Sebagai salah satu sutradara yang lebih mementingkan idealisme dan kualitas film daripada komersialitas semata, film-film Joko Anwar selalu ditunggu oleh berbagai kalangan. Film-film yang pernah dia garap sebelumnya meraih sukses di dalam dan luar negeri, seperti Janji Joni (2005) dan Pintu Terlarang (2009). Kala / Dead Time (2007) pun tercatat sebagai film noir pertama asal Indonesia. Kini, Joko Anwar pun menulis dan menyutradarai film keempatnya, Modus Anomali.
Seorang pria yang tiba-tiba terbangun dan mengalami amnesia, menemukan dirinya sendirian berada di tengah hutan yang lebat. Dia pun menemukan bahwa istrinya dibunuh secara mengenaskan, dan kedua anaknya menghilang. Hal-hal aneh pun mulai ditemui oleh si pria, khususnya jam alarm yang ditanam di tanah yang berbunyi pada waktu tertentu seakan menandakan sesuatu. Selain berusaha untuk menemukan kedua anaknya, dia pun harus bertahan hidup dari kejaran si pembunuh sadis.
Joko Anwar memang gila, dan cerdas! Plot cerita ini cukup sederhana dan (so-called) twist yang ada di akhir film pun dieksekusi dengan baik, tapi detil petunjuk yang ada benar-benar membuat penonton berpikir keras. Selain itu, cara bercerita dalam film ini benar-benar unik; kamera mengikuti karakter utama kita sepanjang film seakan-akan penonton sedang bersama-sama dengan Rio Dewanto. Namun sayang, entah kenapa cerita menegangkan ini kurang mampu secara konsisten menyedot emosi penonton dari awal hingga akhir film. Tapi secara teknis pembuatan, film ini unggul di segala aspek.
baca selengkapnya...
Tidak banyak film Indonesia yang secara gamblang mengangkat tema homoseksual, atau bahkan LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender). Film-film seperti Arisan!, Arisan 2, Catatan Harian si Boy, atau Minggu Pagi di Victoria Park memang menyelipkan isu percintaan sesama jenis namun hanya sebagai tumpangan semata, atau malah sebagai bahan lelucon. Sebenarnya, isu LGBT adalah "hal yang lumrah" di tengah kota metropolitan yang bergerak cepat seperti Jakarta. Mungkin adanya pandangan tabu, ditambah dengan berbagai organisasi massa yang seakan polisi moral, membuat perasaan tidak aman untuk membuat film bertema LGBT. Namun kini, ada Lola Amaria yang berani memproduksi film omibus yang berisi 10 film pendek yang digarap oleh para sutradara muda berbakat. Ya, ke-10 film pendek ini akan mengupas habis dinamika kaum LGBT di konteks kota Jakarta, dalam film Sanubari Jakarta.
Sepuluh film pendek dengan semangat indie yang masing-masing berdurasi kurang lebih 10 menit ini dengan tajam dan to the point mengangkat dinamika dan kesulitan kaum LGBT yang hidup di Indonesia dengan paradigma ke-timur-annya. Masing-masing film pendek cukup fokus dalam membahas setiap komunitas; baik dari lesbian, gay, bisexual, dan transgender. Tidak saja menempatkan isu LGBT di budaya Timur yang masih memandang tabu orientasi seksual komunitas ini, tetapi juga diletakkan dalam konteks kota Jakarta yang keras karena himpitan ekonomi, sekaligus glamour namun penuh dengan tipu daya.
baca selengkapnya...
Sepuluh film pendek dengan semangat indie yang masing-masing berdurasi kurang lebih 10 menit ini dengan tajam dan to the point mengangkat dinamika dan kesulitan kaum LGBT yang hidup di Indonesia dengan paradigma ke-timur-annya. Masing-masing film pendek cukup fokus dalam membahas setiap komunitas; baik dari lesbian, gay, bisexual, dan transgender. Tidak saja menempatkan isu LGBT di budaya Timur yang masih memandang tabu orientasi seksual komunitas ini, tetapi juga diletakkan dalam konteks kota Jakarta yang keras karena himpitan ekonomi, sekaligus glamour namun penuh dengan tipu daya.
baca selengkapnya...
