Postingan

Godzilla vs Kong - Review

Gambar
Akhirnya yang ditunggu datang juga; pertarungan terbesar - literally - tahun ini. Ini adalah film keempat dari MonsterVerse setelah Godzilla, Kong: Skull Island, dan Godzilla: King of the Monsters, sekaligus remake dari King Kong vs Godzila (1962) karya Jepang yang sebenarnya adalah sebuah komedi satir terhadap dunia televisi di sana. Di antara empat film MonsterVerse, menurut gue jelas GvK ini yang paling gue suka sebagai hiburan maksimal. Filmnya to the point , langsung berantem dengan porsi yang sangat banyak. Tidak banyak kisah latar belakang seperti Titan, Monarch, atau hollow earth karena semua itu sudah dibahas di tiga film sebelumnya. Hanya ada perusahaan swasta baru bernama Apex yang memanfaatkan teknologi hollow earth, dan porsi Monarch hanya sedikit saja. Porsi setiap manusia yang mengiringi masing-masing godzilla dan kong juga cukup sedikit namun sangat berkesan. Untung gue nontonnya di layar IMAX, karena kalau saja gue nonton pertama kali di layar tv pastilah nggak puas da...

The One - Series Review

Gambar
Premis serial ini sangat menarik; aplikasi kencan yang menemukan soulmate hanya pakai DNA jadi hasilnya 100% tepat. Tepat dalam artian udah pasti cocok dari sudut pandang sains dan terbukti dengan perasaan yang membuncah kalau dua orang ini bertemu. Permasalahan utamanya adalah bagaimana dengan orang-orang yang udah berpasangan bahkan sudah menikah? Akankah masing-masing dari mereka tergoda untuk ngecek " match " mereka siapa? Kalau udah ngecek dan ternyata match mereka orang lain, gimana hayoooo *lol* Permasalahan kedua adalah, gimana kalau ternyata match-nya sakit keras atau bahkan udah meninggal. Wah ribet kali! Nah berbagai permasalahan hubungan ini yang dieksplorasi dalam serial 8 episode dengan masing-masing berdurasi kurang lebih 50 menit ini. Ada satu kisah utama yang terjalin sepanjang season yang meski jauh dari nuansa romansa tapi berhubungan dengan berdirinya perusahaan swasta The One ini. Kisah utamanya sendiri lebih ke misteri kriminal yang ngerti sih mau bikin ...

Normal People - Series Review

Gambar
Sebenarnya gue udah lama ngincer series ini dan baru tahu ternyata bisa ditonton di Catchplay+ jadi langsung sikat deh. Ada 12 episode dengan masing-masing berdurasi kurang lebih 30 menit jadi pas banget ditonton ketika break makan siang. Kalau ada yang membandingkan Normal People dengan Fifty Shades kayaknya agak kurang layak ya mentang-mentang sama-sama ada tema BDSM meski itu cuma secuil dari seluruh kisah Marianne dan Connell di Normal People. Menurut gue ini lebih ke drama romantis dengan visual cantik dan gaya bercerita yang lamban, minim dialog, dan banyak bahasa gambar. Dari look, gue suka banget sama sinematografinya yang konsisten cantiknya dari awal hingga akhir season. Setiap gambarnya kalau di screencap bisa jadi wallpaper laptop yang cantik. Selain itu lagu-lagu yang mengiringi adegan juga enak-enak banget sampai gue cari playlistnya di Spotify dan ketemu! Soal akting dari Daisy Edgar-Jones dan Paul Mescal jelas nggak perlu dipertanyakan lagi dengan masing-masing mendapat...

