"Dengan konsep film di dalam film, cerita dalam film asal Spanyol ini membawa penontonnya untuk merefleksikan apakah penjajahan oleh bangsa Barat terhadap negara-negara terbelakang di abad pertengahan sudah benar-benar hilang di era sekarang"
Sutradara asal Spanyol, Sebastian, dan produser eksekutifnya, Costa, sedang berada di kota Cochabamba, Bolivia untuk membuat film terbaru mereka. Dengan budget yang ketat, mereka mencoba membuat film epic yang menceritakan kisah Christopher Columbus di eksplorasi pertamanya menguasai "New World" di Amerika Tengah tahun 1511. Di Cochabamba, mereka dapat menyewa aktor lokal dan figuran dengan upah yang sangat murah, cocok untuk budget ketat mereka. Kesempatan untuk menjadi aktor-aktris lokal ini pun dimanfaatkan dengan baik oleh para warga lokal yang memang rata-rata memiliki kesulitan ekonomi dan mencari penghasilan tambahan. Masalah timbul ketika ada privatisasi air di kota Cochabamba, dan salah satu aktor yang memiliki peran yang cukup signifikan dalam film tersebut adalah aktivis utama dalam demonstrasi besar-besaran di kota tersebut.
Film ini adalah sebuah film dengan skenario cerdas yang menggunakan bentuk film di dalam film. Paruh awal film, penonton diberikan kisah duet sutradara dan produser eksekutif yang berusaha menyelesaikan film mereka dengan waktu yang sesingkat mungkin dan budget yang seminim mungkin ini. Di paruh awal ini pula, penonton tidak sulit untuk membaca karakter dari kedua tokoh utama yang ada dalam film ini. Si sutradara yang idealis dan fokus pada film dan para aktor-aktris yang terlibat di dalamnya, sementara si produser yang bertindak sebagai kepala tim pembuat film yang hanya memikirkan bagaimana untuk menelan pengeluaran seminim mungkin. Di paruh awal ini, penonton juga diberikan penggalan demi penggalan adegan film yang sedang mereka kerjakan. Mulai dari kali pertama Columbus mendarat di pantai Costa Rica, pertemuan pertama rombongan Spanyol dengan penduduk asli yang mereka sebut "Indians" karena mereka menyangka mereka mendarat di India, hingga eksploitasi mereka terhadap penduduk asli untuk mencari emas. Yang menarik adalah bagaimana penggalan-penggalan film ini dikemas dengan berbagai bentuk; mulai dari bentuk latihan tanpa kostum hingga take asli.
baca selengkapnya...
"Sebuah kisah nyata dan inspiratif tentang sepasang suami-istri yang berjuang melawan penyakit mematikan yang diderita oleh anak mereka yang baru berumur 18 bulan"
Film romantis asal Perancis yang satu ini memang menarik. Bercerita tentanv dinamika dan lika-liku sepasang kekasih yang kebetulan bernama Romeo dan Juliet. Mereka dipertemukan di sebuah pesta. Layaknya pasangan-pasangan lainnya, mereka pun saling berkenalan, tumbuh rasa ketertarikan, memadu kasih, hingga berkomitmen untuk menikah. Ketika Adam, anak pertama mereka lahir, komitmen dan perasaan mereka pun mendapat ujian yang berat ketika Adam didiagnosa menderita tumor otak di umur 2 tahun. Dengan karakter dan kepribadian mereka yang tampak cocok satu dengan yang lain, berdua mereka berusaha keras untuk melawan penyakit Adam.
Film ini tampaknya menjadi sebuah contoh yang sangat baik untuk bagaimana melawan sebuah penyakit ganas, atau dalam film ini berupa kanker. Dukungan yang tidak pernah berhenti dari keluarga dan sanak saudara, ditambah dengan komitmen dan perasaan yang begitu tinggi dari pasangan Romeo dan Juliet. Terkadang memang ada halangan yang tampaknya mustahil untuk dilewati, namun dengan dukungan dari relasi yang signifikan ternyata cukup meningkatkan semangat dan motivasi untuk terus maju.
baca selengkapnya...
Film romantis asal Perancis yang satu ini memang menarik. Bercerita tentanv dinamika dan lika-liku sepasang kekasih yang kebetulan bernama Romeo dan Juliet. Mereka dipertemukan di sebuah pesta. Layaknya pasangan-pasangan lainnya, mereka pun saling berkenalan, tumbuh rasa ketertarikan, memadu kasih, hingga berkomitmen untuk menikah. Ketika Adam, anak pertama mereka lahir, komitmen dan perasaan mereka pun mendapat ujian yang berat ketika Adam didiagnosa menderita tumor otak di umur 2 tahun. Dengan karakter dan kepribadian mereka yang tampak cocok satu dengan yang lain, berdua mereka berusaha keras untuk melawan penyakit Adam.
Film ini tampaknya menjadi sebuah contoh yang sangat baik untuk bagaimana melawan sebuah penyakit ganas, atau dalam film ini berupa kanker. Dukungan yang tidak pernah berhenti dari keluarga dan sanak saudara, ditambah dengan komitmen dan perasaan yang begitu tinggi dari pasangan Romeo dan Juliet. Terkadang memang ada halangan yang tampaknya mustahil untuk dilewati, namun dengan dukungan dari relasi yang signifikan ternyata cukup meningkatkan semangat dan motivasi untuk terus maju.
baca selengkapnya...