Ketika Hollywood sedang kehabisan ide, serial-serial TV yang sukses di akhir tahun 80-an dan awal tahun 90-an pun dibuatkan film panjangnya. Untuk kategori film polisi yang sedang menyamar, Heat (1995) dan Miami Vice (2006) telah "dibangkitkan" ke dalam bentuk layar lebar dengan generasi penonton yang baru. Satu lagi serial TV polisi remaja yang mengusung genre aksi-komedi yang tayang di tahun 1987 - 1991 pun tidak ketinggalan diangkat ke layar lebar; 21 Jump Street.
Schmidt (Jonah Hill) dan Jenko (Channing Tatum) adalah teman satu SMA dan kini mereka menjadi partner dalam kepolisian dengan mengendarai sepeda di taman kota. Karena memiliki wajah muda dan karakter yang kekanak-kanakan, mereka pun ditugaskan dalam satu unit khusus penyamaran ke berbagai institusi pendidikan.
Tugas pertama mereka adalah mengungkap penyebaran satu jenis obat terlarang jenis baru dan mematikan di sebuah sekolah SMA. Ternyata, tidak hanya harus menuntaskan misi, mereka juga harus mengatasi memori masa-masa mereka ketika SMA selama bertugas.
Bagi yang belum pernah menonton serial TVnya, sejak menit-menit awal dalam film penonton sudah dibiasakan dengan aura komedi yang (ternyata) cukup kental dalam film ini. Bioskop pun penuh dengan ledakan tawa penonton yang menertawakan tingkah kocak serta berbagai celetukan dari petugas polisi Schmidt dan Jenko. Kuatnya karakter Schmidt dan Jenko yang dibangun sepanjang film juga turut membuat penonton merasa kenal baik dengan mereka berdua, sehingga tawa yang keluar pun bukan asal tawa tanpa alasan.
baca selengkapnya...
Schmidt (Jonah Hill) dan Jenko (Channing Tatum) adalah teman satu SMA dan kini mereka menjadi partner dalam kepolisian dengan mengendarai sepeda di taman kota. Karena memiliki wajah muda dan karakter yang kekanak-kanakan, mereka pun ditugaskan dalam satu unit khusus penyamaran ke berbagai institusi pendidikan.
Tugas pertama mereka adalah mengungkap penyebaran satu jenis obat terlarang jenis baru dan mematikan di sebuah sekolah SMA. Ternyata, tidak hanya harus menuntaskan misi, mereka juga harus mengatasi memori masa-masa mereka ketika SMA selama bertugas.
Bagi yang belum pernah menonton serial TVnya, sejak menit-menit awal dalam film penonton sudah dibiasakan dengan aura komedi yang (ternyata) cukup kental dalam film ini. Bioskop pun penuh dengan ledakan tawa penonton yang menertawakan tingkah kocak serta berbagai celetukan dari petugas polisi Schmidt dan Jenko. Kuatnya karakter Schmidt dan Jenko yang dibangun sepanjang film juga turut membuat penonton merasa kenal baik dengan mereka berdua, sehingga tawa yang keluar pun bukan asal tawa tanpa alasan.
baca selengkapnya...
Bagi anda pencinta film zombies, pastinya anda sudah familiar dengan franchise [REC] asal Spanyol ini. Sekuel pertama, [REC] (2007) yang mengambil ide dasar yang sangat sederhana dan dieksekusi secara brilian, seorang reporter TV terjebak di sebuah apartemen dan harus bertahan hidup di tengah zombie-zombie yang haus darah. Cerita ini berlanjut ke sekuel kedua yang tidak mengecewakan, [REC] 2 (2009) dengan cerita yang terjadi tepat 15 menit setelah cerita pada sekuel pertama berakhir. Franchise film zombie yang direncanakan akan menjadi quadrilogy ini pun memunculkan sekuel ketiganya yang kali ini diberi embel-embel sub judul, [REC] 3 Genesis.
