generasi Millennial dan Gen X pasti familiar dengan film Twister (1996) yang dibintangi Helen Hunt dan almarhum Bill Paxton. Apalagi film ini rajin malang melintang ditayangkan di stasiun TV beberapa tahun setelah itu. Nah di tahun 2024 ini, mereka perlu bersorak ria karena ada Twisters, sebuah requel (remake/sequel) dari versi tahun 1996. Versi tahun 2024 ini menghadirkan karakter dan cerita yang benar-benar baru, dan sama sekali tidak ada karakter lama yang muncul kembali. Twisters versi Gen Z ini dibintangi oleh Daisy-Edgar Jones dan Glen Powell yang dua-duanya mulai naik daun sejak serial Normal People dan Top Gun Maverick. Kalau versi 1996 misi utama para pengejar tornado untuk untuk mengambil data, maka misi utama versi 2024 dengan kemajuan teknologi ingin meredakan tornado. Gue suka banget sih dengan serentetan dialog ilmiah di bidang metereologi, yang meski gue nggak ngerti sama sekali tapi berasa keren banget. Gue yakin berbagai fakta ilmiah yang disebut di fi...

A Quiet Place: Day One - Review

Gambar
Seperti judulnya, film ketiga dari A Quiet Place ini nggak bergerak maju sejak A Quiet Place Part II (2021) melainkan bergerak mundur ke hari pertama serangan alien yang super-sensitif terhadap suara. Maka tidak ada lagi karakter Emily Blunt dan keluarganya, melainkan kita akan mengikuti karakter baru yang diperankan oleh Lupita Nyong'o dan Joseph Quinn. Untuk fans serial Stranger Things pasti kenal sama Joseph Quinn, yang memerankan karakter lovable Eddie Munson di Season 4. Franchise A Quiet Place cukup konsisten menyajikan latar yang berbeda dalam setiap filmnya. Kalau di A Quiet Place (2019) latarnya adalah pedesaan, A Quiet Place Part II (2021) berlatar di pabrik dan sub-urban, maka A Quiet Place: Day One berlatar di perkotaan. Latar memang menjadi subjek kedua - setelah manusia sebagai karakter utama - dan berperan cukup penting dalam situasi kiamat dengan jenis alien seperti ini. Kalau di desa dan daerah pabrik saja cukup sulit untuk tidak menimbulkan suara dengan tida...

Twilight of the Warriors: Walled In - Review

Gambar
Untuk penggemar film aksi kungfu, khususnya film-film Hong Kong tahun 90-an, nggak boleh melewatkan film ini di bioskop. Selain Twilight of the Warriors: Walled In terpilih untuk tayang di Cannes Film Festival tahun 2024, film ini juga menghadirkan bintang film Hong Kong legendaris mulai dari Aaron Kwok sampai dengan Sammo Hung. Film ini memusatkan kisahnya pada komplek rumah susun kumuh yang sudah dihancurkan tahun 1993; Kowloon Walled City. Komplek rumah susun kumuh ini tidak hanya dihuni oleh penduduk Hong Kong tapi juga warga imigran ilegal. Meski banyak kejadian kriminal, tapi konon penduduk Kowloon Walled City punya rasa solidaritas yang tinggi sesama penghuni. Ini yang diangkat dalam film berbalut aksi kungfu dengan fighting choreography yang over-the-top . Film ini diadaptasi dari buku komik berjudul City of Darkness Deretan adegan aksinya sendiri benar-benar memuaskan jiwa dan raga. Bisa dibilang ini adalah The Raid versi Hong Kong; banyak adegan perkelahian yang menggunakan ...

Inside Out 2 - Review

Gambar
Jarak 9 tahun sejak film pertamanya rilis tahun 2015 terbilang waktu yang lama. Tapi penantian tersebut terbayar tuntas lewat kisah yang luar biasa tentang " what if emotions has emotions? ". Memang kisah ini nggak akan pernah selesai kecuali Riley meninggal. Kisah Inside Out 2 melanjutkan kisah pertamanya tentang Riley yang memasuki masa pubertas. Seperti yang kita tahu, masa-masa pubertas adalah masa transisi dari anak-anak ke remaja dan dipenuhi oleh berbagai emosi yang labil silih berganti.  Ulasan ini akan penuh beberan ( full spoiler ) berisi interpretasi saya secara psikologis terhadap Inside Out 2. Jadi yang belum nonton, silakan berhenti baca sampai sini, bookmark page ini, lalu kembali ke sini setelah menonton. Pertama-tama, film pertama dan kedua dari Inside Out sangat akurat secara psikologis karena memang menggunakan psikolog Dacher Keltner dan Kristin Neff sebagai konsultan. Dacher Keltner adalah professor di bidang psikolog sosial dan peneliti di bidang emosi. ...