Meneruskan kebiasaan dari tahun-tahun sebelumnya, maka secara khusus saya telah memilih 10 film terbaik yang telah saya tonton di bioskop pada tahun 2011 ini. 2011 adalah tahun yang spesial bagi saya, karena saya dapat menonton di bioskop 8 dari 10 film dari nominasi Best Picture pada ajang Oscar 2010. Selain itu, masa tinggal 10 bulan di Glasgow membuka kesempatan yang sangat besar bagi saya untuk menikmati film-film berkualitas yang mungkin tidak akan dirilis di bioskop-bioskop Indonesia.

Sedikit catatan statistik di tahun 2011, ini adalah tahun dimana saya menonton film di bioskop paling banyak diantara tahun-tahun sebelumnya; 110 film! Hal ini tentu sangat dipengaruhi secara signifikan oleh hadirnya kartu Unlimited dari Cineworld (baca disini) yang berlaku semacam tiket terusan selama satu bulan. Di tahun ini gue juga telah memecahkan rekor nonton film di bioskop terbanyak selama satu bulan; 21 film di bulan Maret 2011 (rekor sebelumnya dipegang oleh bulan Desember 2007 dengan 19 film). Hitungan kasarnya, berarti saya pergi ke bioskop untuk menonton film setiap 1,5 hari sekali di bulan Maret tahun 2011.

Daftar film dibawah ini tidak harus film yang dirilis di tahun 2011, karena ketentuannya adalah film-film yang saya tonton di bioskop di tahun ini. Tahap pertama pemilihan ke-10 film ini berdasarkan nilai rating yang ada. Di rating tertinggi, ternyata ada 16 film yang memiliki rating 9 (13 film) dan 10 (3 film). Seleksi tahap kedua pun harus dilakukan agar daftar Sobekan Tiket Terbaik ini tidak terlalu banyak, yaitu dengan menilai secara kualitatif. Indikator penilaian kualitatif adalah film yang mampu memberikan pengalaman sinematik tersendiri, serta cerita film yang mampu memberikan sesuatu kepada penonton. Ternyata, kesepuluh film ini juga cukup mewakilkan hampir semua genre film yang ada; musikal, drama, romansa, kriminal, aksi-laga, sampai horor. Maka, inilah 10 film terbaik yang saya tonton di bioskop di tahun 2011 ini.

baca selengkapnya...

Sekuel, sekuel, dan sekuel. Entah sampai kapan industri perfilman Hollywood akan bosan untuk membuat sekuel untuk film-film box office mereka. Namun selama film-film mereka dapat mengeruk uang sebanyak mungkin, rasanya tradisi sekuel ini akan terus bertahan. Ya, sekuel sih boleh saja asal tetap semenarik atau bahkan meningkat kualitasnya dibandingkan film sebelumnya. Lalu bagaimana dengan petualangan detektif Inggris yang kelewat cerdas dan terlampau eksentrik, Sherlock Holmes? Film orisinilnya yang dirilis tahun 2009 kemarin telah menuai banyak pujian karena sutradara Guy Ritchie mampu menghadirkan jenis baru film detektif yang penuh dengan misteri, plus memvisualisasikan berbagai ciri khas dari Sherlock Holmes ke dalam layar. Kini hadir sekuel kedua yang bermaksud untuk meneruskan film orisinilnya, Sherlock Holmes: A Game of Shadows.

Penyelidikan kejahatan dan konspirasi Sherlock Holmes (Robert Downey Jr.) membawanya ke sebuah nama dengan reputasi yang cukup tinggi; Prof. James Moriarty (Jared Harris). Ternyata kepintaran Holmes akhirnya menemukan tandingannya, yaitu Moriarty yang memang ahli strategi dan pintar untuk menghilangkan jejak dari setiap kejahatannya. Dibantu oleh teman setianya yang telah menikah, Dr. John Watson (Jude Law) dan Sherlock Holmes berusaha untuk mengumpulkan bukti dan menggagalkan rencana jahat Moriarty yang mengancam benua Eropa.

Formula baku sebuah sekuel tetap diusung oleh para pembuat film ini. Untuk menambah keseriusan sebuah kasus, tingkatkan saja daya hancur dari sebuah rencana jahat dan perluas wilayah targetnya. Jika pada film pertama, Lord Blackwood "hanya" mengincar kehancuran Inggris Raya, maka kali ini Prof. James Moriarty ingin menciptakan perang besar di benua Eropa. Selain itu, Prof. James Moriarty juga "diberkahi" oleh intelegensi yang menyaingi kecerdasan seorang Sherlock Holmes. Perencanaan strategi yang matang, serta kemampuan untuk membaca situasi bahkan sampai situasi yang belum terjadi, menjadikan karakter Moriarty sebagai seorang arch-enemy atau musuh seimbang dari Holmes. Plot ini tentunya jauh lebih menarik dan lebih menegangkan dibandingkan film pertamanya. Namun bagaimana dengan eksekusinya?

baca selengkapnya...

