Sobekan tiket bioskop tertanggal 31 Maret 2011 adalah Country Strong. Setahu gue, film ini adalah titik dimana artis cantik Gwyneth Paltrow menjadi pede untuk mencoba dunia tarik suara. Apalagi dengan masuknya lagu Coming Home dalam daftar nominasi Golden Globe 2011 dan Oscar 2011 untuk kategori Best Original Song. Walaupun musik country adalah bukan preferensi utama dalam playlist musik gue, tapi ya penasaran aja dengan bakat nyanyi dari Mrs. Paltrow.
Sebuah drama yang fokus pada Beau Hutton (Garret Hedlund) yang seorang musisi-penulis lagu country yang sedang naik daun. Beau memiliki kisah asrama diam-diam dengan Kelly Canter, penyanyi country pemenang Grammy yang karirnya meredup. Kisah cinta mereka bertambah rumit dengan adanya suami dari Kelly, James Canter (Tim McGraw) dan seorang penyanyi pendatang baru yang cantik, Chiles Stanton (Leighton Meester).
Seperti yang sudah gue sebutkan diatas, gue memang bukan pencinta musik country tapi masih dalam kategori bisa ngedengerin di kuping gue. Film drama seputar dunia musik (country) yang tentunya akan banyak adegan nyanyinya ini pun masih bisa gue nikmati dengan baik setiap lagunya. Cerita asrama yang ditawarkan memang cenderung biasa saja, tapi kisah tentang Kelly Canter yang karirnya meredup ini yang patut direnungkan lebih dalam.
baca selengkapnya...
Sobekan tiket bioskop tertanggal 30 Maret 2011 adalah Limitless. Melihat trailernya sekali sudah cukup untuk memancing ketertarikan gue akan film ini. Ide cerita yang baru dan menarik serta deretan cast yang rupawan. Diambangi oleh si ganteng Bradley Cooper dan didukung oleh Robert De Niro dan Anna Friel.
Seorang penulis yang kehabisan ide, serta baru putus dari pacarnya, Eddie Morra yakin bahwa kehidupan sedang tidak berpihak padanya dan masa depannya suram. Sampai ketika Eddie bertemu dengan teman lamanya yang memberinya sebuah obat yang tidak biasa; obat yang mampu mengaktifkan seluruh sel dan kemampuan otak manusia. Semenjak memakai obat itu, Eddie pun menjadi seseorang yang jauh lebih pintar, lebih berbakat, dan lebih percaya diri. Dengan kesuksesan yang diraihnya, tidak sedikit orang yang menginginkan obat tersebut dari tangan Eddie.
baca selengkapnya...
Seorang penulis yang kehabisan ide, serta baru putus dari pacarnya, Eddie Morra yakin bahwa kehidupan sedang tidak berpihak padanya dan masa depannya suram. Sampai ketika Eddie bertemu dengan teman lamanya yang memberinya sebuah obat yang tidak biasa; obat yang mampu mengaktifkan seluruh sel dan kemampuan otak manusia. Semenjak memakai obat itu, Eddie pun menjadi seseorang yang jauh lebih pintar, lebih berbakat, dan lebih percaya diri. Dengan kesuksesan yang diraihnya, tidak sedikit orang yang menginginkan obat tersebut dari tangan Eddie.
I don't have a delusion of grandeur. But I have a recipe of grandeur.Benar saja, cerita kelewat menarik dan orisinil. Perkembangan jalan ceritanya pun cukup logis dan cenderung down to earth. Obat yang bisa memaksimalkan penggunaan otak manusia? Bukan tidak mungkin dunia modern, entah kapan, bisa menghasilkan obat semacam itu walaupun dengan efek samping yang ada. Kekuatan tidak terbatas, meminjam istilah yang dipakai dalam film ini - invincible, yang didapat hanya dengan memakan obat tersebut adalah sebuah hal yang sangat patut untuk diperebutkan banyak pihak, bahkan dengan taruhan nyawa.
baca selengkapnya...
Sobekan tiket bioskop tertanggal 29 Maret 2011 adalah Cave of Forgotten Dreams. Sekarang gue memiliki kriteria baru untuk memprediksi sebuah film akan menjadi film bagus atau tidak; jadwal tayang. Berbekal pengalaman nonton Chicho & Rita yang jadwal tayangnya tidak sesering film-film reguler lainnya, film dokumenter terbaru arahan Werner Herzog ini malah hanya muncul setiap hari selasa saja setiap minggunya. Benar ya, segala macam hal yang jual mahal itu memang sukses bikin penasaran. Apalagi ini film dokumentasi dalam versi 3D pula, walaupun gue sudah mulai meragukan kualitas gambar film-film yang dikonversikan ke dalam bentuk 3D yang malah menurunkan kualitas gambar film tersebut.
Werner Herzog mendapat kesempatan emas menjadi satu-satunya pembuat film yang mendapatkan akses masuk khusus untuk mensyuting film dokumenter di gua Chauvet di selatan Perancis. Gua yang ditemukan oleh tiga penjelajah gua di tahun 1994 ini ternyata menyimpan lukisan dinding gua tertua di dunia, yang dilukis oleh manusia purba. Werner Herzog pun mencoba membagikan pengalaman dan sensasi bertualang di gua bersejarah itu kepada penonton lewat layar lebar dan kacamata tiga dimensi.
Menonton film dokumenter 90 menit ini rasanya seperti menonton salah satu episode National Geographic dalam layar lebar dan dalam bentuk tiga dimensi. Seperti yang sudah gue duga, akan banyak shot-shot terhadap gambar-gambar lukisan tertua di dunia itu. Sekilas, lukisan tersebut tampak biasa; gambar binatang-binatang dan sebagainya. Namun ketika mengetahui sejarah gua lewat umur bebatuan, stalaktit dan stalaknit yang terbentuk, dan sebagainya yang membuktikan bahwa umur dari lukisan tersebut adalah sekitar 23 ribu sampai 30 ribu tahun yang lalu, tiba-tiba gue memandang lukisan tersebut dengan sudut pandang yang berbeda. Lukisan "sederhana" itu, dilukis oleh manusia purba, dengan peralatan alamiah dan pola pikir yang pastinya tidak semaju manusia modern? Wow!
baca selengkapnya...
Werner Herzog mendapat kesempatan emas menjadi satu-satunya pembuat film yang mendapatkan akses masuk khusus untuk mensyuting film dokumenter di gua Chauvet di selatan Perancis. Gua yang ditemukan oleh tiga penjelajah gua di tahun 1994 ini ternyata menyimpan lukisan dinding gua tertua di dunia, yang dilukis oleh manusia purba. Werner Herzog pun mencoba membagikan pengalaman dan sensasi bertualang di gua bersejarah itu kepada penonton lewat layar lebar dan kacamata tiga dimensi.
Menonton film dokumenter 90 menit ini rasanya seperti menonton salah satu episode National Geographic dalam layar lebar dan dalam bentuk tiga dimensi. Seperti yang sudah gue duga, akan banyak shot-shot terhadap gambar-gambar lukisan tertua di dunia itu. Sekilas, lukisan tersebut tampak biasa; gambar binatang-binatang dan sebagainya. Namun ketika mengetahui sejarah gua lewat umur bebatuan, stalaktit dan stalaknit yang terbentuk, dan sebagainya yang membuktikan bahwa umur dari lukisan tersebut adalah sekitar 23 ribu sampai 30 ribu tahun yang lalu, tiba-tiba gue memandang lukisan tersebut dengan sudut pandang yang berbeda. Lukisan "sederhana" itu, dilukis oleh manusia purba, dengan peralatan alamiah dan pola pikir yang pastinya tidak semaju manusia modern? Wow!
baca selengkapnya...
Sobekan tiket bioskop tertanggal 25 Maret 2011 adalah Benda Bilili!. Film ini adalah salah satu line-up film dari Glasgow Film Festival yang diselenggarakan bulan Februari kemarin. Beruntungnya, film ini kembali tampil di layar lebar di sebuah bioskop non-komersil di Glasgow. Sehubungan dengan gue ingin menambah referensi film-film gue yang berasal dari benua hitam Afrika, ditambah dengan unsur musik yang ada dalam film ini, rasanya film ini akan menjadi sangat menarik untuk disimak.
