sobekan tiket bioskop tertanggal 31 Juli 2010 adalah The Last Airbender. gue memang engga terlalu tertarik dengan kisah Avatar yang memang udah ada film kartun serialnya. satu-satunya alasan gue mau menonton film ini hanyalah melihat nama M. Night Shyamalan yang selalu gue ikuti setiap rekam jejak filmnya.
bercerita tentang negara Api, Air, Udara, dan Bumi yang dilanda perang besar setelah negara Api menyerang negara-negara lainnya. kemudian muncul Aang, seorang anak yang memapu mengendalikan empat unsur tersebut mencoba untuk mendamaikan keempat negara ini.
pikiran pertama yang muncul di kepala gue ketika gue menonton sampai pada pertengahan film, "kok pemeran-pemeran di negara Api semuanya orang India yah?". gue meng-counter pikiran tersebut dengan, "ah mungkin karena Shyamalan sendiri orang India". kemudian setelah menonton, gue menemukan berbagai artikel yang membahas bahwa banyak pihak yang menganggap film ini terdapat unsur diskriminasi ras yang sangat menonjol. tidak hanya pemeran-pemeran di negara Api, tapi pemeran-pemeran di negara Air semuanya berkulit putih alias orang-orang dari ras Kaukasia. lalu di salah satu artikel membandingkan para pemeran di film tersebut dengan pemeran di film kartun aslinya dimana diperankan dengan sebaliknya; negara Api diperankan orang kulit putih dan negara Air diperankan orang kulit berwarna.
sobekan tiket bioskop kesepuluh di bulan Juli 2010 tertanggal 28 Juli 2010 adalah Salt. terakhir kali gue melihat Angelina Jolie berakting di layar lebar adalah ketika ia menjadi salah seorang jagoan yang memilik bakat membelokkan peluru di Wanted (2008). rasanya film kali ini akan mengobati kerinduan penonton (baca: gue ;p) untuk kembali menikmati akting dari Jolie.
bercerita tentang Evelyn Salt (Jolie), seorang agen CIA yang dibebaskan setelah tertangkap di Korea Utara. dua tahun kemudian ia bertemu dengan agen Rusia yang menuduh dirinya adalah mata-mata Rusia. kemudian Salt pun berusaha sekuat tenaga untuk membuktikan kepada siapa dirinya berpihak.
film dengan tema seorang agen yang dituduh membahayakan keamanan negara memang bukan cerita baru. film dengan tema agen ganda juga bukan cerita baru. film yang dibuka oleh seorang agen yang dituduh membahayakan keamanan negara dan dikejar-kejar oleh pemerintah di seantero kota juga rasanya bukan adegan pembuka yang baru. setidaknya itu yang gue rasakan saat menonton seperempat awal film ini.
disaat gue sudah mau memberikan keputusan "ah-ga-ada-yang-baru!", film ini menghindari keputusan gue tersebut dengan memelintir plot di tengah cerita yang membuat gue berdecak "wowh!". dan disaat gue mau memberikan keputusan "wah-film-ini-beda!", gue kembali diberi kejutan di ending film ini.
sobekan tiket bioskop tertanggal 24 Juli 2010 adalah The Sorcerer's Apprentice. oke ini adalah film kesekian dari Nicolas Cage dan gue tetap saja berminat untuk menontonnya. meskipun rasanya tema tentang sihir sudah cukup pasaran di kancah perfilman, ya setidaknya hal tersebut membuat gue membatasi ekspektasi gue sebelum menonton film ini.
Dave (Jay Baruchel) yang berusia 10 tahun secara kebetulan bertemu dengan Balthazar (Nicolas Cage) yang ternyata adalah seorang penyihir. Balthazar menemukan bahwa Dave memiliki bakat untuk menjadi penyihir terhebat di dunia. namun sebelum sempat melatih Dave, Balthazar harus terkurung bersama Maxim yang jahat (Alfred Molina). sepuluh tahun kemudian, Dave kembali menemui takdirnya yang tertunda untuk menjadi penyihir terhebat sepanjang masa, dilatih oleh Balthazar dan disaat yang bersamaan harus melawan Maxim yang ingin membebaskan penyihir jahat, Morgana.