In A Better World
Posted by
Timotius Prassanto
26 November 2012
* * * *,
Academy Awards,
drama,
Europe on Screen,
family
"Susanne Bier membawakan deskripsi tentang balas dendam dan kekerasan secara logis dan psikologis dalam film Denmark yang sangat menyentuh ini"
Seberapa jauh anda akan bertindak jika seseorang berbuat salah kepada anda? Respon yang paling mudah dan effortless mungkin adalah marah, lalu kemudian membalas orang tersebut. Pembelaan diri menjadi tameng yang paling rasional dalam situasi seperti ini. Namun apakah hal tersebut memang menyelesaikan masalah? Terkadang sebuah pembalasan dendam pun menimbulkan konsekuensi tersendiri. Lingkaran setan kekerasan pun tidak akan pernah berhenti. Kira-kira ini yang ingin diutarakan oleh sutradara dan penulis naskah Susanne Bier dalam film terbarunya, In A Better World.
Dua anak berumur 11 tahun kini bersahabat setelah Christian membela Elias yang suka di-bully oleh teman-teman sekolah yang berbadan jauh lebih besar dari mereka berdua. Pertemanan mereka berdua pun perlahan membuka cerita pada latar belakang keluarga kedua anak ini. Elias berusaha untuk menjalani hidupnya dengan hubungan jarak jauh dengan ayahnya yang melayani di Afrika sebagai dokter. Sementara Christian baru saja kehilangan ibunya karena kanker, dan menyalahkan ayahnya karena menyerah pada kematian ibunya.
baca selengkapnya...
Seberapa jauh anda akan bertindak jika seseorang berbuat salah kepada anda? Respon yang paling mudah dan effortless mungkin adalah marah, lalu kemudian membalas orang tersebut. Pembelaan diri menjadi tameng yang paling rasional dalam situasi seperti ini. Namun apakah hal tersebut memang menyelesaikan masalah? Terkadang sebuah pembalasan dendam pun menimbulkan konsekuensi tersendiri. Lingkaran setan kekerasan pun tidak akan pernah berhenti. Kira-kira ini yang ingin diutarakan oleh sutradara dan penulis naskah Susanne Bier dalam film terbarunya, In A Better World.
Dua anak berumur 11 tahun kini bersahabat setelah Christian membela Elias yang suka di-bully oleh teman-teman sekolah yang berbadan jauh lebih besar dari mereka berdua. Pertemanan mereka berdua pun perlahan membuka cerita pada latar belakang keluarga kedua anak ini. Elias berusaha untuk menjalani hidupnya dengan hubungan jarak jauh dengan ayahnya yang melayani di Afrika sebagai dokter. Sementara Christian baru saja kehilangan ibunya karena kanker, dan menyalahkan ayahnya karena menyerah pada kematian ibunya.
baca selengkapnya...
"Film kriminal tentang tujuh psikopat yang jalan hidupnya saling bertautan satu dengan yang lain ini diperkuat dengan naskah yang cerdas serta dibungkus dengan komedi yang menggelikan"
Seorang penulis naskah film yang sedang berusaha mencari ide untuk naskah terbarunya, harus terjebak dalam dunia kriminal bawah tanah di Los Angeles. Sahabatnya Billy memang banyak membantu menyumbangkan beberapa ide untuk cerita kriminal tentang psikopat yang ditulis oleh Marty. Namun bisnis gelap Billy yang akan membawa kehidupan mereka menjadi jauh berbeda. Billy dan temannya Hans mencari uang dengan cara "meminjam" anjing-anjing, untuk kemudian dikembalikan lagi kepada para pemiliknya dengan mendapat imbalan. Ketika Billy menculik anjing Shih Tzu, pemiliknya yang ternyata seorang kepala mafia pun menuntut dikembalikannya anjingnya dengan segala cara. Ternyata, pertemuan Marty dengan orang-orang dari dunia hitam ini menambah banyak ide ke dalam naskahnya, yang diberi judul Seven Psychopaths.
Cerita-cerita kriminal berliku dan penuh dengan komedi absurd memang sempat menjadi ciri khas dari penulis dan sutradara Guy Ritchie dan Quentin Tarantino. Kini, deretan nama tersebut akan bertambah dengan penulis dan sutradara asal London, Martin McDonagh. Film panjang pertamanya, In Bruges (2008) berhasil masuk dalam nominasi naskah asli terbaik dalam Academy Award 2009. Tahun ini, film panjang keduanya bukan tidak mungkin akan dijagokan dalam beberapa penghargaan film bergengsi. Kenapa tidak? Cerita yang ditawarkan cukup orisinil dan cerdas. Meskipun jejaring ceritanya tipikal Snatch.(2000) dan Lock, Stock and Two Smoking Barrels (1998), tapi McDonagh menawarkan elemen film di dalam film dimana plotnya pun berlapis. Jika kehilangan konsentrasi atau mata berpaling dari layar sepersekian detik saja, mungkin penonton akan kesulitan untuk mengikuti jalan ceritanya.
