Unchosen - Series Review


Sinopsis

Unchosen adalah serial thriller psikologis Inggris yang ditayangkan di Netflix pada 21 April 2026, terdiri dari enam episode yang mengikuti Rosie, seorang istri dan ibu yang berusaha meloloskan diri dari sebuah komunitas agama yang tertutup dan ultra-konservatif. Premisnya sangat menarik dan tampak menjanjikan: mirip dengan Unorthodox (2019), film ini bercerita tentang sistem keagamaan yang menindas dengan visual gelap dan narasi yang intens.


Ulasan

Gue awalnya sangat berharap Unchosen bisa memberikan kritik yang setajam Unorthodox terhadap komunitas agama ultra-konservatif, poin yang sebenarnya harus menjadi jantung dari serial ini. Tapi di sini terletak masalahnya: serial ini memilih untuk membagi perhatiannya ke terlalu banyak elemen naratif sekaligus. Ada kritik terhadap sistem komunitas tertutup, ada elemen thriller tentang seorang pelarian yang membawa bahaya, ada juga plot tentang pemberontakan personal dan sexual awakening dari karakter Rosie. 


Setiap elemen ini mungkin menarik sendiri-sendiri, tapi ketika dipadukan, mereka saling bertarik energi dan membuat pesan utama serial ini menjadi blur. Hasilnya, gue tidak pernah tahu apakah film ini ingin gue fokus pada sistem keagamaan yang jahat atau pada kehidupan Rosie yang terombang-ambing, atau pada ancaman yang dibawa Sam. Ketiga hal tersebut tidak saling menguat, malah saling mengasingkan.

Keberanian moral serial ini juga terasa kurang. Serial ini menggambar inspirasi dari penelitian Gearey tentang kelompok-kelompok keagamaan nyata di Inggris, termasuk Plymouth Brethren dan Bruderhof AceShowbiz, yang merupakan fondasi yang sangat kuat untuk kritik sosial yang tajam. Namun, ending yang dipilih Unchosen justru terasa seperti kompromi, seolah-olah serial ini takut untuk membuat pernyataan nilai moral yang tegas tentang sistem ini. 


Bukannya mengusulkan bahwa sistem keagamaan tertutup semacam itu adalah intrinsik buruk dan harus dilawan, serial ini lebih memilih untuk menceritakan kisah pelarian individu (Rosie berhasil kabur) sambil membiarkan sistem itu tetap berdiri, tetap ada, dan tetap intact. Tidak ada kritik struktural yang dalam, cuma ada seorang wanita yang beruntung bisa lepas. Ini adalah perbedaan fundamental dibanding Unorthodox, yang pada akhirnya membuat pernyataan moral yang jelas tentang kehidupan dalam komunitas tersebut.

Dari sisi eksekusi teknis, cast serial ini sangat kuat, termasuk Christopher Eccleston sebagai Mr. Phillips yang memberikan performa menakutkan, dan Molly Windsor sebagai Rosie menampilkan perjalanan emansipasi yang convincing. Tapi performa aktor yang tajam tidak bisa mengatasi masalah fundamental pada tingkat naskah dan visi. Serial ini terasa seperti karya yang sudah melalui banyak revisi dan kompromi kreatif, setiap episode menambah elemen baru tanpa menyelesaikan yang lama. Hasilnya adalah enam jam tontonan yang menghibur tapi tidak meninggalkan kesan yang dalam, karena gue tidak pernah benar-benar mengerti apa yang coba disampaikan serial ini.




Kesimpulan

Unchosen adalah serial yang punya semua bahan untuk membuat sesuatu yang benar-benar mengguncang, cast solid, premis menarik, visual yang gelap dan mengganggu, tapi dia memilih untuk bermain aman. Itu lebih sakit dari sekadar gagal, karena lu bisa lihat potensi yang terbuang di setiap episode. Serial ini ingin jadi Unorthodox tapi takut untuk berkomitmen penuh pada visinya, jadinya hasilnya adalah tontonan yang entertaining tapi nggak berani berkata apa-apa yang berarti. Molly Windsor dan Christopher Eccleston layak dapat standing ovation untuk apa yang mereka coba lakukan dengan materi yang mereka dapat, tapi lu nggak bisa memperbaiki masalah fundamental dengan performa yang bagus saja. Unchosen adalah reminder bahwa ambisi tanpa konviksi adalah hanya separuh dari cerita, dan unfortunately, di sini, separuh itu nggak cukup.

Skor Sobekan Tiket Bioskop: 3/5
Cocok untuk: penyuka drama thriller





- ditonton di Netflix -

Komentar