Meneruskan kebiasaan dari tahun-tahun sebelumnya, maka secara khusus saya telah memilih 10 film terbaik yang telah saya tonton di bioskop pada tahun 2012 ini. Daftar film dibawah ini tidak harus film yang dirilis di tahun 2012, karena ketentuannya adalah film-film yang saya tonton di bioskop di tahun ini. Tahap pertama pemilihan ke-10 film ini berdasarkan nilai rating yang ada. Di rating tertinggi, ternyata ada 12 film yang memiliki rating 9. Seleksi tahap kedua pun harus dilakukan agar daftar Sobekan Tiket Terbaik ini tidak terlalu banyak, yaitu dengan menilai secara kualitatif. Indikator penilaian kualitatif adalah film yang mampu memberikan pengalaman sinematik tersendiri, serta cerita film yang mampu memberikan sesuatu kepada penonton. Maka, inilah 10 film terbaik yang saya tonton di bioskop di tahun 2012.
baca selengkapnya...
The Hobbit: Unexpected Journey adalah salah satu film yang paling ditunggu-tunggu di akhir tahun ini. Selain karena bercerita tentang apa yang terjadi beberapa puluh tahun sebelum kejadian di trilogi The Lord of the Ring, film ini juga akan disutradarai oleh sutradara yang sama dengan TLOTR; Peter Jackson! Beberapa cast yang ada dalam trilogi TLOTR pun akan kembali tampil dalam film yang akan dibuat menjadi trilogi meski diadaptasi dari satu novel karya J.R.R. Tolkien. Ekspektasi para fans TLOTR pun sudah semakin memuncak. Jelas film pertama dari trilogi The Hobbits ini akan membuktikan apakah Peter Jackson dapat menyamai atau bahkan melebihi kesuksesan yang telah dicapai lewat TLOTR.
Pada suatu masa, Kerajaan Erebor tempat tinggal para dwarf di Lonely Mountain diserang dan dikuasai oleh naga raksasa yang jahat bernama Smaug. Suatu hari, hobbit Bilbo Baggins mendapat kunjungan yang tidak terduga oleh penyihir putih Gandalf dan dua belas dwarf beserta rajanya, Thorin. Gandalf, Thorin, dan kawan-kawannya hendak merebut kembali Kerajaan Erebor dari tangan Smaug, mengklaim tanah dan tempat tinggal mereka kembali. Bilbo yang seorang hobbit rumahan pun sempat ragu namun memutuskan untuk mengikuti petualangan mereka menyeberangi Middle Earth dan melawan troll, orcs, dan makhluk-makhluk magis lainnya. Di tengah perjalanan, Bilbo juga bertemu makhluk yang akan mengubah hidupnya dan juga nasib Middle Earth, Gollum.
Ada perasaan menyenangkan yang gue alami setelah sekali lagi kembali ke dunia Middle Earth selama tiga jam kurang sepuluh menit. Sembilan tahun sejak TLOTR: The Return of the King, kembali ke dunia Middle Earth untuk menikmati seluk-beluk pemandangan indah serta perjumpaan dengan makhluk-makhluk magis aneh nan unik serasa kembali lagi ke rumah kedua. Universe Middle Earth ini yang sempat terpatri kuat dalam benak gue di awal tahun 2000-an ketika menikmati trilogi TLOTR. Kini dengan universe yang sama namun dengan tokoh dan cerita yang berbeda, sangat mengobati kerinduan untuk kembali ke tempat tersebut.
baca selengkapnya...
Pada suatu masa, Kerajaan Erebor tempat tinggal para dwarf di Lonely Mountain diserang dan dikuasai oleh naga raksasa yang jahat bernama Smaug. Suatu hari, hobbit Bilbo Baggins mendapat kunjungan yang tidak terduga oleh penyihir putih Gandalf dan dua belas dwarf beserta rajanya, Thorin. Gandalf, Thorin, dan kawan-kawannya hendak merebut kembali Kerajaan Erebor dari tangan Smaug, mengklaim tanah dan tempat tinggal mereka kembali. Bilbo yang seorang hobbit rumahan pun sempat ragu namun memutuskan untuk mengikuti petualangan mereka menyeberangi Middle Earth dan melawan troll, orcs, dan makhluk-makhluk magis lainnya. Di tengah perjalanan, Bilbo juga bertemu makhluk yang akan mengubah hidupnya dan juga nasib Middle Earth, Gollum.