Raya and the Last Dragon - Review

Gambar
Setelah ditunggu-tunggu, akhirnya Raya and the Last Dragon tiba juga di bioskop. Apalagi kita semua tahu bahwa tim riset film ini berkeliling ke Thailand, Laos, Kamboja, Vietnam, dan Indonesia demi mencari ide dan inspirasi untuk latar dan budaya film ini. Raya juga menjadi Disney Princess ke-13 sekaligus jadi yang pertama dari Asia Tenggara. Meski harus menunggu sampai tahun 2021, tapi senang rasanya melihat representasi kita semua di film sekaliber Disney. Sungguh keputusan yang tepat bagi gue untuk menonton ini di IMAX karena dengan layar yang begitu besar, gue sangat puas untuk menikmati setiap detil visual yang ada. Semakin ke sini rasanya sudah semakin lumrah bagi film animasi untuk berkembang menjadi canggih dan semakin mirip dengan dunia nyata. Visual yang apik diiringi dengan scoring dari James Newton Howard menjadikan Raya sebagai tontonan hiburan maksimal. Yang gue sangat suka adalah pesan dan makna yang dibawa Raya. Di lapisan luar tema persatuan - dan perpecahan - yang men...

WandaVision - Series Review

Gambar
Menurut gue, WandaVision adalah salah satu serial tentang grief yang ditulis dengan sangat apik, ciamik, dan cantik. Dialog-dialog tentang cinta dan kehilangan - khususnya di episode 8 dan 9 - beneran bikin hati tersilet-silet. Serial dengan 9 episode ini juga jadi visualisasi yang komprehensif tentang Kubler-Ross' the cycle of grief .  Menurut Kubler-Ross, dalam kondisi berduka seseorang akan mengalami 5 tahap; denial, anger, bargaining, depression, acceptance . Masing-masing tahap dapat penggambaran yang lengkap banget di satu episode bahkan lebih. Goalnya adalah acceptance yang dicapai dengan super emosional, dialog yang quote -nya bikin dada sesek.  Iya fans service-nya memang banyak pake banget, mulai fans MCU sampai dengan fans komiknya semua dibuat tepuk tangan teriak-teriak sampai serak. Apalagi cameo yang satu itu sebagai kode keras bahwa masuknya tim X-Men ke MCU tinggal hitungan waktu. - ditonton di Disney+ - -------------------------------------...

Moxie - Netflix Review

Gambar
Moxie adalah karya terbaru dari aktris yang kini merambah profesi sutradara; Amy Poehler setelah debut filmnya Wine Country tahun 2019. Berdasarkan novel berjudul sama karya Jennifer Mathieu yang diterbitkan tahun 2015, Moxie adalah film tentang feminisme dengan latar belakang coming-of-age yang kuat. Biasanya memang gue menghindari film berkisah anak sekolah di AS karena ya gitu-gitu aja, tapi tema feminisme ini yang membuat gue tertarik. Pada akhirnya Moxie memang menjadi film feminisme di masa remaja yang cukup komprehensif. Nggak too-good-to-be-true dengan banyak halangan dan tantangan di sana-sini. Ditambah lagi dengan kisah coming-of-age yang cukup akurat dengan tumbuh kembang remaja secara psikologis menjadikan gue cukup mudah untuk jatuh hati dengan setiap karakter yang ada dalam film ini. Dengan gaya bercerita yang ringan dan menghibur, apalagi dengan kisah cinta yang manis, film ini jadi hiburan maksimal di akhir pekan. - ditonton di Netflix - ------------...

Demon Slayer - Series Review

Gambar
Akhirnya selesai juga 26 episode dalam sebulan, ditonton setiap workdays di jam istirahat maksi. Sekarang gue tahu kenapa film panjangnya Mugen Train jadi film terlaris sepanjang masa di Jepang. Karena semua 26 episode ini nge-build up ke peristiwa Mugen Train itu. Ya jelas aja dinanti-nanti semua yang nonton seriesnya. Plus film panjangnya upgrade banget di segi animasi dan scoring, jadi ga heran juga jadi multiple viewing material bagi die-hard fans. Seriesnya sendiri harus gue akui memang bagus sih. Ngebasmi setan dan iblis tapi nyeritain juga sisi lain dibalik mereka yang harus dibasmi ini. Jadi setiap karakter antagonisnya nggak dua dimensi aja, alias selalu ada latar belakang yang ciamik. Hal ini nggak menjadikan gue sebagai wibu ya. Gue masih sebel sama tipikal anime yang suka ngomong sendiri entah pas lagi sendiri atau pas lagi berantem. - ditonton di Netflix - ---------------------------------------------------------- review film demon slayer review ...