Film dokumenter ini bercerita tentang lima orang yang menderita lumpuh di bagian bawah tubuh yang dimotori oleh Ricky dan satu anak kecil, Roger, yang membentuk sebuah grup band Staff Benda Bilili (in English; See Beyond) di kota Kinshasa, Congo. Memakai instrumen ala kadarnya, plus alat musik buatan yang dibuat oleh Roger (kaleng susu, sebatang kayu, dan seutas senar yang berbunyi seperti gitar), mereka memiliki mimpi untuk menggelar konser dan didengar di Eropa. Dibantu oleh produser musik asal Perancis, mereka yang keseharian hanya tidur beralaskan kardus dan beratapkan langit ini pun mencoba meraih mimpi mereka untuk mempertunjukkan musik mereka di depan 8000 orang di Eropa.
Handicapable. Rasanya kata itu yang muncul di dalam kepala gue ketika gue menonton film ini. Entah berapa kali gue dibuat merasakan cinematic-orgasm (baca: merinding) melihat perjuangan Ricky dan kawan-kawan ini dalam menggapai mimpinya. Untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain, mereka menggunakan semacam sepeda yang dikayuh menggunakan tangan (tidak ada kursi roda di belahan dunia ini), dan mereka pun menggunakan sisa dari tubuh mereka untuk membuat musik. Ya, mereka ini memang berbakat dalam bermusik dan mereka tidak menyia-nyiakan bakat mereka untuk menyambung nyawa. Musik yang mereka hasilkan pun terbilang unik; campuran antara Congolese Rumba, Cuban Jazz, dan funk a la James Brown. Tidak sempurnanya tubuh mereka tidak membuat orang-orang berbakat ini menyerah begitu saja pada kenyataan hidup, apalagi di tengah kondisi kota dan negara yang miskin. Dari musisi jalanan dan pengamen, ambisi untuk didengar musiknya oleh kalangan yang lebih luas pun muncul ketika seorang produser asal Perancis menemukan bakat mereka di jalanan kota Kinshasa, Congo.
baca selengkapnya...
Film dokumenter ini bercerita tentang lima orang yang menderita lumpuh di bagian bawah tubuh yang dimotori oleh Ricky dan satu anak kecil, Roger, yang membentuk sebuah grup band Staff Benda Bilili (in English; See Beyond) di kota Kinshasa, Congo. Memakai instrumen ala kadarnya, plus alat musik buatan yang dibuat oleh Roger (kaleng susu, sebatang kayu, dan seutas senar yang berbunyi seperti gitar), mereka memiliki mimpi untuk menggelar konser dan didengar di Eropa. Dibantu oleh produser musik asal Perancis, mereka yang keseharian hanya tidur beralaskan kardus dan beratapkan langit ini pun mencoba meraih mimpi mereka untuk mempertunjukkan musik mereka di depan 8000 orang di Eropa.
Handicapable. Rasanya kata itu yang muncul di dalam kepala gue ketika gue menonton film ini. Entah berapa kali gue dibuat merasakan cinematic-orgasm (baca: merinding) melihat perjuangan Ricky dan kawan-kawan ini dalam menggapai mimpinya. Untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain, mereka menggunakan semacam sepeda yang dikayuh menggunakan tangan (tidak ada kursi roda di belahan dunia ini), dan mereka pun menggunakan sisa dari tubuh mereka untuk membuat musik. Ya, mereka ini memang berbakat dalam bermusik dan mereka tidak menyia-nyiakan bakat mereka untuk menyambung nyawa. Musik yang mereka hasilkan pun terbilang unik; campuran antara Congolese Rumba, Cuban Jazz, dan funk a la James Brown. Tidak sempurnanya tubuh mereka tidak membuat orang-orang berbakat ini menyerah begitu saja pada kenyataan hidup, apalagi di tengah kondisi kota dan negara yang miskin. Dari musisi jalanan dan pengamen, ambisi untuk didengar musiknya oleh kalangan yang lebih luas pun muncul ketika seorang produser asal Perancis menemukan bakat mereka di jalanan kota Kinshasa, Congo.
baca selengkapnya...
Sobekan tiket bioskop tertanggal 24 Maret 2011 adalah The Eagle. Film epik jaman Romawi memang selalu menarik untuk ditonton. Apalagi kali ini cerita dalam film ini mengambil latar belakang tanah Britania Raya yang dijajah Romawi. Mumpung gue lagi berada disini, rasanya akan lebih menarik untuk menonton film ini bersama orang-orang lokal.
Di tahun 140, dua puluh tahun setelah hilangnya The Ninth Legion di pegunungan Skotlandia, Marcus Aquila (Channing Tatum) dari Roma tiba di Inggris untuk memimpin pasukan penjaga di tanah Britania Raya. Dengan maksud untuk memulihkan reputasi ayahnya yang memimpin The Ninth Legion, Marcus bersama budaknya, Esca (Jamie Bell) menuju utara tanah Britania Raya, melewati Hadrian's Wall untuk mencari emblem emas yang hilang, The Eagle of the Ninth. Ternyata pencarian itu tidak mudah ketika mereka dihadang oleh sekelompok suku pedalaman yang buas.
Entah kenapa ada beberapa perasaan aneh dan tak nyaman selama gue menonton film ini. Walaupun tidak terlalu signifikan, tapi entah kenapa gue cukup merasa aneh dengan aksen American-English dalam pasukan Romawi dalam film ini. Ini pasukan Romawi yang gagah berani dan menaklukkan hampir satu benua Eropa itu loh! Namun sutradara Kevin Macdonald yang kelahiran Glasgow pun cukup setia untuk memakai bahasa kuno Gaelic pada suku-suku pedalaman. Lalu garis besar film ini seakan ingin membanggakan kekuasaan Romawi yang sedang menjajah tanah Britania Raya pada waktu itu, ditambah dengan misi yang rada klise; menyelamatkan emblem emas sampai rela (bertahan hidup) membunuhi penduduk asli. Ini bangsa penjajah loh. Suatu hal yang sangat bertolak belakang dari apa yang ingin diperlihatkan oleh film Avatar atau District 9.
baca selengkapnya...
Di tahun 140, dua puluh tahun setelah hilangnya The Ninth Legion di pegunungan Skotlandia, Marcus Aquila (Channing Tatum) dari Roma tiba di Inggris untuk memimpin pasukan penjaga di tanah Britania Raya. Dengan maksud untuk memulihkan reputasi ayahnya yang memimpin The Ninth Legion, Marcus bersama budaknya, Esca (Jamie Bell) menuju utara tanah Britania Raya, melewati Hadrian's Wall untuk mencari emblem emas yang hilang, The Eagle of the Ninth. Ternyata pencarian itu tidak mudah ketika mereka dihadang oleh sekelompok suku pedalaman yang buas.
Entah kenapa ada beberapa perasaan aneh dan tak nyaman selama gue menonton film ini. Walaupun tidak terlalu signifikan, tapi entah kenapa gue cukup merasa aneh dengan aksen American-English dalam pasukan Romawi dalam film ini. Ini pasukan Romawi yang gagah berani dan menaklukkan hampir satu benua Eropa itu loh! Namun sutradara Kevin Macdonald yang kelahiran Glasgow pun cukup setia untuk memakai bahasa kuno Gaelic pada suku-suku pedalaman. Lalu garis besar film ini seakan ingin membanggakan kekuasaan Romawi yang sedang menjajah tanah Britania Raya pada waktu itu, ditambah dengan misi yang rada klise; menyelamatkan emblem emas sampai rela (bertahan hidup) membunuhi penduduk asli. Ini bangsa penjajah loh. Suatu hal yang sangat bertolak belakang dari apa yang ingin diperlihatkan oleh film Avatar atau District 9.
baca selengkapnya...
Sobekan tiket bioskop tertanggal 23 Maret 2011 adalah You Will Meet a Tall Dark Stranger. Film ini adalah karya terbaru dari pelakon sinema legenda, Woody Allen yang menulis dan menyutradarai film ini. Tidak tanggung-tanggung barisan aktor-aktris papan atas pun meramaikan casting dalam film ini. Sebut saja Naomi Watts, Anthony Hopkins, Josh Brolin, Antonio Banderas, Freida Pinto, Gemma Jones, dan Lucy Punch. Kombinasi aktor-aktris ini dengan nama Woody Allen pun rasanya akan sangat sayang untuk melewatkan film ini.
Cerita berpusat pada sepasang suami istri, Alfie (Hopkins) dan Helena (Jones), dan anak mereka Sally (Watts) dan suaminya Roy (Brolin) ketika hasrat, ambisi, dan kecemasan mereka membawa mereka pada masalah. Ketika Alfie meninggalkan Helena demi wanita yang lebih muda, Charmaine (Punch), Helena pun meninggalkan rasionalitas dan percaya pada setiap ramalan dari seorang peramal. Sally yang tidak bahagia dengan pernikahannya pun memendam ketertarikan pada bosnya, Greg (Banderas). Sementara Roy yang seorang penulis yagn sedang menunggu kabar tentang penerbitan bukunya, tertarik pada Dia (Pinto) yang dia lihat lewat jendela apartemennya.