Lima belas tahun semenjak serial televisi Mission: Impossible diadaptasi ke layar lebar dan lima tahun semenjak franchise ketiga layar lebarnya dirilis, Agen Ethan Hunt kembali untuk menuntaskan misinya. Terhitung empat sutradara yang berbeda menyutradarai keempat instalmen dari kisah petualangan agen Ethan Hunt. Mulai dari Brian De Palma - Mission: Impossible (1996), John Woo - Mission: Impossible II (2000), J. J. Abrams - Mission: Impossible III (2006), dan kini Brad Bird yang akan memegang kendali instalmen keempat dan terbaru ini; Mission: Impossible - Ghost Protocol.

Gedung Kremlin di Moscow meledak, Ethan Hunt yang kebetulan berada di lokasi pun disalahkan. Pemerintah Amerika menjadi kambing hitam, organisasi rahasia IMF pun disangkal. Ternyata ada teroris yang memiliki kode rahasia peluncuran nuklir dari Rusia yang ingin menyerang Amerika. Presiden AS pun dengan sangat terpaksa menyatakan operasi "Ghost Protocol"; keberadaan IMF tidak diakui, tidak ada bantuan dalam bentuk apapun, namun Ethan Hunt dan kawan-kawan harus menghentikan teroris tersebut sebelum misil nuklir diluncurkan.

Plot kebaikan melawan kejahatan yang ditawarkan instalmen M:I terbaru ini memang sangat sering diangkat oleh film-film aksi lainnya; menghentikan peluncuran nuklir sebelum terlambat. Plot yang merupakan "lagu lama" ini memiliki konsekuensi terhadap kenikmatan penonton dalam menunggu hasil akhir yang pastinya akan 11-12 dengan film lainnya yang memiliki plot yang sama. Plot lama ini pun hanya dimodifikasi sedemikian rupa dengan konsep "last seconds". Diluar hal-hal lama tersebut, berbagai unsur baru dalam film ini cukup mendongkrak kenikmatan menonton. Mulai dari berbagai adegan aksi yang ada, alat-alat teknologi canggih yang belum pernah terpikirkan sebelumnya (setidaknya di seperempat awal film), sampai dengan unsur komedi yang cukup kena.

baca selengkapnya...

Seberapa tinggi jiwa sosial yang harus dimiliki untuk menolong anak-anak yatim piatu di Afrika? Setinggi mungkin bahkan sampai rela mengesampingkan tanggung jawab sebagai kepala keluarga? Mari berkenalan dengan Sam Childers, seorang mantan pengguna narkoba yang kini mengabdi untuk menyelamatkan sebanyak mungkin anak-anak Sudan. Kisah hidupnya kini telah diadaptasi dalam bentuk film oleh penulis naskah debutan Jason Keller dan disutradarai oleh Marc Foster (Finding Neverland, Quantum of Solace) dalam Machine Gun Preacher.

Sam Childers memiliki masa lalu yang cukup kelam; anggota geng motor besar, pemabuk, pengguna narkoba, sampai pernah membunuh gelandangan. Namun semua itu berubah ketika dia dibaptis di sebuah gereja dan bertobat kepada Tuhan. Terinspirasi oleh pastor dan tayangan televisi, dia pun pergi ke Sudan untuk membantu apapun yang dibutuhkan disana. Namun pengalaman selama beberapa minggu di Sudan ternyata sangat menyentuh hatinya, terutama ketika melihat fakta bahwa anak-anak yang kehilangan orang tua dipaksa untuk menjadi tentara. Hatinya yang tergerak untuk membantu anak-anak di Afrika ternyata malah membuat Sam menjadi terobsesi. Obsesi inilah yang membuat posisi Sam sebagai ayah dari istri dan satu anak perempuan menjadi goyah.