sekilas, cerita seorang anak biasa yang ternyata memiliki bakat untuk menjadi penyihir ini mirip dengan Harry Potter. namun tidak seperti Harry yang kemudian semangat untuk belajar sihir, karakter Dave disini yang terlanjur nyaman dengan dunia sekolahnya, apalagi setelah jatuh cinta dengan Becky (Teresa Palmer) memunculkan dilema dalam dirinya. karakter Dave yang terkenal sebagai nerd di sekolahnya mengingatkan gue akan karakter (kebetulan bernama sama) Dave pada film Kick-Ass (2010). tapi memang film ini rasanya terinspirasi dari salah satu segmen film animasi Disney yang dibintangi oleh Mickey Mouse, Fantasia (1940). mungkin salah satu adegan dari film ini memiliki referensi dalam film Fantasia.
sobekan tiket bioskop tertanggal 22 Juli 2010 adalah Evangelion 2.0. setelah ketidaksengajaan gue menonton Evangelion 1.0 dimana gue cukup puas menikmati filmnya, maka sekarang gue penasaran dengan kelanjutan cerita Shinji Ikari dengan Evangelionnya.
masih ber-setting kota Tokyo-3 yang selalu diserang oleh para Angel dari luar angkasa, Shinji dan Rei mendapat bantuan yaitu Asuka yang datang dari Amerika dan menjadi pilot Eva 02. dalam perlawanan mereka menghadapi setiap Angel yang datang, mereka menemukan bahwa setiap pilot dapat "terhisap" oleh Eva masing-masing dan "kehilangan kemanusiaannya" yang menyebabkan Eva menjadi lepas kendali. belum lagi NERV kedatangan Eva 03 yang harus di ujicoba dan Eva 00 yang masih harus diperbaiki.
ternyata film ini merupakan remake dari serial kartunnya yang hadir di tahun 90-an yang direncanakan akan diluncurkan dalam empat sekuel. pembuat filmnya menyatakan di sekuel pertama sampai dengan ketiga akan mengambil beberapa adegan dari film serialnya dan menambahkan adegan-adegan baru. sedangkan di sekuel keempat dan terakhir akan menghadirkan kesimpulan baru yang sesuai, dan berbeda dengan film serialnya. keempat sekuel ini akan dapat dinikmati oleh penonton yang belum pernah menonton film serialnya.
well, bagi seorang yang belum pernah mengikuti serial Evangelion sebelumnya, mengikuti cerita ini menjadi sesuatu yang baru buat gue. ketika menonton pendahulunya, gue cukup bisa mengikuti cerita dan mempasrahkan diri dibawa ke setting Tokyo 3 dan bumi yang hancur dan diserang terus menerus oleh alien luar angkasa yang dinamakan Angel.
namun di sekuel yang kali ini, setiap jalan cerita yang bergulir malah memunculkan berbagai tanda tanya di dalam kepala gue. apa itu "Tabrakan Kedua"? ternyata Eva bukan robot melainkan Angel yang dimodifikasi menjadi mesin tempur? apa yang terjadi dengan Rei dan Asuka?
gue harap pertanyaan-pertanyaan ini dapat terjawab di sekuel berikutnya. atau mungkin gue harus download film serinya.
rating?
6,5 of 10
sobekan tiket bioskop tertanggal 19 Juli 2010 adalah Inception. film ini jelas menjadi satu-satunya film yang sangat gue nanti-nantikan di tahun 2010 ini. karya terbaru dari Christopher Nolan yang menulis dan mengembangkan sendiri ide cerita ini, sekaligus memproduseri dan menyutradarai film ini. konon ide ini muncul 10 tahun lalu dan Nolan butuh waktu untuk mengembangkan dan menyempurnakan idenya.