Rasanya tidak perlu menonton semua film karya Woody Allen untuk mengetahui ciri khas dari film-film beliau. Dari Match Point dan Vicky Christina Barcelona saja (ditambah film ini), gue sudah bisa menebak rasanya memang seorang Woody Allen senang untuk membawakan kisah cinta segitiga dengan berbagai situasi dan kondisi. Namun kali ini, sutradara dan penulis naskah kelahiran New York ini kembali mengambil setting London untuk mengisahkan empat karakter yang memiliki hubungan cinta dengan orang lain disamping komitmennya.
baca selengkapnya...
Cerita berpusat pada sepasang suami istri, Alfie (Hopkins) dan Helena (Jones), dan anak mereka Sally (Watts) dan suaminya Roy (Brolin) ketika hasrat, ambisi, dan kecemasan mereka membawa mereka pada masalah. Ketika Alfie meninggalkan Helena demi wanita yang lebih muda, Charmaine (Punch), Helena pun meninggalkan rasionalitas dan percaya pada setiap ramalan dari seorang peramal. Sally yang tidak bahagia dengan pernikahannya pun memendam ketertarikan pada bosnya, Greg (Banderas). Sementara Roy yang seorang penulis yagn sedang menunggu kabar tentang penerbitan bukunya, tertarik pada Dia (Pinto) yang dia lihat lewat jendela apartemennya.
Rasanya tidak perlu menonton semua film karya Woody Allen untuk mengetahui ciri khas dari film-film beliau. Dari Match Point dan Vicky Christina Barcelona saja (ditambah film ini), gue sudah bisa menebak rasanya memang seorang Woody Allen senang untuk membawakan kisah cinta segitiga dengan berbagai situasi dan kondisi. Namun kali ini, sutradara dan penulis naskah kelahiran New York ini kembali mengambil setting London untuk mengisahkan empat karakter yang memiliki hubungan cinta dengan orang lain disamping komitmennya.
baca selengkapnya...
Sobekan tiket bioskop tertanggal 22 Maret 2011 adalah Submarine. Film ini masuk dalam line-up Glasgow Film Festival kemarin, dan beruntungnya kembali ditayangkan secara komersil. Tidak perlu berpikir panjang bagi gue untuk memutuskan menonton film ini; dengan sinopsis yang mengundang dan trailer yang menjanjikan.
Di Wales, seorang pelajar berusia 15 tahun, Oliver Tate, memiliki dua keinginan terdalam dalam hidupnya: 1. kehilangan keperjakaan sebelum ulang tahun berikutnya dan 2. menyelamatkan perkawinan orangtuanya ketika mantan kekasih ibunya hadir di tengah-tengah mereka.
Film yang ajaib ini ternyata diluar ekspektasi gue. Penonton serasa dijejalkan untuk memasuki kepala seorang Oliver Tate yang memiliki tingkat kecemasan diatas rata-rata normal dan mempersepsikan dunia dengan caranya sendiri. Gaya pengambilan gambar dan gaya editing pun seakan mengikuti jalan pikiran Oliver Tate, yang cukup random dan nyentrik untuk remaja seumurannya. Dengan jalan cerita dan "misi" yang cukup sederhana (di mata orang dewasa), namun film ini berhasil membuat misi tersebut menjadi lucu, kocak, memancing rasa penasaran, sekaligus menegangkan untuk diikuti.
baca selengkapnya...
Di Wales, seorang pelajar berusia 15 tahun, Oliver Tate, memiliki dua keinginan terdalam dalam hidupnya: 1. kehilangan keperjakaan sebelum ulang tahun berikutnya dan 2. menyelamatkan perkawinan orangtuanya ketika mantan kekasih ibunya hadir di tengah-tengah mereka.
Film yang ajaib ini ternyata diluar ekspektasi gue. Penonton serasa dijejalkan untuk memasuki kepala seorang Oliver Tate yang memiliki tingkat kecemasan diatas rata-rata normal dan mempersepsikan dunia dengan caranya sendiri. Gaya pengambilan gambar dan gaya editing pun seakan mengikuti jalan pikiran Oliver Tate, yang cukup random dan nyentrik untuk remaja seumurannya. Dengan jalan cerita dan "misi" yang cukup sederhana (di mata orang dewasa), namun film ini berhasil membuat misi tersebut menjadi lucu, kocak, memancing rasa penasaran, sekaligus menegangkan untuk diikuti.
baca selengkapnya...
Sobekan tiket bioskop tertanggal 16 Maret 2011 adalah The Resident. Dari melihat trailer-nya, gue menduga film ini akan mirip-mirip Panic Room. Apalagi nama Hilary Swank yang menghiasi film ini turut memancing rasa penasaran gue.
Seorang dokter bedah, Juliet Devereau, pindah ke sebuah apartemen baru dan bertemu dengan tuan tanah yang ganteng, Max. Lama kelamaan, Juliet menyadari bahwa Max mengembangkan obsesi yang aneh dan mengerikan terhadap Juliet.
Kacrut. Itu sih kata pertama yang muncul di kepala gue setelah selesai nonton film ini. Entah kenapa seorang pemenang dua kali Oscar, Hilary Swank, rela untuk bermain di film thriller abal-abal seperti ini. Cerita yang diangkat memang menarik, tapi terlalu biasa, aneh, dan menjijikkan untuk diangkat ke dalam sebuah layar lebar.
baca selengkapnya...
Seorang dokter bedah, Juliet Devereau, pindah ke sebuah apartemen baru dan bertemu dengan tuan tanah yang ganteng, Max. Lama kelamaan, Juliet menyadari bahwa Max mengembangkan obsesi yang aneh dan mengerikan terhadap Juliet.
Kacrut. Itu sih kata pertama yang muncul di kepala gue setelah selesai nonton film ini. Entah kenapa seorang pemenang dua kali Oscar, Hilary Swank, rela untuk bermain di film thriller abal-abal seperti ini. Cerita yang diangkat memang menarik, tapi terlalu biasa, aneh, dan menjijikkan untuk diangkat ke dalam sebuah layar lebar.
baca selengkapnya...
Sobekan tiket bioskop tertanggal 13 Maret 2011 adalah Fair Game. Terus terang, dari sinopsis dan trailer yang ditawarkan rasanya kurang menarik perhatian gue. Mungkin karena gue sudah terlalu kenyang dengan film-film mata-mata, apalagi yang memakai nama CIA dengan latar AS. Hanya duet cast-nya saja yang menggelitik rasa penasaran gue untuk akhirnya membeli tiket bioskop untuk film ini. Reuni antara Naomi Watts dengan Sean Penn setelah 21 Grams? Jelas sayang untuk dilewatkan.
Valerie Plame (Watts) adalah seorang agen CIA yang sedang dalam penyamaran untuk mencari bukti adanya WMD (Weapon of Mass Destruction) yang ada di Irak. Sementara suaminya, Joe Wilson, adalah mantan duta besar AS untuk Irak yang telah kembali dan tinggal di AS. Pasca-penyerangan 9/11 ketika pemerintahan Bush sedang membangun argumentasi untuk menyerang Irak dan menjatuhkan Saddam Hussein, Joe Wilson menerbitkan artikel di New York Times yang kontroversial. Dalam artikel tersebut, Joe Wilson menyatakan bahwa Bush dan pemerintahannya telah memanipulasi hasil data intelegen akan WMD sebagai justifikasi untuk menyerang Irak. Tentu saja Gedung Putih tidak tinggal diam dikritik dan dipertanyakan seperti itu, mereka pun membuka identitas Valerie Plame yang lalu membahayakan dirinya dan keluarganya. Jalan cerita pun berkembang dengan bagaimana pasangan Plame dan Wilson yang mati-matian berjuang untuk mempertahankan kebenaran, apapun itu arti dari kebenaran.
Datang dengan ekspektasi rendah dan siap menerima apa saja yang akan terjadi, ternyata malah membuat gue keluar bioskop dengan tersenyum puas. Cerita yang (ternyata) diadaptasi dari buku memoir "Fair Game: My Life as a Spy, My Betrayal by the White House" yang ditulis sendiri oleh Valerie Plame ini benar-benar tajam dan menggelitik. Nyata-nyatanya terjadi di tahun 2003 yang membuat gue cukup ngeri akan orang-orang yang berada di dalam Gedung Putih itu. Meminjam satu quote dalam film ini merujuk pada Gedung Putih; "those men are the most powerful people in the history".
baca selengkapnya...