Film ini sebenarnya adalah sebuah film yang sangat inspiratif. Meninggalkan "dosa-dosa" masa lalu, menemukan Tuhan, kemudian membantu anak-anak terlantar di Afrika. Too good to be true, tapi ini terjadi dalam kehidupan nyata pada seorang Sam Childers yang asli - walaupun dalam film ini dibubuhi banyak detil yang didramatisasi. Tidak ada yang lebih mulia dibandingkan dengan menjual bisnis demi membeli sebuah truk tambahan untuk dapat mengangkut anak-anak yang lebih banyak di Sudan. Namun apakah demi tujuan mulia tersebut, peran sebagai kepala keluarga harus ditinggalkan? Itulah yang ingin digali dan digambarkan oleh film ini.

baca selengkapnya...

Puss in Boots

Semenjak kemunculannya tujuh tahun yang lalu dalam Shrek 2 (2004), karakter kucing yang jago menggunakan pedang dan bersepatu boot ini menjadi salah satu karakter yang cukup membuat para penggemar franchise Shrek tersenyum gemas. Apalagi kalau bukan senjata rahasianya; mata memelas khas kucing yang minta dimanja. Cukup yakin dengan basis fans yang cukup kuat, rumah produksi Dreamworks Animation pun membuat satu film khusus untuk menceritakan latar belakang salah karakter yang tampil di tiga film Shrek itu, Puss in Boots.

Untuk memulihkan nama baik akibat tindakan masa lalunya, Puss in Boots (Antonio Banderas) ingin mencuri kacang ajaib dari duet penjahat Jack & Jill. Namun usaha Puss harus diintervensi oleh kucing yang juga ahli dalam berkelahi, Kitty Softpaws (Salma Hayek), dan membuatnya bertemu kembali dengan sahabat lama - yang sekarang menjadi musuh - Humpty Dumpty (Zach Galifianakis). Dihantui oleh masa lalu kelam dengan Humpty Dumpty, akhirnya Puss memutuskan untuk membantunya mencuri kacang ajaib, pergi ke Istana Raksasa, mengambil telur emas, dan memulihkan nama baik.

Bagaimana Dreamworks Animation memutuskan untuk memfilmkan karakter Puss in Boots membuktikan bahwa karakter dengan archetype pahlawan masih lebih menarik bagi khalayak ramai dibandingkan dengan karakter dengan archetype joker, seperti Donkey atau Ginger Bread. Karena memang archetype hero menjanjikan jalan cerita yang penuh aksi petualangan dan ketegangan tersendiri, dibandingkan archetype non-hero dimana jalan cerita akan cenderung datar dan lebih condong ke drama. Apalagi dalam franchise Shrek, Puss memiliki kedalaman karakter yang menarik untuk digali masa lalunya. Seekor kucing yang cerdik, namun berpihak pada kaum lemah, sekaligus menggemaskan? Setidaknya film dimana Puss menjadi karakter utama ini akan ditonton oleh banyak kaum hawa dan kelompok pencinta kucing.

baca selengkapnya...

Siapa yang tidak kenal Tintin? Tokoh komik rekaan komikus asal Belgia, Herge, ini langsung tenar ketika pertama kali diciptakan tahun 1929 dengan gaya gambar ligne claire (clear line). Kisah-kisah petualangan seorang reporter muda berjambul asal Belgia yang menyelipkan referensi-referensi satir terhadap situasi politik dan budaya di Eropa pada saat itu, membuat komik ini begitu disukai di berbagai negara di Eropa. Setelah mendapatkan hak untuk mengadaptasinya ke dalam layar lebar pada tahun 1983, Steven Spielberg harus menunggu 25 tahun agar kecintaannya terhadap Tintin dan Snowy dapat terwujud dalam layar lebar. Menggandeng Peter Jackson untuk mendukung animasi motion capture dalam film ini dengan perusahaannya Weta Digital, Spielberg untuk menyutradarai film animasi pertama dalam karirnya, The Adventures of Tintin.

Kisah petualangan Tintin (Jamie Bell) dimulai ketika kapal model Unicorn yang baru saja dibelinya dicuri oleh seseorang. Pertemuannya dengan Ivanovich Sakharine (Daniel Craig) membuat Tintin mempelajari bahwa setiap tiruan asli kapal model Unicorn yang legendaris menyimpan suatu rahasia, yang berhubungan dengan misteri karamnya kapal tersebut beberapa abad yang lalu. Investigasi demi artikel berita membuat Tintin bertemu dengan Kapten Haddock (Andy Serkis) yang ternyata keturunan terakhir dari kapten kapal Unicorn yang selamat. Tintin, Haddock, dan Snowy pun harus bekerja sama untuk mengungkap misteri kapal Unicorn dan mengapa Sakharine bisa terlibat di dalamnya.