Behind Her Eyes - Netflix Series Review

Gambar
Biasanya gue males nih series bertema perselingkuhan dan cinta segi-banyak tipikal sinetron Indonesia. Tapi berhubung banyak review bilang series ini penuh twist dan tipu muslihat, akhirnya gue memberanikan diri untuk nyoba deh. Ternyata nggak mengecewakan sama sekali! Ciamik bener apalagi storytelling-nya nggak ngebosenin alias bikin penasaran. Sampai ending sih yang bikin tepuk tangan kelojotan sambil begidik. Episode 1-2 masih ngebangun cerita jadi sabar aja. Episode 3-4 yang udah mulai dikasih twist dikit jadi makin bikin nancep penasarannya. Silakan berbingung ria lah mau megang siapa alias kaga ada hitam-putih yang jelas di antara semua karakter. Gongnya jelas di episode 5-6 yang literally bikin gue mangap. Gokil! Yes ini limited series cuma 6 episode masing-masing 50 menitan. - ditonton di Netflix - ---------------------------------------------------------- review film behind her eyes review behind her eyes behind her eyes movie review behind her eyes...

Counterpart - Series Review

Gambar
Howard Silk (J. K. Simmons) adalah birokrat level rendahan di kantor PBB di Berlin, yang bertugas di divisi Office of Interchange. Divisi ini bertanggung jawab untuk bertukar pesan berkode dengan agen lain. Meski sudah bekerja selama tiga puluh tahun, Howard tidak pernah tahu untuk apa pesan-pesan tersebut dan apa sebenarnya yang dilakukan oleh divisi Interface. Namun Howard tetap loyal bekerja walau tidak kunjung mendapatkan promosi, sembari setelah kerja mengunjungi istrinya yang koma setelah mengalami kecelakaan mobil. Suatu hari Howard dipanggil oleh atasannya dan dirinya dipertemukan dengan kembarannya, yang ternyata berasal dari dunia paralel. Di pertemuan tersebut Howard mengetahui bahwa ternyata di penghujung Perang Dingin, seorang ilmuwan Jerman Timur secara tidak sengaja membuat portal ke dunia paralel di ruang bawah tanah kantor PBB tersebut. Dunia paralel tersebut disebut sebagai Prime, memiliki isi yang sama persis dengan dunia yang selama ini ditinggali oleh Howard - ya...

I Care A Lot - Netflix Review

Gambar
Gue suka banget sama I Care A Lot yang karena dibintangi oleh Rosamund Pike (yang lagi-lagi jadi antisosial) jadi mirip-mirip sama prekuelnya Gone Girl - padahal bukan ya! Film ini ditulis dan disutradarai oleh J Blakeson, sutradara/penulis dibalik The Dissapperance of Alice Creed (2009) dan Kidnapping Stella (2019). Nggak tanggung-tanggung, film ini langsung dapat satu nominasi Golden Globe lewat Best Actress - Musical / Comedy dengan Rosamund Pike.  Pertama-tama pasti sangat berasa betapa tidak ada satu pun karakter baik dalam I Care A Lot, mengingat benar-benar semua yang tampil di layar adalah karakter dengan niat jahat. Saking jahatnya sampai dajjal aja bingung kok bisa aja ya mereka kepikiran itu. Apalagi ketika Marla Grayson ketemu Roman Lunyov yang diperankan dengan ciamik oleh Peter Dinklage. Buat gue itu sih jadi seru banget karena kaya the battle of villains . Nah saking jahatnya si Marla, susah banget buat gue untuk ngedukung dia selama film - yang jadinya malah gue ...

