The Death of Robin Hood - Review

Sinopsis

The Death of Robin Hood adalah film drama gelap yang mempertanyakan segalanya tentang legenda Robin Hood. Sutradara Michael Sarnoski menghadirkan versi penuaan dari sang legendaris penjahat yang hidup dalam pengasingan diri, tersiksa oleh pembunuhan-pembunuhan di masa lalunya, sampai pada akhirnya terluka parah dan mengambil perlindungan di sebuah priori. Jodie Comer memainkan perempuan misterius yang menawarkan kesempatan penyelamatan. Di lanskap modern di mana kita sudah malas dengan narasi heroik yang rancu, Sarnoski menciptakan pertanyaan sederhana tapi menggigit: jika tokoh yang kita muliakan ternyata hanya seorang pembunuh tanpa belas kasihan, apakah cerita tentangnya masih penting?

Ulasan

Sarnoski langsung membuka film dengan lebar dalam format layar lebar dan menampilkan Robin sebagai penjahat penuaan yang membunuh untuk bertahan hidup. Aksi di awal sangat brutal dan tidak ada romantisasi. Tidak ada cerita pencuri dari kaya untuk memberi ke miskin di sini. Robin Hood adalah sosok yang keji dan dingin dalam perhitungannya, membunuh siapa saja tanpa pandang bulu. Film ini bukan epik petualangan bergaya Hollywood. Sarnoski melakukan riset sejarah Inggris abad pertengahan dan menemukan bahwa pertempuran itu tidak glamor, bukan ksatria berkilau, melainkan petani-petani saling memukul dengan sekop di lumpur. Dia menerapkan insight itu langsung ke dalam film: aksi-aksi yang brutal, tanpa ornamen, dan mengerikan dalam kemanusiawiannya.


Yang membuat film ini lebih dari sekadar latihan dalam membalik narasi adalah bagaimana ia melihat redemption untuk semua orang, bukan hanya Robin Hood. Ketika Robin tiba di priori dalam kondisi terluka, ia tidak datang sebagai musuh melainkan hanya seseorang yang membutuhkan tempat berlindung. Di sana, dengan dialog yang sangat sedikit, film membangun momen-momen di mana orang-orang yang pernah menjadi korban dari kebuasan Robin mulai melihatnya berbeda. Bukan sebagai hantu yang perlu dibalas dendam. Sebagai orang yang sekarat. Pemaafan tidak terasa mudah atau seperti diberikan gratis. Film memperlihatkan bahwa memaafkan adalah sesuatu yang harus dibayar dengan kerendahan hati yang nyata dan pengakuan akan kesalahan yang tidak bisa lagi diperbaiki. Robin tidak tiba-tiba berubah jadi orang baik. Dia hanya memahami dengan cara yang sangat menyakitkan tentang apa yang telah ia lakukan.

Film ini memilih untuk menceritakan kisahnya dengan dialog yang minim dan banyak atmosfer sunyi. Itu adalah pilihan yang tepat untuk cerita tentang dosa dan kemanusiaan. Ketika aksi datang, hadir dengan kejutan yang mentah, bukan spektakel yang dirancang untuk menghibur. Dua orang tua yang mencoba membunuh satu sama lain di lumpur adalah ide inti Sarnoski. Jackman memainkan Robin dengan cara yang sangat tertahan, menunjukkan kekerasan melalui gerak tubuh tanpa perlu banyak kata-kata. Yang menarik adalah Sarnoski percaya bahwa kehangatan pribadi Jackman masih bisa terlihat di balik semua kebuasan itu. Momen-momen di mana ia menunjukkan kebaikan terasa sangat nyata justru karena kontrasnya.





Kesimpulan

The Death of Robin Hood tidak memberikan jalan keluar yang mudah atau pesan moral yang mengenakkan. Ini adalah film tentang seorang lelaki tua yang harus menghadapi apa yang telah ia lakukan, dan sebuah komunitas yang harus tetap menjadi manusia bahkan saat berhadapan dengan kebuasan. Film ini menerima ulasan campuran dari kritikus, dan itu masuk akal. Sarnoski telah membuat sesuatu yang tidak bisa langsung dikategorikan. Ini adalah film yang menuntut untuk dipertimbangkan, bukan untuk dinikmati dengan nyaman. Dan itulah mengapa ia penting.

Skor Sobekan Tiket Bioskop: 3/5
Cocok untuk: pecinta drama penebusan




Genre: Drama
Asal: AS
Durasi: 2 jam 9 menit
Sutradara: Michael Sarnoski
Penulis Naskah: Michael Sarnoski
Pemain: Hugh Jackman, Jodie Comer, Bill Skarsgård

- sobekan tiket bioskop tanggal 5 Juli 2026 -

© Sobekan Tiket Bioskop. Konten asli dipublikasikan di pada 5 Juli 2026. Reproduksi tanpa izin dilarang. Laporan plagiat: copyright notice.

Komentar