Postingan

Sri Asih - Review

Gambar
Setelah ngeliatin promonya dan proses Pevita Pearce nge-gym dan latihan bela diri, akhirnya ditonton juga nih. Secara linimasa, peristiwa Sri Asih terjadi sebelum Gundala (2019). Jadi kita sekali lagi dipertontonkan origin story dari pahlawan adiwira Indonesia perempuan. Tapi sayang, rasanya filmnya terlalu dewasa dan jadi hilang kesempatan untuk menarik dan menginspirasi anak-anak perempuan. Di titik ini udah jelas bahwa visi bang Joko dalam membangun Jagat Sinema Bumilangit lebih ke arah DC Cinematic Universe yang gelap, dewasa, dan penuh politik. Meski unsur politiknya nggak seberat Gundala, Sri Asih fokus membangun jagat sinemanya dengan menceritakan musuh besar dan para panglimanya. Nggak ada adegan yang ringan atau mengandung komedi, pokoknya semuanya berat. Hal yang gue nggak suka adalah scoringnya. Maaf ya Aghi Narottama, Bemby Gusti dan Tony Merle. Menurut gue, scoringnya terlalu berisik dan monoton. Saking kencengnya sampai menutupi dialog. Lalu pilihan nadanya monoton juga ...

The Fabelmans - Review

Gambar
Akhirnya kita bisa nonton filmnya Steven Spielberg yang paling personal. The Fabelmans ini naskahnya ditulis sendiri oleh Steven Spielberg bareng sama Tony Kushner. Naskahnya sendiri kebanyakan terinspirasi dari masa kecil dan remajanya Steven Spielberg, dan konon cukup akurat karena situasi syuting yang jadi emosional banget karena Steven Spielberg sampe mewek.  Filmnya sendiri sih nggak berasa loh kalau durasinya dua setengah jam, puas banget dan gue bener-bener larut sama jalan ceritanya. Ini kisah coming of age yang cukup emosional sih dengan setiap permasalahannya. Mulai dari masalah keluarga yang lumayan pelik, sampai dengan isu sekolah. Gue baru tahu ya ternyata jadi seorang Yahudi di AS tahun 70-an itu kena rundung juga. Tapi secara keseluruhan, ini adalah tipikal film yang heart-warming banget, pokoknya nontonnya hangat dan nyaman gitu deh. Semua itu jelas didukung sama akting yang superior dari setiap karakternya. Paul Dano jadi ayah yang super baik tapi masih konservatif...

The Menu - Review

Gambar
Terima kasih The Menu, sekarang gue nggak sendirian lagi kalau ngetawain makanan-makanan Gastronomi yang super mahal dan super absurd. The Menu jelas jadi acungan jari tengah terhadap industri makanan mahal yang memisahkan antar-kelas pada khususnya, dan industri kapitalisme pada umumnya. Industru kapitalisme di mana kritikus jadi kekuatan yang tidak tertandingi, dan bahkan bisa menutup usaha - apapun jenis usahanya mulai dari makanan dan minuman, film, dan lain sebagainya. Pertama-tama, The Menu sukses jadi film thriller yang menegangkan. Ralph Fiennes bener-bener serem banget, bahkan nggak perlu make up ala Voldermort. Nggak nyangka dia pakai baju chef dan ngeliat anak buahnya setia buta sama dia aja udah serem banget. Nicolas Hoult sukses banget jadi public enemny. Anya Taylor Joy lagi-lagi sukses jadi primadona film dan ngebawa cerita dengan berakhir tepuk tangan. Film ini jadi tontonan yang menyenangkan sih karena seru banget dan nggak ketebak jalan ceritanya. Bener-bener segar da...

Black Panther: Wakanda Forever - Review

Gambar
Wah Wakanda Forever sih bagus bener loh! Ekspektasi gue itu udah turun naik gara-gara nggak sabar bacain beragam review yang ada. Tapi emang yang paling bener ya nonton dan buktiin sendiri. Dengan dua jam empat puluh menit sih gue puas banget.  Menurut gue ini bukan film pahlawan super sih, tapi film drama keluarga yang menghadapi kedukaan atau grief. Kalau semua kekuatan super, pahlawan super, teknologi tinggi dihilangkan, Black Panther: Wakanda Forever akan tetap jadi film yang kuat, solid, dan punya pesan moral yang berharga buat kita semua. Ngegas pula buat ngasih tribute ke alm. Chadwick Boseman.  Buat yang berharap akan dihibur dengan aksi hingar-bingar layaknya tipikal film Marvel Cinematic Universe lainnya, siap-siap kecewa deh. Adegan action dan berantem dan kejar-kejaran emang masih ada, tapi porsinya sedikit. Sekuel dari Black Panther ini memang fokus ke proses grieving yang dialami oleh keluarganya T'Challa. Yang gue suka, sutradara dan penulis naskah Ryan Coogler ...