Two Weeks To Live - Series Review

Gambar
Seorang remaja wanita, Kim, yang seumur hidupnya hidup berdua dengan ibunya di hutan, harus ke dunia luar untuk membalas dendam atas kematian ayahnya di masa kecil. Ternyata selama seumur hidupnya, dirinya diajari oleh ibunya berbagai rupa ilmu bela diri dan cara bertahan hidup agar dapat menghadapi dunia luar. Semua ini dilakukan oleh ibunya dengan skenario jika tiba-tiba dunia kiamat maka Kim harus dapat bertahan hidup sendiri. Berbagai hal kocak pun terjadi ketika pengetahuan Kim akan dunia luar sangat terbatas, sehingga mau tidak mau harus dibantu oleh teman-teman yang baru ditemuinya. Selain itu, ternyata kemampuan bertahan hidup Kim diatas batas rata-rata dari kebanyakan orang. Apalagi selama ini Kim dididik oleh ibunya yang overprotektif dan cenderung sangat paranoid terhadap hal-hal buruk yang terjadi di dunia. Dalam misi balas dendamnya, Kim ternyata berhadapan dengan seorang gangster yang terlibat dalam kasus yang rumit. Situasi bertambah kompleks ketika teman Kim yang d...

Tenet - Review

Gambar
Akhirnya kesampean juga nonton film terbarunya Christopher Nolan ini di bioskop. Ya memang ini adalah tipikal film yang harus ditonton berkali-kali. Jadi begitu rahasianya untuk dapat banyak ticket admission; buat film serumit mungkin (tapi bagus secara kualitas) sehingga membuat penonton (baca: fans) mau ngeluarin duit lagi untuk nonton ulang di bioskop. Di bioskop ya catat, bukan di rumah lewat streaming service yang legal. Karena apa? Suara dan scoring dari Ludwig Goransson kayaknya mau nyaingin Hans Zimmer dengan ngasih melodi yang dibalik notasinya. Yup biar sejalan dengan tema film ini yaitu time inversion . Gue nggak bisa ngejelasin panjang lebar soal time inversion , tapi banyak video youtube dengan visual yang oke untuk ngejelasin itu. Intinya time inversion ini adalah ada objek atau orang yang bukan bergerak "maju ke depan" sesuai waktu normal tapi bergerak mundur ke belakang berkebalikan dari waktu normal. Ribet ya? Tunggu sampai alat Turnstile muncul di pertengah...

News of the World - Netflix Review

Gambar
Jarang-jarang nih Paul Greengrass menulis dan menyutradarai film drama apalagi western kaya gini. Ditambah Tom Hanks sebagai pemeran utama pastilah jaminan menyedot banyak penonton. News of the World produksi Universal Studios ini kayaknya salah satu yang "menyerah" untuk tayang di bioskop dan memilih pinangan Netflix untuk akhirnya dapat sampai ke mata penonton. Nggak semua film Tom Hanks gue suka sih, salah satunya Greyhound yang kayaknya lebih bermasalah di script. Tapi gue suka banget sama News of the World yang selain slow woles ala western, tapi juga ada seru-seru bikin sesek nafas, dan ternyata ditutup dengan ending beraroma bawang. Naskahnya solid banget, sinematografinya ciamik tapi gak kebayangan goyang kameranya ala film-film awalnya Paul Greengrass. Menurut gue yang juara sih naskahnya karena terlihat perkembangan karakter Captain Kidd yang berbalik 180 derajat dari awal hingga akhir. Perkembangan karakternya pun terbilang smooth dan meyakinkan. Awalnya Captai...

Malcolm & Marie - Netflix Review

Gambar
Buat gue, pengalaman menonton Malcolm & Marie itu cukup triggering karena berantemnya itu relate banget. Mulai dari cara berantemnya, nafas, baikan, sampai berantem lagi, semuanya nyata dan natural banget. Hasil dari naskah yang sangat solid dari penulis naskah dan sutradara dibalik serial Euphoria, Sam Levinson - yang kayaknya punya tangan ajaib dalam nge- direct Zendaya jadi bisa memaksimalkan bakat dan talenta dia.  Pilihan warna hitam putihnya menurut gue cukup brilian karena memaksa penonton untuk fokus dengan konten dialog, ekspresi, perasaan, dan pemikiran karakter yang ada tanpa perlu ada distraksi ke latar atau pakaian yang ada di layar. Ketika sudah fokus dengan tema dan bahasan pertengkaran antara Malcolm dan Marie, secara nggak sadar gue pun jadi ikutan berinvestasi emosi di dalamnya. Sibuk mikir apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh masing-masing dari mereka. Tentunya sembari ditampar-tampar dengan perilaku emosional yang mereka tunjukkan, yang sesungguhnya pasti p...