Ada perasaan menyenangkan yang gue alami setelah sekali lagi kembali ke dunia Middle Earth selama tiga jam kurang sepuluh menit. Sembilan tahun sejak TLOTR: The Return of the King, kembali ke dunia Middle Earth untuk menikmati seluk-beluk pemandangan indah serta perjumpaan dengan makhluk-makhluk magis aneh nan unik serasa kembali lagi ke rumah kedua. Universe Middle Earth ini yang sempat terpatri kuat dalam benak gue di awal tahun 2000-an ketika menikmati trilogi TLOTR. Kini dengan universe yang sama namun dengan tokoh dan cerita yang berbeda, sangat mengobati kerinduan untuk kembali ke tempat tersebut.
baca selengkapnya...
"Salah satu film adaptasi novel terbaik di tahun ini, yang mengisahkan seorang anak yang harus bertahan hidup di sebuah sekoci penyelamat bersama seekor harimau Bengala"
Manusia tidak pernah lepas dari cerita. Manusia bercerita mulai dari lukisan-lukisan berbahan baku alam ribuan tahun yang lalu, hingga dalam bentuk simbol huruf seperti saat ini. Berbagai hal dapat diceritakan oleh manusia, mulai dari hal kecil seperti hujan petir hingga hal besar seperti perang antar negara. Namun tantangan dari bercerita dari zaman ke zaman tetaplah sama; bagaimana membuat sebuah cerita itu menjadi menarik dan tetap diceritakan turun temurun lintas generasi. Di tahap ini, tampaknya manusia memiliki kecenderungan untuk menyukai cerita-cerita yang penuh dengan hal-hal spektakular dan dramatis, sehingga cerita tersebut lebih mudah diingat dan diceritakan kembali. Cerita tentang awan petir atau gunung meletus yang disangkut-pautkan dengan murka Sang Pencipta, cerita 300 serdadu yang menghalau serbuan dari ribuan musuh, hingga cerita seorang pertapa yang memberi khotbah kepada kawanan rusa. Ketika ilmu pengetahuan dan logika menemukan bahwa awan petir dan gunung meletus adalah hanya gejala alam dan tidak ada sangkut paut dengan entitas lain, cerita tersebut pun menjadi tidak menarik lagi, usang, kemudian mati. Namun ketika cerita pertapa tadi belum dapat dibuktikan kebenarannya, cerita tersebut masih menarik dan terus hidup selama ribuan tahun hingga saat ini.
Lalu sepenting apa untuk mengetahui kebenaran dari sebuah cerita yang terdengar terlalu spektakuler dan dramatis? Mungkin kenyataan yang terjadi memang tidak sespektakuler dan sedramatis yang diceritakan orang banyak, meskipun memiliki jalan cerita dan akhir yang sama. Lalu mengapa cerita versi spektakuler dan dramatis itu dibuat dan diceritakan? Apakah untuk menjaga agar cerita tersebut tetap menarik bagi mata dan telinga manusia sehingga tetap terus diceritakan turun temurun? Mungkin pertanyaan-pertanyaan ini yang hendak digambarkan lewat sebuah cerita yang ditulis oleh Yann Martel dalam novelnya, yang kemudian diangkat ke layar lebar oleh sutradara Ang Lee; Life of Pi.
baca selengkapnya...