Qodrat - Review

Gambar
Akhirnya sutradara dan penulis naskah Charles Gozali terjun juga ke genre horor, setelah enam film sebelumnya bergerak di ranah drama dan ada Juara (2016) yang bergenre aksi. Sejak Gala Premiere, gue udah perhatiin di linimasa banyak pujian dan ulasan positif. Meski banyak juga yang keliatan buzzer dengan brief yang mirip kaya harus nyebut "Constantine", "The Exorcist", dan "Iko Uwais". Tapi gue percaya kalau content speaks for itself .  Ternyata kepercayaan gue benar adanya. Qodrat adalah salah satu film horor Indonesia terbaik di tahun ini, sekaligus jadi suguhan horor yang paling segar. Sampai akhir Oktober 2022 ini - apalagi bulan Halloween - pasti ada satu-dua film Indonesia bergenre horor yang rilis setiap minggunya. Oversaturated meski paham bahwa genre horor adalah selera nusantara alias pasti laku di pasaran. Nah Qodrat bisa berdiri tegak tampil beda dan sederhana. Kisahnya simpel dan rasanya mengembalikan khazanah horor Indonesia klasik di mana p...

Perempuan Bergaun Merah - Review

Gambar
Perempuan Bergaun Merah adalah sempalan (spin-off) dari salah satu karakter hantu dalam franchise Sebelum Iblis Menjemput. Jangan tanya ke gue ini hantu yang mana karena gue sendiri pun juga lupa. Timo Tjahjanto yang sebelumnya menyutradarai Sebelum Iblis Menjemput (2018) dan Sebelum Iblis Menjemput Ayat 2 (2020), kali ini duduk di kursi produser. Kursi sutradara pun diserahkan ke William Chandra (Sekte, 2019). William Chandra mengawali karir sutradara di film-film pendek independen, yang entah kenapa pas masuk film panjang malah dapet horor terus. Berat memang industri film Indonesia. Anyway! Perempuan Bergaun Merah - yang naskahnya ditulis juga oleh William Chandra - pengen banget jadi film yang menyuarakan kekerasan seksual terhadap perempuan. Sebuah isu yang lagi hangat di tanah air, apalagi sudah banyak film yang mengangkat tema ini. Tapi sayangnya ini malah memundurkan khazanah film horor Indonesia 30 tahun ke belakang - tepatnya di era Suzzanna. Perempuan ditempatkan sebagai kar...

Black Adam - Review

Gambar
Yang ditunggu-tunggu pun akhirnya tiba. DC Universe sukses ngegandeng The Rock untuk jadi karakter anti-hero yang langsung dapet film solo; Black Adam. Ya bisa dibilang kalau dunia DC kayaknya lebih sukses karakter anti-hero ya ketimbang heronya sendiri, mulai dari Suicide Squad, Joker, sampai Black Adam ini. Anyway, karakter Black Adam ini punya kekuatan yang sama dengan Shazam. Sama-sama harus bilang "shazam!" untuk dapetin dan ngelepasin kekuatannya. Kesan pertama gue nonton Black Adam: berisik! Buset berisik banget dah. Entah volume di bioskopnya yang kegedan, atau sound mixing di film ini yang main timpa semua suara yang ada. Scoring dan efek suaranya berlomba buat jadi yang paling keras. Hasilnya nggak enak di telinga. Sayang banget padahal pilihan lagunya udah oke. Ceritanya sendiri termasuk biasa saja. Masih dalam formula origin story dan pesan repetitif "pahlawan atau bukan ditentukan dari tindakan, bukan label". Beneran deh repetitif banget karena dialog ...