Stand By Me Doraemon 2 - Review

Gambar
Dalam rangka perayaan 50 tahun Doraemon, dibuatlah sekuel dari film yang sebenarnya menurut gue nggak perlu lagi dibuat sekuel dengan ending terbangsat itu. Kalau Stand By Me Doraemon yang pertama mengambil banyak kisah dari komiknya, maka di yang kedua ini kebanyakan ada cerita baru mengenai Nobita dan Shizuka. Seperti yang sudah terlihat jelas di poster, trailer, dan marketing bahwa Nobita akhirnya akan menikahi Shizuka! Tapi kok gue masih lebih suka yang pertama ya dibandingkan yang kedua ini. Apa mungkin karena yang kedua ini terlalu overglorifikasi pernikahan? Bahwasanya pernikahan itu nggak cuma di hari-H aja loh dan yang di depan nanti justru jauh lebih berat dan penuh perjuangan. Tapi balik lagi kalau karakternya Nobita yang sangat tidak percaya diri, maka momen hari-h pernikahan mungkin menjadi momok yang paling menakutkan baginya. Apalagi digambarkan dalam film ini bahwa yang mengerti Nobita di dunia hanya dua orang; Shizuka dan sang nenek, kasihan! Soal visual dan animasinya...

Space Sweepers - Netflix Review

Gambar
Gue takjub-setakjub-takjubnya dengan film luar angkasa asal Korea Selatan ini. Yes ini adalah film space pertama mereka, dan tayangnya bukan di bioskop aduh sayang banget sih. Visualnya luar biasa bagus dan rapi, nggak ecek-ecek dan sangat meyakinkan. Setelah gue cek, tim efek visualnya yang menangani Along with the Gods dan Ashfall , jadi sudah terbukti ya. Cukup kaget juga karena rumah produksi dibalik Space Sweepers bukan veteran dan pemain besar seperti CJ, Lotte atau Showbox - tapi Bedangil sebuah rumah produksi baru. Space Sweepers didanai oleh Tencent dalam produksinya jadi nggak heran kualitasnya bisa selangit - literally .  Cerita yang dibawa Space Sweepers juga cukup dekat dengan kita meski berlatar tahun 2092. Alkisah bumi sudah tidak bisa ditinggali jadi manusia hidup di orbit sebagai batu loncatan untuk hidup di Mars. Permasalahan dimulai ketika teknologi luar angkasa dimonopoli oleh pihak swasta dan dikepalai oleh satu orang visioner. Kemudian ada orang-orang yang me...

Is Love Enough? Sir - Review

Gambar
Oh my God film ini gemes pake banget! Gue nontonnya sih mesem-mesem terus dari awal sampai akhir! Sir itu udah lama ada di My List gue dan nunggu waktu yang tepat buat nonton karena kayaknya butuh mood yang bagus. Dari trailer keliatan kaya film arthouse gitu kan soalnya, tapi ternyata gue salah besar! Film ini ringan seringan-ringannya, light-hearted dan heart-warming . Film ini tuh kisah cinta beda kelas sosial, jadi kaya versi romansanya The White Tiger. Ratna datang dari desa untuk jadi ART di apartemennya Ashwin, arsitek sukses yang baru aja membatalkan pernikahannya karena tunangannya selingkuh. Sedangkan Ratna baru aja kehilangan suaminya karena meninggal, dan menjadi janda di usia 19 tahun di pedesaan India artinya hidupnya selesai. Tapi Ratna nggak mau nyerah makanya dia datang ke kota dengan maksud sambil belajar jahit demi jadi fashion designer. Sehari-hari diurusin Ratna, Ashwin malah jadi jatuh cinta. Tapi beda kelas sosial yang jomplang di antara mereka berdua membuat si...