cerita dimulai ketika Cobb (Leonardo DiCaprio) dan Arthur (Joseph Gordon-Levitt) yang sedang berusaha untuk mencuri ide (extraction) dalam mimpi Saito (Ken Watanabe) lewat teknologi berbagi mimpi. kemudian muncul mantan istri Cobb, Mal (Marion Cotillard) yang mengacaukan misi Cobb dan Arthur. Saito yang terbangun pun menyadari bahwa Cobb ada di balik proses extraction dan malah menawari Cobb sebuah pekerjaan baru; menanam ide (inception) di dalam mimpi saingan beratnya, Fischer (Cillian Murphy), agar ia tidak meneruskan usaha ayahnya. Saito memberikan iming-iming berupa Cobb dapat kembali kepada anak-anaknya. Cobb dan Arthur pun membentuk tim baru untuk melakukan proses yang cukup rumit untuk dilakukan, menanam ide di kepala orang lain di dalam mimpinya.
dari plot cerita dengan misi Cobb untuk menanam ide di kepala Fischer, tampak cukup mudah dan sederhana. namun ternyata pelaksanaannya tidak semudah yang kita kira. untuk menanam ide tersebut, agar tinggi kemungkinan ide tersebut bertahan lama dan berpengaruh pada pikiran Fischer, maka ide tersebut harus ditanam cukup dalam dan datang dari insight Fischer sendiri. nah di bagian inilah yang menarik untuk disimak dan diikuti.
sobekan tiket bioskop tertanggal 14 Juli 2010 adalah Despicable Me. gue sudah tertarik untuk menonton film ini ketika pertama kali melihat trailernya. dengan sinopsis cerita yang unik dan menarik, ditambah lagi dengan hadirnya para minions yang lucu dan menggemaskan.
bercerita tentang Gru, seorang penjahat paling hebat sedunia yang merasa dikalahkan oleh Vector yang telah mencuri piramida di Mesir. Gru pun berniat untuk melakukan pencurian terbesar, yaitu mencuri bulan. untuk mendukung rencananya, Gru terpaksa melibatkan tiga gadis yatim piatu. dalam perkembangan proses pencurian terbesarnya, Gru akan dihadapkan pada pilihan: menjadi pencuri terhebat di dunia atau menjadi ayah terhebat di dunia.
film pertama dari studio Illumination ini memiliki ide cerita yang cukup unik. ditambah dengan karakterisasi yang juga tidak kalah uniknya, menjadikan film ini sebagai film yang sangat menarik.
film animasi memang selalu identik dengan humor yang kekanak-kanakan. tapi menurut gue, di film ini malah ada beberapa humor yang hanya orang dewasa yang bisa mengerti. dalam arti lain, film ini juga sangat cocok untuk dinikmati oleh penonton dewasa. namun ada beberapa humor yang mungkin terlalu kasar untuk anak kecil.
bicara mengenai karakter, Gru adalah karakter yang menarik. seorang penjahat yang masih bisa hidup di tengah masyarakat dan rumahnya berada di antara rumah-rumah warga normal. namun Gru adalah seorang pribadi yang tidak ingin kalah dan selalu ingin menjadi seseorang yang ingin diakui. hal ini terlihat dari sikap-sikap dia ditambah dengan flashback masa kecilnya. Steve Carell sebagai pengisi suara membawakan karakter Gru dengan sangat baik. cukup unik karena Carell menggunakan logat ala Eropa Timur untuk membuat kesan sosok Gru yang misterius dan jahat. ditambah dengan lawakan-lawakan ala Carell yang menghibur penonton.
ketiga gadis yatim piatu; Margo, Edith, dan Agnes juga tak kalah menariknya. tapi Agnes sebagai si bungsu pastinya menarik perhatian penonton dengan karakter lovable, super-imut, dan membuat orang lain tidak bisa menolak keinginannya. ditambah dengan celetukan-celetukan dia yang pastinya mengundang senyum.
karakter-karakter yang rasanya menjadi daya tarik film ini adalah para minions, anak buah Gru yang mini dan berwarna kuning. beragam minions dengan masing-masing karakternya dan berbagai tingkah lakunya benar-benar tanpa henti mengundang tawa penonton. ditambah lagi dengan bahasa mereka dan gaya bicara mereka yang menambah geli.
visual, luar biasa. rasanya studio ini bisa menjadi saingan terbaru dari Pixar. dan lebih baik nonton yang 3D karena memang ada beberapa adegan yang khusus untuk tiga dimensi.
rating?
