Ted

"Humor cerdas dari kreator Family Guy, Seth MacFarlane, menjadi kekuatan utama film yang kocak dan menyenangkan ini, walaupun kurang kena dengan penonton Indonesia"

Film-film komedi AS yang menggunakan karakter animasi sebagai peran utama memang bukan film-film pilihan saya. Paul (2011) hanyalah satu dari beberapa film sejenis yang saya sukai. Kini daftar tersebut tampaknya akan bertambah dengan kehadiran film hasil karya sutradara dan penulis Seth MacFarlane, sang kreator film seri Family Guy ini dalam film Ted.

Di suatu malam Natal, John Bennet kecil membuat terkabulnya suatu permohonan yang diimpikan oleh ribuan anak kecil di dunia; membuat boneka Teddy Bear-nya menjadi hidup. John pun tumbuh besar bersama sahabat masa kecilnya Ted, yang juga tumbuh layaknya laki-laki slengean. Waktunya pun tiba dimana John harus memilih satu yang akan menemani hidupnya hingga akhir; Ted atau Lori pacarnya yang mengharapkan sesuatu yang lebih dari hubungannya yang sekarang ini.

Ternyata film ini menjadi sangat lucu, kocak, dan menghibur, walaupun harus saya akui film ini hanya akan kena pada beberapa segmen penonton saja; penonton AS, fans Family Guy, dan/atau penonton film tahun 1980-an. Gaya humor cerdas MacFarlane memang menjadi kekuatan utama dalam film ini, yang tercerminkan lewat dialog-dialognya. Humor-humor ini yang menjadi sajian utama disamping plot "romance vs bromance" yang sangat formulatif.

baca selengkapnya...

Premium Rush

"Film action formulatif yang disegarkan dengan sepeda fixie sebagai pemeran utama dalam film yang seru dan menyenangkan ini"

Ini adalah kabar gembira bagi para pecinta dan komunitas sepeda Fixie. Yak, akhirnya ada film action asal Hollywood yang menempatkan sepeda fix gear-no brakes ini sebagai roda utama penggerak jalan cerita dalam film. Dibintangi oleh aktor yang sedang naik daun Joseph Gordon-Levitt yang kebanyakan melakukan stunt-nya sendiri, menaiki sepeda Fixie melintasi lalu lintas Manhattan yang padat. Sutradara dan penulis naskah David Koepp (Secret Window) pun menyajikan petualangan yang seru, yang diambil dari kaca mata kurir sepeda dalam film Premium Rush.

Wilee (Gordon-Levitt) adalah satu dari sekitar 1500 kurir sepeda di Manhattan. Di tengah tuntutan uang, Wilee mengambil sebuah kiriman yang ternyata sangat berharga yang harus dikirimkan ke suatu tempat dengan batas waktu tertentu. Ternyata kirimnan tersebut memancing seorang detektif NYPD yang berusaha menghentikan Wilee untuk mengirim paket tersebut tepat waktu.

Ini adalah sebuah film yang cukup segar, dengan mengedepankan sepeda sebagai titik gravitasi utama dalam film. Belum pernah ada sebuah film action yang menggunakan sepeda sebagai adegan utama kejar-kejaran, apalagi alat transportasi gowes beroda dua itu yang menjadi primadona dalam sebuah cerita. Jika franchise Fast & Furious mengusung mobil, dan Biker Boyz (2003) atau Torque (2004) mengusung sepeda motor, maka David Koepp boleh berbangga bahwa filmnya menjadi perintis dalam mengangkat pamor sepeda Fixie.

baca selengkapnya...

"95 menit yang membosankan dan monoton untuk mengikuti sepak terjang Alice dan kawan-kawan untuk keluar dari salah satu fasilitas Umbrella Corporation"

Tiada kata yang bisa saya ucapkan ketika mengetahui bahwa franchise Resident Evil terus dilanjutkan sampai sekuel ke-5. Benar tampaknya bahwa Hollywood, atau Paul W. S. Anderson, sama sekali tidak peduli dengan kualitas film dan hanya peduli pada komersialitas dan keuntungan yang dapat diraih dari franchise ini. Film pendahulunya, Resident Evil (2002) memang cukup baik dan menjadi salah satu pelopor film adaptasi dari game. Namun sekuel ke-2, ke-3, dan ke-4, yang sub-judulnya pun saya tidak ingat, tak kunjung ada peningkatan kualitas di segi cerita, naskah, dan akting. Kini, apalagi yang ingin ditampilkan sutradara dan penulis naskah Paul W. S. Anderson dalam Resident Evil: Retribution? Oh ya jelas istrinya sendiri, Milla Jovovich.

T-virusnya Umbrella Corporation telah menyebar ke seluruh bumi, menyisakan Alice dan beberapa rekannya menjadi sisa manusia terakhir. Setelah peristiwa kapal Arcadia dalam sekuel sebelumnya, Alice terbangun dalam tahanan di sebuah fasilitas misterius milik Umbrella Corporation. Untuk melanjutkan perlawanannya menghadapi Umbrella Corporation dan para zombie, Alice harus keluar dari fasilitas tersebut.