Sesuai dengan judulnya, film ini akan mengupas ke-tujuh psikopat yang ditulis oleh Marty di dalam naskahnya. Di paruh awal film, McDonagh memperkenalkan ketujuh psikopat ini dengan perlahan namun pasti. Yang menarik adalah bagaimana ketujuh psikopat ini ada yang memang berbasis realita dan ada yang karangan fiksi belaka. Semua tokoh psikopat dari realita dan karangan Marty ini dicampur-aduk seakan-akan kehidupan asli Marty dan karangan fiksinya adalah satu universal yang sama. Cerdas memang, seakan menggambarkan bahwa kehidupan seorang penulis naskah cenderung mengalami disosiasi antara realita dan fiksi yang dikarangnya sendiri.
baca selengkapnya...
Seorang penulis naskah film yang sedang berusaha mencari ide untuk naskah terbarunya, harus terjebak dalam dunia kriminal bawah tanah di Los Angeles. Sahabatnya Billy memang banyak membantu menyumbangkan beberapa ide untuk cerita kriminal tentang psikopat yang ditulis oleh Marty. Namun bisnis gelap Billy yang akan membawa kehidupan mereka menjadi jauh berbeda. Billy dan temannya Hans mencari uang dengan cara "meminjam" anjing-anjing, untuk kemudian dikembalikan lagi kepada para pemiliknya dengan mendapat imbalan. Ketika Billy menculik anjing Shih Tzu, pemiliknya yang ternyata seorang kepala mafia pun menuntut dikembalikannya anjingnya dengan segala cara. Ternyata, pertemuan Marty dengan orang-orang dari dunia hitam ini menambah banyak ide ke dalam naskahnya, yang diberi judul Seven Psychopaths.
Cerita-cerita kriminal berliku dan penuh dengan komedi absurd memang sempat menjadi ciri khas dari penulis dan sutradara Guy Ritchie dan Quentin Tarantino. Kini, deretan nama tersebut akan bertambah dengan penulis dan sutradara asal London, Martin McDonagh. Film panjang pertamanya, In Bruges (2008) berhasil masuk dalam nominasi naskah asli terbaik dalam Academy Award 2009. Tahun ini, film panjang keduanya bukan tidak mungkin akan dijagokan dalam beberapa penghargaan film bergengsi. Kenapa tidak? Cerita yang ditawarkan cukup orisinil dan cerdas. Meskipun jejaring ceritanya tipikal Snatch.(2000) dan Lock, Stock and Two Smoking Barrels (1998), tapi McDonagh menawarkan elemen film di dalam film dimana plotnya pun berlapis. Jika kehilangan konsentrasi atau mata berpaling dari layar sepersekian detik saja, mungkin penonton akan kesulitan untuk mengikuti jalan ceritanya.
Sesuai dengan judulnya, film ini akan mengupas ke-tujuh psikopat yang ditulis oleh Marty di dalam naskahnya. Di paruh awal film, McDonagh memperkenalkan ketujuh psikopat ini dengan perlahan namun pasti. Yang menarik adalah bagaimana ketujuh psikopat ini ada yang memang berbasis realita dan ada yang karangan fiksi belaka. Semua tokoh psikopat dari realita dan karangan Marty ini dicampur-aduk seakan-akan kehidupan asli Marty dan karangan fiksinya adalah satu universal yang sama. Cerdas memang, seakan menggambarkan bahwa kehidupan seorang penulis naskah cenderung mengalami disosiasi antara realita dan fiksi yang dikarangnya sendiri.
baca selengkapnya...
"Film yang bercerita tentang kehidupan para karakter dari video game arcade ini sangat menghibur dengan cameonya, ide orisinil, lelucon segar, dan cerita yang penuh makna"
Film panjang animasi dari Disney terbaru, Wreck-It Ralph, mengambil ide cerita yang sangat orisinil, unik, dan brilian. Jika Toy Story bercerita tentang kehidupan para mainan, maka Wreck-It Ralph bercerita tentang kehidupan para karakter dalam permainan video game arcade di sebuah tempat pusat permainan. Ketika sebuah video game arcade tidak dimainkan, maka para karakternya akan "beristirahat" dari rutinitas "pekerjaan" mereka masing-masing. Lazimnya dalam sebuah permainan, pasti ada tokoh antagonis yang menimbulkan masalah, yang kemudian akan diselesaikan oleh si tokoh protagonis. Nah, film ini dengan cerdas hendak mengajak para penontonnya untuk melihat, bagaimana kehidupan tokoh antagonis ini ketika tidak dalam rutinitas permainan sehari-hari.
Permainan Fix It Felix, Jr. (permainan yang diciptakan khusus oleh pembuat film yang terinspirasi dari permainan Donkey Kong) adalah sebuah permainan dimana akan ada karakter Felix yang akan mereparasi kerusakan gedung apartemen yang dirusak oleh karakter Ralph. Setiap kali Felix berhasil mereparasi gedung tersebut, maka para penghuni apartemen Nicelander akan melempar Ralph dari atap apartemen ke air comberan di bawah. Rutinitas permainan itu pun selalu berjalan seperti itu. Felix yang baik akan menang dan dipuja, Ralph yang jahat akan kalah dan dikucilkan. Bahkan pengucilan itu tetap terjadi setelah permainan berakhir, dimana Ralph harus tidur di tempat pembuangan sampah, sementara Felix dan warga Nicelander tidur di kamar yang mewah. Felix yang kesepian dan terpinggirkan hanya ingin memiliki teman untuk berbagi cerita. Namun Felix dan para warga menolaknya karena, well, Ralph adalah karakter jahat dan perusak. Ralph sadar, jika ia ingin diterima oleh Felix dan kawan-kawan, ia harus mendapatkan medali kemenangan dan menjadi karakter yang baik. Tetapi Ralph tidak akan mendapatkan semua itu di dalam permainannya sendiri. Masalah pun muncul ketika Ralph berpindah permainan dan mengganggu jalannya permainan yang lain.
baca selengkapnya...
