Postingan

Nobody - Review

Gambar
Nobody sih keren banget, malah kayaknya gue lebih suka ini ketimbang John Wick hahaha maaf ya. Sebagai konfirmasi, meski sama-sama dari penulis naskah Derek Kolstad, Nobody bukan berada dalam universe yang sama dengan John Wick. Memang ceritanya yang mirip banget, tapi di bawah studio Universal si Nobody ini memang mau dijadikan franchise sendiri dengan Bob Odenkirk sebagai bintang utamanya. John Wick memang jadi film aksi yang stylish , tapi menurut gue terlalu style over substance . Nah dipegang oleh sutradara Ilya Naishuller ( Hardcore Henry, 2015 ), Nobody ini memang stylish tapi nggak berlebihan dan masih mengutamakan adegan aksi adu jotos atau adu tembak-tembakan yang ada. Kekuatan utamanya memang ada di soundtrack yang ajaib banget bisa memadukan Don't Let Me Be Misunderstood -nya Nina Simone dengan adegan sadis dan berdarah-darah. CADAAAASSSSSS!! Sebagai penonton serial Breaking Bad , pasti bahagia banget akhirnya Bob Odenkirk jadi pemeran utama di film panjang. Iya mema...

Shadow in the Cloud - Review

Gambar
Sebelum nonton ini, gue sama sekali nggak baca sinopsis dan nggak nonton trailer. Modal gue cuma poster dengan Chloe Grace Moretz yang gede banget itu, latar Perang Dunia ke-II, dan sekelibat review bernada positif di linimasa gue. Hasilnya ternyata nggak terlalu mengecewakan, nggak jelek tapi nggak bagus-bagus amat juga. Secara keseluruhan ini film seru yang menghibur mata dan telinga aja, dan nggak perlu dibawa serius-serius amat. Pertama-tama iya jalan ceritanya memang lumayan absurd. Bukan, bukan karena gremlin yang hobi makan spare part pesawat ketika terbang, tapi beberapa aksi kecil Chloe Grace Moretz yang nggak logis tapi keliatan keren di film. Yaaaaa tipikal mobil lompat dari satu gedung ke gedung lain di Fast & Furious gitu laaah. Pas ngeliatnya sih kaget kok bisa gitu, tapi ya dimaklumin aja deh secara udah ada gremlin juga kan dari awal, jadi udah tahu film ini bergerak di area fantasi. Sisanya sih seru loh menurut gue. Film ini benar-benar 100% berisi perjuangan para ...

Sound of Metal - Review

Gambar
Sound of Metal hits me so hard .  Gue selalu punya weak spot kalau nonton film-film disabilitas macam begini. Miris dan perih rasanya ngeliat Riz Ahmed sebagai drummer heavy metal yang kehilangan pendengarannya. Tambah perih pas ngeliat gimana susahnya dia buat nerima bahwa sekarang dia tuli - suatu kondisi yang nggak bisa "diperbaiki" bahkan oleh uang sebanyak apapun. Storytelling -nya sendiri luar biasa. Dengan sound design yang super kece, nonton film ini kaya bener-bener ngerasain gimana rasanya - dan apa yang didengar - oleh orang-orang yang kehilangan pendengaran. Percaya deh, ini pengalaman menonton yang luar biasa ketika gue bisa "mendengar" apa yang orang tuli "dengar". Bahkan ketika akhirnya pakai cochlear implant , yang ternyata malah bikin dada gue tambah sesek. Nggak heran Riz Ahmed masuk nominasi Best Actor di berbagai penghargaan bergengsi. Akting dia natural banget dan katanya dia beneran pakai earplug sampai dia nggak bisa dengar apapun....

