Berapa banyak film hitam putih yang telah anda tonton sebelumnya? Di bioskop atau di layar kecil? Di abad 20, mungkin kita kenal dengan Schindler's List karya Steven Spielberg yang sengaja dibuat dalam hitam putih. Lalu bagaimana dengan film bisu, berapa banyak yang telah anda tonton? Jika anda belum pernah menonton film bisu dan hitam putih, apalagi di bioskop, maka berterima kasihlah kepada sutradara dan penulis naskah asal Perancis, Michel Hazanavicius yang di abad ke-21 ini membuat film The Artist.

Tahun 1927 di Hollywood, bintang film bisu George Valentin bertemu dengan salah seorang penggemarnya, Peppy Miller. Dengan maksud ingin selalu berada di dekat George, Peppy memasuki dunia film dengan menjadi penari latar. Dimulainya era film berbicara, membuat karir Peppy kian lama kian menanjak. Tertutup oleh ego dan idealismenya, karir George di dunia film malah menurun karena dirinya masih setia pada film bisu. Untuk kesekian kalinya, karir dan takdir kedua orang ini bertemu di persimpangan jalan dan mencari jalan terbaik untuk menghadapi era baru.

Banyak alasan yang dapat menjelaskan kesuksesan film ini di berbagai penghargaan film, khususnya di Oscar 2012 kemarin. Film ini adalah persembahan dari sinema Perancis untuk menghormati sejarah dunia perfilman di Hollywood. Secara khusus, film ini mengambil fokus pada era pergantian dari film bisu ke film berbicara yang terjadi di dataran Amerika, dan bagaimana dampaknya pada makro dan mikro dunia perfilman. Sebagai tanda penghormatan terhadap sejarah dunia perfilman, film ini pun menggunakan konsep yang sama dengan film yang diceritakannya dalam film ini; hitam putih, dan bisu yang hanya menggunakan quotes dialog yang ditampilkan di layar. Tidak hanya warna dan kebisuannya, Hazanavicius juga memutuskan menggunakan aspect ratio yang sama dengan film-film bisu di tahun 1920-an; 1.37 : 1. Sehingga jika anda menonton film ini di bioskop, maka layar film ini nyaris berbentuk bujur sangkar. Konsep ini benar-benar membuat anda seakan menonton film tahun 1920-an di tahun 2012.

baca selengkapnya...

Seberapa familiar anda dengan dunia politik? Bagaimana dengan anda para kaum muda, seberapa pedulikah kalian dengan dunia politik? Apa yang anda tahu tentang apa yang terjadi di balik proses pemilihan presiden? Mungkin kita semua pernah mendengar ungkapan bahwa di dunia politik, kawan bisa jadi lawan dan lawan pun bisa jadi kawan. Bahwa dalam dunia politik, trik-trik kotor pun juga berlaku demi menjatuhkan lawa. Selain itu, ternyata tidak hanya orang-orang dewasa yang terlibat, tetapi juga generasi muda yang sudah melek dan mengabdikan diri di dunia politik. Setidaknya hal-hal tersebut yang tergambar dalam film yang dibintangi dan disutradarai oleh George Clooney ini, The Ides of March.

Stephen Meyers (Ryan Gosling) yang sangat lihai dalam berkomunikasi dengan publik adalah orang kedua dalam program kampanye presiden partai Demokrat dari Gubernur Mike Morris (George Clooney). Di tengah proses voting pertama di Ohio, Meyers melakukan satu tindakan tabu dalam dunia kampanye; bertemu muka dengan manajer kampanye dari saingan politik, Tom Duffy (Paul Giamatti). Selain itu, Meyers juga terlibat asmara dengan Molly Stearns (Evan Rachel Wood), anak magang dalam tim kampanye. Serangkaian kejadian ini pun membuat Meyers harus membuat skala prioritas antara karir, kemenangan tim, atau idealisme pribadi.

Tidak terlalu banyak film yang menggambarkan suasana dan dinamika kampanye pemilihan presiden. Namun sutradara/penulis naskah/aktor George Clooney berani mengangkat tema ini, dan mengadaptasinya dari bentuk teater yang berjudul "Farragut North" ke dalam bentuk layar lebar. Hasilnya adalah sebuah film politik yang penuh drama, menegangkan, dan disertai dengan twist di akhir cerita. Ya, siapa bilang film bertema politik harus selalu membosankan?

baca selengkapnya...