The Eight Hundred - Review

Gambar
The Eight Hundred adalah film terlaris nomor satu di dunia tahun 2020 dengan pendapatan 473 juta dollar US, dan menjadi film pertama non-Hollywood dan bukan berbahasa Inggris yang bertengger di puncak box office dunia. Apalagi kalau bukan karena pandemi Covid-19 yang membuat Hollywood menahan film-film andalan mereka, dan tutupnya banyak bioskop. Apalagi kebanyakan penonton film ini memang dari bioskop di China, dan hal yang lumrah mengingat ini adalah film sejarah yang heroik. The Eight Hundred disyut seluruhnya dengan kamera IMAX, jadi memang sebuah keharusan untuk menonton film ini di layar IMAX atau minimal layar bioskop. Sayangnya IMAX di Jakarta hanya dibuka hari Rabu, dan Kamis ini sudah ditutup jadi gue harus puas nonton di layar biasa. Dengan bisingnya deru peluru dan setiap ledakan, film ini memang wajib ditonton di bioskop. Melihat bagaimana banyak serdadu yang bahkan sudah berlindung saja masih terkena peluru, benar-benar seakan menyedot gue untuk merasakan sendiri betapa m...

Rocketman - Review

Gambar
Film ini udah lama ada di wishlist HBO GO gue, dan baru tahun ini gue niatkan hari untuk tonton. Gue nggak nyangka sih ternyata bentuknya musical, dalam artian ada banyak lagu yang dinyanyikan oleh para karakternya dalam adegan sesuai dengan jalan cerita yang ada. Jadi ini bukan tipikal Bohemian Rhapsody yang lagu-lagunya hanya pada saat manggung atau konser saja. Hal yang langsung membuat pengalaman menonton gue ini jadi sangat menyenangkan! Gue cukup syok juga ternyata Elton John punya pengalaman hidup - bahkan dari kecil - yang traumatis dan sangat tidak menyenangkan. Gue nggak ngikutin beliau, dan baru ngefans di tahun 90-an aja. Jadi kebanyakan lagu yang ditampilkan di sini juga gue nggak ngerti kecuali 2-3 lagu aja. Gue nggak tahu deh ya seberapa akurat film ini menggambarkan kehidupan penyanyi dengan nama asli Reggie Dwight ini. Tapi kurang lebihnya sih cukup tragis dan traumatis, yang lagi-lagi bersumber dari pola asuh tidak sehat dari masing-masing ayah dan ibunya. Pada akhirn...

The White Tiger - Netflix Review

Gambar
THE WHITE TIGER IS INDIA 'S PARASITE! Suka paka banget gue sama film ini, yang tadinya gue sama sekali nggak tahu ini film apaan. Trailernya nongol di carousel dan langsung gue masukkin My List. Tepat gue tonton malam-malam sebagai penutup hari, bisa bikin gue tidur dengan nyenyak. Gue kira ya The White Tiger itu tipikal film from-zero-to-hero biasa; orang miskin dari kasta rendah yang jadi sukses di kemudian hari kaya Slumdog Millionaire (2008) atau Lion (2016). Tapi ternyata gue salah, The White Tiger is so much more than that ! Siapa yang sangka ternyata tindak tanduk Balram si karakter utama ini berupa kritik pedas nan satir terhadap kelas sosial, agama, dan politik di India. Nggak cuma si kaya, tapi si miskin juga kena kritik tanpa ampun! Oke oke gue perlu santai dan tarik nafas biar gue bisa memuji film ini lebih detil. Pertama-tama gue suka banget paruh pertama film ini, isinya kocak dan hangat! Gue senyum-senyum, ngakak, sampai dada berasa hangat ngeliat gimana Balram bi...

Affliction / Pulang - Review

Gambar
Duh mas Teddy. Gue tuh ngefans banget loh sama beliau, apalagi kalau bukan karena Lovely Man dan About A Woman. Buat gue, film-film yang dia tulis dan sutradarai itu selalu unik ditambah eksekusi yang ciamik pula. Tapi begitu nanganin film horor kok jadi gini hahahaha. Affliction / Pulang memang punya ide cerita yang oke, meski bukan hal yang segar atau yang belum pernah kita temui di ranah horor. Dari awal film gue udah dibuat nggak yakin dengan jalan ceritanya, lewat pilihan kata dalam dialog yang nggak natural - satu hal yang sebenarnya jadi ciri khas Teddy Soe dalam film-filmnya yang selalu senatural mungkin dialognya kaya di dunia nyata. Udah gitu lagi-lagi ada film horor yang nempelin karakter psikolog (anak) demi ada sisi sains yang nggak percaya dengan hal mistis. Udah gitu psikolognya batu, emosian, gak mau dengerin istrinya. Laaah gimana sihhh stereotipnya nggak konsisten deh. Iya ngerti profesi ini yang jadi kunci buat (twist) endingnya tapi ya please lah profesi psiko...