Mortal Kombat - Review

Gambar
Gue nonton Mortal Kombat di bioskop cuma mau ngeliat Joe Taslim, dan gue puas banget! Sisanya maklumin aja layaknya "kutukan" film adaptasi game yang sudah-sudah. Pertama-tama, gue nggak nyangka ya ternyata Joe Taslim dapat porsi sebanyak itu. Bisa dibilang main villain sih, secara Shang Tsung juga cuma jadi mastermind . Nongolnya bener-bener dari awal sampai akhir, dan banyak part yang dia buka topeng juga. Dialognya juga banyaaaaaak nggak cuma one-liner "hantam mereka" di Fast & Furious 6, dan multi-lingual! Kemudian ngomongin Mortal Kombat pasti ngebandingin sama versi tahun 1995 dan 1997 nggak sih. Ya kalau gitu jelas jauh banget lah mulai dari efek visual sampai cerita. Ya anggap aja ini versi upgrade iPhone 3GS ke iPhone 12S Pro Max. Untuk segi cerita menurut gue lumayan oke sih nggak yang jelek-jelek amat gitu, meski masih tetep usaha untuk open for sequels . Tapi ada bagian besar yang menurut gue cukup repetitif dan nggak bikin jalan cerita maju malah m...

The Box - Review

Gambar
Keputusan gue tepat untuk rela nonton film ini di bioskop demi setiap musical sequence yang ciamik. Pertama-tama gue bukan fans EXO atau Park Chan-yeol, bahkan gue nggak kenal siapa mereka. Tapi gue tertarik karena The Box banyak cover lagu-lagu terkenal mulai dari Bad Guy-nya Billie Eilish, Happy-nya Pharell Williams, sampai A Sky Full of Stars dari Coldplay yang terkenal sangat jarang mau memberikan lisensi lagu-lagu mereka.  Gue sih bakalan nggak puas ya kalau nonton "konser musik" di rumah dengan speaker seadanya. Apalagi memang kesukaan gue untuk cari lagu-lagu favorit versi cover orang lain atau bahkan cover versi akustiknya. Jadi memang hanya ini saja yang membuat gue suka The Box, apalagi dengan imajinasi cover yang fantastis dan stylish . Dari segi cerita, cukup mirip dengan Begin Again (2013)-nya John Carney, tapi versi Korea yang fokus pada drama (menye-menye). Sayangnya buat gue jalan ceritanya cukup membosankan. Gue paham perkembangan karakternya adalah Chan-yeo...

Bad Trip - Review

Gambar
Bad Trip is such a hilarious trip! Biasanya gue nggak pernah cocok sama prank show modelan Jackass begini. Apalagi ini dari produser yang sama dengan Jackass, meski kali ini disutradarai oleh Kitao Sakurai dengan menggandeng komedian Eric Andre.  Gue sih super ngakak dan sangat terhibur dengan Bad Trip. Bukan hanya dengan setiap prank yang super niat, tapi terlebih pada reaksi setiap orang yang jadi korbannya. Reaksi-reaksinya yang natural itu yang sangat menghibur, mulai dari marah-marah hingga malah membantu aktor/aktris yang ada. Konon, semua prank yang ada dan reaksi para korban itu bukan settingan alias asli! Gue sih nggak kebayang betapa ribetnya syuting setiap prank yang pasti ada aja kan memunculkan reaksi yang nggak sesuai ekspektasi, lalu harus diulang dari awal. Lebih ribet lagi editingnya untuk memillih mana prank yang berhasil dan memilih reaksi yang paling ciamik. Kemudian dirangkai menjadi satu kesatuan storytelling yang punya cerita yang asyik untuk diikuti. Ceritan...

Love and Monsters - Netflix Review

Gambar
Dylan O'Brien lagi-lagi harus dikejar-kejar monster, demi apa? Demi cinta. Oke pertama-tama, Love and Monsters ini Zombieland (2009) banget karena premisnya yang super mirip. Seorang remaja pria cupu mencoba bertahan hidup di tengah post-apocalyptic world demi apa? Demi cinta. Trus mirip sampai ke berbagai peraturan yang harus ada agar bisa bertahan hidup di tengah berbagai spesies monster yang mengerikan. Tapi harus gue akui world building yang ada dalam Love and Monsters cukup rapi dan meyakinkan. Mulai dari intro film yang cantik dengan animasi sampai ke efek visual yang terbilang sangat rapi dalam skala film televisi. Nggak heran film ini masuk dalam nominasi Best Visual Effects di Oscar tahun 2021. Desain monsternya juga bagus bener nggak aneh-aneh tapi on point seremnya, mungkin karena ada campur tangan produser Shawn Levy yang sebelumnya pernah (dan sedang) menangani serial Stranger Things. Untuk segi ceritanya sendiri, bisa dibilang memang ini film yang ditujukan untu...

