Postingan

The Rescue - Disney+ Review

Gambar
Di tahun 2018, gue inget banget ada ramai pemberitaan penyelamatan 13 anak di gua Tham Luang di utara Thailand. Mereka terjebak di dalam gua yang terendam air karena musim hujan yang datang lebih cepat dari biasanya. Terjebak selama 18 hari, di mana hari ke-8 mereka baru ditemukan lokasinya. Yang keren adalah, tim penyelamatan ini dipimpin dan diekskusi oleh para cave divers dari seluruh dunia, yang spesialis menyelam di gua sebagai weekend hobby mereka aja! Ternyata para Navy Seals Thailand udah nyoba nyelam tapi gagal, ada yang jadi ikut terperangkap bareng anak-anak, ada yang meninggal di tempat juga karena kehabisan oksigen. Dari pemberitaan dulu sih gue kurang lebih inget alur dan perkembangannya. Dari yang udah seminggu belum ketemu, sampai ketemu dan anak-anaknya masih hidup meski nggak makan selama itu. Trus sampai anak pertama, kedua dan seterusnya yang berhasil diselamatkan ke luar gua. Tapi lewat dokumenter karya National Geographic ini, gue jadi tahu setiap langkap detil ...

The Batman - Review

Gambar
Pertama-tama, mari menerima kenyataan dulu bahwa film Batman tidak akan berhenti diproduksi oleh Warner Bros - meski ganti aktor ratusan kali pun. Kenapa? Ya duit lah. Bukan cuma hasil dari penjualan tiket dan subscription di HBO GO/MAX aja, tapi penerimaan paling besar datangnya dari merchandise.  Iya, jualan merchandise Batman itu sangat tinggi, bahkan lebih tinggi dari teman-teman Avengers di toko sebelah. Jadi ya nggak heran kalau banyak yang klaim bahwa Batman adalah pahlawan super yang paling terkenal. Masuk nonton The Batman dengan durasi tiga jam kurang lima menit, gue datang tanpa ekspektasi apapun. Hasilnya gue sangat terpuaskan dan terkagum-kagum. Menurut gue The Batman versi Matt Reeves ini bukan film superhero, tapi film psychological-thriller noir . Jauh banget dari hingar binar kaya semesta sinema toko sebelah.  The Batman fokus ke kisah detektif dan  investigasi pembunuhan berantai yang dilakukan The Riddler, di tengah kota Gotham yang gelap, penuh korupsi...

Spencer - Review

Gambar
Akhirnya kesampean nonton film ini secara legal, terima kasih Klik Film udah capek-capek akuisisi dan bawa film ini ke Indonesia. Meski nontonnya harus pake laptop dan pake kabel HDMI biar bisa nonton di TV, udah gitu buffering mulu setiap 15 menit buset padahal internet gue aman-aman aja. Semenjak Emma Corring jadi Lady Di muda di The Crown Season 4 , rasanya tuh standarnya semakin tinggi. Beruntung Kristen Steward nyaris sempurna banget di sini! Nggak sia-sia dia latihan aksennya selama enam bulan. Bahkan kata mantan chef di istana bilang kalau penggambaran Kristen Steward sebagai Lady Di adalah yang paling mirip, meyakinkan, sampai ke aksennya yang on point banget. Filmnya sendiri ternyata bukan tipikal biografi yang menceritakan kehidupan Lady Di dari masa ke masa. Spencer karya sutradara Pablo Larrain ini lebih fokus ke tiga hari Natal di mana keluargan kerajaan punya tradisi untuk family time di istana Sandringham, mulai dari makan bareng sampai menembak. Tapi ini adalah masa p...

The Innocents - Review

Gambar
Gue nonton ini murni baca review singkat di ig story dari eks-boss gue yang udah terpercaya banget lah selera filmnya. Langsung percaya dan ternyata lagi ada di CGV dalam rangka special screening award season. Cuma dapat 1 jam tayang setiap harinya, langsung lah sikat sebelum turun layar. Dari trailernya sih gue ngerasa ada vibe Let the Right One In (2008) ya, sama-sama dari Skandinavian setidaknya. Wah gue suka banget sih sama The Innocents . Atmosfer filmnya lamban dan sunyi gitu, tapi jadi kaya ngasih kesempatan buat penonton untuk ikut terlibat dalam pemikiran dan perasaan anak-anak ini. Jalan ceritanya sendiri sangat unik ya. Menurut gue ini kaya Chronicle (2012) versi anak-anak; apa jadinya jika anak-anak umur 9-12 tahun menemukan dirinya punya kekuatan super. Premis yang sangat menarik! Apalagi secara psikologi perkembangan, apa yang ditampilkan dalam film ini benar-benar akurat dan logis! Manusia punya bagian otak bernama amygdala yang berfungsi sebagai kontrol emosi dan mora...