Inang - Review

Gambar
Inang surprisingly good! Wah ini jadi film yang segar banget sih, khususnya untuk skena horor di Indonesia. Ternyata bisa loh film horor Indonesia sukses bikin merinding dan kaget nggak pake hantu-hantuan, setan-setanan, atau monster-monsteran. Cukup pakai mitologi budaya lokal Indonesia aja, jadi deh Midsommar versi kearifan lokal. Dalam hal ini, Inang pakai mitologi Jawa yang bernama Rabu Wekasan.  Dalam budaya Islam Jawa, Rabu Wekasan ini jatuh di rabu terakhir di bulan Safar dan dipercaya membawa kesialan. Makanya di hari Rabu Wekasan ini banyak orang dilarang keluar rumah karena bisa tertimpa sial. Dalam film Inang, digambarkan orang yang lahir di Rabu Wekasan ini akan tertimpa sial selama hidupnya jadi mesti diruwat atau diadakan ritual tolak bala. Kalau nggak salah, ini adalah film horor pertama dari sutradara Fajar Nugros. Film debut pula untuk penulis naskah Deo Mahameru. Di dua departemen inilah yang jadi pondasi dan kekuatan utama Inang yang berhasil jadi film horor yang...

Don't Worry Darling - Review

Gambar
Pretentious banget sih ini film! Hahaha kesel banget gue nontonnya. Padahal di atas kertas film ini punya segudang potensi loh. Ada Olivia Wilde di kursi sutradara yang udah terbukti banget lewat Booksmart (2019). Ada Florence Pugh juga yang lagi naik daun dan emang juara banget aktingnya. Ada pula Harry Styles yang makin ke sini dapet porsi makin banyak. Ada Chris Pine pula. Ceritanya sih gue suka ya, premisnya menarik. Jelas ngomongin kesetaraan gender dan maskulinitas toksik. Keren sih idenya dan lagi-lagi nunjukkin betapa toksiknya laki-laki apalagi kalau pengangguran. Ada unsur fiksi ilmiah pula, meski di bagian ini gue ngebayangin hal yang lebih keren lagi tapi ternyata twist-nya gitu doang.  Tapi eksekusinya repetitif sih menurut gue. Kaya di tiga perempat film tuh muter-muter aja di situ. Setelah konfliknya muncul pun nggak langsung usaha diselesaikan tapi masih ragu-ragu ragu-ragu keburu jadi sekuel. Pada akhirnya klimaksnya jadi buru-buru dan jadilah gitu doang. Sayang ba...

The Woman King - Review

Gambar
The Woman King adalah salah satu film yang gue tunggu-tunggu. Bukan cuma Viola Davis yang jadi pemeran utamanya, tapi premis filmnya sangat sangat menarik! Tentang suku Dahomey di Afrika Barat di tahun 1823 yang punya pasukan elit yang semuanya perempuan. Gokil gak tuh! Selama ini kan kita sering denger mitos tentang perempuan Amazon, nah ini ternyata ada dan tercatat dalam buku sejarah - bukan hanya pasukan perempuan tapi pasukan perempuan berkulit hitam! Filmnya sendiri seru banget dan penuh daging! Dalam artian banyak pesan dan makna yang terkandung beberapa lapis, tentunya disamping visual yang ciamik, adegan aksi yang seru banget, cerita yang matang, dan akting yang sekelas Oscar. Gila sih Viola Davis, nggak ada obat aktingnya. Jadi jenderal pasukan elite tapi juga sebagai wanita yang punya hati dan perasaan. Range emosinya luar biasa lebar dan semuanya diekspresikan dengan sangat meyakinkan. Gue suka banget sih sama pesan dan makna berlapis yang ada di The Woman King. Pesan utama...

Smile - Review

Gambar
Trailernya sangat mencekam sekali. Apalagi setelah baca banyak ulasan di linimasa, hampir semuanya kompak bernada positif. Sepertinya premis film ini berangkat dari kecemasan banyak orang dan belum pernah diangkat dalam film horor; orang senyum menyeramkan. Kemudian premis dasar itu direnggangkan sedemikian rupa menjadi film horor penuh darah dan daging. Ternyata film panjang Smile merupakan adaptasi dari film pendek Laura Hasn't Sleep karya sutradara dan penulis naskah yang sama; Parker Finn. Sebagai debut film panjang, sepertinya Hollywood nggak kekurangan talenta filmmaker horor karena regenerasinya berjalan lancar. Sepertinya film panjangnya mengambil sudut pandang yang berbeda dan terjun langsung ke ranah horor yang menyeramkan. Smile adalah tipikal film horor yang creepy. Seremnya bukan langsung di depan mata dengan jump scare, tapi merambat pelan-pelan dari belakang kepala sampai bulu kuduk berdiri. Parker Finn jelas punya kesabaran berlebih untuk nggak buru-buru ngasih keju...