Film panjang animasi dari Disney terbaru, Wreck-It Ralph, mengambil ide cerita yang sangat orisinil, unik, dan brilian. Jika Toy Story bercerita tentang kehidupan para mainan, maka Wreck-It Ralph bercerita tentang kehidupan para karakter dalam permainan video game arcade di sebuah tempat pusat permainan. Ketika sebuah video game arcade tidak dimainkan, maka para karakternya akan "beristirahat" dari rutinitas "pekerjaan" mereka masing-masing. Lazimnya dalam sebuah permainan, pasti ada tokoh antagonis yang menimbulkan masalah, yang kemudian akan diselesaikan oleh si tokoh protagonis. Nah, film ini dengan cerdas hendak mengajak para penontonnya untuk melihat, bagaimana kehidupan tokoh antagonis ini ketika tidak dalam rutinitas permainan sehari-hari.
Permainan Fix It Felix, Jr. (permainan yang diciptakan khusus oleh pembuat film yang terinspirasi dari permainan Donkey Kong) adalah sebuah permainan dimana akan ada karakter Felix yang akan mereparasi kerusakan gedung apartemen yang dirusak oleh karakter Ralph. Setiap kali Felix berhasil mereparasi gedung tersebut, maka para penghuni apartemen Nicelander akan melempar Ralph dari atap apartemen ke air comberan di bawah. Rutinitas permainan itu pun selalu berjalan seperti itu. Felix yang baik akan menang dan dipuja, Ralph yang jahat akan kalah dan dikucilkan. Bahkan pengucilan itu tetap terjadi setelah permainan berakhir, dimana Ralph harus tidur di tempat pembuangan sampah, sementara Felix dan warga Nicelander tidur di kamar yang mewah. Felix yang kesepian dan terpinggirkan hanya ingin memiliki teman untuk berbagi cerita. Namun Felix dan para warga menolaknya karena, well, Ralph adalah karakter jahat dan perusak. Ralph sadar, jika ia ingin diterima oleh Felix dan kawan-kawan, ia harus mendapatkan medali kemenangan dan menjadi karakter yang baik. Tetapi Ralph tidak akan mendapatkan semua itu di dalam permainannya sendiri. Masalah pun muncul ketika Ralph berpindah permainan dan mengganggu jalannya permainan yang lain.
baca selengkapnya...
Akhir-akhir ini, adalah sebuah hal yang wajar bagi sebuah concert film untuk masuk ke jaringan bioskop-bioskop, terutama di tanah air. Beberapa diantara kita masih ingat dengan dokumenter dan concert film dari persiapan konser terakhir Michael Jackson dalam This Is It (2009). Beberapa bulan belakangan pun masih membekas di ingatan dengan concert film dari Katy Perry dan Justin Bieber. Kali ini, tampaknya Coldplay tidak mau ketinggalan dengan tren tersebut. Pemutaran one night only ini pun sebagai terompet start dari dirilisnya concert film, Coldplay Live 2012, dalam bentuk DVD dan Blue-ray.
Coldplay adalah sebuah band rock alternatif asal Inggris yang selalu sukses dalam setiap album yang mereka rilis. Parachutes (2000), A Rush of Blood to the Head (2002), X&Y (2005), Viva la Vida or Death and All His Friends (2008), dan Mylo Xyloto (2011) selalu mendapat berbagai review positif dan beberapa penghargaan penting mulai dari Grammy Award hingga MTV Music Award. Dari tahun 2008, Coldplay yang dikepalai oleh Chris Martin ini selalu mengeluarkan album yang berkonsep. Viva la Vida yang berkonsep Hispanic yang klasik, terakhir adalah Mylo Xyloto yang lebih warna-warni lewat coretan-coretan grafiti. Konsep ini pun secara konsisten ditampilkan dalam setiap lagu, dan juga nuansa dekorasi ketika mereka beraksi di panggung.
Sulit untuk membandingkan album mana yang paling baik, karena setiap albumnya memiliki ciri khas dan konsep yang berbeda-beda. Namun untuk Mylo Xyloto, adalah menarik untuk mendengarkan dan menonton setiap live concert mereka. Dimulai dari lagu-lagunya yang mood booster, hingga setiap gaya dekorasinya yang konsisten menampilkan coret-coretan grafiti, mulai dari panggung hingga setiap instrumen yang digunakan oleh vocalist Chris Martin, bassist Guy Berryman, lead guitar Jonny Buckland, dan drummer Will Champion.
baca selengkapnya...