Promising Young Woman - Review

Gambar
GAK HERAN MENANG BEST ORIGINAL SCREENPLAY OSCAR 2021! Sutradara dan penulis naskah Emerald Fennell emang ga kaleng-kalengan sih. Debut film panjang baik di sutradara dan penulisan naskah, langsung dapat nominasi di dua kategori itu di berbagai penghargaan bergengsi. Filmnya sendiri juga super unik dan gila banget sih. Kalau harus banget dibandingkan dengan Penyalin Cahaya, ini versi gila dan psycho-nya. Secara keseluruhan ternyata film ini dibawakan dengan cara yang ringan dan komikal. Efektif banget sih untuk bikin pengalaman menonton tema yang berat ini jadi menyenangkan dan mudah dicerna. Untuk tipikal film yang masuk berbagai nominasi di berbagai penghargaan bergengsi, jelas film ini jauh dari kata arthouse atau membosankan. Apalagi ada Bo Burnham yang gue baru kenal lewat standup special dia di Netflix, aslinya kan kocak ya dia. Gue suka banget dengan gimana film ini berangkat dari tema kekerasan seksual, dan dibawa ke ranah bagaimana cara para penyintas menjalani hidupnya bertahu...

Scenes from a Marriage - HBO Series Review

Gambar
Memang butuh waktu yang tepat buat gue untuk nonton Scenes from a Marriage . Series yang ada di HBO GO ini memang udah rilis di tahun 2021, tapi gue liat di trailer kayaknya bakal menguras banyak emosi. Waktu itu gue belum siap aja, tapi sekarang sudah. Nggak tanggung-tanggung, lima episode langsung gue lahap dalam dua hari kerja. Oya  Scenes from a Marriage  yang di HBO ini adalah versi adaptasi dari serial berjudul sama asal Swedia tahun 1973 yang disutradarai dan ditulis naskahnya oleh Ingmar Bergman. Oke gue emang suka dengan film-film bertema perpisahan, karena menurut gue ini adalah bagian penting dan tak terelakkan dari hubungan percintaan. Mungkin obsesi gue akan konten-konten tersebut pengen tahu sih mulai dari gambaran alasan perpisahan itu sampai ke bagaimana mereka mengatasinya. Mungkin alam bawah sadar gue berteriak untuk belajar lebih banyak biar kalau gue pada akhirnya mengalami momen perpisahan jadi nggak sakit-sakit amat.  YA TERNYATA GAK JUGA SIH WK...

A Hero - Review

Gambar
Akhirnya kesampean juga nonton filmnya sutradara dan penulis naskah Asghar Farhadi di bioskop! Dulu nonton A Separation (2011) yang ngebuat gue langsung ngefans sama beliau, cuma ditonton di Erasmus Huis di festival film Europe on Screen. Film-filmnya beliau selalu tipikal slice of life sih, tapi gue suka karena bisa ngintip seperti apa kehidupan di Iran. A Hero bercerita tentang Rahim Soltani, seorang ayah yang harus masuk penjara karena nggak bisa bayar hutang bisnis karena ditipu rekannya. Sepulang dari penjara, pacarnya nawarin koin emas yang ditemuin di halte bis. Sempat tergiur buat jual dan bayar sebagian utangnya, akhirnya Rahim mengembalikan koin emas itu ke pemiliknya. Tapi ternyata niat dan perbuatan baik tidak serta merta mendatangkan hal baik di dunia modern ini, apalagi era media sosial yang lebih mementingkan citra diri dan narasi ketimbang kebenaran hakiki. Ini adalah pengalaman nonton yang unik buat gue. Dari awal tuh emang agak roaming , ini siapa, kenapa di penjar...