Kini penyebaran infeksi virus mematikan telah menyebar ke luar gedung apartemen. Di sebuah pernikahan antara dua pasangan yang sedang berbahagia, tempat resepsi menjadi mimpi buruk baru bagi para tamu dan kedua pengantin. Aksi ini pun sedikit membuka informasi baru yang tersembunyi dalam dua film sekuel sebelumnya, sekaligus menjadi jembatan untuk sekuel terakhir, [REC] 4 Apocalypse.
Dengan sekuel pertama dan kedua yang berkaitan erat dan dengan teknik bercerita yang mirip, sekuel ketiga ini bisa dibilang menggunakan konsep yang benar-benar berbeda dan diluar ciri khas franchise ini. Hal ini memang mendatangkan konsekuensi positif maupun negatif. Positifnya, gaya bercerita yang baru ini seakan angin segar bagi franchise [REC] yang tampaknya menemui titik jenuh dengan gaya bercerita di sekuel keduanya. Negatifnya, mungkin akan mengecewakan para fans yang telah mengagumi gaya bercerita di dua sekuel pertamanya.
baca selengkapnya...
Kini penyebaran infeksi virus mematikan telah menyebar ke luar gedung apartemen. Di sebuah pernikahan antara dua pasangan yang sedang berbahagia, tempat resepsi menjadi mimpi buruk baru bagi para tamu dan kedua pengantin. Aksi ini pun sedikit membuka informasi baru yang tersembunyi dalam dua film sekuel sebelumnya, sekaligus menjadi jembatan untuk sekuel terakhir, [REC] 4 Apocalypse.
Dengan sekuel pertama dan kedua yang berkaitan erat dan dengan teknik bercerita yang mirip, sekuel ketiga ini bisa dibilang menggunakan konsep yang benar-benar berbeda dan diluar ciri khas franchise ini. Hal ini memang mendatangkan konsekuensi positif maupun negatif. Positifnya, gaya bercerita yang baru ini seakan angin segar bagi franchise [REC] yang tampaknya menemui titik jenuh dengan gaya bercerita di sekuel keduanya. Negatifnya, mungkin akan mengecewakan para fans yang telah mengagumi gaya bercerita di dua sekuel pertamanya.
baca selengkapnya...
Sudah ada banyak film yang bercerita tentang penyerangan alien ke bumi dengan mengambil beragam sudut pandang. Ada juga beberapa film yang mengambil sudut pandang tentara. Kali ini, ada sebuah film yang mengangkat kisah para tentara Angkatan Laut dalam menghadapi serbuan alien yang datang tiba-tiba, Battleship.
Usaha manusia dalam mengirimkan sinyal super kuat ke luar angkasa untuk mencoba membangun komunikasi dengan siapapun - atau apapun - diluar sana ternyata membuahkan hasil. Pada sebuah latihan perang Angkatan Laut internasional, pesawat-pesawat asing dari luar angkasa memasuki lautan Pasifik di dekat kepulauan Hawaii. Kejadian yang pararel dengan peristiwa Columbus menemukan benua Amerika yang dihuni oleh suku Indian pun terjadi. Perang di laut Pasifik pun tidak terhindarkan.
Film ini jelas melengkapi perbendaharaan Hollywood dalam hal film perang terhadap alien dari tiga macam angkatan bersenjata. Jika Independence Day (1996) menggunakan sudut pandang Angkatan Udara dan Battle: Los Angeles (2011) dengan Angkatan Darat, maka film ini melengkapinya dengan Angkatan Laut. Sepanjang film, penonton benar-benar diberi informasi sebanyak-banyaknya tentang bagaimana kapal-kapal AL berperang menghadapi musuh. Mulai dari istilah-istilah perang yang digunakan, sampai dengan perbedaan mendasar antara kapal battleship dengan kapal destroyer yang dimiliki oleh AL negara manapun.
baca selengkapnya...