"Omnibus tentang Jakarta yang mempertanyakan dimana nurani setiap warganya, dari sudut pandang beberapa warganya dari kelas sosial dan ekonomi yang berbeda, yang sayangnya kurang representatif terhadap latarnya sendiri"
Setelah menggambarkan Jakarta yang menuju saat-saat kontemplasinya dalam Jakarta Maghrib (2010), kali ini sutradara dan penulis naskah Salman Aristo melanjutkan ceritanya tentang ibukota dari sudut pandang yang lain dalam Jakarta Hati. Berangkat dari ide cerita mengenai masih adakah hati dan perasaan di tengah kehidupan kota besar yang nyaris menelan makna kehidupan dari para penghuninya sendiri, film ini dibuat dengan konsep yang sama dari pendahulunya. Enam cerita pendek yang berbeda diceritakan dalam total durasi 114 menit ini menyasar para karakter yang berasal dari generasi, kelas ekonomi, dan kelompok masyarakat yang berbeda.
Ada segmen Orang Lain, ketika seorang lelaki paruh baya yang sedang membunuh waktu di sebuah kafe dihampiri oleh seorang perempuan muda yang cantik. Segmen tersebut dibuka dengan percakapan singkat dan menjadi benang merah dari cerita ini; "istri anda selingkuh dengan pacar saya". Sama-sama memendam sakit hati, mereka berdua pun menghabiskan waktu dengan menyusuri Jakarta, untuk kemudian mempertanyakan siapa yang telah menjadi orang lain dalam masing-masing hubungan mereka. Kemudian ada segmen Kabar Baik, dimana seorang polisi muda harus mengurus BAP dari seorang penipu kelas kakap yang ternyata adalah ayahnya sendiri. Dilema pun terjadi ketika urusan profesional bercampur aduk dengan urusan keluarga yang memiliki latar belakang yang pahit. Dalam segmen Masih Ada, seorang anggota DPR yang hendak ke Senayan untuk melakukan transaksi korupsi, harus berhadapan langsung dengan rakyat kecil yang sudah muak dengan politik beserta politisinya. Alasan keluarga memang menjadi akar dibalik transaksi gelap yang merugikan negara tersebut, namun hati nuraninya masih terketuk lewat interaksinya dengan berbagai orang di jalan.
Permasalahan idealisme dengan realita hidup pun turut diangkat dalam segmen Hadiah. Seorang penulis naskah yang sudah dua tahun tidak menghasilkan naskah film layar lebar, dihadapkan dengan realita hidup ketika ia tetap harus menghidupi keluarganya. Dilema muncul ketika ada tawaran pekerjaan, namun yang harus digarap adalah film komedi seks murahan. Bukan film tentang Jakarta jika tidak ada plot perselingkuhan. Dalam satu kamar yang gelap karena pemadaman bergilir, sepasang suami-istri pun berdebat mengenai kehidupan kasur mereka yang hambar dan perselingkuhan yang ada di masing-masing pasangan dalam segmen Dalam Gelap. Film pun ditutup dengan cerita yang cukup ringan, tentang janda keturunan Pakistan dan pemuda keturuan Cina yang dirundung asmara dalam segmen Darling Fatima. Pertengkaran dan perdebatan yang terjadi di tengah sebuah pasar tradisional pun membahana, sehubungan dengan rasa cemburu, hingga keinginan untuk menikah.
baca selengkapnya...
Setelah menggambarkan Jakarta yang menuju saat-saat kontemplasinya dalam Jakarta Maghrib (2010), kali ini sutradara dan penulis naskah Salman Aristo melanjutkan ceritanya tentang ibukota dari sudut pandang yang lain dalam Jakarta Hati. Berangkat dari ide cerita mengenai masih adakah hati dan perasaan di tengah kehidupan kota besar yang nyaris menelan makna kehidupan dari para penghuninya sendiri, film ini dibuat dengan konsep yang sama dari pendahulunya. Enam cerita pendek yang berbeda diceritakan dalam total durasi 114 menit ini menyasar para karakter yang berasal dari generasi, kelas ekonomi, dan kelompok masyarakat yang berbeda.
Ada segmen Orang Lain, ketika seorang lelaki paruh baya yang sedang membunuh waktu di sebuah kafe dihampiri oleh seorang perempuan muda yang cantik. Segmen tersebut dibuka dengan percakapan singkat dan menjadi benang merah dari cerita ini; "istri anda selingkuh dengan pacar saya". Sama-sama memendam sakit hati, mereka berdua pun menghabiskan waktu dengan menyusuri Jakarta, untuk kemudian mempertanyakan siapa yang telah menjadi orang lain dalam masing-masing hubungan mereka. Kemudian ada segmen Kabar Baik, dimana seorang polisi muda harus mengurus BAP dari seorang penipu kelas kakap yang ternyata adalah ayahnya sendiri. Dilema pun terjadi ketika urusan profesional bercampur aduk dengan urusan keluarga yang memiliki latar belakang yang pahit. Dalam segmen Masih Ada, seorang anggota DPR yang hendak ke Senayan untuk melakukan transaksi korupsi, harus berhadapan langsung dengan rakyat kecil yang sudah muak dengan politik beserta politisinya. Alasan keluarga memang menjadi akar dibalik transaksi gelap yang merugikan negara tersebut, namun hati nuraninya masih terketuk lewat interaksinya dengan berbagai orang di jalan.