Jelas bahwa film ini hanya sebuah film "batu loncatan" saja menuju sekuel terakhir (semoga). Bagaimana tidak, selama 95 menit penonton hanya disuguhi adegan demi adegan bagaimana Alice dan kawan-kawan mencoba keluar dari fasilitas misterius tersebut. Tidak hanya Alice dkk saja yang mati-matian ingin keluar dari situ, saya juga! Namun baru kali ini dalam franchise Resident Evil sedikit membawa konsep game ke dalam film; yaitu bagaimana diantara perpindahan sektor, penonton disuguhi cetak biru tiga dimensi dan lokasi para pemain kita. Setidaknya hal ini cukup menghibur dan memberi kesempatan penonton untuk bernafas sejenak.

baca selengkapnya...

The Expendables 2

"Kembali kepada konsep classic-action yang mengutamakan tembakan, ledakan, dan hormon testosteron yang maksimal, film ini cukup menyenangkan untuk ditonton dengan santai!"

Sebenarnya The Avengers (2012) bukanlah film pertama yang memiliki ide untuk mengumpulkan banyak jagoan dalam satu film. Sylvester Stallone telah melakukannya terlebih dahulu dalam The Expendables (2010) yang diproduseri, ditulis, disutradarai, dan dibintanginya sendiri. Namun sayang entah karena faktor apa, walaupun sukses secara finansial tapi The Expendables menjadi film yang mudah dilupakan karena kontennya yang tanggung apakah menjadi film classic-action yang hanya ada adu jotos dan tembak-menembak atau modern-action dengan teknologi canggih. Kini, sekuel dari kisah para jagoan ini telah muncul namun nama Sylvester Stallone telah "dicopot" dari segi produksi dan kursi kesutradaraan dipegang oleh Simon West (Con Air, The Mechanic) dalam The Expendables 2.

Mr. Church yang dirugikan oleh Barney Ross dkk menuntut agar "hutang"nya dilunasi, dengan memberikan pekerjaan mudah; mengambil kargo dari pesawat yang terjatuh di Hungaria. Agar kargo tersebut dapat kembali ke tangan Mr. Church, seorang agen wanita pun diikutsertakan ke dalam tim Barney Ross. Ternyata misi yang sedianya berjalan dengan mudah, berakhir dengan masalah. Ada pihak lain yang menginginkan kargo tersebut, dan konflik pun tidak terhindarkan.

Bisa dibilang, sekuel kedua ini seakan menjawab berbagai kritikan dan permintaan fans dari instalasi pertamanya. Mulai dari benar-benar kembali kepada konsep classic-action yang hanya mementingkan adegan aksi belaka, hingga pilihan bintang aksi yang muncul dalam franchise ini. Mungkin yang terakhir ini yang cukup terlihat dan terasa ketika menonton film ini. Pecinta film aksi sejati pasti akan berteriak kegirangan ketika melihat sosok Jean-Claude Van Damme dan Chuck Norris ada dalam film ini! Woooooooooo!

baca selengkapnya...

The Bourne Legacy

"Dengan Jeremy Renner sebagai bintang utama yang melanjutkan kisah Jason Bourne, film ini berusaha keras mengikuti pakem The Bourne Trilogy namun malah keluar dari jalur."

The Bourne Trilogy adalah salah satu trilogi tersukses di dunia perfilman, khususnya di genre spionase. Kesuksesan ini diraih baik di kesuksesan finansial maupun kesuksesan material. Gaya berceritanya diadopsi oleh film-film James Bond versi Daniel Craig, belum lagi gaya scoring-nya menginspirasi film-film spionase/kriminal lainnya seperti Hanna (2011). Namun Hollywood belum puas dengan kesuksesan dari franchise Bourne, sebuah film ekstensi dari novel Jason Bourne oleh Robert Ludlum pun dibuat. Tokoh sentralnya memang bukan lagi Jason Bourne, tapi sebuah pahlawan baru yang mendapat pengaruh signifkan dari kejadian di prekuelnya. Tony Gilroy yang bertugas mengadaptasi The Bourne Trilogy dari novel ke film pun ditunjuk kembali menulis naskah film keempat ini, sekaligus diberikan kursi sutradara dalam film The Bourne Legacy.

Aaron Cross (Jeremy Renner) adalah salah satu "produk" dari proyek rahasia Departemen Pertahanan AS yang baru yang lebih stabil dan kuat dibandingkan Treadstone dan Blackbriar; Outcome. Ketika terjadi masalah intern yang mengancam keberlangsungan proyek Outcome, dengan terpaksa proyek harus ditutup. Ketika proyek ditutup berarti semua orang yang berhubungan baik langsung maupun tidak langsung terhadap Outcome harus dilenyapkan. Kecuali Aaron Cross yang berhasil lolos dan berusaha untuk mempertahankan nyawanya.

Ide dasar ceritanya sangat sederhana, bagaimana Aaron Cross berusaha untuk menghindari usaha petinggi Outcome untuk membunuhnya. Namun konflik-konflik yang ditemui sepanjang perjalanan juga sesederhana ide dasarnya. Hal ini tentu menjadi bahan perbandingan spesifik bagi trilogi pertama Bourne yang selalu konsisten menyuguhkan cerita yang rumit dan penuh dengan twist. Apalagi jika sekuel keempat ini mendompleng nama "Bourne" dalam judulnya, yang memang mungkin saja akan menjadi trilogi baru dengan konsep dan karakter yang berbeda. 11-12 dengan franchise Pirates of the Caribbean mungkin. Namun sayang, proyek keempat ini masih jauh dari baik dibandingkan dengan The Bourne Trilogy versi Matt Damon.

baca selengkapnya...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...