Maid - Netflix Series Review

Gambar
Oke gue tahu ketinggalan banget nonton Maid baru sekarang. Tapi dulu pas awal-awal rilis, gue nyoba nonton 15 menit pertama dan langsung stop. Gue mikir wah series ini bakal emotionally exhausting banget nih dan waktu itu gue belum siap. Entah kenapa baru siap sekarang-sekarang ini, dan setelah nyoba nonton episode pertama malah nagih non-stop! Bener sih dugaan gue, 10 episode masing-masing kurang lebih 50-60 menit ini emang emotionally exhausting . Naik turun banget emosinya dan kebanyakan yang gue rasain malah emosi negatif; mulai dari gemes, sebel, marah sampai ke ubun-ubun. Apalagi gue tahu limited series ini adalah adaptasi dari novel memoir karya Stephanie Land yang berjudul Maid: Hard Work, Low Pay, and a Mother's Will to Survive tahun 2019. Artinya semua yang gue tonton adalah kejadian nyata! Setelah gue baca-baca artikelnya, Stephanie Land sendiri pas nonton seriesnya aja ke- trigger ! Yang artinya nyata dan mirip banget dengan kejadian aslinya. HIHHHHHH! Oke jadi limite...

Kukira Kau Rumah - Review

Gambar
Film adaptasi lagu tuh harusnya begini! Nggak harus terkungkung dalam lirik lagu aja. Hormat setinggi-tingginya buat tim penulis naskah Monty Tiwa, Umay Shahab, dan Imam Salimy yang berani gila fokus ke karakter pengidap bipolar. Seneng banget sih gue karena film Indonesia mulai berani kasih representasi ke para pengidap dan penyintas gangguan kesehatan mental.  Khusus yang satu ini, gue berani bilang kalau penampilan Prilly sebagai karakter pengidap bipolar cukup akurat. Gue nggak pernah ketemu langsung dengan pengidap dan penyintas bipolar, jadi pengetahuan gue hanya sebatas denger cerita, baca jurnal atau artikel, dan nonton Modern Love S1E03 yang Anne Hathaway. Semuanya representasinya cocok dan logis sih. Mungkin minus self harm yang gue yakin ini jadi keputusan pembuat film untuk nggak masukkin unsur itu dengan berbagai alasan. Keputusan pilihan di akhir film juga sangat logis dan jadi pilihan yang terbaik demi kesembuhan karakter Niskala. Nggak heran gue kalau banyak orang...

The Tinder Swindler - Netflix Review

Gambar
Suka banget sama docu-crime yang ini. Nontonnya gemes-gemes serem gimanaaa gitu. Karena gue pribadi juga make online dating app buat nyari calon istri kan, dan pernah juga kena catfishing . Untungnya belum sampai scam dan swindler sih. Jadi gue bisa relate banget sama semua cerita yang ada di dokumenter ini. Pertama-tama, mari kita mencoba menghindari victim-blaming, keadaan di mana kita nyalahin korban kenapa bisa bego banget jatuh ke dalam skema penipuan itu. Itu sama aja kaya nyalahin korban tabrak lari "kenapa lo naik motor pake helm di tengah jalan?" KARENA YA EMANG GITU BAMBANG.  Awalnya gue juga agak tergoda untuk nyalahin si cewe sih kok bisa-bisanya percaya, rela minjem duit, dan transfer duit segitu banyak. Tapi coba deh ya lo ada di posisi mereka ini, udah pacaran berbulan-bulan! Ya kalo modusnya kaya gini, siapa yang bakal lengah sih karena basisnya udah bukan trust lagi tapi love . Selama ini gue kalo kenalan sama cewe di online dating app, gue punya SOP tersend...

Ben & Jody - Review

Gambar
Dari segala kekhawatiran dan keraguan gue karena pindah haluan genre dari drama tentang kopi ke aksi, terjawab tuntas oleh kualitas Ben & Jody yang gue suka banget! Naskahnya solid dan terjebaknya Ben dan Jody di konflik antara warga lokal perkebunan sawit dengan perusahaan sangat logis. Gue yang pernah ngerasain tinggal sebulan di perkebunan sawit di Kalimantan Barat, sangat sangat memahami dan betapa dekat dunia Ben & Jody dengan kenyataan.  Konflik antara warga lokal dengan perusahaan sawit itu ada di mana-mana di Indonesia, termasuk warga lokal yang akhirnya menyerah pada keuntungan yang ditawarkan oleh perusahaan. Gue acungin dua jempol untuk sutradara dan penulis naskah Angga Dwimas Sasongko yang berani mengangkat isu ini dengan vulgar dan apa adanya. Iya oke Indonesia memang jadi salah satu negara eksportir sawit terbesar seluruh dunia, tapi konsekuensinya pun juga sangat besar baik ke dampak negatif lingkungan serta warga lokal. Genre apa yang paling tepat dan dijam...