Usaha manusia dalam mengirimkan sinyal super kuat ke luar angkasa untuk mencoba membangun komunikasi dengan siapapun - atau apapun - diluar sana ternyata membuahkan hasil. Pada sebuah latihan perang Angkatan Laut internasional, pesawat-pesawat asing dari luar angkasa memasuki lautan Pasifik di dekat kepulauan Hawaii. Kejadian yang pararel dengan peristiwa Columbus menemukan benua Amerika yang dihuni oleh suku Indian pun terjadi. Perang di laut Pasifik pun tidak terhindarkan.
Film ini jelas melengkapi perbendaharaan Hollywood dalam hal film perang terhadap alien dari tiga macam angkatan bersenjata. Jika Independence Day (1996) menggunakan sudut pandang Angkatan Udara dan Battle: Los Angeles (2011) dengan Angkatan Darat, maka film ini melengkapinya dengan Angkatan Laut. Sepanjang film, penonton benar-benar diberi informasi sebanyak-banyaknya tentang bagaimana kapal-kapal AL berperang menghadapi musuh. Mulai dari istilah-istilah perang yang digunakan, sampai dengan perbedaan mendasar antara kapal battleship dengan kapal destroyer yang dimiliki oleh AL negara manapun.
baca selengkapnya...
Siapa yang belum pernah menonton Titanic? Bagi anda para wanita, sudah berapa belas kali anda menonton Titanic? Siapa yang belum pernah mendengar quote "You jump, I jump" atau "I'm the king of the world"? Atau jika anda sudah pernah menontonnya, pernah menonton di layar lebar? Nah dalam rangka 100 tahun tenggelamnya kapal Titanic di tanggal 15 April 1912, film Titanic yang keluaran tahun 1997 ini akan dirilis ulang di bioskop-bioskop di seluruh dunia dalam bentuk konversi 3D.
84 tahun semenjak kapal pesiar mewah Titanic tenggelam, seorang wanita berusia 101 tahun bernama Rose DeWitt Bukater menceritakan kisah hidupnya sebagai salah satu penumpang yang selamat kepada para ilmuwan yang sedang mencari harta karun dalam kapal Titanic yang karam. Cerita itu pun bermula dari bagaimana dirinya bertemu dengan seorang seniman muda bernama Jack Dawson, sementara dirinya telah bertunangan dengan seorang bangsawan demi menyelamatkan keluarganya yang bangkrut. Kisah kapal Titanic yang untuk pertama kalinya berlayar setelah selesai dibuat sampai pada akhir hayatnya hanya dalam beberapa hari tersebut diwarnai dengan bumbu cinta antara Rose dengan Jack.
Diantara film-film James Cameron yang lain yang lebih mengarah ke fiksi ilmiah, rasanya hanya Titanic (1997) yang mengangkat cerita dari kisah nyata dan ditambah dengan bumbu-bumbu fiksi. Saking yakinnya dengan publisitas yang akan diperoleh, Cameron benar-benar menggarap film ini dengan sangat serius. Mulai dari membangun set kapal dengan skala riil sampai dengan mengambil gambar sendiri puing-puing kapal Titanic yang karam di dasar Samudera Atlantik. Total 200 juta USD yang dihabiskan untuk membuat film ini pun lebih mahal ketimbang kapal Titanic itu sendiri. Namun biaya itu tidak percuma, mengingat film ini berhasil meraup kurang lebih 1,8 milyar USD dan berada di nomor dua film terlaris sepanjang masa, dibawah film Cameron yang lain; Avatar (2009).
baca selengkapnya...