Permasalahan idealisme dengan realita hidup pun turut diangkat dalam segmen Hadiah. Seorang penulis naskah yang sudah dua tahun tidak menghasilkan naskah film layar lebar, dihadapkan dengan realita hidup ketika ia tetap harus menghidupi keluarganya. Dilema muncul ketika ada tawaran pekerjaan, namun yang harus digarap adalah film komedi seks murahan. Bukan film tentang Jakarta jika tidak ada plot perselingkuhan. Dalam satu kamar yang gelap karena pemadaman bergilir, sepasang suami-istri pun berdebat mengenai kehidupan kasur mereka yang hambar dan perselingkuhan yang ada di masing-masing pasangan dalam segmen Dalam Gelap. Film pun ditutup dengan cerita yang cukup ringan, tentang janda keturunan Pakistan dan pemuda keturuan Cina yang dirundung asmara dalam segmen Darling Fatima. Pertengkaran dan perdebatan yang terjadi di tengah sebuah pasar tradisional pun membahana, sehubungan dengan rasa cemburu, hingga keinginan untuk menikah.
baca selengkapnya...
Atambua, 13 tahun setelah referendum. Kalimat pembuka di awal film ini menjadi penegasan bahwa film ini akan mengambil latar yang bernuansa politik dan sejarah. Mengambil potret tiga orang warga pengungsi yang berada di kota Atambua, kota perbatasan antara Indonesia dengan Timor Leste, cara pandang mereka terhadap pengaruh peristiwa referendum tahun 1999 menjadikan film ini sebagai film dengan unsur sosio-kultural yang kuat tentang warga di pulau Timor. Ronaldo seorang supir truk, anaknya Joao yang menginjak usia remaja, dan seorang gadis Nikia yang kembali ke rumah asalnya dari Kupang. Interaksi ketiga karakter utama ini sedikit menggambarkan kehidupan para pengungsi, atau sebagian orang-orang yang kontra-referendum, terhadap kehidupannya sekarang dalam film terbaru arahan sutradara dan penulis Riri Riza, Atambua 39 Derajat Celcius.
Kehidupan Ronaldo dan Joao bisa dibilang jauh dari mencukupi. Pekerjaan Ronaldo sebagai supir truk kurang dapat memenuhi kebutuhan mereka berdua, apalagi setelah Ronaldo dipecat dari pekerjaannya karena terlalu sering minum dan mabuk-mabukan bahkan disaat sedang bekerja. Sementara Joao mengisi waktu luangnya dengan bergantian menjemur baterai-baterai kosongnya hanya untuk mengulang-ulang kaset rekaman suara ibunya yang meminta mereka berdua kembali ke kota Liquica, Timor Leste untuk bersatu kembali dengan ibu dan kedua kakak kandung Joao setelah terpisah selama 13 tahun.
Konflik dipicu oleh kedatangan Nikia dari Kupang untuk kembali ke Atambua dengan maksud menguburkan kakeknya yang meninggal. Pertemuan dengan sahabat masa kecilnya Joao pun tidak terhindarkan. Joao adalah remaja pendiam yang kaku, tidak tahu bagaimana mengungkapkan rasa ketertarikan terhadap lawan jenis. Ketika luapan perasaan Joao terlalu agresif, Nikia kabur untuk kembali ke Kupang. Joao yang tampak kehilangan arah dalam hidupnya pun bertindak impulsif, menyusul Nikia ke Kupang setelah membebaskan ayahnya dari penjara karena perkelahian di tempat bilyar. Ronaldo yang menyadari kehilangannya sepeninggalan Joao setelah mendengarkan kembali kaset rekaman dari istrinya, pun segera bertindak untuk menyelamatkan keutuhan keluarganya.
baca selengkapnya...
"Drama komedi yang sangat jujur dan dekat dengan kehidupan sehari-hari tentang seorang profesional muda yang berjuang melawan kanker, dengan dukungan kuat dari sahabat dan orang tuanya"
Terlalu lama menunggu film ini rilis di Indonesia, saya telah menontonnya terlebih dahulu di awal tahun lewat jaringan internet. Mungkin pihak 21 Cineplex sengaja menunggu film-film pamungkas dari Joseph Gordon-Levitt untuk rilis duluan, seperti Premium Rush dan Looper, baru merilis film drama yang kecenderungannya akan dihindari oleh pasar penonton bioskop di Indonesia. Kini, saya cukup senang dengan kemunculan film yang dinominasikan dalam kategori Best Motion Picture - Comedy or Musical dan Best Actor di Golden Globe 2011 ini di bioskop tanah air. Setidaknya agar publik Indonesia dapat menambah referensi tentang bagaimana pentingnya dukungan dari orang-orang terdekat untuk orang yang terjangkit penyakit kanker, lewat film 50/50 ini.
Terinspirasi dari kisah nyata, Adam adalah seorang profesional muda yang bekerja di sebuah stasiun radio. Setelah beberapa lama mengeluh sakit punggung, dokter menjatuhkan vonis kanker tulang belakang pada dirinya. Dengan dukungan dari orang tua, sahabat, dan seorang psikiater muda, Adam belajar tentang apa dan siapa yang penting dalam hidupnya.