Minari - Review

Gambar
Buat gue, nonton Minari itu kaya pulang ke rumah Jogja ketemu saudara yang lama nggak ketemu trus ngeteh dan makan mie godog bareng selagi hujan gerimis. Nyaman, penuh kehangatan, berhati besar, dan nggak mau cepet-cepet pulang ke Jakarta. Bukan tipikal film drama tiga babak kebanyakan, film ini nggak berusaha ngasih solusi. Memang nggak bertujuan untuk ngasih solusi atau pesan makna kehidupan, tapi kayaknya memang hanya menggambarkan dan mengeksplorasi interaksi keluarga imigran yang mencoba bertahan hidup di tanah asing. Harus gue akui, film ini semi-biografi masa kecil dari sutradara dan penulis naskah Lee Isaac Chung mungkin bukan untuk semua orang dengan gaya bercerita yang sangat lamban dan sunyi. Nggak ada satu tujuan spesifik yang hendak dituju, karena Minari hanya berkisah satu potong kehidupan yang penting bagi satu keluarga yang baru pindah dari kota besar ke daerah terpencil. Sepanjang film hanya menggambarkan keseharian mereka dalam bekerja dan bertani, ditambah interaksi ...

Chaos Walking - Review

Gambar
Nggak sejelek itu kok! Membaca banyak review bertebaran di linimasa yang kebanyakan negatif, sempat membuat gue males nonton. Padahal Chaos Walking punya deretan cast yang brilian loh, mulai dari dua aktor utama Tom Holland dan Daisy Ridley sampai supporting cast Mads Mikkelsen, Nick Jonas, David Oyelowo, dan Demian Bichir. Sutradaranya pun Doug Liman yang sudah terbiasa menyutradarai film-film scifi seperti Jumper (2008) dan Edge of Tomorrow (2014). Kisahnya memang sains fiksi yang diadaptasi dari novel The Knive of Never Letting Go karya Patrick Ness, buku pertama dari trilogi novelnya. Premisnya pun cukup menarik, manusia bermukin di planet baru di mana planet tersebut membuat pikiran setiap pria berwujud audio visual sehingga bisa dilihat dan didengar semua orang - tapi tidak dengan pikiran wanita. Di kisah ini pikiran itu disebut " noise " yang entah ditranslasi sebagai "nurani". Konflik horizontal pun tidak dapat dihindari karena setiap pemikiran yang bahka...

Crip Camp - Review

Gambar
Salah satu dokumenter yang dapat nominasi Best Documentary di Oscar 2021 ini bisa ditonton di Netflix. Harus gue akui cukup sulit untuk menonton dokumenter ini karena kebanyakan footage dari tahun 1970 dengan kualitas ala kadarnya.  Tapi memang dokumenter ini nggak jualan apa yang terlihat di mata saja melainkan hati dan pikiran - cukup sejalan dengan bagaimana kita memandang orang-orang dengan disabilitas. Mulai dari polio hingga cerebral palsy, mulai dari kursi roda hingga kehilangan salah satu atau dua anggota tubuh, mereka ini tidak bisa hanya dilihat dari luarnya saja. Dengan bodohnya gue takjub bahwa mereka bisa mencapai pendidikan gelar master atau sederetan prestasi lainnya - yang nggak semua orang "normal" bisa mencapainya. Pada dasarnya Crip Camp menceritakan bagaimana sebuah summer camp khusus orang disabilitas di tahun 1970 menjadi aksi demonstrasi besar untuk menuntut hak sipil warga disabilitas di US tahun 1980-1990. Jened Camp adalah satu-satunya acara kemping...

Seaspiracy - Netflix Review

Gambar
Oke fix gue nggak akan makan seafood lagi! Gila sih dokumenter ini, bener-bener mindblowing dan eye-opening buat gue. Dokumenter tapi nontonnya bikin gemes, kesel, marah, kecewa, sambil jambak-jambak rambut. Iya sekuat dan seberpengaruh itu karena sutradara Ali Tabrizi dengan gamblang dan apa adanya ngeliatin bagaimana hiu dan paus dibantai oleh manusia demi industri perikanan. Untuk yang nggak mau dan/atau nggak berani nonton, dokumenter Seaspiracy bercerita tentang sisi gelap dibalik industri perikanan yang ternyata selain sangat menguntungkan tetapi juga sangat destruktif bagi bumi mulai dari dasar laut sampai puncak atmosfer.  Gue inget banget dulu pas SD ada seorang guru yang bilang bahwa mendingan kita makan ikan aja karena persediaan ikan melimpah ruah dan cepat berkembang biak. Satu ikan bertelur aja bisa sampai ratusan telur kan. Itu benar, tapi ternyata balik lagi tergantung pada cara "memanen"nya. Kalau nelayan tradisional yang sekali melaut hanya menangkap ikan ...