Antlers - Review

Gambar
Sudah lama gue tunggu-tunggu film ini setelah berkali-kali jadwal rilisnya harus diundur karena pandemi. Beruntung film produksi Searchlight ini ada perjanjian dengan OTT lain untuk harus rilis dulu di bioskop, maka Disney mau nggak mau rilis di bioskop sebelum ke Disney+, meski ditaruh di tanggal yang nggak populer seperti Januari ini.  Jadi ya beruntung juga gue tonton di bioskop, karena beneran serem dan ngagetin dong. Sebuah sensasi yang nggak bakal kena kalau nonton di rumah aja. Kalau seorang Guillermo del Toro megang film beraroma monster udah pasti jaminan mutu sih. Entah isi kepalanya isinya apaan yak. Desain monsternya bener-bener nyeremin dan bikin deg-degan walau cuma denger suaranya aja. Ditambah lagi Antlers ini adalah tipikal film yang sunyi. Minim dialog dan scoring, seakan menghidupkan atmosfer sepi di kota kecil yang jarak antar rumahnya jauh banget. Jadi ketika si makhluk Wendigo, mitos dari Indian, muncul dengan suara beratnya maka akan sukses bikin bulu kuduk m...

The Last Duel - Review

Gambar
Kasian banget sih The Last Duel jadi anak bawang nggak rilis di bioskop dan cuma rilis di Disney+. Apalagi kalau bukan karena pas Disney mengakuisisi Fox, termasuk library Fox yang belum rilis di bioskop - salah satunya adalah The Last Duel ini. Nggak pandang bulu, meski karya sutradara Ridley Scott sekalipun, Disney tetep raja tega untuk ga kasih rilis bioskop. Padahal di atas kertas The Last Duel ini punya modal yang kuat banget; penulis naskah dari duet pemenang Oscar Matt Damon dan Ben Affleck sampai deretan cast kelas A.  The Last Duel punya gaya bercerita yang sangat unik; filmnya dibagi 3 bab dengan masing-masing bab adalah sudut pandang yang berbeda dari 3 karakter utama tentang segala hal yang berujung pada kekerasan seksual. Ada Sir Jean de Carrouges (Matt Damon), Jacques Le Gris (Adam Driver), dan Marguerite de Carrouges (Jodie Comer). Menariknya, meski tiga bab / sudut pandang ini menceritakan hal yang sama, tapi ada detil yang berbeda sesuai karakter masing-masing. Seb...

I May Destroy You - Series Review

Gambar
Gue udah denger tentang I May Destroy You sejak series karya sutradara, penulis naskah, dan aktor Michaela Cole ini ngeborong 9 nominasi di Emmy tahun 2020 - dan ngebawa pulang piala naskah terbaik. Tapi jadi makin pengen nonton sejak gue nonton Penyalin Cahaya karena gue nggak begitu puas untuk cari tahu kekerasan seksual dari sisi korban. Iya sih ada 27 Steps of May (2018) yang gue suka banget tapi sayang terlalu artsy jadi kurang masuk ke penonton populer. Serial I May Destroy You ini punya premis yang nyaris mirip sama Penyalin Cahaya; pesta-pesta di malam hari, minum sesuatu sampai pingsan dan ga ingat apa-apa, besok paginya kebangun dan ternyata sudah ada tanda kekerasan seksual. Nah nggak kaya Penyalin Cahaya yang bergerak jadi film thriller investigasi, I May Destroy You fokus menyelami emosi dan pikiran korban. Ada unsur investigasinya tapi dikiiiit banget karena mau ga mau lapor polisi kan. Tapi serial 12 episode dengan masing-masing durasi kurang lebih 30 menit ini bene...