8 of 10
sobekan tiket bioskop tertanggal 13 Juli 2010 adalah Predators. 23 tahun semenjak film pertama tentang alien pembunuh yang dibintangi oleh Arnold Schwarzenegger, Predator (1987). pembuat film memang sudah menyatakan bahwa film ini adalah sekuel dari Predator (1987) dan Predator 2 (1990) serta tidak menganggap franchise Alien vs Predator (2004) dan Alien vs Predator: Requiem (2007). dalam arti, apapun referensi yang ada dalam film ini hanya akan merujuk pada kedua film orisinil pertamanya.
bercerita tentang delapan orang yang diterjunkan di sebuah tempat asing, mereka harus bertahan hidup dari sebuah permainan mengerikan dimana ternyata mereka menjadi bahan perburuan para alien pembunuh. cerita menjadi menarik ketika ternyata delapan orang ini adalah para pembunuh berbahaya di tempat mereka berasal; prajurit bayaran berdarah dingin asal AS, mafia obat bius Los Zeta asal Baja, sniper CIA, prajurit elit asal Sierra Leone, prajurit pasukan khusus Rusia, mafia Yakuza, narapidana pembunuh berantai, dan seorang dokter yang tampak bukan bagian dari kelompok ini. delapan manusia pembunuh paling berbahaya di bumi berhadapan dengan sekawanan alien pembunuh paling berbahaya di alam semesta.
gue memang menyukai kedua film pertama Predator ini, yang memang menyajikan suasana yang mengerikan dimana karakter utama harus bertahan hidup dari kejaran alien pembunuh yang sangat berbahaya. namun kesukaan gue "dihancurkan" dengan munculnya Alien vs Predator yang dengan gegabah mencoba menyatukan dua karakter alien yang sudah lebih dulu tenar di dunia perfilman. beruntung di tahun 2010, film terbaru Predator ini menyelamatkan franchise Predator yang telah membekas di dunia perfilman selama lebih dari 20 tahun.
salah satu ciri khas dari film Predator adalah perasaan mengerikan yang dialami oleh penonton seakan-akan penonton juga larut dalam ketakutan dari karakter utama yang dari tidak tahu apa yang sedang mereka hadapi sampai bertatap muka dengan si alien pembunuh. sayang sekali suasana ini tidak gue dapatkan ketika gue menonton film ini. kalo kita ingat di film pertamanya, wujud dari alien tetap misterius sampai mendekati seperempat awal film barulah ia "menampakkan" diri. ini dia trik yang lumayan sukses meningkatkan adrenalin. namun sayangnya dalam film ini, penampakan predator terlalu dini dan menghilangkan keasikan peningkatan adrenalin tersebut. walaupun harus jujur, gue menemukan diri gue beberapa kali menahan napas setiap kali para manusia ini bertempur dan berkelahi melawan para predator.
hadirnya Adrien Brody cukup mewarnai layar kali ini, meskipun jelas kita tidak bisa membandingkannya dengan sosok Arnold Schwarzeneggeryang pada masa itu memang dikenal dengan tingkat ke-macho-an yang kelewat tinggi. sosok Royce, prajurit bayaran asal AS yang diperankan oleh Brody memang sangat pas merepresentasikan prajurit modern masa kini yang efisien dan mematikan. karakter tentara ini memang hal baru untuk Brody namun dia bisa memainkannya dengan pas, apalagi karakter ini tak jauh-jauh dari karakter-karakter sebelumnya yang pernah ia perankan; karakter yang dikejar-kejar oleh sesuatu yang mengerikan; King Kong (2005), The Pianist (2002).
hadirnya Alice Braga juga memberikan kesegaran tersendiri dalam cerita film yang didominasi oleh laki-laki ini. Laurence Fishburne juga turut meramaikan film ini namun sayang proporsinya hanya sedikit dan terkesan numpang lewat dan tidak akan berpengaruh apa-apa kalau karakter ini dihilangkan. namun yang mencuri perhatian adalah Topher Grace yang memerankan karakter yang beda sendiri dari karakter-karakter lainnya yang notabene adalah pembunuh berdarah dingin dengan senjata berat. Topher Grace memerankan karakter yang tampak tidak berbahaya dan mengaku sebagai dokter. gue kira karakter ini akan berguna ketika ada yang terluka, namun ternyata di akhir film anda akan menemukan kejutan pada karakter ini.
salah satu adegan yang lumayan berkesan buat gue adalah adegan dimana si yakuza asal Jepang berkelahi dengan salah satu predator dengan cara tradisional dia; samurai! luar biasa.
film yang cocok untuk ditonton bagi anda pecinta karakter predator, penyuka film bertemakan perang, dan yang menyenangi adegan-adegan sadis yang penuh darah.
rating?