Seobok - Review

Gambar
Kisah dilema moral manusia kloning memang bukan hal yang baru dieksplorasi di dunia film. Tapi rasanya memang berbeda jika Korea Selatan turun tangan dan menggarap kisah ini dengan ciri khas dramatis mereka. Yang mengejutkan, tidak ada cinta-cintaan di sini. Seobok benar-benar fokus mengupas hubungan antara manusia kloning dengan seorang pengawalnya yang pada akhirnya mereka saling membantu satu dengan yang lain. Seobok tidak hanya kuat dengan gaya bercerita yang penuh dengan hati, tetapi juga menghibur mata dan telinga dengan efek visual yang luar biasa meyakinkan. Tempo berceritanya memang cenderung lamban dan sunyi, ditambah dialog-dialog yang penuh unsur filosofis mengenai hidup, mati, dan eksistensi manusia. Tapi pengalaman menonton Seobok jelas jadi pengalaman positif karena bagaimana kisah ini begitu menghargai kehidupan - lengkap dengan hal buruk seperti kesedihan dan kekecewaan yang selalu mengiringi kepasrahan dan kebahagiaan. - sobekan tiket bioskop tanggal 11 A...

Tersanjung the Movie - Review

Gambar
Tersanjung the Movie jauh lebih 90-an daripada film sebelah yang pakai embel-embel 90-an di judulnya. Gue nonton dengan ekspektasi serendah mungkin dan keluar dengan kepuasan berlebih. Intinya gue suka! Apa karena gue jarang nonton sinetron atau gimana ya, yang jelas gue gak nonton sinetron Tersanjung sama sekali jadi ga tau jalan ceritanya gimana. Tapi konon versi film panjang ini juga adaptasi bebas dari sinetronnya. Nah menurut gue film ini punya storytelling yang menarik! Gue sih sama sekali nggak bisa nebak jalan ceritanya, dan selalu ternganga-nganga ketika jalan cerita dipelintir sedemikian rupa.  Nggak kaya film sebelah, film ini sama sekali nggak jualan kesedihan atau terlalu menye-menye. Porsi drama dan romansanya pas, bahkan dengan perkembangan karakter yang cukup meyakinkan jadi enak buat naruh investasi emosi. Berasa banget kalau film ini punya hati, ketimbang pamer barang-barang melankolia nostalgia sembilan puluhan. Hal lain yang menarik adalah gue sama sekali nggak ...

Trainwreck - Review

Gambar
Ini adalah film sebagai obat gue after-effect nonton Greenland yang bikin mood gue down. Maaf jangan disambat dulu kenapa gue belum nonton Trainwreck dari dulu. Gue sadar akan reputasi film ini karena ditulis dengan hati oleh Amy Schumer, dan terima kasih Netflix Indonesia karena akhirnya merilis film ini sehingga bisa gue akses dengan mudah. Ya ampun gue suka banget sama film ini. Bukan cuma karena ceritanya yang nggak hanya seputar romansa aja, tapi juga elemen komedinya yang bikin gue ngakak parah - sendirian di rumah di depan tv! Iya ini bukan film romcom biasa yang penuh dengan klise, it's more than that! Ini kaya cerita dari hati seorang Amy Schumer tentang wanita yang (tadinya) nggak percaya dengan monogami dan sudah terbiasa dengan gaya hidup open relationship + alcohol + pot. Di samping romansa, dia juga harus memperbaiki hubungannya dengan kakak dan sang ayah. Belum lagi ditambah lingkungan kerja yang cukup toxic.  Cast di Trainwreck sih gila-gilaan loh. Ada Tilda Swinton...