84 tahun semenjak kapal pesiar mewah Titanic tenggelam, seorang wanita berusia 101 tahun bernama Rose DeWitt Bukater menceritakan kisah hidupnya sebagai salah satu penumpang yang selamat kepada para ilmuwan yang sedang mencari harta karun dalam kapal Titanic yang karam. Cerita itu pun bermula dari bagaimana dirinya bertemu dengan seorang seniman muda bernama Jack Dawson, sementara dirinya telah bertunangan dengan seorang bangsawan demi menyelamatkan keluarganya yang bangkrut. Kisah kapal Titanic yang untuk pertama kalinya berlayar setelah selesai dibuat sampai pada akhir hayatnya hanya dalam beberapa hari tersebut diwarnai dengan bumbu cinta antara Rose dengan Jack.
Diantara film-film James Cameron yang lain yang lebih mengarah ke fiksi ilmiah, rasanya hanya Titanic (1997) yang mengangkat cerita dari kisah nyata dan ditambah dengan bumbu-bumbu fiksi. Saking yakinnya dengan publisitas yang akan diperoleh, Cameron benar-benar menggarap film ini dengan sangat serius. Mulai dari membangun set kapal dengan skala riil sampai dengan mengambil gambar sendiri puing-puing kapal Titanic yang karam di dasar Samudera Atlantik. Total 200 juta USD yang dihabiskan untuk membuat film ini pun lebih mahal ketimbang kapal Titanic itu sendiri. Namun biaya itu tidak percuma, mengingat film ini berhasil meraup kurang lebih 1,8 milyar USD dan berada di nomor dua film terlaris sepanjang masa, dibawah film Cameron yang lain; Avatar (2009).
baca selengkapnya...
Di masa depan dystopia (kebalikan dari utopia), negara totaliter bernama Panem terbagi menjadi 12 distrik dan Capitol, ibukotanya. Untuk mengenang dan memperingati pemberontakan ke-12 distrik terhadap negara di masa lalu, setiap tahun diadakan sebuah permainan survival yang disiarkan dengan TV ke seluruh Panem; The Hunger Games. Pada permainan ini, satu anak laki-laki dan satu anak perempuan dari setiap distrik dipilih dengan undian atau sukarelawan, untuk saling membunuh dalam permainan tersebut sampai tersisa satu juara.
Ketika adik perempuan dari Katniss terpilih dalam undian, Katniss pun mengajukan diri sebagai relawan untuk menggantikan adiknya. Katniss dan rekan laki-lakinya, Peeta, harus berjuang untuk bertahan hidup dalam permainan hidup atau mati ini.
Sekilas, mungkin cerita ini mengingatkan anda dengan film Jepang fenomenal; Battle Royale (2000). Namun penulis novel Suzanne Collins yang novelnya diadaptasi dalam bentuk film ini mengaku belum pernah membaca atau mendengar novel Battle Royale karangan Koushun Takami yang diterbitkan di tahun 1999 itu. Terlepas dari pararelnya garis besar cerita tentang para remaja yang terjebak dalam permainan adu nyawa, film ini tetap memiliki ciri khasnya sendiri. Film ini seakan ingin berbicara lain tentang bagaimana totalitarian mempertahankan kekuasaannya.
baca selengkapnya...
Ketika adik perempuan dari Katniss terpilih dalam undian, Katniss pun mengajukan diri sebagai relawan untuk menggantikan adiknya. Katniss dan rekan laki-lakinya, Peeta, harus berjuang untuk bertahan hidup dalam permainan hidup atau mati ini.
Sekilas, mungkin cerita ini mengingatkan anda dengan film Jepang fenomenal; Battle Royale (2000). Namun penulis novel Suzanne Collins yang novelnya diadaptasi dalam bentuk film ini mengaku belum pernah membaca atau mendengar novel Battle Royale karangan Koushun Takami yang diterbitkan di tahun 1999 itu. Terlepas dari pararelnya garis besar cerita tentang para remaja yang terjebak dalam permainan adu nyawa, film ini tetap memiliki ciri khasnya sendiri. Film ini seakan ingin berbicara lain tentang bagaimana totalitarian mempertahankan kekuasaannya.
baca selengkapnya...