Valerie Plame (Watts) adalah seorang agen CIA yang sedang dalam penyamaran untuk mencari bukti adanya WMD (Weapon of Mass Destruction) yang ada di Irak. Sementara suaminya, Joe Wilson, adalah mantan duta besar AS untuk Irak yang telah kembali dan tinggal di AS. Pasca-penyerangan 9/11 ketika pemerintahan Bush sedang membangun argumentasi untuk menyerang Irak dan menjatuhkan Saddam Hussein, Joe Wilson menerbitkan artikel di New York Times yang kontroversial. Dalam artikel tersebut, Joe Wilson menyatakan bahwa Bush dan pemerintahannya telah memanipulasi hasil data intelegen akan WMD sebagai justifikasi untuk menyerang Irak. Tentu saja Gedung Putih tidak tinggal diam dikritik dan dipertanyakan seperti itu, mereka pun membuka identitas Valerie Plame yang lalu membahayakan dirinya dan keluarganya. Jalan cerita pun berkembang dengan bagaimana pasangan Plame dan Wilson yang mati-matian berjuang untuk mempertahankan kebenaran, apapun itu arti dari kebenaran.
Datang dengan ekspektasi rendah dan siap menerima apa saja yang akan terjadi, ternyata malah membuat gue keluar bioskop dengan tersenyum puas. Cerita yang (ternyata) diadaptasi dari buku memoir "Fair Game: My Life as a Spy, My Betrayal by the White House" yang ditulis sendiri oleh Valerie Plame ini benar-benar tajam dan menggelitik. Nyata-nyatanya terjadi di tahun 2003 yang membuat gue cukup ngeri akan orang-orang yang berada di dalam Gedung Putih itu. Meminjam satu quote dalam film ini merujuk pada Gedung Putih; "those men are the most powerful people in the history".
baca selengkapnya...
Sobekan tiket bioskop tertanggal 12 Maret 2011 adalah The Company Men. Tidak ada alasan khusus mengapa gue tertarik untuk menonton film ini selain karena posternya yang menarik. Ketertarikan itu juga didukung oleh barisan cast yang lumayan menjanjikan, sebut saja Ben Affleck, Chris Cooper, Kevin Costner, dan Tommy Lee Jones.
Disaat resesi ekonomi melanda AS di tahun 2010, sebuah perusahaan besar harus memecat ribuan karyawan. Bobby Walker (Affleck) seorang pekerja level menengah keatas, Phil Woodward (Cooper) yang berada di level manajemen, dan Gene McClary (Jones) yang seorang vice president pada perusahaan tersebut. Lihat bagaimana ketiga orang ini menghadapi pemecatan dan perubahan drastis pada hidup mereka.
Ini adalah sebuah film yang cukup menyeluruh dalam menggambarkan jungkir-baliknya kehidupan seorang pekerja kerah putih yang telah settled, bergaji tinggi, dan terbilang sukses. Walaupun fiksi, tapi gue yakin kejadian-kejadian yang dialami oleh ketiga karakter kita kurang lebih terjadi pada ribuan pekerja yang terkena pemecatan massal akibat resesi global yang terjadi di tahun 2010. Mungkin film ini bisa dibilang adalah cerita versi naratifnya tentang para korban resesi ekonomi dari dokumenternya Michael Moore, Capitalism: A Love Story.
baca selengkapnya...
Disaat resesi ekonomi melanda AS di tahun 2010, sebuah perusahaan besar harus memecat ribuan karyawan. Bobby Walker (Affleck) seorang pekerja level menengah keatas, Phil Woodward (Cooper) yang berada di level manajemen, dan Gene McClary (Jones) yang seorang vice president pada perusahaan tersebut. Lihat bagaimana ketiga orang ini menghadapi pemecatan dan perubahan drastis pada hidup mereka.
Ini adalah sebuah film yang cukup menyeluruh dalam menggambarkan jungkir-baliknya kehidupan seorang pekerja kerah putih yang telah settled, bergaji tinggi, dan terbilang sukses. Walaupun fiksi, tapi gue yakin kejadian-kejadian yang dialami oleh ketiga karakter kita kurang lebih terjadi pada ribuan pekerja yang terkena pemecatan massal akibat resesi global yang terjadi di tahun 2010. Mungkin film ini bisa dibilang adalah cerita versi naratifnya tentang para korban resesi ekonomi dari dokumenternya Michael Moore, Capitalism: A Love Story.
baca selengkapnya...
Sobekan tiket bioskop tertanggal 11 Maret 2011 adalah Battle: Los Angeles. Sepertinya Hollywood tidak bosan-bosannya membuat film tentang invasi alien. Apalagi gue masih sedikit "trauma" dengan Skyline yang gue tonton sekitar empat bulan yang lalu, yang hanya pamer efek visual semata. Namun berhubung gue belum pupus harapan akan film-film senada, gue ingin memberikan kesempatan kepada film yang dibintangi oleh Aaron Eckhart ini. Walaupun dengan trailer yang menjanjikan dan cukup dramatis, rasanya lebih aman jika gue menonton dengan ekspektasi yang tidak terlalu tinggi.
Jalan cerita utama dalam ini sangat sederhana. Sekelompok prajurit marinir harus mengerahkan kekuatan terbaik mereka untuk mempertahankan kota Los Angeles yang diserbu oleh alien. Ketika manusia kalah oleh kuantitas armada alien dan kualitas teknologi yang ada, maka hanya ada satu hal yang menjadi satu-satunya pertahanan terakhir umat manusia; determinasi.
Lima belas tahun semenjak Independence Day menyerbu Washington D.C. dan menghancurkan Gedung Putih, baru film ini yang berani untuk kembali mengambil sudut pandang tentara dalam menghadapi serbuan alien ke bumi. Selama ini kita telah disuguhi berbagai sudut pandang dalam menghadapi kedatangan alien; seorang pendeta dan keluarganya di sebuah desa kecil (Signs), seorang anak muda bersama teman-temannya (Cloverfield), warga pekerja beserta anaknya (War of the Worlds), dan yang lainnya. Rasanya akan cukup segar jika menampilkan kembali para tentara yang gagah berani yang bertempur di garis depan melawan kekuatan asing yang mengerikan. Selain mengkategorikan film ini sebagai film invasi alien, rasanya gue bisa saja mengkategorikan film ini sebagai film perang sejajar dengan Saving Private Ryan atau Band of Brothers - walaupun musuhnya bukan sesama manusia.
baca selengkapnya...
Jalan cerita utama dalam ini sangat sederhana. Sekelompok prajurit marinir harus mengerahkan kekuatan terbaik mereka untuk mempertahankan kota Los Angeles yang diserbu oleh alien. Ketika manusia kalah oleh kuantitas armada alien dan kualitas teknologi yang ada, maka hanya ada satu hal yang menjadi satu-satunya pertahanan terakhir umat manusia; determinasi.
Lima belas tahun semenjak Independence Day menyerbu Washington D.C. dan menghancurkan Gedung Putih, baru film ini yang berani untuk kembali mengambil sudut pandang tentara dalam menghadapi serbuan alien ke bumi. Selama ini kita telah disuguhi berbagai sudut pandang dalam menghadapi kedatangan alien; seorang pendeta dan keluarganya di sebuah desa kecil (Signs), seorang anak muda bersama teman-temannya (Cloverfield), warga pekerja beserta anaknya (War of the Worlds), dan yang lainnya. Rasanya akan cukup segar jika menampilkan kembali para tentara yang gagah berani yang bertempur di garis depan melawan kekuatan asing yang mengerikan. Selain mengkategorikan film ini sebagai film invasi alien, rasanya gue bisa saja mengkategorikan film ini sebagai film perang sejajar dengan Saving Private Ryan atau Band of Brothers - walaupun musuhnya bukan sesama manusia.
baca selengkapnya...
Sobekan tiket bioskop tertanggal 6 Maret 2011 adalah The Adjustment Bureau. Film ketiga yang dibintangi oleh Matt Damon di tahun 2011 ini sulit untuk gue lewatkan karena gue sangat tertarik dengan ide cerita yang ditawarkan. Tidak saja ide cerita yang unik dan menarik, tapi karena kehadiran Emily Blunt yang selalu membuat gue klepek-klepek *halah*.