Greenland - Review

Gambar
Sebenarnya gue udah cukup kenyang dan begah dengan segala macam disaster movie. Mulai dari gempa bumi, tsunami besar, serangan alien, serangan asteroid, monster kaiju, dan lain sebagainya. Tapi berhubung Greenland mendapat banyak review positif, jadi rasanya nggak ada salahnya untuk ngasih kesempatan itu lagi. Ternyata benar, belum sampai setengah jam pantat gue nyentuh kursi bioskop, gue udah dibuat deg-degan dan cemas dengan bencana yang sedang dan akan terjadi. Lima belas menit awal dihabiskan dengan penjelasan singkat namun sederhana mengenai bedanya komet dengan asteroid, dan bencana yang akan datang ketika komet Clarke - fiktif tentunya - memasuki atmosfer dan menghujam bumi.  Ada banyak sudut pandang dalam menceritakan film bencana, mulai dari sudut pandang atas yang menceritakan reaksi pemerintah seperti Armageddon atau Independence Day. Ada pula sudut pandang bawah yang fokus pada warga sipil seperti 2012 dan The Day After Tomorrow, atau kombinasi keduanya.  Nah men...

Godzilla vs Kong - Review

Gambar
Akhirnya yang ditunggu datang juga; pertarungan terbesar - literally - tahun ini. Ini adalah film keempat dari MonsterVerse setelah Godzilla, Kong: Skull Island, dan Godzilla: King of the Monsters, sekaligus remake dari King Kong vs Godzila (1962) karya Jepang yang sebenarnya adalah sebuah komedi satir terhadap dunia televisi di sana. Di antara empat film MonsterVerse, menurut gue jelas GvK ini yang paling gue suka sebagai hiburan maksimal. Filmnya to the point , langsung berantem dengan porsi yang sangat banyak. Tidak banyak kisah latar belakang seperti Titan, Monarch, atau hollow earth karena semua itu sudah dibahas di tiga film sebelumnya. Hanya ada perusahaan swasta baru bernama Apex yang memanfaatkan teknologi hollow earth, dan porsi Monarch hanya sedikit saja. Porsi setiap manusia yang mengiringi masing-masing godzilla dan kong juga cukup sedikit namun sangat berkesan. Untung gue nontonnya di layar IMAX, karena kalau saja gue nonton pertama kali di layar tv pastilah nggak puas da...

The One - Series Review

Gambar
Premis serial ini sangat menarik; aplikasi kencan yang menemukan soulmate hanya pakai DNA jadi hasilnya 100% tepat. Tepat dalam artian udah pasti cocok dari sudut pandang sains dan terbukti dengan perasaan yang membuncah kalau dua orang ini bertemu. Permasalahan utamanya adalah bagaimana dengan orang-orang yang udah berpasangan bahkan sudah menikah? Akankah masing-masing dari mereka tergoda untuk ngecek " match " mereka siapa? Kalau udah ngecek dan ternyata match mereka orang lain, gimana hayoooo *lol* Permasalahan kedua adalah, gimana kalau ternyata match-nya sakit keras atau bahkan udah meninggal. Wah ribet kali! Nah berbagai permasalahan hubungan ini yang dieksplorasi dalam serial 8 episode dengan masing-masing berdurasi kurang lebih 50 menit ini. Ada satu kisah utama yang terjalin sepanjang season yang meski jauh dari nuansa romansa tapi berhubungan dengan berdirinya perusahaan swasta The One ini. Kisah utamanya sendiri lebih ke misteri kriminal yang ngerti sih mau bikin ...

Normal People - Series Review

Gambar
Sebenarnya gue udah lama ngincer series ini dan baru tahu ternyata bisa ditonton di Catchplay+ jadi langsung sikat deh. Ada 12 episode dengan masing-masing berdurasi kurang lebih 30 menit jadi pas banget ditonton ketika break makan siang. Kalau ada yang membandingkan Normal People dengan Fifty Shades kayaknya agak kurang layak ya mentang-mentang sama-sama ada tema BDSM meski itu cuma secuil dari seluruh kisah Marianne dan Connell di Normal People. Menurut gue ini lebih ke drama romantis dengan visual cantik dan gaya bercerita yang lamban, minim dialog, dan banyak bahasa gambar. Dari look, gue suka banget sama sinematografinya yang konsisten cantiknya dari awal hingga akhir season. Setiap gambarnya kalau di screencap bisa jadi wallpaper laptop yang cantik. Selain itu lagu-lagu yang mengiringi adegan juga enak-enak banget sampai gue cari playlistnya di Spotify dan ketemu! Soal akting dari Daisy Edgar-Jones dan Paul Mescal jelas nggak perlu dipertanyakan lagi dengan masing-masing mendapat...

