Setelah The Dark Knight (2008) yang sukses besar dan dipuji banyak kritikus, sutradara dan penulis naskah Christopher Nolan sempat ragu untuk melanjutkan sekuelnya karena ekpektasi untuk film ketiga dari seri Batman akan menjadi sangat tinggi. Nolan sendiri sempat menyatakan bahwa dia tidak akan menyutradarai film ketiga Batman jika naskahnya tidak mampu menandingi The Dark Knight. Namun setelah selesai dengan Inception (2010) akhirnya Nolan memutuskan untuk mengakhiri legenda Batman sebagai trilogi, menutup semua celah sejak The Dark Knight dengan kesimpulan yang pasti dengan The Dark Knight Rises.

Delapan tahun sejak tragedi Harvey Dent dalam The Dark Knight, Batman masih menerima tuduhan bahwa dirinya yang bertanggung jawab atas kematian Harvey Dent. Kebohongan publik tersebut memang necessary evil untuk menyelamatkan nama Harvey Dent sebagai pembasmi kriminal di kota Gotham. Namun kebohongan publik tersebut ternyata dimanfaatkan sebagai salah satu rencana besar oleh teroris bertopeng, Bane, untuk menghancurkan kota Gotham baik secara fisik dan mental. Batman yang terlanjur merasa tidak dibutuhkan oleh keamanan kota Gotham pasca-tragedi Harvey Dent, merasa perlu campur tangan kembali untuk menghentikan rencana Bane yang destruktif.

Ketika banyak prediksi mengenai plot yang akan ditampilkan dalam penutup trilogi ini selama masa penantian panjang, ternyata Christopher Nolan lebih memilih jalan cerita yang tampak sederhana dan rencana jahat si antagonis yang cenderung "pasaran" dalam film-film superhero lainnya, namun menyimpan makna filosofis yang begitu dalam dan berlapis. Hal ini sangat terasa ketika mungkin banyak fans The Dark Knight merasa kecewa dengan begitu simpel rencana teror dari peran antagonis utama dalam film ini, termasuk karakter Bane yang jauh kalah mengerikan dibanding The Joker. Dengan ending khas Christopher Nolan yang menginsepsi pikiran penonton dengan sengaja, beberapa hari setelahnya kekecewaan tersebut lambat laun berubah menjadi kekaguman ketika maksud-maksud tersembunyi yang dilakukan oleh Batman/Bruce mulai tercerahkan dengan sendirinya.

baca selengkapnya...


Apa sebenarnya definisi dari "film Indonesia"? Apakah sekedar sebuah film yang dibuat di Indonesia dengan 99% cast dan crew orang Indonesia? Atau sebuah film yang menangkap roh Indonesia dengan berbagai segi sosial budayanya dan ditranslasikan dalam bahasa gambar dan dialog? Beruntung dalam dunia perfilman Indonesia kita punya legenda hidup yang disebut sebagai Bapak Perfilman Indonesia, Usmar Ismail. Lewat tangan dan pemikiran beliau, lahirlah film-film Indonesia dengan arti harafiah yang sebenarnya, yang memang menggambarkan ke-Indonesia-an dengan sangat baik melalui media film. Salah satunya adalah film yang diproduksi tahun 1954 yang telah direstorasi secara digital, Lewat Djam Malam.

Film ini mengambil setting di Bandung beberapa bulan setelah kemerdekaan di tanah air direbut lewat perjuangan revolusi fisik. Untuk mempertahankan keadaan yang ada, para tentara menerapkan jam malam yang ketat di seluruh pelosok kota. Sayangnya, peraturan jam malam tersebut tidak begitu diindahkan oleh Iskandar, seorang mantan pejuang yang baru saja "turun gunung". Seperti bagaimana sulitnya beradaptasi dengan peraturan jam malam, Iskandar juga menemui kesulitan tersendiri ketika berusaha beradaptasi dengan kondisi masyarakat yang ternyata jauh dari idealisme kemerdekaan yang ia perjuangkan selama ini. Walaupun dibantu oleh tunangannya Norma beserta keluarganya untuk mendapatkan tempat di masyarakat merdeka, Iskandar malah berasa diasingkan oleh rekan-rekan kerjanya.

Merasa tidak cocok, dia pun kembali menemui rekan-rekannya sesama mantan pejuang yang masing-masing telah menempuh jalan hidupnya sendiri-sendiri. Ada Gafar yang memanfaatkan dengan baik peluang ekonomi yang ada di depan mata, ada bekas komandannya Gunawan yang memandang bahwa perjuangan fisik telah digantikan oleh perjuangan ekonomi namun dieksekusi dengan cara yang brutal, ada pula Puja yang seakan cerminan dari Iskandar yang tidak mendapat tempat di masyarakat dan bertahan hidup dengan cara apa saja. Ada pula karakter Laila yang ditemui Iskandar di tengah jalan, sebagai karakter yang 180' berkebalikan dengan karakter Norma yang hidup aman di dalam lingkaran borjuisnya. Lewat pertemuan dengan karakter-karakter tersebut, Iskandar mengeksplorasi konflik yang ada dalam dirinya perihal kondisi bangsa ideal pasca-kemerdekaan yang utopis yang ternyata tidak sesuai dengan kenyataan yang ditemuinya; masyarakat yang korup dan buta oleh roda perekonomian yang telah berputar kencang.

Ketika film berakhir dengan memperlihatkan penjelasan singkat mengenai proses restorasi digital film karya Usmar Ismail ini, saya sedikit terkejut karena film ini dibuat di tahun 1954. Keterkejutan saya tidak lain adalah betapa masih relevannya isu sosial kemasyarakatan yang diangkat oleh sutradara Usmar Ismail dan penulis naskah sekaligus sastrawan Asrul Sani ini 58 tahun kemudian.

baca selengkapnya...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...