Hampir memenangkan kursi sebagai senator, politisi David Norris (Damon) bertemu dengan gadis balerina cantik, Elise (Blunt). Namun ketika David menyadari bahwa pikiran dan perasaannya tidak pernah lepas dari Elise, sekelompok orang berjas mulai mencoba untuk memisahkan mereka berdua. Ternyata, David berhadapan dengan "The Adjusment Bureau", agen-agen takdir yang akan melakukan apa saja dengan kekuatan mereka untuk memastikan seseorang menjalani rencana yang telah ditentukan. Sayangnya, dalam rencana takdir dari David, dia tidak seharusnya bertemu dan menjalin hubungan dengan Elise. Dihadapkan pada situasi sulit tersebut, David harus memilih apakah harus melepaskan Elise demi menjalani takdir yang telah dituliskan atau melawan takdir untuk dapat bersama cintanya.
Benar saja dugaan gue, debat lama "free will vs fate" ini selalu menarik untuk diangkat ke layar lebar. Kisah romansa yang didukung oleh takdir bahwa mereka akan bersama mungkin cukup sering diangkat, salah satunya contohnya adalah A Lot Like Love. Namun seorang pria dan wanita yang tidak ditakdirkan untuk bertemu dan memiliki hubungan, ternyata berjalan tidak sesuai "rencana yang telah dituliskan" dan mati-matian membela cinta mereka demi free will? Menonton film ini seakan campuran antara Serendipity, Minority Report, dan Enemy of the States. Betul, kisah romansa yang diberi bumbu action-thriller untuk memberi penekanan tersendiri pada hubungan cinta David dengan Elise. Yang menjadi menarik (dan menurut gue kocak) adalah bagaimana si agen-agen takdir ini berusaha sedemikian rupa agar David dan Elise tidak bertemu lagi satu sama lain, bahkan hanya untuk sekedar ciuman.
baca selengkapnya...
Hampir memenangkan kursi sebagai senator, politisi David Norris (Damon) bertemu dengan gadis balerina cantik, Elise (Blunt). Namun ketika David menyadari bahwa pikiran dan perasaannya tidak pernah lepas dari Elise, sekelompok orang berjas mulai mencoba untuk memisahkan mereka berdua. Ternyata, David berhadapan dengan "The Adjusment Bureau", agen-agen takdir yang akan melakukan apa saja dengan kekuatan mereka untuk memastikan seseorang menjalani rencana yang telah ditentukan. Sayangnya, dalam rencana takdir dari David, dia tidak seharusnya bertemu dan menjalin hubungan dengan Elise. Dihadapkan pada situasi sulit tersebut, David harus memilih apakah harus melepaskan Elise demi menjalani takdir yang telah dituliskan atau melawan takdir untuk dapat bersama cintanya.
Benar saja dugaan gue, debat lama "free will vs fate" ini selalu menarik untuk diangkat ke layar lebar. Kisah romansa yang didukung oleh takdir bahwa mereka akan bersama mungkin cukup sering diangkat, salah satunya contohnya adalah A Lot Like Love. Namun seorang pria dan wanita yang tidak ditakdirkan untuk bertemu dan memiliki hubungan, ternyata berjalan tidak sesuai "rencana yang telah dituliskan" dan mati-matian membela cinta mereka demi free will? Menonton film ini seakan campuran antara Serendipity, Minority Report, dan Enemy of the States. Betul, kisah romansa yang diberi bumbu action-thriller untuk memberi penekanan tersendiri pada hubungan cinta David dengan Elise. Yang menjadi menarik (dan menurut gue kocak) adalah bagaimana si agen-agen takdir ini berusaha sedemikian rupa agar David dan Elise tidak bertemu lagi satu sama lain, bahkan hanya untuk sekedar ciuman.
baca selengkapnya...
Sobekan tiket bioskop tertanggal 5 Maret 2011 adalah Rango. Akhirnya Johnny Depp kembali mengisi suara dalam film animasi, setelah terakhir kali adalah enam tahun lalu dalam Corpse Bride. Sebagai orang yang selalu mengikuti rekan jejak film-film Depp, sulit rasanya bagi gue untuk melewatkan film ini. Film animasi memang banyak, tapi hanya sedikit yang benar-benar bagus dan layak ditonton. Apalagi dalam film ini, Depp kembali reuni dengan sutradara trilogi Pirates of the Caribbean, Gore Verbinski.
Rango adalah seorang bunglon piaraan yang secara tidak sengaja, akuarium tempat tinggal dia terjatuh di jalan di tengah Gurun Mojave. Semasa hidupnya, Rango adalah seorang (sebunglon?) yang mengalami krisis identitas, hanya pandai berakting dan membayangkan dirinya dalam berbagai skenario petualangan yang ada, walaupun selalu mendambakan petualangan yang sungguhan. Siapa sangka petualangan sungguhan itu benar-benar terjadi - siap atau tidak - di sebuah kota koboy a la wild west.
Dari semua trailer yang ada, menyembunyikan plot utamanya, yang menurut gue adalah sebuah keputusan yang brilian. Maka gue juga akan berusaha untuk menyamakan maksud dari si pembuat film dengan menulis ulasan yang "serupa" dengan trailernya.
Lagi jaman kali yah sutradara film-film action yang mencoba untuk menyutradarai film animasi. Zack Snyder telah membuktikan bahwa dirinya tidak hanya ahli menyutradari film-film aksi yang kaya visual, tapi ternyata juga piawai dalam mengarahkan film animasi burung hantu. Kini, saatnya Gore Verbinski untuk mencoba peruntungan, dengan dibantu oleh industri efek visualnya Industrial Light & Magic-nya George Lucas, yang juga menjadi film animasi pertama mereka. Bekerja sama dengan Nickelodeon dan didukung oleh aktor dan aktris papan atas macam Johnny Depp, Isla Fisher, Abigail Breslin, Ned Beatty (ingat si beruang pink jahat Lotso?), dan Bill Nighy. Hasilnya? Luar biasa.
baca selengkapnya...
Rango adalah seorang bunglon piaraan yang secara tidak sengaja, akuarium tempat tinggal dia terjatuh di jalan di tengah Gurun Mojave. Semasa hidupnya, Rango adalah seorang (sebunglon?) yang mengalami krisis identitas, hanya pandai berakting dan membayangkan dirinya dalam berbagai skenario petualangan yang ada, walaupun selalu mendambakan petualangan yang sungguhan. Siapa sangka petualangan sungguhan itu benar-benar terjadi - siap atau tidak - di sebuah kota koboy a la wild west.
Dari semua trailer yang ada, menyembunyikan plot utamanya, yang menurut gue adalah sebuah keputusan yang brilian. Maka gue juga akan berusaha untuk menyamakan maksud dari si pembuat film dengan menulis ulasan yang "serupa" dengan trailernya.
Lagi jaman kali yah sutradara film-film action yang mencoba untuk menyutradarai film animasi. Zack Snyder telah membuktikan bahwa dirinya tidak hanya ahli menyutradari film-film aksi yang kaya visual, tapi ternyata juga piawai dalam mengarahkan film animasi burung hantu. Kini, saatnya Gore Verbinski untuk mencoba peruntungan, dengan dibantu oleh industri efek visualnya Industrial Light & Magic-nya George Lucas, yang juga menjadi film animasi pertama mereka. Bekerja sama dengan Nickelodeon dan didukung oleh aktor dan aktris papan atas macam Johnny Depp, Isla Fisher, Abigail Breslin, Ned Beatty (ingat si beruang pink jahat Lotso?), dan Bill Nighy. Hasilnya? Luar biasa.
baca selengkapnya...
Sobekan tiket bioskop tertanggal 5 Maret 2011 adalah Unknown. Setelah cukup bosan melihat trailernya ratusan kali (ini salah gue juga sih, siapa suruh sering nonton bioskop), akhirnya gue putuskan juga untuk menonton film ini. Bukan karena Liam Neeson, tapi siapa lagi kalau bukan si mantan model cantik asal Jerman Diane Kruger.
Dr. Martin Harris adalah seorang ilmuwan di bidang bioteknologi asal AS yang sedang menghadiri konferensi di Berlin bersama istrinya. Taksi yang ditumpanginya di Berlin mengalami kecelakaan dan membuat Martin koma selama empat hari. Sebangunnya dari koma, Martin menemukan bahwa kota Berlin menjadi kosong melompong dan semua penduduknya telah menjadi zombie. Eh salah ding, itu mah sinopsis film lain. Sebangunnya dari koma, Martin yang menderita trauma kepala dan short term memory loss menemukan bahwa istrinya tidak mengenali dia. Bukan saja istrinya, tapi "tempat"nya sebagai Dr. Martin Harris telah diisi oleh pria lain. Dibantu dengan supir taksi imigran yang waktu itu terlibat kecelakaan dengannya, Martin mencoba untuk menguak apa yang sedang terjadi dan kenapa ada orang lain yang mau menggantikan tempatnya.