Raya and the Last Dragon - Review

Gambar
Setelah ditunggu-tunggu, akhirnya Raya and the Last Dragon tiba juga di bioskop. Apalagi kita semua tahu bahwa tim riset film ini berkeliling ke Thailand, Laos, Kamboja, Vietnam, dan Indonesia demi mencari ide dan inspirasi untuk latar dan budaya film ini. Raya juga menjadi Disney Princess ke-13 sekaligus jadi yang pertama dari Asia Tenggara. Meski harus menunggu sampai tahun 2021, tapi senang rasanya melihat representasi kita semua di film sekaliber Disney. Sungguh keputusan yang tepat bagi gue untuk menonton ini di IMAX karena dengan layar yang begitu besar, gue sangat puas untuk menikmati setiap detil visual yang ada. Semakin ke sini rasanya sudah semakin lumrah bagi film animasi untuk berkembang menjadi canggih dan semakin mirip dengan dunia nyata. Visual yang apik diiringi dengan scoring dari James Newton Howard menjadikan Raya sebagai tontonan hiburan maksimal. Yang gue sangat suka adalah pesan dan makna yang dibawa Raya. Di lapisan luar tema persatuan - dan perpecahan - yang men...

WandaVision - Series Review

Gambar
Menurut gue, WandaVision adalah salah satu serial tentang grief yang ditulis dengan sangat apik, ciamik, dan cantik. Dialog-dialog tentang cinta dan kehilangan - khususnya di episode 8 dan 9 - beneran bikin hati tersilet-silet. Serial dengan 9 episode ini juga jadi visualisasi yang komprehensif tentang Kubler-Ross' the cycle of grief .  Menurut Kubler-Ross, dalam kondisi berduka seseorang akan mengalami 5 tahap; denial, anger, bargaining, depression, acceptance . Masing-masing tahap dapat penggambaran yang lengkap banget di satu episode bahkan lebih. Goalnya adalah acceptance yang dicapai dengan super emosional, dialog yang quote -nya bikin dada sesek.  Iya fans service-nya memang banyak pake banget, mulai fans MCU sampai dengan fans komiknya semua dibuat tepuk tangan teriak-teriak sampai serak. Apalagi cameo yang satu itu sebagai kode keras bahwa masuknya tim X-Men ke MCU tinggal hitungan waktu. - ditonton di Disney+ - -------------------------------------...

Moxie - Netflix Review

Gambar
Moxie adalah karya terbaru dari aktris yang kini merambah profesi sutradara; Amy Poehler setelah debut filmnya Wine Country tahun 2019. Berdasarkan novel berjudul sama karya Jennifer Mathieu yang diterbitkan tahun 2015, Moxie adalah film tentang feminisme dengan latar belakang coming-of-age yang kuat. Biasanya memang gue menghindari film berkisah anak sekolah di AS karena ya gitu-gitu aja, tapi tema feminisme ini yang membuat gue tertarik. Pada akhirnya Moxie memang menjadi film feminisme di masa remaja yang cukup komprehensif. Nggak too-good-to-be-true dengan banyak halangan dan tantangan di sana-sini. Ditambah lagi dengan kisah coming-of-age yang cukup akurat dengan tumbuh kembang remaja secara psikologis menjadikan gue cukup mudah untuk jatuh hati dengan setiap karakter yang ada dalam film ini. Dengan gaya bercerita yang ringan dan menghibur, apalagi dengan kisah cinta yang manis, film ini jadi hiburan maksimal di akhir pekan. - ditonton di Netflix - ------------...

