This Is A Gardening Show - Series Review

Sinopsis

This Is a Gardening Show adalah documentary comedy Netflix yang berhasil membuat berkebun menjadi genuinely entertaining melalui chemistry unik antara Zach Galifianakis dengan expert dan anak-anak. Dalam enam episode berdurasi 15-20 menit, Galifianakis (yang ternyata hobbyist gardener selama 25 tahun) menjelajahi dunia hortikultura dengan pendekatan yang polos, inquisitive, dan penuh self-deprecating humor. Dia tidak datang sebagai expert, justru sebagai learner yang tulus ingin tahu tentang genetic cloning di apple orchard, varietas tomat, teknik foraging, dan evolusi tanaman jagung. Premis sederhana ini, dikombinasikan dengan setting rural Vancouver Island yang aesthetic, menciptakan tontonan yang surprisingly addictive.


Ulasan

Kocaknya series ini terletak pada interaksi Zach dengan anak-anak elementary school. Ada chemistry yang natural banget antara dia dengan mereka, bukan karena Zach bermain-main dengan karakter kocak, tapi justru karena dia konsisten dengan dirinya sendiri yang polos, penasaran, dan sedikit awkward. Ketika Zach bertanya sesuatu yang bodoh atau membuat observasi konyol tentang tumbuhan, anak-anak merespons dengan kejujuran dan candor yang membuat semuanya jadi hilarious. Ini bukan "adult condescend to kids" humor, ini adalah genuine interaction antara dua pihak yang berpikir dengan cara berbeda namun sama-sama authentic.

Interaksi Zach dengan para petani, forager, dan food historian juga nggak kalah menghibur. Director Brook Linder berhasil menangkap momen-momen di mana passion Zach tentang berkebun bersinar terang, mixed dengan jokes yang off-the-cuff dan unexpected. Ada adegan dia honestly gasping ketika diajari cara menanam benih yang benar, moment kayak itu terasa genuine dan relatable, bukan scripted. Setiap episode memang berdurasi pendek, tapi gue jelas belajar sesuatu tentang praktik berkebun yang sebenarnya, dari kompos hingga genetic diversity, tanpa terasa seperti sedang menonton educational segment yang membosankan.


Tapi di sini letak kelemahan series ini yang gue rasakan: durasinya terlalu pendek. Enam episode times 15-20 menit itu total kurang dari dua jam, basically gue bisa habiskan dalam satu sitting tanpa kesulitan. Konsep 15 menit per episode terasa seperti gigitan ketika momentum sedang membangun. Gue yakin kalo format ini ditarik ke 30-45 menit per episode, masih punya banyak ruang untuk eksplorasi yang lebih dalam tanpa jadi bloated. Interaksi antara Zach dan expert bisa lebih developed, ada ruang untuk banter yang lebih panjang, atau bahkan documentary element yang lebih layered. Gue paham argumen bahwa berkebun adalah niche theme dan Netflix mungkin worried tentang retention, tapi honestly? Chemistry yang Zach bangun dengan setiap orang yang dia interview, baik anak-anak maupun petani veteran, cukup compelling untuk ditonton lebih lama dari 15 menit.



Kesimpulan

Terlepas dari durasi yang kurang puas, gue genuinely enjoy This Is a Gardening Show. Ini tipe series yang ringan, hangat, dan accessible untuk segala umur tanpa jadi condescending atau saccharine. Zach membuktikan bahwa dia bisa membawa warmth dan curiosity yang authentic dalam format yang tidak mengandalkan karakter atau bit yang overwrought. Kalo ini adalah excuse Zach untuk talk to fellow gardeners sambil sneaking in educational content yang actually useful, gue rela dia terus membuat series kayak begini, meskipun preferably dengan durasi yang lebih accommodate untuk storytelling yang lebih generous.

Skor Sobekan Tiket Bioskop: 4/5
Cocok untuk: write here





- ditonton di Netflix -

Komentar