7,5 of 10
sobekan tiket bioskop tertanggal 8 Juli 2010 adalah 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta. ini dia satu lagi film Indonesia yang tampil beda dan memberi kesegaran tersendiri di tengah (masih) maraknya film hantu berbalut komedi mesum. apalagi dengan sinopsi yang cukup menarik dan termasuk jarang diangkat, selain film independent Cin(t)a.
bercerita tentang Rosid yang sedang menjalin hubungan dengan Delia. di tengah-tengah hangatnya hubungan diantara mereka, masing-masing dari mereka sadar bahwa masa depan hubungan mereka harus dipikirkan karena mereka berbeda agama. tidak hanya itu, masing-masing keluarga pun lambat laun mengetahui hubungan diantara mereka dan tidak menyetujuinya. apalagi ditambah dengan kemunculan Nabila, gadis manis berjilbab yang suka kepada Rosid.
kalau Cin(t)a lebih menekankan pada dinamika kedua pribadi yang saling jatuh cinta namun berbeda agama, film ini lebih menekankan pada keluarga dari masing-masing pribadi yang terlibat. bagimana keluarga Delia dan Rosid menyikapi anak mereka yang saling jatuh cinta satu sama lain namun juga berbeda agama.
namun tampaknya sudut pandang dari "dua dunia" ini kurang cukup imbang, dengan pemberian proporsi yang lebih banyak pada keluarga Rosid dan sudut pandang dari agama Islam. pembuat film pun cukup berani untuk sedikit menyisipkan ajaran-ajaran agama yang cukup "ringan" dan tidak terkesan menggurui. bagi gue, yang menarik adalah bagaimana dialog-dialog yang terjadi antara Rosid dengan beberapa karakter mengenai menikah beda agama; sangat lugas dan bisa menjadi rangkuman dari pemikiran-pemikiran yang ada di setiap kepala penonton.
tapi sudut pandang dari "dua dunia" yang kurang imbang tersebut mungkin disengaja karena film ini hanya ingin fokus pada Rosid dan lingkaran di sekitarnya. dengan begitu, hadirnya Delia dan Nabila "hanya" sebagai pendukung plot cerita mengenai arah hubungan mereka.
untuk film-film sejenis ini dimana bisa "memecah" penonton ke dalam dua (atau mungkin lebih) pendapat, alangkah lebih bagus jika diakhiri dengan open ending. ketika film diakhiri dengan dialog final antara Rosid dan Delia, sebenarnya gue sudah cukup puas dengan materi dari dialog antara mereka berdua. kemudian layar menjadi hitam dan gue bersiap akan ending credit. namun sayang, film ditutup dengan kalimat-kalimat yang menceritakan mengenai masa depan ketiga karakter kita. sayang sekali.
aha, untuk akting, rasanya ini menjadi salah satu film Indonesia yang membuat gue cukup nyaman untuk menontonnya. dalam arti, gue sama sekali tidak terganggu oleh akting dari para pemainnya. Reza Rahadian bermain brilian untuk menghidupkan karakter Rosid yang cukup idealis dan mencintai karya-karya WS Rendra. Laura Basuki cukup bisa mencuri hati para penonton pria (termasuk gue ;p) dengan karakter Delia yang lemah lembut. kemunculan Arumi Bachsin di tengah film juga memecah pendirian penonton yang sudah lebih dulu dibuat jatuh hati pada Delia, dengan karakter Nabila yang jauh lebih lemah lembut, sopan, dan tergolong misterius.
sebuah film yang menarik dan layak ditonton untuk menambah cakrawala pandang mengenai hubungan beda agama.
rating?