Demon Slayer - Series Review

Gambar
Akhirnya selesai juga 26 episode dalam sebulan, ditonton setiap workdays di jam istirahat maksi. Sekarang gue tahu kenapa film panjangnya Mugen Train jadi film terlaris sepanjang masa di Jepang. Karena semua 26 episode ini nge-build up ke peristiwa Mugen Train itu. Ya jelas aja dinanti-nanti semua yang nonton seriesnya. Plus film panjangnya upgrade banget di segi animasi dan scoring, jadi ga heran juga jadi multiple viewing material bagi die-hard fans. Seriesnya sendiri harus gue akui memang bagus sih. Ngebasmi setan dan iblis tapi nyeritain juga sisi lain dibalik mereka yang harus dibasmi ini. Jadi setiap karakter antagonisnya nggak dua dimensi aja, alias selalu ada latar belakang yang ciamik. Hal ini nggak menjadikan gue sebagai wibu ya. Gue masih sebel sama tipikal anime yang suka ngomong sendiri entah pas lagi sendiri atau pas lagi berantem. - ditonton di Netflix - ---------------------------------------------------------- review film demon slayer review ...

Behind Her Eyes - Netflix Series Review

Gambar
Biasanya gue males nih series bertema perselingkuhan dan cinta segi-banyak tipikal sinetron Indonesia. Tapi berhubung banyak review bilang series ini penuh twist dan tipu muslihat, akhirnya gue memberanikan diri untuk nyoba deh. Ternyata nggak mengecewakan sama sekali! Ciamik bener apalagi storytelling-nya nggak ngebosenin alias bikin penasaran. Sampai ending sih yang bikin tepuk tangan kelojotan sambil begidik. Episode 1-2 masih ngebangun cerita jadi sabar aja. Episode 3-4 yang udah mulai dikasih twist dikit jadi makin bikin nancep penasarannya. Silakan berbingung ria lah mau megang siapa alias kaga ada hitam-putih yang jelas di antara semua karakter. Gongnya jelas di episode 5-6 yang literally bikin gue mangap. Gokil! Yes ini limited series cuma 6 episode masing-masing 50 menitan. - ditonton di Netflix - ---------------------------------------------------------- review film behind her eyes review behind her eyes behind her eyes movie review behind her eyes...

Counterpart - Series Review

Gambar
Howard Silk (J. K. Simmons) adalah birokrat level rendahan di kantor PBB di Berlin, yang bertugas di divisi Office of Interchange. Divisi ini bertanggung jawab untuk bertukar pesan berkode dengan agen lain. Meski sudah bekerja selama tiga puluh tahun, Howard tidak pernah tahu untuk apa pesan-pesan tersebut dan apa sebenarnya yang dilakukan oleh divisi Interface. Namun Howard tetap loyal bekerja walau tidak kunjung mendapatkan promosi, sembari setelah kerja mengunjungi istrinya yang koma setelah mengalami kecelakaan mobil. Suatu hari Howard dipanggil oleh atasannya dan dirinya dipertemukan dengan kembarannya, yang ternyata berasal dari dunia paralel. Di pertemuan tersebut Howard mengetahui bahwa ternyata di penghujung Perang Dingin, seorang ilmuwan Jerman Timur secara tidak sengaja membuat portal ke dunia paralel di ruang bawah tanah kantor PBB tersebut. Dunia paralel tersebut disebut sebagai Prime, memiliki isi yang sama persis dengan dunia yang selama ini ditinggali oleh Howard - ya...

I Care A Lot - Netflix Review

Gambar
Gue suka banget sama I Care A Lot yang karena dibintangi oleh Rosamund Pike (yang lagi-lagi jadi antisosial) jadi mirip-mirip sama prekuelnya Gone Girl - padahal bukan ya! Film ini ditulis dan disutradarai oleh J Blakeson, sutradara/penulis dibalik The Dissapperance of Alice Creed (2009) dan Kidnapping Stella (2019). Nggak tanggung-tanggung, film ini langsung dapat satu nominasi Golden Globe lewat Best Actress - Musical / Comedy dengan Rosamund Pike.  Pertama-tama pasti sangat berasa betapa tidak ada satu pun karakter baik dalam I Care A Lot, mengingat benar-benar semua yang tampil di layar adalah karakter dengan niat jahat. Saking jahatnya sampai dajjal aja bingung kok bisa aja ya mereka kepikiran itu. Apalagi ketika Marla Grayson ketemu Roman Lunyov yang diperankan dengan ciamik oleh Peter Dinklage. Buat gue itu sih jadi seru banget karena kaya the battle of villains . Nah saking jahatnya si Marla, susah banget buat gue untuk ngedukung dia selama film - yang jadinya malah gue ...