Tiga perempat film ini cukup membuat gue merasa bahwa ini adalah film action-thriller yang biasa saja. Namun ada satu adegan yang membuat gue merubah pandangan gue tersebut, dan menjadikan film ini berbeda karena ide cerita yang unik dan cerdas. Namun setelah adegan tersebut, seperempat terakhir film ini pun kembali menjadi film action-thriller biasa saja. Film yang diangkat dari novel karya sastrawan Jerman ini memang menawarkan premis tentang identitas yang dicuri, walaupun ada plot cerita yang berbeda. Namun tampaknya si plot ini seakan hanya menjadi tempelan saja untuk membedakan film ini dari film-film sejenis.
baca selengkapnya...
Dr. Martin Harris adalah seorang ilmuwan di bidang bioteknologi asal AS yang sedang menghadiri konferensi di Berlin bersama istrinya. Taksi yang ditumpanginya di Berlin mengalami kecelakaan dan membuat Martin koma selama empat hari. Sebangunnya dari koma, Martin menemukan bahwa kota Berlin menjadi kosong melompong dan semua penduduknya telah menjadi zombie. Eh salah ding, itu mah sinopsis film lain. Sebangunnya dari koma, Martin yang menderita trauma kepala dan short term memory loss menemukan bahwa istrinya tidak mengenali dia. Bukan saja istrinya, tapi "tempat"nya sebagai Dr. Martin Harris telah diisi oleh pria lain. Dibantu dengan supir taksi imigran yang waktu itu terlibat kecelakaan dengannya, Martin mencoba untuk menguak apa yang sedang terjadi dan kenapa ada orang lain yang mau menggantikan tempatnya.
Tiga perempat film ini cukup membuat gue merasa bahwa ini adalah film action-thriller yang biasa saja. Namun ada satu adegan yang membuat gue merubah pandangan gue tersebut, dan menjadikan film ini berbeda karena ide cerita yang unik dan cerdas. Namun setelah adegan tersebut, seperempat terakhir film ini pun kembali menjadi film action-thriller biasa saja. Film yang diangkat dari novel karya sastrawan Jerman ini memang menawarkan premis tentang identitas yang dicuri, walaupun ada plot cerita yang berbeda. Namun tampaknya si plot ini seakan hanya menjadi tempelan saja untuk membedakan film ini dari film-film sejenis.
baca selengkapnya...
Sobekan tiket bioskop tertanggal 4 Maret 2011 adalah The Rite. Kalau tidak ada nama Anthony Hopkins dalam film ini, mungkin gue akan melewati film ini dengan mudah seperti gue melewatkan The Last Exorcism. Gue sudah cukup capek dan muak dengan film-film bertemakan exorcism tapi hanya menawarkan cerita dan formula yang sama. Apalagi yang sok-sok membawa iman dan kepercayaan padahal hanya pamer efek visual dan kaget-kagetan horor saja.
Alkisah seorang seminari asal Amerika, Michael Kovak (Colin O'Donoghue), yang sedang kehilangan iman kepercayaannya dan ingin keluar dari seminari, dikirim ke Vatikan untuk mengikuti kursus pengusiran setan. Di Vatikan, Michael Kovak bertemu dengan Romo Lucas (Anthony Hopkins) yang telah banyak makan asam garam dalam hal eksorsisme. Bersama Romo Lucas, Michael Kovak mempertanyakan kembali iman kepercayaannya dan mengulas kembali ketidakpercayaannya terhadap iblis.
Walaupun diberi label "inspired by true events", cerita dalam film ini sangat familiar. Seorang rohaniwan (walaupun bukan seorang pastor) yang sedang mempertanyakan kembali keyakinannya, "dipaksa" berhadapan langsung dengan iblis, dan kemudian mengulas kembali tentang iman kepercayaannya. The Exorcist beserta prekuel dan sekuelnya telah mengangkat tema yang sama. Gue memang tidak meragukan label "inspired by true events" ini karena gue tahu bahwa kejadian kerasukan setan itu memang nyata terjadi di dunia yang kita pijak sekarang ini. Tapi dari segi film, gue cukup kecewa dengan film ini.
baca selengkapnya...
Alkisah seorang seminari asal Amerika, Michael Kovak (Colin O'Donoghue), yang sedang kehilangan iman kepercayaannya dan ingin keluar dari seminari, dikirim ke Vatikan untuk mengikuti kursus pengusiran setan. Di Vatikan, Michael Kovak bertemu dengan Romo Lucas (Anthony Hopkins) yang telah banyak makan asam garam dalam hal eksorsisme. Bersama Romo Lucas, Michael Kovak mempertanyakan kembali iman kepercayaannya dan mengulas kembali ketidakpercayaannya terhadap iblis.
Walaupun diberi label "inspired by true events", cerita dalam film ini sangat familiar. Seorang rohaniwan (walaupun bukan seorang pastor) yang sedang mempertanyakan kembali keyakinannya, "dipaksa" berhadapan langsung dengan iblis, dan kemudian mengulas kembali tentang iman kepercayaannya. The Exorcist beserta prekuel dan sekuelnya telah mengangkat tema yang sama. Gue memang tidak meragukan label "inspired by true events" ini karena gue tahu bahwa kejadian kerasukan setan itu memang nyata terjadi di dunia yang kita pijak sekarang ini. Tapi dari segi film, gue cukup kecewa dengan film ini.
baca selengkapnya...
Sobekan tiket bioskop tertanggal 3 Maret 2011 adalah I Am Number Four. Entah apa yang merasuki gue untuk mau menonton film ini. Tidak ada aktor/aktris yang tenar, sinopsis yang lagi-lagi lagu lama, dan trailer yang kurang menjanjikan. Tapi harus gue akui terkadang gue memang butuh untuk nonton film-film ringan seperti ini.
John Smith adalah seorang remaja yang tidak seperti remaja-remaja normal kebanyakan. Dia adalah seorang pelarian yang dikejar-kejar oleh musuh yang ingin membunuhnya. Hidup John pun hanya berputar dari satu kota ke kota lain dan berganti-ganti identitas untuk menghindari kejaran musuhnya. Namun di sebuah kota kecil di Ohio, kali ini John menemukan bahwa dirinya memiliki kekuatan super, bertemu dengan cinta pertamanya, dan bertemu juga dengan orang lain yang bernasib sama dan memiliki kekuatan super yang lain dari dirinya.
Datang dengan ekspektasi serendah mungkin, ternyata gue keluar bioskop dengan keadaan yang cukup terhibur. Jalan cerita memang sederhana dan sudah banyak berderet film-film serupa. Film remaja yang memiliki kekuatan super, jatuh cinta, lalu mengalahkan musuh utama? Spiderman, Superman, Jumper, Sorcerer's Apprentice, Push, dkk. Semua film setipe pun didukung oleh visual efek yang canggih. Lalu apa yang berbeda dengan film ini? Tidak ada. Kekuatan super memang boleh berbeda, tapi jalan cerita sangat patuh pada formula film-film setipe. Tapi entah kenapa gue cukup terhibur dengan adegan-adegan pertarungan yang ada. Rasanya udah lama aja engga menonton film-film seperti ini.
baca selengkapnya...
John Smith adalah seorang remaja yang tidak seperti remaja-remaja normal kebanyakan. Dia adalah seorang pelarian yang dikejar-kejar oleh musuh yang ingin membunuhnya. Hidup John pun hanya berputar dari satu kota ke kota lain dan berganti-ganti identitas untuk menghindari kejaran musuhnya. Namun di sebuah kota kecil di Ohio, kali ini John menemukan bahwa dirinya memiliki kekuatan super, bertemu dengan cinta pertamanya, dan bertemu juga dengan orang lain yang bernasib sama dan memiliki kekuatan super yang lain dari dirinya.
Datang dengan ekspektasi serendah mungkin, ternyata gue keluar bioskop dengan keadaan yang cukup terhibur. Jalan cerita memang sederhana dan sudah banyak berderet film-film serupa. Film remaja yang memiliki kekuatan super, jatuh cinta, lalu mengalahkan musuh utama? Spiderman, Superman, Jumper, Sorcerer's Apprentice, Push, dkk. Semua film setipe pun didukung oleh visual efek yang canggih. Lalu apa yang berbeda dengan film ini? Tidak ada. Kekuatan super memang boleh berbeda, tapi jalan cerita sangat patuh pada formula film-film setipe. Tapi entah kenapa gue cukup terhibur dengan adegan-adegan pertarungan yang ada. Rasanya udah lama aja engga menonton film-film seperti ini.
baca selengkapnya...