Inilah hasilnya jika seorang sutradara legendaris yang mengubah wajah Hollywood bekerja sama dengan ahli animasi motion capture yang memborong piala Oscar lewat trilogi Lord of the Rings. Dipadukan dengan tokoh komik klasik yang fenomenal pada akhir abad ke-20, akan membuat para pencinta reporter berjambul ini bernostalgia, sekaligus mewariskan kisah petualangan ini ke generasi berikutnya. Dengan cerita yang seru dan asyik, didukung dengan visual animasi yang mengagumkan, proyek pertama dari petualangan Tintin yang telah disiapkan ini akan menghibur penonton dari berbagai generasi.

baca selengkapnya...

Immortals

Mitologi Yunani memang selalu menarik untuk diangkat ke layar lebar. Apalagi jika mitologi tersebut dibawakan dengan cara brutal dan berdarah. 300 (2006) karya Zack Snyder telah membuktikan bahwa ternyata penonton menyukai adaptasi mitologi Yunani ke dalam layar lebar dengan cara artistik dan brutal. Kini dari produser yang sama dan menggandeng sutradara yang terkenal dengan liarnya imajinasi visual, Tarsem Singh, mencoba mengulangi kesuksesan tersebut dengan film terbarunya, Immortals.

Raja Hyperion (Mickey Rourke) yang gila akan kekuasaan dan muak terhadap dewa-dewa, menyatakan perang terhadap manusia dan dewa. Untuk menghancurkan surga dan dunia sekaligus, Raja Hyperion memporak-porandakan Yunani demi mencari senjata legendaris buatan Dewa Perang Ares yang konon memiliki kekuatan dahsyat, busur Epirus. Kekuatan busur ini dipercaya dapat membebaskan para Titans yang terkurung di kedalaman gunung Tartaros semenjak kekalahan mereka dari dewa-dewa yang sekarang berkuasa. Hukum kuno yang melarang para dewa untuk campur tangan dalam urusan manusia, harus bergantung pada seorang manusia yang diyakini dapat menghentikan Raja Hyperion. Dibantu oleh peramal perawan Phaedra (Freida Pinto), Theseus (Henry Cavill) yang secara rahasia dilatih dan dipilih oleh Zeus sendiri membawa beban tanggung jawab untuk menghentikan Raja Hyperion.

Tarsem Singh pun menjawab panggilan untuk menyaingi visualisasi Zack Snyder dengan sangat baik. Ciri khas Singh yang menyajikan visual yang imajinatif seperti tergambar pada film-fim terdahulunya (The Cell, 2000 dan The Fall, 2006) jelas terlihat dalam 110 menit di film terbarunya ini. Tidak hanya visual yang cantik dan artistik, Singh juga menyuguhkan parade peragaan busana yang unik dan eksentrik lewat kostum-kostum Raja Hyperion dan para dewa Yunani. Namun sayang, segala kelebihan dan ciri khas dari Singh ini harus terjebak dalam balutan naskah yang sangat lemah. Meskipun ditulis oleh duet penulis kelahiran Yunani,   cerita dalam film ini merupakan adaptasi lepas dari mitologi Theseus sendiri yang berujung pada tersebarnya plot holes dan tidak konsistennya jalan cerita bergulir.

baca selengkapnya...

If I drive for you, you give me a time and a place. I give you a five-minute window, anything happens in that five minutes and I'm yours no matter what. I don't sit in while you're running it down; I don't carry a gun... I drive. 
Apa yang paling penting dari sebuah perampokan? Tempat perampokan, cara masuk, jumlah uang, jumlah orang dalam tim, senjata yang digunakan, semua itu tidak akan ada artinya lagi jika kawanan perampok tertangkap oleh polisi. Ya, exit strategy adalah hal yang paling penting dari sebuah perampokan. Kini ada sebuah film yang akan menceritakan tentang seorang pengemudi handal yang spesialis mengantar para perampok menuju tempat aman seusai aksinya. Ini bukan franchise dari Transporter, bukan pula franchise terbaru dari Fast & Furious, tapi ini adalah Drive.

