29 January 2019
One kritik

Green Book - Review

2:00 PM
"Ini memang masih awal tahun, tapi Green Book sudah pasti menjadi salah satu film terbaik gue tahun ini"

Green Book dengan mudah masuk dalam daftar Sepuluh Sobekan Tiket Terbaik tahun 2019 gue. Film ini bagusnya keterlaluan sih. Paket lengkap berisi drama, komedi, romansa, keluarga, dan isu diskriminasi ras yang jadi pesan utama dalam film ini. Satu hal yang gue ngga sangka adalah ternyata betapa kocaknya film ini, yang unsur komedinya benar-benar efektif mengimbangi isu diskriminasi ras kulit hitam yang menyebalkan itu.

Film ini berlatar tahun 1962, di mana Tony "Tony Lip" Vallelonga sedang mencari pekerjaan baru setelah klub malamnya tutup untuk renovasi. Pekerjaan yang paling menjanjikan malah datang dari pianis Afrika-Amerika Don Shirley yang akan menjalani tur di selatan Amerika - daerah yang masih sangat mendiskriminasi ras kulit hitam. Dengan karakter dan latar belakang yang bertolak belakang, perjalanan darat selama dua bulan itu pun membawa hidup mereka ke arah yang berbeda.

Berdasarkan kisah nyata, Green Book dibawakan dengan cara yang mendekati realistis. Apalagi kalau bukan akting cemerlang dari dua karakter utamanya; Viggo Mortensen dan Mahershala Ali. Sumpah ya dua orang ini, gue sampai percaya bahwa Mortensen benar-benar keturunan Italia (padahal aslinya keturunan Denmark) berkat logatnya yang kental, dan Ali benar-benar orang kulit hitam yang dibesarkan di kelas sosial ekonomi atas berkat bahasa tubuhnya. Yes, dan juga permainan pianonya yang tanpa efek visual apapun, yang konon Ali "hanya" berlatih selama 3 bulan. Belum lagi senyuman hangatnya yang seakan menggambarkan ketentraman jiwa ditengah-tengah diskriminasi ras yang brengsek.


Dua karakter ini sangat bertolak belakang, tetapi layaknya film-film road trip pada umumnya, mereka berdua akan saling menemukan kembali diri mereka masing-masing lewat interaksi mereka. Ini adalah hal yang sangat gue suka dari menonton film, untuk melihat character arc yang sangat rapi dan tidak loncat sana-sini. Pengembangan karakter masing-masing mereka berdua digambarkan dengan sangat detil dan sabar. Ketika penonton telah menginvestasikan emosi mereka pada karakter di layar, hal-hal yang berpotensi merusak hubungan mereka jelas dapat dengan mudah menghancurkan hati penonton. On-screen chemistry mereka berdua jelas menjadi salah satu bromance terbaik yang pernah gue tonton.

Yang menakjubkan, ternyata interaksi dua orang yang sangat berbeda itu sangat mengundang tawa. Kalau untuk yang satu ini, pujian perlu diarahkan pada sutradara Peter Farrelly yang baru kali ini menyutradarai film bergenre drama - setelah sebelumnya selama bertahun-tahun selalu menggarap film komedi. Namun hebatnya, porsi komedi yang ada sangat pas dan tidak terlalu menonjol. Pas untuk mengimbangi drama isu diskriminasi yang bikin gemas itu.






USA | 2018 | Drama / Comedy / Road Trip | 130 mins | Scope Aspect Ratio 2.00 : 1

- sobekan tiket bioskop tanggal 29 Januari 2019 -

Rating Sobekan Tiket Bioskop:

----------------------------------------------------------
  • review film green book
  • review green book
  • green book movie review
  • green book film review
  • resensi film green book
  • resensi green book
  • ulasan green book
  • ulasan film green book
  • sinopsis film green book
  • sinopsis green book
  • cerita green book
  • jalan cerita green book

1 kritik:

  1. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete

 
Toggle Footer
Top