Sobekan tiket bioskop tertanggal 2 Maret 2011 adalah Son of Babylon. Film ini menjadi salah satu line-up dalam Glasgow Film Festival dan dengan membaca sinopsisnya saja sudah membuat gue tertarik. Sedikit mengingatkan gue akan Le Grand Voyage, tapi tentunya beda latar dan cerita. Mungkin karena jarang ada film road-trip dengan latar dunia timur tengah. Hal lain yang membuat gue tertarik adalah, sudah saatnya untuk melihat gambaran tentang perang Irak dari sudut pandang warga Irak itu sendiri.
Tiga minggu semenjak kejatuhan rezim Saddam Hussein, Ahmed bersama neneknya menempuh perjalanan panjang antar kota di negeri Irak untuk mencari ayah Ahmed yang tidak pernah pulang dari perang. Perjalanan yang tidak mudah, belum lagi dengan ketidakpastian tentang keberadaan ayah Ahmed yang juga anak dari si nenek.
Film ini benar-benar membawa sudut pandang yang jauh berbeda dari film-film tentang perang Irak buatan Hollywood. Selain dibuat oleh sineas Irak sendiri, film ini seperti ingin mengangkat akibat langsung dan tidak langsung dari serbuan AS dan sekutunya ke tanah Irak dan kejatuhan Saddam Hussein lewat perspektif Ahmed dan neneknya. Film drama pasca-perang ini cukup berani dan tegas dalam menggambarkan kehancuran fisik, mental, dan psikologis dari negeri Irak beserta penduduknya. Belum lagi film ini akan memperlihatkan fakta-fakta yang mungkin belum diketahui dunia sebelumnya.
baca selengkapnya...
Tiga minggu semenjak kejatuhan rezim Saddam Hussein, Ahmed bersama neneknya menempuh perjalanan panjang antar kota di negeri Irak untuk mencari ayah Ahmed yang tidak pernah pulang dari perang. Perjalanan yang tidak mudah, belum lagi dengan ketidakpastian tentang keberadaan ayah Ahmed yang juga anak dari si nenek.
Film ini benar-benar membawa sudut pandang yang jauh berbeda dari film-film tentang perang Irak buatan Hollywood. Selain dibuat oleh sineas Irak sendiri, film ini seperti ingin mengangkat akibat langsung dan tidak langsung dari serbuan AS dan sekutunya ke tanah Irak dan kejatuhan Saddam Hussein lewat perspektif Ahmed dan neneknya. Film drama pasca-perang ini cukup berani dan tegas dalam menggambarkan kehancuran fisik, mental, dan psikologis dari negeri Irak beserta penduduknya. Belum lagi film ini akan memperlihatkan fakta-fakta yang mungkin belum diketahui dunia sebelumnya.
baca selengkapnya...
Sobekan tiket bioskop tertanggal 2 Maret 2011 adalah No Strings Attached. Gue yang sudah terlanjur ngefans berat dengan Natalie Portman gara-gara Black Swan, rasanya sulit untuk melewatkan film ini. Dari trailer dan sinopsis, gue tahu film ini akan menjadi film rom-com ringan yang dapat dengan mudah dibandingkan dengan film-film sejenis. Namun yang membuat gue tertarik adalah, aktor watak macam Portman berani mengambil peran dalam film ringan seperti ini? Seperti apa jadinya nanti?
Adam (Ashton Kutcher) baru saja patah hati dan mendengar kabar menyakitkan tentang mantan pacarnya. Namun suatu hari ia bertemu dengan Emma (Natalie Portman), teman semasa kecilnya yang sepertinya tidak akan ada kesempatan bagi mereka untuk menjalin hubungan serius. Namun mereka tidak dapat menahan hasrat seks masing-masing dan akhirnya memutuskan untuk menjadi "sex friend" dengan berbagai aturan dasar yang salah satunya adalah dilarang jatuh cinta terhadap satu sama lain. Dapatkah mereka tetap menjadi teman sex tanpa saling jatuh cinta?
Sepertinya sudah pernah gue nyatakan bahwa gue bukanlah penggemar berat film komedi romantis, walaupun gue sudah menonton cukup banyak film-film dengan tema seperti itu. Tapi jujur, tidak ada hal baru yang ditawarkan dalam film ini. Love & Other Drugs dan A Little Bit of Heaven sudah lebih dulu mengangkat tema yang hampir mirip dengan film ini, walaupun dikemas dengan cara yang berbeda. Oke, dalam film ini memang kedua karakter kita diberikan latar belakang dan alasan untuk tidak mau jatuh cinta yang berbeda dengan film-film yang memiliki jalan cerita yang mirip. Tapi ya seperti film-film romcom lainnya, film ini sangat setia mengikuti formula film romcom; bertemu, jatuh cinta, berantem, sakit hati, rekonsiliasi. Ya ya ya. Tapi setidaknya bagi gue, cukup terhibur dengan penampilan Natalie Portman.
baca selengkapnya...
Adam (Ashton Kutcher) baru saja patah hati dan mendengar kabar menyakitkan tentang mantan pacarnya. Namun suatu hari ia bertemu dengan Emma (Natalie Portman), teman semasa kecilnya yang sepertinya tidak akan ada kesempatan bagi mereka untuk menjalin hubungan serius. Namun mereka tidak dapat menahan hasrat seks masing-masing dan akhirnya memutuskan untuk menjadi "sex friend" dengan berbagai aturan dasar yang salah satunya adalah dilarang jatuh cinta terhadap satu sama lain. Dapatkah mereka tetap menjadi teman sex tanpa saling jatuh cinta?
Sepertinya sudah pernah gue nyatakan bahwa gue bukanlah penggemar berat film komedi romantis, walaupun gue sudah menonton cukup banyak film-film dengan tema seperti itu. Tapi jujur, tidak ada hal baru yang ditawarkan dalam film ini. Love & Other Drugs dan A Little Bit of Heaven sudah lebih dulu mengangkat tema yang hampir mirip dengan film ini, walaupun dikemas dengan cara yang berbeda. Oke, dalam film ini memang kedua karakter kita diberikan latar belakang dan alasan untuk tidak mau jatuh cinta yang berbeda dengan film-film yang memiliki jalan cerita yang mirip. Tapi ya seperti film-film romcom lainnya, film ini sangat setia mengikuti formula film romcom; bertemu, jatuh cinta, berantem, sakit hati, rekonsiliasi. Ya ya ya. Tapi setidaknya bagi gue, cukup terhibur dengan penampilan Natalie Portman.
baca selengkapnya...
Sobekan tiket bioskop tertanggal 1 Maret 2011 adalah Never Let Me Go. Film ini memang sudah gue incar semenjak gue melihat posternya terpampang di berbagai sudut kota. Alasannya cukup simpel, semenjak Dr. Parnassus dan The Social Network, gue selalu suka dengan aktingnya Andrew Garfield. Belum lagi dalam film ini, dia akan beradu akting dengan Keira Knightley dan Carey Mulligan. Setelah gue tahu bahwa film ini adalah adaptasi novel dari Kazuo Ishiguro dan secara khusus direkomendasikan oleh teman gue, yang makin menambah ekspektasi gue untuk menonton film ini.
Kathy (Mulligan), Ruth (Knightley), Tommy (Garfield) menghabiskan masa kecil mereka bersama di sebuah sekolah yang cukup ketat di Inggris. Cinta segitiga diantara mereka pun tumbuh, sampai mereka beranjak dewasa. Namun mereka pun semakin menyadari akan kenyataan yang akan terjadi dalam jalan hidup mereka yang sudah ditentukan sejak lahir, yang akan menguji cinta dan hubungan diantara mereka bertiga.
Oke memang benar dugaan gue, film ini adalah tipikal film-film yang harus ditonton dengan mood dan feeling yang tepat. Walaupun fisik gue sedang tidak dalam keadaan fit, tapi gue cukup selamat dan bertahan di akhir film. Ini bukan film melodramatik yang pertama yang gue tonton, tapi entah kenapa gue merasa capek karena dari menit awal sampai akhir film, auranya negatif dan turun terus. Beruntung ada dua hal yang menyelamatkan gue untuk tidak mencap film ini membosankan; ide cerita yang menarik dan ketiga pemeran utama yang tampil brilian.
baca selengkapnya...