Ini adalah kisah yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, mengenai keterisolasian individu di tengah masalah besar yang sedang mengguncangnya, serta dukungan tanpa henti dari orang-orang terdekat di sekitarnya. Pilihan konflik yang diambil pun adalah sebuah penyakit mematikan yang populer di negara-negara Barat; kanker. Dialami sendiri dan ditulis oleh Will Reiser, pengalaman hidup dan naskah ini berubah menjadi sebuah film yang inspiratif dan memberikan banyak referensi bagi mereka dan significant-others yang sedang menghadapi kanker. Diselingi dengan komedi, naik-turunnya film ini pun menjadi enak untuk dinikmati selama durasi 100 menit.
baca selengkapnya...
Terlalu lama menunggu film ini rilis di Indonesia, saya telah menontonnya terlebih dahulu di awal tahun lewat jaringan internet. Mungkin pihak 21 Cineplex sengaja menunggu film-film pamungkas dari Joseph Gordon-Levitt untuk rilis duluan, seperti Premium Rush dan Looper, baru merilis film drama yang kecenderungannya akan dihindari oleh pasar penonton bioskop di Indonesia. Kini, saya cukup senang dengan kemunculan film yang dinominasikan dalam kategori Best Motion Picture - Comedy or Musical dan Best Actor di Golden Globe 2011 ini di bioskop tanah air. Setidaknya agar publik Indonesia dapat menambah referensi tentang bagaimana pentingnya dukungan dari orang-orang terdekat untuk orang yang terjangkit penyakit kanker, lewat film 50/50 ini.
Terinspirasi dari kisah nyata, Adam adalah seorang profesional muda yang bekerja di sebuah stasiun radio. Setelah beberapa lama mengeluh sakit punggung, dokter menjatuhkan vonis kanker tulang belakang pada dirinya. Dengan dukungan dari orang tua, sahabat, dan seorang psikiater muda, Adam belajar tentang apa dan siapa yang penting dalam hidupnya.
Ini adalah kisah yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, mengenai keterisolasian individu di tengah masalah besar yang sedang mengguncangnya, serta dukungan tanpa henti dari orang-orang terdekat di sekitarnya. Pilihan konflik yang diambil pun adalah sebuah penyakit mematikan yang populer di negara-negara Barat; kanker. Dialami sendiri dan ditulis oleh Will Reiser, pengalaman hidup dan naskah ini berubah menjadi sebuah film yang inspiratif dan memberikan banyak referensi bagi mereka dan significant-others yang sedang menghadapi kanker. Diselingi dengan komedi, naik-turunnya film ini pun menjadi enak untuk dinikmati selama durasi 100 menit.
baca selengkapnya...
"Menceritakan kelanjutan dari gerak-gerik Katie yang menculik Hunter dan mengganggu kehidupan tetangga barunya, film ini keluar dari jalur franchise PA dan menjadi film horor remaja biasa"
Di akhir setiap filmnya, setiap sekuel Paranormal Activity memang memberikan berbagai alternatif celah untuk tetap melanjutkan ceritanya. Di PA 2 (2010) kita melihat bagaimana kehidupan Kristi, kakak kandung dari Katie yang ternyata memiliki masa lalu yang mengerikan bersama Katie. Ketika penonton bertanya-tanya apa yang terjadi pada masa lalu kakak beradik ini, PA 3 (2011) hadir sebagai "prequel" dengan menampilkan masa kecil Katie dan Kristi. Untuk meneruskan kontinuiti dari serial PA, maka memang layak untuk dipertanyakan, kemana Katie dan Hunter pergi? Paranormal Activity 4 ini pun hadir untuk menjawab hal tersebut.
Ketika PA 2 hadir untuk menjelaskan kejadian yang terjadi sebelum dan sesudah kontinuitas cerita di PA 1, PA 3 hadir untuk menjelaskan masa lalu Katie dan Kristi. Entah entitas jahat apa yang merasuki tubuh dan pikiran para produser, maka mereka merasa penting untuk menjelaskan apa yang terjadi dengan Katie di masa kini. Ini adalah sebuah kesalahan fatal; menjelaskan kelanjutan nasib dari "karakter utama" yang telah ditutup dengan sangat cantik sehingga menimbulkan rasa penasaran pada penonton. Rasa penasaran tersebut pun akan tetap hidup, dan dengan demikian serial PA akan selalu dikenang oleh para fansnya. Namun ketika rasa penasaran tersebut terjawab, dan sayangnya terjawab dengan naskah yang jauh tidak lebih baik dari prekuel-prekuelnya, cerita ini pun akan menjadi sangat mudah untuk dilupakan.
baca selengkapnya...
Di akhir setiap filmnya, setiap sekuel Paranormal Activity memang memberikan berbagai alternatif celah untuk tetap melanjutkan ceritanya. Di PA 2 (2010) kita melihat bagaimana kehidupan Kristi, kakak kandung dari Katie yang ternyata memiliki masa lalu yang mengerikan bersama Katie. Ketika penonton bertanya-tanya apa yang terjadi pada masa lalu kakak beradik ini, PA 3 (2011) hadir sebagai "prequel" dengan menampilkan masa kecil Katie dan Kristi. Untuk meneruskan kontinuiti dari serial PA, maka memang layak untuk dipertanyakan, kemana Katie dan Hunter pergi? Paranormal Activity 4 ini pun hadir untuk menjawab hal tersebut.