Ticket to Paradise - Review

Gambar
Banyak alasan buat nonton Ticket to Paradise. Yang paling utama mungkin adalah ngeliat reunian dari George Clooney dan Julia Roberts yang sebelumnya udah pernah main bareng di Ocean's Eleven (2001), Ocean's Twelve (2004), Money Monster (2016). Alasan kedua adalah aktor Indonesia yang ambil bagian di film ini; Maxime Bouttier yang emang beneran berdarah Bali. Alasan ketiga adalah 95% film ini berlatar di Bali meski aslinya syuting di Queensland Australia karena pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia pada saat proses syuting. Oya alasan tambahan, ini film pertama George Clooney main di film romcom setelah One Fine Day (1996). Jadi ya kapan lagi ngeliat George Clooney main film receh dan kocak macam begini. Ditambah lagi emang chemistry-nya dengan Julia Roberts yang luar biasa natural dan enak banget ditonton. Maxime Bouttier juga ternyata dapet porsi yang banyak banget, bukan sekedar tempelan. Beneran dari awal sampai akhir, dengan penampilan akting yang ciamik dan bisa meng...

Athena - Netflix Review

Gambar
Wah Athena jelas jadi salah satu film terbaik di tahun 2022 sih. Nyaris sempurna di semua segi, mulai dari visual sampai cerita. Sutradara Romain Gavras memilih konsep visual one take shot ala 1917 (2019) meski nggak full tapi dibagi dalam beberapa segmen. Setiap segmen fokus pada 1 karakter penting yang ngebawa jalan cerita.  Gue sih ngefans banget sama konsep one take long shot kaya gini karena nggak kebayang kompleks teknisnya! Mulai dari penempatan kameranya yang kayaknya dioper-oper dari dolly ke motor atau mobil ke crane. Belum lagi blocking pemain dan ratusan figuran yang ada. Gokil! Ceritanya juga simpel dan fiktif, tapi kita paham jelas bahwa kisah seseorang meninggal karena penanganan brutal dari pihak otoritas bukan berita baru dan sering terjadi di negara manapun. Athena jelas jadi pengingat yang getir dan keras, bukan hanya soal otoritas tapi juga kelas sosial dan betapa sensitifnya kita semua terhadap berita penganiayaan.  Begitu tahu ending yang lumayan twist, ...

Lara Ati - Review

Gambar
Gue nonton Yowis Ben (2018) dan nggak ngerasa cocok, mungkin karena filmnya cuma bisa diakses sama remaja-remaja SMA. Sebenernya nggak apa-apa juga bikin film tentang SMA, permasalahannya kan tinggal apakah bisa diakses oleh penonton di kategori umur di luar itu. Tapi sayangnya trilogi Yowis Ben nggak.  Setelah kontrak tiga film dengan rumah produksi Starvision habis, sekarang giliran BASE Entertainment yang menampung Bayu Skak yang memang berbakat di segmen konten berbahasa Jawa. Kali ini Bayu Skak fokus saja di sutradara dan pemain utama, sementara naskah diberikan ke talenta baru; Anissa Pandan Sari dan Aisyah Ica Nurramadhani sebagai debut penulisan naskahnya. Berbekal review positif dari beberapa orang kepercayaan gue, ternyata gue cukup suka dengan Lara Ati. Setiap komedinya sukses bikin gue ngakak, meski ini adalah komedi sederhana. Tipikal komedi yang bukan receh dan bukan formula komika - seperti di rumah produksi sebelah. Tapi komedi dari keseharian yang biasa kita denga...

Noktah Merah Perkawinan - Review

Gambar
Setelah poster dan trailer ini dirilis, gue sama sekali nggak tertarik buat nonton film ini. Cukup tahu aja ini adalah adaptasi dari sinetron berjudul sama yang tayang sebanyak 77 episode di periode tahun 1996 - 1998 di Indosiar, yang sama-sama diproduksi oleh Rapi Film. Tapi setelah membaca ulasan yang semuanya bernada positif nggak cuma di linimasa tapi juga di grup WA, gue jadi tertarik. Apalagi ulasan di grup WA ya yang cenderung lebih jujur ketimbang di linimasa yang sekarang ini penuh paid buzzer. Dengan mudah, Noktah Merah Perkawinan udah mengamankan posisinya di 10 Film Terbaik versi gue di tahun 2022. Bahkan dari awal film gue udah dibuat jatuh cinta lewat visualnya yang cantik dan intim. Sinematografinya menawan lengkap dengan color grading yang sejuk dan nyaman. Akting para pemainnya juga sangat meyakinkan. Marsha Timothy nggak ada obat! Oka Antara yang sebelum-sebelumnya - maaf banget - gue kurang cocok sama aktingnya, kali ini gue bisa larut di setiap emosinya. Sheila Dar...