Kathy (Mulligan), Ruth (Knightley), Tommy (Garfield) menghabiskan masa kecil mereka bersama di sebuah sekolah yang cukup ketat di Inggris. Cinta segitiga diantara mereka pun tumbuh, sampai mereka beranjak dewasa. Namun mereka pun semakin menyadari akan kenyataan yang akan terjadi dalam jalan hidup mereka yang sudah ditentukan sejak lahir, yang akan menguji cinta dan hubungan diantara mereka bertiga.
Oke memang benar dugaan gue, film ini adalah tipikal film-film yang harus ditonton dengan mood dan feeling yang tepat. Walaupun fisik gue sedang tidak dalam keadaan fit, tapi gue cukup selamat dan bertahan di akhir film. Ini bukan film melodramatik yang pertama yang gue tonton, tapi entah kenapa gue merasa capek karena dari menit awal sampai akhir film, auranya negatif dan turun terus. Beruntung ada dua hal yang menyelamatkan gue untuk tidak mencap film ini membosankan; ide cerita yang menarik dan ketiga pemeran utama yang tampil brilian.
baca selengkapnya...
Sobekan tiket bioskop tertanggal 1 Maret 2011 adalah Animal Kingdom. Gue tahu tentang film ini sudah cukup lama, bahkan sempat masuk dalam line-up Glasgow Film Festival bulan lalu. Namun niat gue untuk menonton film ini terangkat karena baru sadar bahwa salah satu nominasi Aktris Pendukung Terbaik Oscar 2011 ternyata bermain dalam film ini, Jacki Weaver. Apalagi film ini dapat menambah referensi film-film gue asal Australia.
Joshua "J" Cody yang menyaksikan ibunya meninggal karena overdosis heroin, mau tidak mau tinggal bersama satu-satunya relatif keluarganya yaitu neneknya, Janine "Smurf" Cody. Smurf tinggal bersama ketiga anak laki-lakinya yang ternyata terlibat dalam perampokan bersenjata dan jual-beli obat bius. Dengan polisi yang terus menerus mengejar mereka, J pun terjebak diantara perseteruan dua kubu. Disaat hanya tersisa dua pilihan; membantu polisi atau membantu keluarganya sendiri, J mengambil tindakan yang tidak disangka-sangka.
Tadinya niatan gue hanya sebagai mengobati rasa penasaran tentang aktinya Jacki Weaver yang sampai bisa masuk nominasi Oscar. Tapi ternyata gue cukup menikmati film ini. Setengah film pertama memang terasa membosankan dan membuat gue menguap beberapa kali. Sampai di seperempat terakhir film pun, dalam kepala gue sudah menurunkan nilai film ini beberapa poin karena jalan cerita yang tidak menawarkan hal baru. Tapi lima menit terakhir dalam film ini mengubah penilaian gue akan keseluruhan film ini. Ending tersebut mampu membuat mulut gue menganga sampai beberapa detik, dan langsung membuat gue menaikkan film ini beberapa poin. Sekeluarnya gue dari bioskop, gue masih tidak percaya betapa briliannya ending tersebut. Setelah gue selesai dari toilet, gue pun mendapatkan insight bahwa ending tersebut benar-benar menjadi kunci dalam penjelasan dari keseluruhan jalan cerita.
baca selengkapnya...
Joshua "J" Cody yang menyaksikan ibunya meninggal karena overdosis heroin, mau tidak mau tinggal bersama satu-satunya relatif keluarganya yaitu neneknya, Janine "Smurf" Cody. Smurf tinggal bersama ketiga anak laki-lakinya yang ternyata terlibat dalam perampokan bersenjata dan jual-beli obat bius. Dengan polisi yang terus menerus mengejar mereka, J pun terjebak diantara perseteruan dua kubu. Disaat hanya tersisa dua pilihan; membantu polisi atau membantu keluarganya sendiri, J mengambil tindakan yang tidak disangka-sangka.
Tadinya niatan gue hanya sebagai mengobati rasa penasaran tentang aktinya Jacki Weaver yang sampai bisa masuk nominasi Oscar. Tapi ternyata gue cukup menikmati film ini. Setengah film pertama memang terasa membosankan dan membuat gue menguap beberapa kali. Sampai di seperempat terakhir film pun, dalam kepala gue sudah menurunkan nilai film ini beberapa poin karena jalan cerita yang tidak menawarkan hal baru. Tapi lima menit terakhir dalam film ini mengubah penilaian gue akan keseluruhan film ini. Ending tersebut mampu membuat mulut gue menganga sampai beberapa detik, dan langsung membuat gue menaikkan film ini beberapa poin. Sekeluarnya gue dari bioskop, gue masih tidak percaya betapa briliannya ending tersebut. Setelah gue selesai dari toilet, gue pun mendapatkan insight bahwa ending tersebut benar-benar menjadi kunci dalam penjelasan dari keseluruhan jalan cerita.
baca selengkapnya...
Sobekan tiket bioskop tertanggal 27 Februari 2011 edisi Glasgow Film Festival adalah West Side Story. Bahagianya gue ketika mengetahui bahwa dalam rangka 50 tahun perayaan rilisnya film ini, Glasgow Film Festival dengan baik mau mengangkat film klasik ini ke layar lebar. Gue memang baru nonton film ini satu kali, itu pun beberapa tahun lalu dan semenjak itu film ini langsung masuk dalam jajaran Top 5 All Time Favourite gue. Semenjak itu, gue selalu menunggu momen dan mood yang tepat untuk menontonnya lagi. Tapi siapa sangka kalau gue akan rewatch film ini di layar lebar! Belum lagi sobekan tiket film ini akan menjadi salah satu sobekan tiket yang paling berharga dalam koleksi gue. Ahey!
Cerita yang diadaptasi secara bebas dari kisah tragedi romantis klasik karya Shakespeare, Romeo and Juliet. Dalam film ini, kedua kubu yang bertikai adalah geng anak muda antara Jets, geng anak-anak kulit putih yang dipimpin oleh Riff, dengan Sharks, geng anak-anak imigran asal Puerto Rico yang dipimpin oleh Bernardo. Pertikaian dan perebutan wilayah di antara mereka pun semakin meningkat dan tidak terkontrol lagi. Namun sahabat baik dari Riff, Tony, bertemu dengan Maria di sebuah pesta dansa dan mereka berdua pun saling jatuh cinta. Tidak ada yang bisa menghentikan mengembangnya perasaan di antara mereka berdua, termasuk kenyataan bahwa ternyata Maria adalah adik kandung dari Bernardo.
Tony dan Maria pun harus sembunyi-sembunyi untuk sekedar bertemu dan melepas rindu. Lalu Sharks dan Jets akan mengadakan duel, Maria yang mendengar hal ini pun meminta Tony untuk menghentikan kekerasan dan duel tersebut. Tony yang muncul di tengah-tengah duel yang sedang berlangsung malah membuat keadaan menjadi tambah kacau. Ditambah dengan serentetan kejadian yang malah membuat jarak antara Tony dan Maria menjadi semakin jauh.
baca selengkapnya...
Cerita yang diadaptasi secara bebas dari kisah tragedi romantis klasik karya Shakespeare, Romeo and Juliet. Dalam film ini, kedua kubu yang bertikai adalah geng anak muda antara Jets, geng anak-anak kulit putih yang dipimpin oleh Riff, dengan Sharks, geng anak-anak imigran asal Puerto Rico yang dipimpin oleh Bernardo. Pertikaian dan perebutan wilayah di antara mereka pun semakin meningkat dan tidak terkontrol lagi. Namun sahabat baik dari Riff, Tony, bertemu dengan Maria di sebuah pesta dansa dan mereka berdua pun saling jatuh cinta. Tidak ada yang bisa menghentikan mengembangnya perasaan di antara mereka berdua, termasuk kenyataan bahwa ternyata Maria adalah adik kandung dari Bernardo.
Tony dan Maria pun harus sembunyi-sembunyi untuk sekedar bertemu dan melepas rindu. Lalu Sharks dan Jets akan mengadakan duel, Maria yang mendengar hal ini pun meminta Tony untuk menghentikan kekerasan dan duel tersebut. Tony yang muncul di tengah-tengah duel yang sedang berlangsung malah membuat keadaan menjadi tambah kacau. Ditambah dengan serentetan kejadian yang malah membuat jarak antara Tony dan Maria menjadi semakin jauh.
baca selengkapnya...





