7 of 10
sobekan tiket bioskop tertanggal 5 Juli 2010 adalah Splice. yang membuat gue tertarik untuk nonton film ini adalah kehausan gue akan film-film science fiction yang udah jarang gue sentuh (dan lihat) akhir-akhir ini. dari sinopsisnya yang sepertinya menarik, ditambah dibintangi oleh Adrien Brody, yah kenapa tidak?
bercerita tentang sepasang ilmuwan yang dengan gegabah bereksperimen untuk menyatukan DNA hewan dengan DNA manusia untuk menciptakan sebuah makhluk. masalah pun terjadi ketika makhluk tersebut menjadi lepas kendali.
ya, memang sesederhana itu plot ceritanya. memang bukan sesuatu yang baru. meskipun dinamika film diramaikan dengan pertentangan antara moral dengan ilmu pengetahuan, yang direpresentasikan oleh kedua karakter utama kita; Clive (Adrien Brody) yang selalu merasa bahwa "karya penciptaan" mereka ini adalah sesuatu yang salah, dan Elsa (Sarah Polley) yang merasa sebaliknya, bahwa ciptaan mereka adalah suatu terobosan besar bagi dunia ilmu pengetahuan, meskipun di penghujung film kita bisa melihat motivasi tersembunyi dari Sarah.
tapi film ini berhasil membuat gue sebal akan karakter Sarah, yang selalu menjadikan ilmu pengetahuan sebagai alasan utama untuk mempertahankan makhluk tersebut. dengan alasan-alasan yang dikemukakannya ketika beradu argumen dengan Clive. mungkin juga film ini berniat untuk "memecah" penonton menjadi dua pihak; penonton yang mengagungkan ilmu pengetahuan di atas moral, dan penonton yang mengagungkan moral di atas ilmu pengetahuan. dan terima kasih untuk film ini, gue tahu dimana gue harus berdiri.
hadirnya karakter manusia campuran hewan ini memang bukan sesuatu yang baru di dunia film fiksi ilmiah. tapi bagi gue berdasarkan analisis gue selama menonton film ini, yang berbeda adalah; walaupun makhluk ini memiliki DNA manusia dimana ia mewarisi bentuk tubuh dan juga kecerdasan (dalam hal ini otak), tapi makhluk ini memiliki insting hewani yang lebih kuat dari pada perasan dan hati nurani. dan hal inilah yang berhasil membuat gue cukup risih dengan karakter makhluk ini sepanjang film.
selama menonton film ini, ada banyak kekurangan yang gue rasakan. dinamika proses perkembangan makhluk ini sepertinya menjadi porsi yang lebih. tapi sang "orang tua" sebagai pencipta kok ya kurang menerapkan proses pendidikan yang baik bagi perkembangan makhluk tersebut. atau mungkin ini adalah cerminan dari pola asuh orang tua terhadap anaknya di masa kini? selain itu, sebagai ilmuwan masa sih tidak bisa memprediksikan pola perkembangan makhluk ini beserta alur evolutifnya...
oya, film ini juga berhasil membuat gue jijik setengah mati pada salah satu adegan. jijik dalam arti, melihat sebuah adegan yang benar-benar membuat gue engga habis pikir dan terlalu...amoral mungkin? memang adegan itu perlu untuk melengkapi plot cerita, tapi cara pembawaannya yang kurang smooth dan terkesan terburu-buru. kalau nonton, pasti tahu deh adegan mana yang saya maksud.
untuk menutup, plot cerita dalam film ini mungkin memang bukan sesuatu yang baru, tetapi makhluk tersebut lah yang mungkin menjadi daya tarik satu-satunya untuk menonton film ini. sekedar tambahan, nama Guillermo del Toro hadir menjadi salah satu produser eksekutif film ini.
rating?