Kemunculan trailernya beberapa bulan yang lalu mungkin membuat banyak pencinta film menjadi penasaran, khususnya pencinta film superheroes. Bagaimana tidak, konsep cerita yang ditawarkan benar-benar memberikan warna baru. Remaja bermasalah yang tiba-tiba mendapatkan kekuatan telekinesis, dan apa yang mereka perbuat dengan kekuatan super mereka? Semua itu ada dalam film dengan bujet rendah, Chronicle.

Andrew adalah remaja SMA pemalu dan minder yang sering menjadi korban bullying di sekolah dan memiliki masalah dengan orang tuanya. Sementara Matt adalah sepupunya yang cukup tenar di sekolah, beserta dengan Steve si calon ketua angkatan. Dengan niatan ingin membuat video blog, Andrew merekam kesehariannya dalam kamera. Pada suatu malam, mereka bertiga menemukan benda aneh yang tertanam jauh di bawah tanah dan mengalami kejadian aneh yang membuat mereka hilang ingatan akan apa yang terjadi pada malam tersebut. Keesokan harinya, mereka terbangun dengan kekuatan telekinesis. Seiring berjalannya waktu, kekuatan mereka semakin bertambah dan intensitas kekuatan masing-masing orang pun berbeda. Tindakan impulsif dan keisengan mereka dengan kekuatan super pun membawa dampak negatif bagi mereka bertiga dan orang-orang di sekitarnya. Semakin besar kekuatan mereka, semakin besar pula kesempatan dari sisi jahat mereka untuk mengambil alih.

Orang biasa yang tiba-tiba mendapat kekuatan super mungkin sudah menjadi cerita lama di setiap kisah superhero. Beruntung Peter Parker, Kapten Amerika, dan Ironman adalah seseorang dengan kepribadian yang baik saat masing-masing dari mereka memiliki kekuatan super. Namun bagaimana dengan remaja yang memiliki segudang masalah, baik di sekolah maupun dalam keluarga? Sesaat, kekuatan super yang baru saja dia dapatkan mungkin terasa menyenangkan dan mendongkrak kepercayaan diri. Namun kekecewaannya yang dalam terhadap masyarakat dan orang lain menjadi pemicu atas tindakan destruktifnya di kemudian hari. Ya, ini adalah cerita dengan karakter yang berada di daerah abu-abu, dan dinamika transformasinya dari sisi terang ke sisi gelap. Lebih dalam lagi, ini adalah kisah Anakin Skywalker di Kanada tahun 2012.

baca selengkapnya...

Tampaknya franchise film ini masih saja dinikmati, sehingga membuat Oren Peli dan kawan-kawan kembali melanjutkan cerita Katie dan Kristi yang dihantui entitas jahat. Kali ini digarap oleh sutradara yang berbeda, namun masih dengan cerita yang ditulis oleh Oren Peli sendiri. Konsep gaya dokumenter dengan menggunakan berbagai video kamera yang ada di dalam rumah pun masih digunakan dalam sekuelnya yang ketiga ini, Paranormal Activity 3.

Di tahun 1988, Katie dan Kristi muda berteman dengan teman imajiner. Ibu mereka, Julie, yang skeptis menganggap hal itu biasa saja. Namun Dennis, pacar Julie, menemukan beberapa hal aneh antara interaksi Katie dan Kristi dengan Toby, si teman imajiner. Dennis yang berprofesi sebagai videografer pun memutuskan untuk memasang kamera di kamar tidur mereka, kamar tidur anak-anak, dan ruang keluarga. Walaupun tidak disetujui oleh Julie, kamera Dennis menangkap berbagai aktivitas paranormal yang terjadi di rumah mereka. Dengan pengetahuan dan kemampuan terbatas, Dennis mencoba untuk mengungkap maksud tersembunyi dari Toby terhadap Katie dan Kristi.

Jika di PA2, penonton tidak menduga jika jalan cerita yang disajikan adalah prekuel dari PA1, maka dalam sekuel ketiga ini penonton sudah disiapkan bahwa film ini juga merupakan prekuel dari kedua sekuel sebelumnya. Penonto diajak untuk melihat masa kecil dari Katie dan Kristi dan dapat lebih memahami alasan mengapa Toby menghantui mereka sampai dewasa. Beberapa plot memang cukup kontradiktif dengan kedua sekuelnya, namun bisa diterima jika penonton tetap menggunakan asas imajinasi bebas.


baca selengkapnya...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...