The Invitation - Review

Gambar
Nathalie Emmanuel dari Game of Thrones balik lagi nih main film panjang, setelah tampil beberapa kali di franchise Fast & Furious kemarin. Kali ini main di film yang premisnya mirip banget sama Ready of Not (2019)-nya Samara Weaving. Ada karakter perempuan yang datang ke rumah besar milik keluarga kaya raya, tapi ternyata keluarga itu... Gue rasa writers room pas diskusi film ini terpecah dua kubu; yang satu keluarga cult, satu keluarga vampir. Tapi produser bilang, ya udah kita bikin dua-duanya! Jadi deh dua film ini hahaha. Meski premisnya mirip, tapi sayangnya tidak dengan kualitasnya ya. Kalau dibandingin sama Ready or Not, ini jauuuuh bener. Kenapa sih Hollywood selalu gebleg kalau bikin film vampir. Kaya cuma satu-dua bahkan independen yang berhasil. The Invitation malah lebih jadi film drama romansa dan banyak ngambil elemen Twilight sih. Tiga perempat film ini dihabiskan buat hubungan romansa antara karakter utama dengan tuan rumah. Untung ditutup dengan slasher dan gore ya...

Mencuri Raden Saleh - Review

Gambar
Wow wow wow! Ekspektasi gue tuh udah kadung ketinggian setelah baca berbagai review positif dari teman-teman yang udah nonton duluan. Apalagi di tengah langkanya film heist di industri film nasional, Mencuri Raden Saleh hadir nggak setengah-setengah tapi tegas dan maksimal. Terlihat dari pemilihan para karakter utamanya yang mencerminkan masa depan film Indonesia. Dengan hasil penampilan mereka, gue jadi tenang dan yakin bahwa masa depan film nasional akan cerah ke depannya. Sebagai penonton film heist , gue mulai bisa mengenali beberapa check box yang harus ada di film bertema pencurian. Mulai dari berkelompoknya orang-orang yang tadinya nggak saling kenal, interaksi naik turun antara mereka, menghadapi kegagalan, lalu belajar dari kesalahan sehingga lebih baik. Sampai ditutup dengan eksekusi perencanaan yang brilian dan out of the box sehingga mengundang tepuk tangan dari penonton. Mencuri Raden Saleh punya itu semua, dan nggak main-main detilnya! Oke nggak perlu ngebandingin dulu ...

Fall - Review

Gambar
Premis dan trailernya sangat menarik ya. Meski gue tahu ini adalah tipikal film thriller gebleg yang masalahnya nggak akan ada kalau karakternya cerdas dikit. Tapi ya in the name of good and originals idea, here we go . Kalau distributor Lionsgate udah punya 47 Meters Down (2017), sekarang mereka punya "600 Meters Up" dengan manjat menara TV setinggi 600 meter ini. Satu kata dari gue untuk menggambarkan film ini; NGILU. Sebagai orang yang suka perutnya ngilu kalau ngeliat ke bawah dari lantai 6 mall Senayan City, nonton film ini sukses bikin ngilu biji gue - berkali-kali. Bangkek emang ya imajinasi gue. Secara nalar dan logika gue tahu yang ada di layar itu adalah hasil CGI yang 95% meyakinkan. Tapi sisanya diisi imajinasi gue yang berontak liar tanpa ampun. Fall juga cukup serius ya ngegarap ceritanya, jadi nggak asal naik dan manjat kaya orang bego. Ada pendalaman karakter yang kuat dan logis sehingga jadi justifikasi yang kuat untuk mereka berdua manjat. Ditambah lagi twis...