Manusia tidak pernah lepas dari cerita. Manusia bercerita mulai dari lukisan-lukisan berbahan baku alam ribuan tahun yang lalu, hingga dalam bentuk simbol huruf seperti saat ini. Berbagai hal dapat diceritakan oleh manusia, mulai dari hal kecil seperti hujan petir hingga hal besar seperti perang antar negara. Namun tantangan dari bercerita dari zaman ke zaman tetaplah sama; bagaimana membuat sebuah cerita itu menjadi menarik dan tetap diceritakan turun temurun lintas generasi. Di tahap ini, tampaknya manusia memiliki kecenderungan untuk menyukai cerita-cerita yang penuh dengan hal-hal spektakular dan dramatis, sehingga cerita tersebut lebih mudah diingat dan diceritakan kembali. Cerita tentang awan petir atau gunung meletus yang disangkut-pautkan dengan murka Sang Pencipta, cerita 300 serdadu yang menghalau serbuan dari ribuan musuh, hingga cerita seorang pertapa yang memberi khotbah kepada kawanan rusa. Ketika ilmu pengetahuan dan logika menemukan bahwa awan petir dan gunung meletus adalah hanya gejala alam dan tidak ada sangkut paut dengan entitas lain, cerita tersebut pun menjadi tidak menarik lagi, usang, kemudian mati. Namun ketika cerita pertapa tadi belum dapat dibuktikan kebenarannya, cerita tersebut masih menarik dan terus hidup selama ribuan tahun hingga saat ini.
Lalu sepenting apa untuk mengetahui kebenaran dari sebuah cerita yang terdengar terlalu spektakuler dan dramatis? Mungkin kenyataan yang terjadi memang tidak sespektakuler dan sedramatis yang diceritakan orang banyak, meskipun memiliki jalan cerita dan akhir yang sama. Lalu mengapa cerita versi spektakuler dan dramatis itu dibuat dan diceritakan? Apakah untuk menjaga agar cerita tersebut tetap menarik bagi mata dan telinga manusia sehingga tetap terus diceritakan turun temurun? Mungkin pertanyaan-pertanyaan ini yang hendak digambarkan lewat sebuah cerita yang ditulis oleh Yann Martel dalam novelnya, yang kemudian diangkat ke layar lebar oleh sutradara Ang Lee; Life of Pi.
baca selengkapnya...
"Horor orisinil karya Oren Peli yang menceritakan enam backpackers muda yang mengeksplorasi kota mati Pripyat yang menjadi tempat tinggal para keluarga dan pekerja korban peristiwa Chernobyl, dan menemukan bahwa mereka tidak sendirian"
Film ini adalah sebuah karya cerita orisinil dari Oren Peli, penulis dan sutradara yang sukses menakuti penonton lewat film horornya, Paranormal Activities. Chernobyl Diaries bercerita tentang enam orang backpackers muda yang menyewa "extreme tour guide" untuk berjalan-jalan di kota Pripyat, kota mati tempat tinggal para keluarga dan pekerja yang menjadi korban meledaknya reaktor nuklir Chernobyl 25 tahun yang lalu. Mengabaikan peringatan dari para tentara yang menjaga kota Pripyat, mereka berenam mengeksplorasi kota mati tersebut dan menemukan bahwa ternyata mereka tidak sendirian.
Ide cerita yang menggunakan kota mati akibat ledakan reaktor nuklir 25 tahun yang lalu sebagai latar sebuah film horor memang cukup orisinil dan belum pernah digunakan sebelumnya. Dengan latar yang baru ini, Oren Peli memaksimalkan pengalaman baru ini bagi penonton dengan memberikan ekspektasi dan membangun bayangan kota mati Pripyat di Ukraina ini sejak awal film. Suasana mencekam yang dibangun di seperempat awal film ini memang terkesan cukup lambat, namun ternyata cukup efektif untuk mengisi bayangan dan imajinasi penonton akan kota mati ini, yang memang seharusnya tidak ada makhluk hidup sama sekali karena tingkat radiasi yang masih ada.
baca selengkapnya...
Film ini adalah sebuah karya cerita orisinil dari Oren Peli, penulis dan sutradara yang sukses menakuti penonton lewat film horornya, Paranormal Activities. Chernobyl Diaries bercerita tentang enam orang backpackers muda yang menyewa "extreme tour guide" untuk berjalan-jalan di kota Pripyat, kota mati tempat tinggal para keluarga dan pekerja yang menjadi korban meledaknya reaktor nuklir Chernobyl 25 tahun yang lalu. Mengabaikan peringatan dari para tentara yang menjaga kota Pripyat, mereka berenam mengeksplorasi kota mati tersebut dan menemukan bahwa ternyata mereka tidak sendirian.