Drive bercerita tentang pengemudi sewaan yang bekerja paruh waktu menjadi stunt-driving untuk film pada siang hari dan spesialis membawa kabur para perampok seusai perampokan bersenjata pada malam hari. Dengan kebiasaannya untuk menyendiri, "Driver" tidak sengaja jatuh cinta pada seorang tetangga ibu muda, Irene, yang terseret dalam gelapnya dunia kriminal ketika suaminya, Standard, baru keluar dari penjara. Ternyata Standard memiliki hutang besar kepada seseorang dan tidak punya pilihan lain selain melakukan perampokan, atau anak dan istrinya yang harus menanggung akibatnya. Tidak ingin Irene dan anaknya yang tidak bersalah harus terluka, "Driver" pun mengajukan jasanya dengan memainkan peran spesialisnya dan memegang teguh prinsipnya; tidak terlibat lebih jauh dalam perampokan selain menyetir. Namun ketika perampokan tersebut tidak berjalan sesuai rencana, "Driver" harus mengganti persnelingnya dan menekan gas lebih dalam agar dapat lepas dari jeratan kejamnya dunia kriminal.

Cerita perampokan bukanlah suatu hal baru di dunia perfilman, termasuk perampokan yang disandingkan dengan mobil keren dan kemampuan menyetir yang tinggi. Lalu apa yang membuat Drive menjadi spesial diantara film-film tipikal kriminal lainnya? Menurut sutradara asal Denmark Nicolas Winding Refn, bawakan saja film kriminal tersebut dalam bentuk drama art house yang cantik dan elegan. Dengan skenario yang cukup umum dan biasa, sentuhan Refn membuat Drive menjadi film drama kriminal yang tenang dan penuh dengan pengalaman emosi dan sinematik, dibawakan dengan tempo lambat, minim dialog, namun menghentak lewat adegan kekerasan yang cukup grafis yang tidak terduga.

baca selengkapnya...

Contagion

 Pada tahun 1918, sebuah wabah flu yang dinamakan "Spanish Flu" menyebar ke seluruh dunia sehingga menjadi pandemi flu pertama di dunia sekaligus yang paling mematikan. Sekitar 50 juta orang meninggal dunia, dan angka tersebut adalah 3% dari populasi dunia saat itu (1,86 milyar penduduk). Pandemi flu kedua di dunia ternyata melibatkan virus yang sama, H1N1, yang lebih kita kenal dengan flu babi terjadi pada tahun 2009 kemarin. Kini, ada sebuah film yang menggambarkan bagaimana dinamika terjadinya sebuah pandemi flu, mulai dari pasien pertama sampai ketika World Health Organization (WHO) mengumumkan telah terjadi sebuah pandemi flu di dunia. Semua hal itu dirangkum dan digambarkan dengan sangat baik lewat film Contagion.

Setelah pulang dari sebuah perjalanan bisnis dari Hong Kong, Bett Emhoff meninggal dunia secara tiba-tiba setelah menampakkan gejala komplikasi antara flu dengan kejang-kejang. Beberapa hari kemudian, anak laki-lakinya meninggal karena gejala yang sama. Di berbagai belahan dunia, kematian dengan gejala yang sama mulai bermunculan. Centre for Disease Control (CDC) milik AS dan WHO yang terlambat bereaksi terhadap penyakit yang tadinya diduga flu biasa tersebut pun berusaha keras untuk mengidentifikasi jenis virus tersebut dan menghentikan penyebarannya. Waktu pun terus berjalan seiring dengan angka kematian yang semakin tinggi di berbagai belahan dunia. Penyebaran virus misterius yang mematikan ini pun menyebar seiring dengan ketakutan dan kepanikan pada seluruh masyarakat dunia.

Diantara film-film bencana global lain yang melibatkan alien, robot, zombie, atau perang besar antar-manusia yang mengurangi jumlah populasi penduduk dunia secara signifikan, film terbaru arahan sutradara Steven Soderbergh ini tampil dengan ide uniknya; virus flu. Scott Z. Burns (The Bourne Ultimatum, The Informant)yang menulis naskah film ini menyuntikkan virus flu jenis baru yang jauh lebih mematikan daripada virus H5N1 dan H1N1 yang pernah menyerang penduduk dunia pada tahun 1918 dan 2009. Lebih dalam lagi, film ini menggambarkan bagaimana dunia bersikap lewat representasi dari empat sub-plot yang berbeda dalam film ini; seorang kepala keluarga yang kehilangan istri dan anak tirinya karena virus tersebut, seorang dokter dan tim CDC, seorang dokter WHO yang menginvestigasi ground zero penyebaran virus, dan seorang blogger yang memantau perkembangan perkembangan virus lewat kacamata politik dan ekonomi. Semua ini dirangkum menjadi tontonan yang menegangkan sekaligus edukatif dan terang-terangan lewat tangan magis seorang Steven Soderbergh.


baca selengkapnya...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Followers