Film ini bercerita tentang lima tahun semenjak kejadian di Paranormal Activity (2007) dimana Katie membawa Hunter, anak dari kakaknya, Kristi. Di tahun 2011, Katie dan Hunter pindah ke lingkungan baru. Sementara itu, seorang remaja perempuan Alex merasakan hal-hal aneh terjadi di rumahnya setelah Katie menjadi tetangganya.
Ketika PA 2 hadir untuk menjelaskan kejadian yang terjadi sebelum dan sesudah kontinuitas cerita di PA 1, PA 3 hadir untuk menjelaskan masa lalu Katie dan Kristi. Entah entitas jahat apa yang merasuki tubuh dan pikiran para produser, maka mereka merasa penting untuk menjelaskan apa yang terjadi dengan Katie di masa kini. Ini adalah sebuah kesalahan fatal; menjelaskan kelanjutan nasib dari "karakter utama" yang telah ditutup dengan sangat cantik sehingga menimbulkan rasa penasaran pada penonton. Rasa penasaran tersebut pun akan tetap hidup, dan dengan demikian serial PA akan selalu dikenang oleh para fansnya. Namun ketika rasa penasaran tersebut terjawab, dan sayangnya terjawab dengan naskah yang jauh tidak lebih baik dari prekuel-prekuelnya, cerita ini pun akan menjadi sangat mudah untuk dilupakan.
baca selengkapnya...
"Mengeksplorasi hubungan antara Bond dengan M demi menghindari kejaran seorang teroris, film ini menjadi serial 007 terbaik di era Daniel Craig"
Semua novel James Bond karangan Ian Fleming telah habis diadaptasi ke layar lebar. (Beruntung) para produser tidak memiliki niat untuk membuat remake dari salah satu film-film lawas tersebut. Di era Daniel Craig sebagai ikon 007 terbaru, para produser pun sedang mencari jalan terbaik untuk meneruskan franchise James Bond terbaru dengan mengandalkan cerita-cerita orisinil. Dengan mengambil beberapa elemen dari Ian Fleming yang tidak digunakan dalam setiap adaptasi layar lebarnya, sebuah kisah baru yang standalone dan tidak berkesinambungan dari Casino Royale (2006) dan Quantum of Solace (2008) pun dibuat. Sutradara pemenang Oscar lewat American Beauty (1999) direkrut untuk menahkodai film Bond ke-23 ini, yang tidak menggunakan judul-judul novel Ian Fleming; Skyfall.
Sebuah tragedi pada misi terakhirnya membuat Bond terluka parah. Namun seorang penjahat cyber dan cerdas muncul dan mengancam keselamatan M karena dendam masa lalu. Walaupun dengan kondisi fisik yang menurun drastis pasca-tragedi tersebut, kesetiaan Bond diuji untuk menyelamatkan M dan menguak organisasi rahasia tersebut.
Kisah Bond dalam mengungkap dan mengejar tokoh antagonis utama kali ini memang dibuat rumit dan menyulitkan. Ini dibuat demi menghidupkan karakter antagonis secerdas The Joker dalam The Dark Knight (2008). Tokoh Silva ini pun sengaja ditulis untuk Javier Bardem, yang pernah meraih Oscar lewat peran antagonisnya di No Country for Old Men (2007). Saking rumit dan sulitnya untuk menangkap Silva, durasi 143 menit pun tidak terasa yang dipenuhi oleh drama yang penuh intrik serta adegan aksi yang cukup menegangkan.
baca selengkapnya...
Semua novel James Bond karangan Ian Fleming telah habis diadaptasi ke layar lebar. (Beruntung) para produser tidak memiliki niat untuk membuat remake dari salah satu film-film lawas tersebut. Di era Daniel Craig sebagai ikon 007 terbaru, para produser pun sedang mencari jalan terbaik untuk meneruskan franchise James Bond terbaru dengan mengandalkan cerita-cerita orisinil. Dengan mengambil beberapa elemen dari Ian Fleming yang tidak digunakan dalam setiap adaptasi layar lebarnya, sebuah kisah baru yang standalone dan tidak berkesinambungan dari Casino Royale (2006) dan Quantum of Solace (2008) pun dibuat. Sutradara pemenang Oscar lewat American Beauty (1999) direkrut untuk menahkodai film Bond ke-23 ini, yang tidak menggunakan judul-judul novel Ian Fleming; Skyfall.
Sebuah tragedi pada misi terakhirnya membuat Bond terluka parah. Namun seorang penjahat cyber dan cerdas muncul dan mengancam keselamatan M karena dendam masa lalu. Walaupun dengan kondisi fisik yang menurun drastis pasca-tragedi tersebut, kesetiaan Bond diuji untuk menyelamatkan M dan menguak organisasi rahasia tersebut.
Kisah Bond dalam mengungkap dan mengejar tokoh antagonis utama kali ini memang dibuat rumit dan menyulitkan. Ini dibuat demi menghidupkan karakter antagonis secerdas The Joker dalam The Dark Knight (2008). Tokoh Silva ini pun sengaja ditulis untuk Javier Bardem, yang pernah meraih Oscar lewat peran antagonisnya di No Country for Old Men (2007). Saking rumit dan sulitnya untuk menangkap Silva, durasi 143 menit pun tidak terasa yang dipenuhi oleh drama yang penuh intrik serta adegan aksi yang cukup menegangkan.
baca selengkapnya...