Ide cerita yang menggunakan kota mati akibat ledakan reaktor nuklir 25 tahun yang lalu sebagai latar sebuah film horor memang cukup orisinil dan belum pernah digunakan sebelumnya. Dengan latar yang baru ini, Oren Peli memaksimalkan pengalaman baru ini bagi penonton dengan memberikan ekspektasi dan membangun bayangan kota mati Pripyat di Ukraina ini sejak awal film. Suasana mencekam yang dibangun di seperempat awal film ini memang terkesan cukup lambat, namun ternyata cukup efektif untuk mengisi bayangan dan imajinasi penonton akan kota mati ini, yang memang seharusnya tidak ada makhluk hidup sama sekali karena tingkat radiasi yang masih ada.
baca selengkapnya...
"Film drama sosial yang sederhana dan menyentuh tentang seorang tukang sortir kantor pos yang mencoba membenahi berbagai permasalahan hidup dengan bantuan idolanya, Eric Cantona"
Eric Bishop adalah seorang tukang sortir di sebuah kantor pos di Inggris. Performanya di tempat kerja mulai menurun drastis setelah pertemuan pertamanya setelah beberapa belas tahun dengan mantan istrinya. Rekan-rekan kerjanya yang menyadari akan hal tersebut, membantu Eric dengan beberapa jenis terapi. Salah satunya adalah mencoba melihat ke diri sendiri melalui kaca mata idolanya. Eric yang merupakan fans berat Manchester United memilih Eric Cantona yang memang dia puja sejak dulu. Ternyata terapi tersebut membuat Eric menjadi menghidupkan imajinasi akan Eric Cantona yang hadir di dekatnya. Kehadiran Cantona menjadi teman ngobrol dan motivator akan berbagai masalah yang menimpa Eric; mulai dari cara menghadapi anak-anak hingga menghadapi mantan istrinya.
Looking for Eric adalah sebuah film yang sangat sederhana. Menyoroti satu individu yang memiliki permasalahan di berbagai segi, kemudian melihat dinamika pilihan solusi untuk membuat segala permasalahan itu menjadi lebih baik. Menarik untuk melihat terapi "imagine you look into yourself through you idol's eyes" diterapkan dalam film ini, yang ternyata cukup berhasil bagi Eric yang sangat mengidolakan Cantona. Apalagi sosok Eric Cantona di kehidupan nyata memang dikenal sebagai orang yang suka melemparkan kalimat-kalimat yang berbau filosofis.
baca selengkapnya...
Eric Bishop adalah seorang tukang sortir di sebuah kantor pos di Inggris. Performanya di tempat kerja mulai menurun drastis setelah pertemuan pertamanya setelah beberapa belas tahun dengan mantan istrinya. Rekan-rekan kerjanya yang menyadari akan hal tersebut, membantu Eric dengan beberapa jenis terapi. Salah satunya adalah mencoba melihat ke diri sendiri melalui kaca mata idolanya. Eric yang merupakan fans berat Manchester United memilih Eric Cantona yang memang dia puja sejak dulu. Ternyata terapi tersebut membuat Eric menjadi menghidupkan imajinasi akan Eric Cantona yang hadir di dekatnya. Kehadiran Cantona menjadi teman ngobrol dan motivator akan berbagai masalah yang menimpa Eric; mulai dari cara menghadapi anak-anak hingga menghadapi mantan istrinya.
Looking for Eric adalah sebuah film yang sangat sederhana. Menyoroti satu individu yang memiliki permasalahan di berbagai segi, kemudian melihat dinamika pilihan solusi untuk membuat segala permasalahan itu menjadi lebih baik. Menarik untuk melihat terapi "imagine you look into yourself through you idol's eyes" diterapkan dalam film ini, yang ternyata cukup berhasil bagi Eric yang sangat mengidolakan Cantona. Apalagi sosok Eric Cantona di kehidupan nyata memang dikenal sebagai orang yang suka melemparkan kalimat-kalimat yang berbau filosofis.
baca selengkapnya...