Nope - Review

Gambar
Semenjak Get Out (2017), film-film karya sutradara dan penulis naskah Jordan Peele jadi selalu gue tunggu-tunggu. Kualitasnya pun masih konsisten di Us (2019) yang masih di jalur horor namun punya kritik sosial yang kental. Karya terbarunya di Nope (2022) juga nggak kalah, apalagi dari poster dan trailer yang sama sekali nggak ngasih clue filmnya tentang apa. Nope jadi pengalaman menonton yang nggak ada duanya sih. Idenya benar-benar segar dan jalan ceritanya benar-benar baru. Sama sekali nggak ketebak apa adegan selanjutnya, dan ini adalah pengalaman menonton yang sesungguhnya! Nggak ada bayangan ini tentang apa, belum pernah nonton film sejenis ini juga (karena ide orisinil yang benar-benar baru), jadi ya cuma bisa pasrah duduk enjoy the ride ! Kayaknya cuma Jordan Peele yang bisa ngasih film horor tanpa hantu, setan, atau mahkluk supranatural lainnya. Lewat tiga filmnya, kita diingetin lagi bahwa esensi horor adalah hal yang ambigu dan mengancam nyawa bisa sangat menakutkan. Ngg...

Bullet Train - Review

Gambar
Senada dengan yang ditawarkan di trailer, Bullet Train adalah film action-comedy dengan kekerasan yang over-the-top yang dibalut dengan visual yang stylish . Jadi buat lo yang suka dan cocok dengan gaya visual yang penuh cahaya lampu neon warna-warni seperti di John Wick atau Atomic Blonde, maka lo akan suka dengan Bullet Train. Apalagi dengan latar belakang Jepang, atau Tokyo-Kyoto, yang memang bawaannya sudah super stylish dan penuh warna-warni. Jalan ceritanya sendiri terbilang segar dan punya misteri yang berlapis yang dikupas perlahan seiring berjalannya waktu. Gue suka dengan plot twist-nya yang unik dan lumayan bikin gue melongo. Gue juga suka dengan penggambaran latar belakang setiap karakter, yang dieksekusi dengan editing yang menarik. Sebuah penceritaan yang sekali lagi mengingatkan kita bahwa nggak ada orang yang benar-benar jahat, dan tindakan yang mereka lakukan punya motivasi yang logis. Selain visual, adegan aksi yang keren, dan pilihan soundtrack yang catchy , siap-si...

Before, Now & Then (Nana) - Prime Review

Gambar
Film biografi ini diadaptasi dari bab pertama buku "Jais Darga Namaku" karya Ahda Imran. Bab pertama dari buku biografi pedagang seni internasional Jais Darga ini - yang juga bertindak sebagai produser eksekutif - memang fokus pada mendiang ibunya, Raden Nana Sunani. Beliau hidup di Jawa Barat tahun 1960-an, sebuah periode yang pelik, terutama untuk perempuan, karena banyak orang yang dibunuh lantaran dituduh komunis. Film panjang keempat dari sutradara dan penulis naskah Kamila Andini ini masih konsisten menggunakan bahasa daerah sepanjang filmnya. Di film Nana , atau Before, Now & Then sebagai judul internasionalnya, semua pemain tidka hanya harus mengucapkan bahasa Sunda dengan fasih tapi juga bahasa Sunda lawas dan spesifik di tahun 60-an. Bahkan ada ahli bahasa khusus sebagai konsultan dan melatih para pemain. Gue suka banget dengan visual dari film ini. Dengan nuansa warna yang kebiru-biruan, benar-benar efektif membawa emosi penonton untuk mendayu biru. Setiap sho...

Pengabdi Setan 2: Communion - Review

Gambar
Kalau boleh jujur, gue mau suka tapi susah banget. Pengabdi Setan 2: Communion memang "lebih" dari film pertamanya. Lebih horor, lebih banyak jump scares, dan lebih luas universe pengabdi setannya Joko Anwar. Tapi segala kelebihan ini jadi terlalu mewah dan sama sekali nggak "down to earth". Jauh lebih kompleks, tapi jadi meninggalkan kesederhanaannya. Emang ngasih level dan potensi horor baru, tapi jadi meninggalkan esensi dari horor itu sendiri. Oke gue bahasa satu-satu deh ya, mungkin dari yang pertanyaan yang paling sering ditanya; serem gak? Iya serem! Kalau di film pertamanya serem-sereman di satu rumah aja, di film kedua ini seremnya di rumah susun. Mungkin nanti di film ketiga di rumah cluster kali ya. Ada beberapa trik jump scares yang oke banget, tapi ada beberapa juga yang modifikasi elemen lama. Jadi silakan berantisipasi senyaman mungkin, elemen kagetnya tetep maksimal. Keluhan gue soal horor adalah kenapa ibunya sedikit banget ya padahal prominent di...