Happy Old Year - Review

Gambar
Membuang barang yang udah nggak terpakai atau nggak "spark joy" emang gampang. Tapi apakah prinsip itu bisa berlaku buat manusia? Membuang orang yang udah nggak ngasih kebahagiaan, mulai dari anggota keluarga sampai mantan? Premis ini yang mau dieksplorasi oleh GDH di film Happy Old Year yang telat setahun rilis karena pandemi ini. GDH memang selalu nggak main-main kalau mainin tema drama atau keluarga, selalu dalem! Sebelum nonton gue udah tahu kalau Happy Old Year akan sedalem itu, tapi pas nonton tetap nggak nyangka bisa sedalam itu. Gue sebagai penganut gerakan minimalism aja sampai tertampar-tampar dengan jalan cerita yang ada. Setan emang. Jujur selama ini gue berpikir bahwa kalau pernah berhubungan dengan orang lalu nggak lagi, apa perlu jalin kontak dengan orang tersebut. Toh udah gak "spark joy". Happy Old Year nggak ngasih jawaban sama sekali untuk itu sih. Tapi cuma ngasih gambaran aja kaya gini jadinya kalo kontak lagi, dan kaya gini jadinya kalo ga kont...

Sobat Ambyar - Review

Gambar
Sebagai alumni patah hati di mana bisa kuat nyapa mantan dan cowo barunya trus abis itu nangis kejer, gue bisa sangat relate dengan film Sobat Ambyar! Jatmiko memang baper parah, Saras juga lebih bangsat ketimbang Arini dan bahkan Summer. Tapi gue bisa berani bilang bahwa kebaperannya Jatmiko dan kebangsatannya Saras itu akurat. Iya memang banyak kok cowo-cowo super baper kaya gitu, dan pastinya adaaaa aja cewe-cewe yang nggak mau kehilangan fans dan nggak bisa jomblo di satu kota kaya Saras. Oya tolong jangan dirajam, tapi gue bukan pendengar lagu-lagunya alm. Didi Kempot. Gue cuma tahu bahwa alm. Didi Kempot adalah legenda campursari dengan lagu-lagu khas patah hati dan punya kelompok fans yang disebut sebagai Sobat Ambyar. Jadi gue nggak tahu deh tuh kalau ada lirik yang dijadikan dialog atau bahkan jalan cerita. Tapi buat gue sih ceritanya masih cukup meyakinkan dan lumayan akurat buat baper-baperan. Gue sih sangat menikmati paruh pertama film ini, ngakak banget! Padahal awalnya ek...

Monster Hunter - Review

Gambar
It's not that bad! Dari berbagai review negatif yang gue baca, ternyata nonton film ini di bioskop nggak sejelek itu kok. Ya memang soal cerita perlu dikesampingkan karena Monster Hunter hanya menyajikan pertarungan antara manusia dengan monster-monster besar. Ya well sebenarnya ceritanya juga ga jelek-jelek amat sih, masih cukup meyakinkan dan enak ngikutinnya. Di segi visual sendiri cukup ciamik, rapi banget CGI-nya dan jadi enak banget ngeliatin detil monster yang keren. Apalagi detil dunia paralel yang ada, berasa kering dan menakutkannya ditonton di layar IMAX. Satu keluhan gue adalah editing yang nggak enak banget, potongannya kaya cincang kacang panjang alias cepet dan pendek-pendek banget jadi pusing. Trus Tony Jaa itu berasa banget ya kharismanya. Bener-bener nggak tenggelam walaupun satu layar berdua bareng bintang Hollywood Milla Jovovich. Meski sayang doi nggak dikasih dialog bahasa Inggris yang bener gitu tapi ya daripada dialognya jadi berlogat Thai ya makanya ngg...