6,5 of 10
sobekan tiket bioskop tertanggal 3 Juli 2010 adalah Chloe. yang membuat gue tertarik untuk menonton film ini adalah karena deretan aktor dan aktris yang bermain; Liam Neeson, Julianne Moore, dan Amanda Seyfried. menarik melihat generasi Neeson dan Moore yang sudah malang melintang di nominasi Oscar akan beradu akting dengan generasi Seyfried yang boleh dibilang sebagai pendatang baru yang sedang naik daun.
bercerita tentang seorang istri, Catherine (Moore) yang kehilangan kepercayaan terhadap suaminya, David (Neeson) yang dipicu oleh hal kecil. kecurigaan Catherine semakin bertambah sampai ia "menyewa" Chloe (Seyfried) untuk mengetes kesetiaan David. dari cerita dan pengakuan Chloe, kecemburuan Catherine semakin memuncak sampai pada akhirnya ia menemukan sesuatu yang mengubah dirinya dan keluarganya.
jalan cerita film ini diluar ekspektasi gue, dimana gue berharap cerita akan bergerak ke arah thriller crime, yang ternyata plot cerita mengarah ke persoalan kepercayaan diantara suami dan istri. sebuah plot cerita yang engga asing bagi gue, tapi tetap menarik untuk disimak dengan kehadiran karakter Chloe yang misterius.
tidak mudah untuk menghidupkan karakter Chloe yang dingin dan seductive, dan menurut gue, Seyfried cukup berhasil memerankannya dengan baik. di film-film terdahulu dimana Seyfried selalu memerankan seorang gadis yang jatuh cinta, disini ia ditantang untuk memerankan karakter yang cukup freaky dan cenderung annoying bagi penonton. setiap adegan pun berjalan mulus ketika akting Seyfried dipadu dengan akting Moore yang memang sudah matang dan tidak diragukan lagi. apalagi Moore memang tampaknya selalu pas dengan karakter-karakter yang tertekan dan mencoba keluar dari krisis. Neeson juga tampil apik, walaupun kabarnya di tengah syuting film ini ia kehilangan istrinya yang meninggal. entah kenapa gue lebih suka melihat Neeson memerankan karakter yang cenderung serius, karena dengan karakter seperti itu maka kharisma dari seorang Liam Neeson akan keluar dengan sendirinya.
memang cukup sulit untuk mengangkat film drama menjadi sebuah cerita yang tidak membosankan, dan film ini cukup bisa menghindari hal tersebut dengan memasang score yang cukup thrilling, sekalipun adegannya cenderung biasa saja. tapi menurut gue score tersebut sangat merepresentasikan jalan pikiran yang penuh dengan kecurigaan dari Catherine. selain itu, layaknya film-film thriller pada umumnya, kita akan menemukan alasan dari perilaku aneh Chloe dan bisa sedikit membuka celah diskusi mengenai karakter ini.
film ini patut ditonton bagi yang penasaran dengan akting yang berbeda dari Seyfried, atau yang kangen melihat aksi Moore yang kali ini dipasangkan dengan Neeson.
rating?
7 of 10
sobekan tiket bioskop tertanggal 1 Juli 2010 adalah Toy Story 3 (3D). pastinya gue engga mau melewati sekuel yang satu ini. 16 tahun semenjak kemunculannya yang pertama, mainan-mainan yang bisa berbicara ini mengisi masa kecil gue, sampe gue rela nangis2 dibeliin paket KFC yang berhadiah mainan Woody. walaupun gue baru nonton sekuel yang kedua beberapa hari yang lalu, tampaknya akan sayang bila gue melewatkan sekuel ketiga dan terakhir ini tanpa teknologi 3 dimensi.
nasib Woody dan teman-temannya menjadi tidak pasti ketika tiba saatnya bagi Andy untuk pergi kuliah. ketika Woody yakin bahwa dirinya akan dibawa oleh Andy, ia harus menyaksikan teman-temannya yang secara tidak sengaja dibuang dan terkirim ke tempat penitipan anak. ternyata ada hal buruk di dalam tempat penitipan anak itu dan Woody berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan teman-temannya.
sebuah cerita yang cukup cerdas untuk menutup trilogi petualangan Woody, Buzz, dan kawan-kawan. kalau pada sekuel pertama, Woody berpetualang untuk menyelamatkan Buzz dan sekual kedua dimana Buzz dan teman-teman berpetualang untuk menyelamatkan Woody, maka sangat pas jika kisah ini ditutup dengan petualangan "balas jasa" Woody untuk, tidak saja hidup teman-temannya, tetapi juga menyelamatkan persahabatan di antara mereka.