Just Mom - Review

Gambar
Film Just Mom sepertinya memang dibuat untuk menguras air mata penonton sebanyak-banyaknya dengan menempatkan Christine Hakim sebagai seorang ibu yang kharismatik dan nyaris sempurna. Cara ini memang berhasil sih, apalagi di penghujung film yang berasa kaya dihajar beruntun berkali-kali. Buat gue yang awalnya sekuat tenaga nahan buat ga nangis, lalu dada seperti digedor-gedor minta dibuka, sampai akhirnya ambyar pula segala rupa pertahanan emosi dan jiwa. Film ini memang panggung bagi Christine Hakim semata sih. Karakternya hidup banget dan aktingnya bener-bener effortless . Gampang banget buat penonton untuk menganggap bahwa karakter ibu yang ada di layar adalah ibu kita semua. Maaf buat aktor-aktris lain karena jadi tenggelam pasrah, dan selalu kalah silau ketika ibu muncul di layar. Ayushita jadi ODGJ adalah salah satu gambaran yang nggak berlebihan tentang orang dengan gangguan jiwa. Film panjang kedua dari sutradara dan penulis naskah Jeihan Angga setelah Mekah I'm Coming (20...

Penyalin Cahaya - Netflix Review

Gambar
Di luar kontroversial co-writer Henricus Pria terlibat kasus kekerasan seksual di masa lalu (kini namanya sudah dicoret dari bagian film ini), sebagai entitas film sendiri Penyalin Cahaya punya pesan yang kuat dan nyaris sempurna di segala segi teknis. Color palette (bukan color grading) yang didominasi warna hijau - dari warna cahaya mesin fotokopi - sangat cantik dipandang mata. Ditambah detil desain produksi sampai ke detil dunia teknologi menambah kenyamanan untuk gampang larut ke dalam cerita. Akting setiap pemainnya benar-benar brilian! Juara sempurna sama rata nggak saling mengungguli satu dengan yang lainnya. Shenina resmi jadi aktris brilian dan patut diperhitungkan, Putri Marino you've been warned! Chicco Kurniawan, Dea Panendra, Jerome Kurnia, Giulio Parengkuan, Lutesha semuanya gue suka banget sama aktingnya. Natural dan dialog ngalir tanpa cela kaya keseharian biasa aja gitu. Aktor-aktris senior macam Lukman Sardi, Ruth Marini, dan Budi Ros juga gak serta merta mencuri...

Don't Look Up - Netflix Review

Gambar
Sutradara dan penulis naskah Adam McKay emang udah jawara deh kalo bikin film komedi satir. Apalagi sejak The Big Short (2015) kayaknya dia udah biasa megang deretan pemeran kelas berat. Kalau di Don't Look Up ini rasanya memang Netflix mau pamer budget aja dengan ngerekrut sebanyak-banyaknya bintang besar Hollywood. Secara mas Leo sangat selektif milih naskah dan proyek, jadi udah jaminan mutu lah ya buat filmnya. Secara umum gue suka banget sih sama Don't Look Up, yang satirnya kelewat kocak dan absurd menyindir berbagai permasalahan di dunia. Mulai dari politik sampai kapitalisme dan terutama perubahan iklim, semuanya kena dan bikin gue ngakak. Mirisnya, apa yang gue ketawain di layar itu kejadian pula di dunia nyata. Sebegitu absurdnya komedi yang ditampilin sama Adam McKay, masih lebih absurd kejadian di dunia nyata gak sih. Masih inget sama usulan Trump buat nyuntikkin sanitizer ke badan manusia? Buat gue pribadi, pesan di film ini udah jelas banget gak sih. Arahnya mun...

Till We Meet Again - Review

Gambar
Film terbaru dari sutradara dan penulis naskah berbakat Giddens Ko, yang melejit namanya sejak You Are the Apple of My Eye (2011). Till We Meet Again in meraih 11 nominasi Golden Horse , penghargaan film di Taiwan termasuk kategori Best Pictures dan Best Adapted Screenplay . Kalau udah kaya gini, fix jadi jaminan mutu gak sih. Ternyata filmnya penuh dengan aroma bawang yang kental. Di atas kertas, film ini mirip perpaduan antara dwilogi Along with the Gods dengan Akhirat: A Love Story . Hidup setelah kematian memang jadi tema utama dari film ini, sekaligus gue pribadi jadi belajar banyak soal kepercayaan yang dianut oleh agama Buddha. Mulai dari karma baik, karma jahat, sampai dengan reinkarnasi. Nah ketika ditambah elemen romansa barulah mengundang aroma bawang yang sangat kuat itu. Meski kesannya berat banget bawa-bawa kehidupan setelah kematian, tapi ternyata filmnya sangat ringan dan menghibur - bahkan kelewat kocak! Unsur komedinya kuat banget sih dan sukses bikin gue ngakak s...